Senin, 01 April 2019

Sikap inspiratif dari Barista Starbucks

Salam sejahtera untuk kita semua.

Kali ini saya mau mengulas topik bertajuk, sikap inspiratif dari barista Starbucks.

Saya langsung ye! - NGOPI SADAYANA! 😎

Kearifan lokal negara "+62" masih kental dengan budaya ketimurannya, terkait jargon “Tamu adalah raja”.

Dalam perusahaan waralaba dikenal dengan “Pelanggan adalah raja”. Sehingga bisa dikatakan kunci suksesnya sebuah Perusahaan, peranan pegawainya sangatlah penting.

Starbucks misalnya,..

Meskipun racikannya enak, tapi sambutan dan pelayanan, pemesanan, pembayaran, hingga saat menyajikan dirasa kurang berkesan, tentunya orang ogah datang kembali. Benar nggak?

Jadi, tak bisa dipungkiri. Starbucks bisa melebarkan sayapnya di setiap sudut kota ini. Tak lain dan tak bukan.. ya karena konduite atau performa Barista-nya.

Hal ini menunjukkan bahwa wujud kearifan lokal negara "+62" tersebut benar apa adanya, dan memberi dampak positif.

Sering ngopi ke Starbucks dong? Kalau iya, berarti familiar dengan profesi Barista yekan.

Tak sedikit dari kita mungkin berpikir kalau profesi tersebut mudah dijalankan. “Ah tampaknya gampang itu mah, tinggal catat, crot ini.. crot itu jadi deh kopi, bersihin meja!” Ini yang terlintas dalam benak kita bukan?

Eits, tidak semudah itu! Jangan menggampangkan dulu deh. Banyak tantangan yang dihadapi Barista yang harus dilewati setiap harinya.

Memang setiap pekerjaan memiliki tantangan masing-masing. Tak peduli apa pekerjaannya, tentunya memiliki banyak cerita dan kisah di balik setiap profesi. Namun Barista tetap profesional saat menjalankan pekerjaannya.

Daripada menggampangkan profesi “Pelayanan” dalam konteks ini yaitu Barista. Saya ada sedikit hasil riset kecil-kecilan. Sikap inspiratif barista Starbucks yang patut diteladani. Cekidot bossku :

1. Mudah tersenyum

Sebagai profesi dengan service oriented, barista Starbucks wajib menjadi personal yang mudah tersenyum kepada customer.

Jadi ya, yang namanya manusia pasti pernah berada di situasi yang tidak mengenakkan. Namun barista tetap tebar pesona meskipun hatinya sedang galau gundah gulana. Misalnya, saat jadwal jumping, ehh.

Inilah yang menjadi tantangan terberat dari seorang Barista. Mereka dituntut untuk lebih profesional dan mengabaikan kegundahan dalam hati demi menyenangkan para customer.

Apakah kita bisa bersikap demikian? “mungkin TIDAK”. Buktinya, tak jarang loh ada customer yang mengisyaratkan kegundahan hati dengan mimik wajah yang tidak menyenangkan saat ngorder (muka berak).

Hayo ngaku.. siapa tuh yang begitu? hehe. Kalau sudah begitu, pelanggan mana yang betah berlama-lama di gerai kopi tersebut? Selera ngopi para pelanggan mungkin akan hilang jika tidak pernah tersenyum.

Karenanya, mulai saat ini, mari kita belajar untuk mudah tersenyum. Tapi jangan senyum-senyum sendiri ye..

barista starbucks
Intan (Coffee Master)
*Speachless! Kalau sudah begini, lupa jadinya mau pesen apa! Hehh. Kawan yang ketje ini bukan artis pantura ya gaes. Orangnya baik, supel, humoris dll. Sukses ya kawan..!

2. Ramah

Keramahan Barista Starbucks pantas diacungi jempol. Mulai dari customer datang, memesan minuman, hingga balik kanan dari gerai kopi tersebut. Mereka tetap menjaga keramahtamahannya.

Sikap ramah ini ditujukan untuk semua customer tanpa kecuali lho, baik itu "  " (Orang kaya baru), Jones, broken heart, ect. Sebab mereka selalu memprioritaskan kepuasan pengunjung. Hebat yak?

Untuk itu mari kita belajar ramah kepada setiap orang tanpa peduli status pekerjaan orang tersebut.

sikap inspiratif barista starbucks
Reza (Barista)
*My best friend.. Pass bareng ama saya, dia pernah kena instan karma.. Hehh. Ngudut dulu lah kawan. Anaknya kocak samalah kyak barista yang lain friendly. Menurut pengakuan belio "duit tetap nomer satu, tapi yang penting sesuai passion." Good luck berohh!

3. Selow

Kejadian yang tidak diinginkan juga sering terjadi di gerai kopi ini. Misalnya : Starbucks Card offline, minuman tidak sesuai pesanan (sebenernya bukan tidak sesuai pesanan, itu mutlak kesalahan customer saat order.. *just my opinion).

Mungkin customer beranggapan kalau ini sepenuhnya menjadi kesalahan Barista. Kemudian customer langsung emosi, dan frontal.

Uniknya meskipun demikian, Barista tetap selow atau mampu mengendalikan emosinya, dan mereka hanya tersenyum saat menghadapi sikap customer yang menjengkelkan.

Sahabat Pena :D
Ketika customer marah kepada Barista, apakah mereka membalas amarah dengan amarah? Tentu TIDAK!! Mereka justru bersikap santai, berusaha meminta maaf, dan menjelaskan kejadian yang sebenarnya kepada customer.

Jika kita di posisi Barista ini, apakah bisa bersikap sama? Oleh karenanya, mari kita belajar mengendalikan emosi yass..

4. Multitasking

Memang barista memiliki job desc masing-masing di gerai kopi tersebut. Ada yang dibagian kasir, food/pastry, Bar, dan Drive THRU. Meskipun demikian, mereka harus sanggup menjalankan beberapa pekerjaan sekaligus.

Hal ini tentu menguntungkan bagi pihak Store, apalagi saat pengunjung store ramai meriah. Operasional tetap berjalan kondusif tanpa kecerobohan sekalipun. Mereka saling bahu-membahu.

starbucks
Stay di Bar & Drive THRU
Akan ada saat-saat di mana seorang Barista harus membersihkan meja tamu yang sudah selesai sambil menyapa tamu yang baru datang.

Atau saat meracik pesanan minuman sambil meladeni customer yang tetiba palanya muncul dibalik mesin Mastrena yang minta tolong “boleh penuhin es batu gak? Hihi

Terlepas dari opini bahwa sebaiknya fokus pada satu pekerjaan, tapi tuntutan keadaan pekerjaan seperti ini yang berlangsung secara continue bisa mengasah kemampuan multitasking ye. Benar nggak?

Skill melakukan lebih dari satu tugas dalam waktu bersamaan dapat  manajemen waktu dan melatih ketajaman respon.

Keren deh, apalagi yang stay di Drive THRU. Meskipun kadang saya lihat ada sedikit kendala teknis. Misalnya modulasinya ancur mungkin (speaker aerphone gemericik). Jadinya, haah? heeh? 😆

5. Supel

Sudah gak kaget kalau kerja di bagian pelayanan orangnya supel atau mudah bergaul. Barista selalu memprioritaskan kepuasan customer karena feedback dari customer jadi hal paling penting.

Karenanya, Barista dituntut untuk  selalu ramah, selalu tersenyum, dan luwes berkomunikasi demi mendapatkan hati pengunjung. Karena sudah biasa bertemu dengan banyak orang dan dengan tipe yang beragam, wajar kalau Barista jadi supel.

Starbucks-barista
Geser ada PIC ketje "Diana" :D
PIC yang satu ini, kalo lagi murka sama anak buahnye dia ngasih pilihan dulu beroh, “Loe mau gue maki2 mau gaya apahhh?" Hahh. tapi orangnya asyik apa aje bisa jadi topik.. mantab! Good luck ya rapunsel!

6. Fokus

Barista harus mampu menjelaskan rasa minuman atau food yang didisplay di pastry kepada customer dan harus menguasai seluk beluk mengenai kopi yang dijual di setiap gerainya.

Begitu juga saat mencatat pesenan customer yang beraneka ragam menjadi tantangan tersendiri bagi Barista Starbucks.

Ada saja customer punya permintaan begitu banyak ‘syarat’. Misalnya : whipped cream sedikit saja, jangan terlalu banyak es di minumannya, pakai susu kedelai campur susu tanpa lemak, pesan cappuccino tanpa foam (hellaaaw.. disebut cappuccino karena ada  foam-nya! :D).

Atau cotoh lain, minta sirup hanya 1/3 atau 1/4 pump (Half syrup sih, mungkin masih gampang, tapi bagaimana caranya mengukur 1/3 atau 1/4 pump sirup?), sampai minta minuman panas tapi jangan panas banget. Gimana coba? 😆

Barista juga manusia keleus. Sama seperti anda, mereka juga punya mood berbeda setiap harinya. Namun, Barista tidak pernah menunjukkan hal ini.

Jadi betapa hebatnya mereka masih bisa sabar melayani semua keinginan customer.

Bayangkan kalau saat menjadi Barista pikiran kita melayang ke mana-mana. Bisa-bisa pesanan tamu salah semua. Misalnya, pesen kopi malah dikasihnya macha.

Ini bukan Malika :D
Makanya penting banget buat fokus. Konon katanya kalau fokus kerja, tandanya kita juga fokus mencapai keuangan yang sehat. *yok kita fokus ngopinya.. hahah.

7. Teliti dan Sigap

Bekerja di bagian pelayanan itu, memang kalau gak sigap ya payah..hehe, Balik lagi soal tugas seorang Barista yang meliputi beberapa hal.

Contoh : stay di VOS Drive THRU bagaimana harus punch pesanan saat payment (memberikan kembalian), ternyata mobil berikutnya sudah ningnang-ningnung minta dilayani.. hebat yak!

Contoh lain : Ketika ada kotoran atau kopi tumpah di lantai, Barista juga harus dengan sigap membersihkan sebelum ada tamu yang terjatuh karenanya.

CM lagi clean up nih :D
Note : Sitepu langsung loncat dari Bar pas lihat “customer rempong” minumannya tumpah. Belio ini Coffee Master juga yang esensinya ahli bar bikin racikan kopi tapi sigap turun tangan clean up. Mohon maaf lahir batin, ini bukan pencitraan.. good job & happy working berohh! :D

Nah makanya mari kita belajar sigap.. masa cuman bawa 1 gelas doang bisa tumpah?

***

Dari ketujuh poin yang sudah kita ulas, tentunya ada batasannya. Seperti kata pepatah bahwa kesabaran / keramahan pasti ada batasnya, barista di Starbucks kerap menemui sikap customer yang tidak menyenangkan.

Starbucks coffee
Ngantre.. :)
Bayangkan situasi ini:

Saat sedang mengantre di Starbucks dan Anda berada persis di belakang orang yang sedang memesan punya begitu banyak ‘syarat & pertanyaan’ untuk pesanannya.

Customer seperti ini, membuat proses transaksinya menjadi lama dan tentu antrean juga jadi semakin panjang. Tahu kan, betapa mengesalkannya customer seperti itu? Bukan hanya bikin kesal customer lain, tapi juga baristanya.

Mungkin para customer sering mengira bahwa duduk berlama-lama di dalam Starbucks padahal hanya pesen satu minuman/menu membuat barista kesal dan berkata, “Kenapa orang ini gak enyah, sih?”.

Nyatanya TIDAK!.. saya ulangi TIDAK sama sekali. Justru barista senang karena ada pelanggan yang nyaman dan betah di dalam store.

Dengan catatan : gak nyampah dan gak membuat kegaduhan, they are cool with it, you know? Harusnya customer memantaskan diri sebagai “Raja”. Disiplin..

Disiplin itu dimulai dari diri sendiri bukan?.. “Buanglah sampah pada tempatnya”. Apa susahnya sih kalau boleh tau??

Kalau boleh saran, sebagai apresiasi coba deh mulai biasakan untuk kasih “tip” kalau pelayanan mereka emang berkualitas. Tolong tenangkanlah dulu dirimu dan belajar memberikan feedback yang positif ya!

Mulai sekarang mari kita belajar dari apa yang sudah kita ulas di atas. Jadi jangan sekali-kali nganggap remeh atau gampangin profesi melayani OK!

Ternyata, mental kerja dan dedikasi Barista tuh patut diacungi jempol, bahkan perlu juga kita teladani. Jadi, kita harus cobain deh jadi Barista sehari aja biar bisa lebih menghargai.

Sebagai inpoh tambahan Starbucks juga sering melakukan program CSR (Corporate Social Responsibility) dengan tagline tahun ini “We are comunity” atau “” Mereka begitu antusias bukan?

Di akhir tulisan, sukses terus dah buat managemen STARBUCKS. Dear Partner, tetap semangat!! Saya akan bantu mengucapkan slogan profesi pelayanan "Anda puas kami lemas", tenang jangan langsung cemas karena masih banyak yang bisa diremas-remas.. ehh!

Mari maju bersama pelanggan. Singkatnya yuk ngopi sadayana ke Starbucks.

Sampai disini dulu cuap-cuap kita hari ini.. sampai berjumpa lagi di segmen selanjutnya..!

Nite & GBU more.. Byeeee!

8 komentar:

  1. pak rikooo kecehhh bgtt

    BalasHapus
  2. Thanks ya telah sudi mampir ditulisan ini.. :)

    BalasHapus
  3. Reno stanleyApril 29, 2019

    Artikelnya keren bang.. Cukup menginspirasi

    BalasHapus
  4. Tengkiu bung Reno, pantengin terus tulisan saya ya, merapatlah ke Starbucks dan rasakan sensasinya..heheh

    BalasHapus
  5. Putri bungsuApril 29, 2019

    Salken! tulisannya bermanfaat, emang banyak hal terlihat sepele yang gak kita sadari padahal bisa diteladani..#semangat menulis :)

    BalasHapus
  6. Slm kenal juga, menulis buat introspeksi diri.. ya syukur ada yang bisa dipetik..hehe. Thx ya!

    BalasHapus
  7. Ngopi bang, ngopiiii! Sesekali ajakin kita dong riset bareng gitu.. Hehh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bolehh..! Buat lo apa sih yang nggak boleh.. :D

      Hapus

1. Relevan (Tidak Out of Topic).
2. Sopan, jangan meninggalkan komentar SPAM di blog saya.
3. Jangan menggunakan bahasa kasar atau SARA.
4. Berilah masukan yang membangun kecerdasan berpikir.
Terima kasih atas perhatiannya!

 
;