Saya langsung yahh.. - NGOPI SADAYANA! 😎
Merujuk teori relativitas, pegas yang ditarik melebihi batas keregangan akan "mate per". Well, mumpung lagi Offtot alias Off total, timingnya manjain body! Iseng-iseng 'Log in' ke fesbuk yang sudah usang itu.
Ta daaaa!!!! Berikut laporan hasil pemantauan saya dari layar monitor selama setengah jam empat menit delapan detik (30:04:08).
Ta daaaa!!!! Berikut laporan hasil pemantauan saya dari layar monitor selama setengah jam empat menit delapan detik (30:04:08).
Ada 65 status teman yang saya baca dan saya simak, diantaranya : 7 status pasutri anyar mungkin lagi anget”nya cinta mereka.. oh yeah!, 8 status tentang ragam keluhan, 19 kepsyen foto para ‘alayer’, 11 buka OLshop sampingan alias jualan online, 9 soal makanan, selebihnya statusnya gak mutu banget termasuk share artikel yang sumbernya tidak jelas.. Skip!
Sampai disitu langsung saya 'Log out' !!
![]() |
Saya loncat dari kasur, langsung 'mandi koboy' biar seger. Selesai mandi saya berdiri dengan gagah menghadap cermin. Oh begitu tampannya mahluk ciptaan Tuhan yang satu ini.
Sifat cermin adalah pola dan jarak antara objek dengan bayangan di cermin itu sama. So,ini adalah tindakan yang tepat untuk melihat keadaan sebenarnya. Kesimpulan sementara, cermin jauh lebih jujur dari status netijen yang saya baca tadi.
Eh sebelum saya mengaum lebih kenceng dan bergema sampai ke Danau Toba sono.. saya klarifikasi yah, cermin yang saya gunakan ini adalah cermin datar bukan cermin cekung atau cembung..! 😆
Anyway, bicara tentang media sosial...!
![]() |
Kronologinya : konco lawas dan manteman terdekat suka minta Instagram, Messenger, Line dll. Saya bilang ‘gak punya’ acap kali saya dibilang sombong, dan gak jarang bertanya..
Kenapa tidak pernah lagi mengudara di media sosial? Kenapa jadi vakum? Apakah sekarang hidupmu menderita? Apakah tidak sanggup beli paketan untuk berkomentar? Jangan kyak orang miskin dong..! Tapi saya tak mau nyinyir dan banyak basa-basi, jadi saya bilang saja “sibuk”.
Kenapa tidak pernah lagi mengudara di media sosial? Kenapa jadi vakum? Apakah sekarang hidupmu menderita? Apakah tidak sanggup beli paketan untuk berkomentar? Jangan kyak orang miskin dong..! Tapi saya tak mau nyinyir dan banyak basa-basi, jadi saya bilang saja “sibuk”.
Entah itu memang benar atau alasan saya saja untuk mengantisipasi dari lontaran pertanyaan selanjutnya. Tapi yang jelas untuk menjawab pertanyaan mereka saya tidak bisa menjawab dengan cepat.
Pertanyaan itu bukanlah semacam pertanyaan yang butuh respon spontan. Sebagian mereka bahkan ada yang mencoba menebak-nebak..“jangan-jangan gegara mantan?”, ”gak mau diuntit sama si doi?” dan gak kalah sedih, “followernya dikit ya?”
Bukan karena tampilan visualnya yang membosankan. Bukan juga karena perasaan bahagia saat melihat kawan seangkatan dari satu Institusi yang mendapat pekerjaan yang lebih pantas di sebuah perusahaan ternama.
Atau karena rasa haru saat membaca cerita teman yang lagi BTT (Butuh Tatih Tayang) hingga mengunggah fotonya yang lusuh ingin diperhatikan. Atau karena senyum-senyum sendiri saat melihat teman yang dulunya kulit dekil tak terlalu terkenal jerawatnya segede jeruk purut berfoto bersama pacarnya yang perlente.
Atau karena rasa haru saat membaca cerita teman yang lagi BTT (Butuh Tatih Tayang) hingga mengunggah fotonya yang lusuh ingin diperhatikan. Atau karena senyum-senyum sendiri saat melihat teman yang dulunya kulit dekil tak terlalu terkenal jerawatnya segede jeruk purut berfoto bersama pacarnya yang perlente.
Bukan juga karena lihat info lowongan pekerjaan freelance yang gajinya lebih dari cukup untuk ajak si doi ngopi di gerai Starbucks. Atau karena siaran langsungnya Pak Sandiaga Uno yang sempat-sempatnya sadar kamera pake lip balm (pelumas bibir) saat diwawancarai.
Bukan karena kelakuan nenek Ratna Sarumpaet yang sangat tidak terpuji sempat-sempatnya membuat skenario busuk di usianya yang sudah senja ngakunya digebukin padahal gagal operasi plastik.. #ngakak online
Bukan karena kelakuan nenek Ratna Sarumpaet yang sangat tidak terpuji sempat-sempatnya membuat skenario busuk di usianya yang sudah senja ngakunya digebukin padahal gagal operasi plastik.. #ngakak online
Bukan itu kawan..bukan..suwerrr!!!
Saya lihat teman-teman unggah foto di media sosialnya. Cantik dan tampan semuanya. Dari kepsyen yang kadang bentuknya hanya stiker dan emoji, pinjam quote para tokoh ternama yang sudah lama dicabut nyawanya, bikin-bikin kata mutiara sendiri pakai B.Inggris, sampai cerita pengalamannya sepanjang potongan novel yang ceritanya “tempe”.
Itu juga persis yang saya lakukan saat awal-awal punya akun media sosial : biar kelihatan uwahhh penginnya cari foto paling elegan ( dari warna, sudut kamera, pencahayaan, wajah, bahkan sampai porsi badan paling pas yang harus masuk bingkai kamera).
Kalau bisa ajak teman yang punya kamera berlensa canggih untuk jalan-jalan bareng dengan dalih “reunian”, yang tujuan akhirnya adalah dapat foto yang sempurna! Tubuhnya jelas, latarnya buram. Sambil senyum tipis, sok cuek atau pura-pura ngobrol dengan partner di dalam foto. Yang paling menyedihkan adalah sampai tega mengcrop foto teman disebelahnya demi menunjukkan kenarsisannya sendiri.
![]() |
Sepertinya bagi mereka media sosial adalah kebutuhan primer di dalam hidupnya. Diperlakukan sebagai pasangan hidup ketika pasangan hidup di dunia nyata belum juga diketemukan.
Ruang linimasi-like-share didalam beranda mereka menjadi guyonan yang mereka tertawakan sendiri, tangisi sendiri, dikenang sendiri dan mungkin jadi bahan dilema untuk diri sendiri.
Postingan seribu tahun lalu (oke ini hiperbola ya) masih saja diorbitkan ulang....what the fuck!! belum move on? (berat pasti kamu, gak akan kuat biarkan saja saya yang move on).
Sadar atau tidak, media sosial menjelma menjadi urat nadi yang bahkan melekat lebih erat dari Tuhannya sendiri.
![]() |
Pelan-pelan saya sadar : arena ini kurang cocok untuk saya. Yang namanya “media sosial” harusnya mencerminkan nilai-nilai dalam masyarakat (bersosialisasi) yang perlu dijaga untuk saling menghormati dan mengasihi orang lain, syukur2 bisa menjadi inspirasi untuk memperbaiki diri sendiri.
Pasang foto kegiatan sosial dan cerita panjang lebar soal betapa beruntungnya saya bisa ikut serta dalam kegiatan itu, memang menyenangkan. Tapi ketika melihat foto orang lain dengan kegiatan yang lebih bergengsi, nalar kotor saya mulai bermain.
Sesekali saya ingatkan diri untuk menahan nafsu, tapi apa jadinya kalau semua yang saya lihat adalah kesenangan “glamor” yang sebenarnya pura-pura?
Pada situasi seperti ini, saya dikemudi untuk menjadi orang yang iri, mudah kesal, dan bahkan enteng menghakimi. Saya dikemudi untuk jadi orang yang dibiasakan melakukan perbandingan dan mengabaikan proses dan perjalanan yang pernah saya tempuh, kerikil yang terdapat di sana, banyak duri yang menggores, terik panas yang mengganggu, rasa lelah yang selalu dikejar2 waktu, dan hanya membanggakan tujuan akhir mereka, menyaksikan kebahagian semu.
Akhirnya kadang saya lupa bagaimana cara bersyukur. Saya dilatih menjadi orang yang abai dengan perasaan orang lain dan hanya mau ingin dilihat dan disanjung-sanjung juga alias terkontaminasi generasi micin.
Dengan kata lain, saya menjadi orang lain yang bahkan dulu sempat saya benci sendiri. Artinya saya dipaksa membenci diri sendiri . Mengerikan, bukan? hahahh
Itulah alasan saya tak ingin memberikan alasan panjang lebar padamu, kawan. Karena saya ragu kaupun akan mendengarnya. Maka biarkan saya mengaum sendirian di sini.
Saya sedih melihat teman yang berkata nyinyir di statusnya hanya untuk menjatuhkan atau mengejek bahkan merendahkan temannya sendiri secara halus.
Menggunakan kalimat-kalimat halus yang menenangkan hati tapi membakar diam-diam. Dan, kadang menggunakan bahasa asing hanya untuk menyamarkan kemarahan atau mengangkat martabat sendiri.
Saya kecewa melihat mereka merasa “dibenarkan” dengan jumlah like, share, atau komentar yang mereka dapatkan akhirnya berhasil menggiring orang lain juga ikutan marah, terlepas dari apa itu konten statusnya.
Sebelum saya lupa! seorang Moderator dalam sebuah presentasi yang pernah saya hadiri bertajuk EPTIK mengulas terkait UU ITE sempat berkata : " menulis itu seperti menelanjangi diri, makanya menulis itu sulit.. apalagi menggunakan source code".
Menulis di sana saya artikan tidak hanya secara harfiyah tetapi punya makna konotasi (mengupload foto, menampilkan emoji, mengunggah video, dan semacamnya).
![]() |
Semakin banyak hal-hal yang dituangkan dalam kata-kata, semakin terbukalah pakaian yang sedang dikenakan. Semakin detil gambaran yang dipampang, semakin tanggal kancing yang sudah rapi dikaitkan. Semakin banyak hal-hal yang kita sampaikan, semakin gampang dipetakan sisi diri kita dan orang macam apa kita sebenarnya.
Dont worry sobat..saya bukan sombong atau selingkuh dari persahabatan , silahkan berkoresponden dengan saya di nomer henpon “dari telkomsel!!! *iklan.👌
Sebagai penutup.. !
Jika memang telanjang di “media sosial” lebih menyenangkan bagi mereka, maka izinkan saya telanjang di dunia nyataku sendiri. Mengembangkan intuisi, menikmati fantasi beragam ekspresi. Izinkan saya bernapas di luar kepala meskipun jauh dari ekspektasi, merajut ilusi yang belum terealisasi, dan mengajakmu melakukan hal yang sama..
![]() |





















- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact