Jumat, 19 Oktober 2018

Tentang media sosial

Salam sejahtera untuk kita semua!

Saya langsung yahh.. - NGOPI SADAYANA! 😎

Merujuk teori relativitas, pegas yang ditarik melebihi batas keregangan akan "mate per". Well, mumpung lagi Offtot alias Off total, timingnya manjain body! Iseng-iseng 'Log in' ke fesbuk yang sudah usang itu.

Ta daaaa!!!! Berikut laporan hasil pemantauan saya dari layar monitor selama setengah jam empat menit delapan detik (30:04:08).

Ada 65 status teman yang saya baca dan saya simak, diantaranya : 7 status pasutri anyar mungkin lagi anget”nya cinta mereka.. oh yeah!, 8 status tentang ragam keluhan, 19 kepsyen foto para ‘alayer’, 11 buka OLshop sampingan alias jualan online, 9 soal makanan, selebihnya statusnya gak mutu banget termasuk share artikel yang sumbernya tidak jelas.. Skip!

Sampai disitu langsung saya 'Log out'  !!

Rico-Sihaloho-media-sosial
Saya loncat dari kasur, langsung 'mandi koboy' biar seger. Selesai mandi saya berdiri dengan gagah menghadap cermin. Oh begitu tampannya mahluk ciptaan Tuhan yang satu ini.

Sifat cermin adalah pola dan jarak antara objek dengan bayangan di cermin itu sama. So,ini adalah tindakan yang tepat untuk melihat keadaan sebenarnya. Kesimpulan sementara, cermin jauh lebih jujur dari status netijen yang saya baca tadi.

Eh sebelum saya mengaum lebih kenceng dan bergema sampai ke Danau Toba sono.. saya klarifikasi yah, cermin yang saya gunakan ini adalah cermin datar bukan cermin cekung atau cembung..! 😆

Anyway, bicara tentang media sosial...!

Tentang-media-sosial-rico-sihaloho
Kronologinya : konco lawas dan manteman terdekat suka minta Instagram, Messenger, Line dll. Saya bilang ‘gak punya’ acap kali saya dibilang sombong, dan gak jarang bertanya..

Kenapa tidak pernah lagi mengudara di media sosial? Kenapa jadi vakum? Apakah sekarang hidupmu menderita? Apakah tidak sanggup beli paketan untuk berkomentar? Jangan kyak orang miskin dong..! Tapi saya tak mau nyinyir dan banyak basa-basi, jadi saya bilang saja “sibuk”.

Entah itu memang benar atau alasan saya saja untuk mengantisipasi dari lontaran pertanyaan selanjutnya. Tapi yang jelas untuk menjawab pertanyaan mereka saya tidak bisa menjawab dengan cepat.

Pertanyaan itu bukanlah semacam pertanyaan yang butuh respon spontan. Sebagian mereka bahkan ada yang mencoba menebak-nebak..“jangan-jangan gegara mantan?”, ”gak mau diuntit sama si doi?” dan gak kalah sedih, “followernya dikit ya?”

Sosial-media-rico-sihaloho
Bukan...bukan itu..

Bukan karena tampilan visualnya yang membosankan. Bukan juga karena perasaan bahagia saat melihat kawan seangkatan dari satu Institusi yang mendapat pekerjaan yang lebih pantas di sebuah perusahaan ternama.

Atau karena rasa haru saat membaca cerita teman yang lagi BTT (Butuh Tatih Tayang) hingga mengunggah fotonya yang lusuh ingin diperhatikan. Atau karena senyum-senyum sendiri saat melihat teman yang dulunya kulit dekil tak terlalu terkenal jerawatnya segede jeruk purut berfoto bersama pacarnya yang perlente.

Bukan juga karena lihat info lowongan pekerjaan freelance yang gajinya lebih dari cukup untuk ajak si doi ngopi di gerai Starbucks. Atau karena siaran langsungnya Pak Sandiaga Uno yang sempat-sempatnya sadar kamera pake lip balm (pelumas bibir) saat diwawancarai.

Bukan karena kelakuan nenek Ratna Sarumpaet yang sangat tidak terpuji sempat-sempatnya membuat skenario busuk di usianya yang sudah senja ngakunya digebukin padahal gagal operasi plastik.. #ngakak online

Bukan itu kawan..bukan..suwerrr!!!

Saya lihat teman-teman unggah foto di media sosialnya. Cantik dan tampan semuanya. Dari kepsyen yang kadang bentuknya hanya stiker dan emoji, pinjam quote para tokoh ternama yang sudah lama dicabut nyawanya, bikin-bikin kata mutiara sendiri pakai B.Inggris, sampai cerita pengalamannya sepanjang potongan novel yang ceritanya “tempe”.

Itu juga persis yang saya lakukan saat awal-awal punya akun media sosial : biar kelihatan uwahhh penginnya cari foto paling elegan  ( dari warna, sudut kamera, pencahayaan, wajah, bahkan sampai porsi badan paling pas yang harus masuk bingkai kamera).

Kalau bisa ajak teman yang punya kamera berlensa canggih untuk jalan-jalan bareng dengan dalih “reunian”, yang tujuan akhirnya adalah dapat foto yang sempurna! Tubuhnya jelas, latarnya buram. Sambil senyum tipis, sok cuek atau pura-pura ngobrol dengan partner di dalam foto. Yang paling menyedihkan adalah sampai tega mengcrop foto teman disebelahnya demi menunjukkan kenarsisannya sendiri.

Apa-kabar-rico-haloho
Sepertinya bagi mereka media sosial adalah kebutuhan primer di dalam hidupnya. Diperlakukan sebagai pasangan hidup ketika pasangan hidup di dunia nyata belum juga diketemukan.

Ruang linimasi-like-share didalam beranda mereka menjadi guyonan yang mereka tertawakan sendiri, tangisi sendiri, dikenang sendiri dan mungkin jadi bahan dilema untuk diri sendiri.

Postingan seribu tahun lalu (oke ini hiperbola ya) masih saja diorbitkan ulang....what the fuck!! belum move on? (berat pasti kamu, gak akan kuat biarkan saja saya yang move on).

Sadar atau tidak, media sosial menjelma menjadi urat nadi yang bahkan melekat lebih erat dari Tuhannya sendiri.

Pelan-pelan saya sadar : arena ini kurang cocok  untuk saya. Yang namanya “media sosial” harusnya mencerminkan nilai-nilai dalam masyarakat (bersosialisasi) yang perlu dijaga untuk saling menghormati dan mengasihi orang lain, syukur2 bisa menjadi inspirasi untuk memperbaiki diri sendiri.

Pasang foto kegiatan sosial dan cerita panjang lebar soal betapa beruntungnya saya bisa ikut serta dalam kegiatan itu, memang menyenangkan. Tapi ketika melihat foto orang lain dengan kegiatan yang lebih bergengsi, nalar kotor saya mulai bermain.

Sesekali saya ingatkan diri untuk menahan nafsu, tapi apa jadinya kalau semua yang saya lihat adalah kesenangan “glamor” yang sebenarnya pura-pura?

Pada situasi seperti ini, saya dikemudi untuk menjadi orang yang iri, mudah kesal, dan bahkan enteng menghakimi. Saya dikemudi untuk jadi orang yang dibiasakan melakukan perbandingan dan mengabaikan proses dan perjalanan yang pernah saya tempuh, kerikil yang terdapat di sana, banyak duri yang menggores, terik panas yang mengganggu, rasa lelah yang selalu dikejar2 waktu, dan hanya membanggakan tujuan akhir mereka, menyaksikan kebahagian semu.

Akhirnya kadang saya lupa bagaimana cara bersyukur. Saya dilatih menjadi orang yang abai dengan perasaan orang lain dan hanya mau ingin dilihat dan disanjung-sanjung juga alias terkontaminasi generasi micin.

Dengan kata lain, saya menjadi orang lain yang bahkan dulu sempat saya benci sendiri. Artinya saya dipaksa membenci diri sendiri . Mengerikan, bukan? hahahh

Itulah alasan saya tak ingin memberikan alasan panjang lebar padamu, kawan. Karena saya ragu kaupun akan mendengarnya. Maka biarkan saya mengaum sendirian di sini.

Saya sedih melihat teman yang berkata nyinyir di statusnya hanya untuk menjatuhkan atau mengejek bahkan merendahkan temannya sendiri secara halus.

Menggunakan kalimat-kalimat halus yang menenangkan hati tapi membakar diam-diam. Dan, kadang menggunakan bahasa asing hanya untuk menyamarkan kemarahan atau mengangkat martabat sendiri.

Saya kecewa melihat mereka merasa “dibenarkan” dengan jumlah like, share, atau komentar yang mereka dapatkan akhirnya berhasil menggiring orang lain juga ikutan marah, terlepas dari apa itu konten statusnya.

Sebelum saya lupa! seorang Moderator dalam sebuah presentasi yang pernah saya hadiri bertajuk EPTIK mengulas terkait UU ITE sempat berkata : " menulis itu seperti menelanjangi diri, makanya menulis itu sulit.. apalagi menggunakan source code".

Menulis di sana saya artikan tidak hanya secara harfiyah tetapi punya makna konotasi (mengupload foto, menampilkan emoji, mengunggah video, dan semacamnya).

Rico-sihaloho-dimana-tinggal?
Semakin banyak hal-hal yang dituangkan dalam kata-kata, semakin terbukalah pakaian yang sedang dikenakan. Semakin detil gambaran yang dipampang, semakin tanggal kancing yang sudah rapi dikaitkan. Semakin banyak hal-hal yang kita sampaikan, semakin gampang dipetakan sisi diri kita dan orang macam apa kita sebenarnya.

Dont worry sobat..saya bukan sombong atau selingkuh dari persahabatan , silahkan berkoresponden dengan saya di nomer henpon “dari telkomsel!!! *iklan.👌

Sebagai penutup.. !

Jika memang telanjang di “media sosial” lebih menyenangkan bagi mereka, maka izinkan saya telanjang di dunia nyataku sendiri. Mengembangkan intuisi, menikmati fantasi beragam ekspresi. Izinkan saya bernapas di luar kepala meskipun jauh dari ekspektasi, merajut ilusi yang belum terealisasi, dan mengajakmu melakukan hal yang sama..

Ngopi sadayana..eh salah, ternyata root beer! 😎

Rico-haloho-apa-kabar
Happy working! God Bless You.. 
Selasa, 02 Oktober 2018

Makanan favorit khas batak toba

Horas dongans!!

Setiap daerah tentu memiliki khasnya masing-masing, tak terkecuali soal makanannya. Jika berkunjung ke suatu destinasi wisata kurang apdol rasanya jika tidak mencoba makanan favorit khas di daerah tersebut.

Pulau Samosir misalnya, salah satu destinasi wisata Danau Toba yang dihuni oleh masyarakat asli batak toba. Banyak aneka ragam makanan favorit khas batak toba yang perlu dicoba.

Berikut makanan favorit khas batak toba :

1. Arsik

Arsik
Masakan arsik sudah gak asing bagi orang batak toba. Arsik berbahan dasar ikan mas, ikan nila dan ikan mujahir. Buat warga batak toba (pulau samosir) ikan ini diolah dari hasil tangkapan langsung dari Danau Toba oleh nelayan.

Rasanya sangat khas lantaran menggunakan bumbu andaliman (sejenis rempah-rempah untuk menciptakan rasa pedas sedap getir goyang gimana gitu.. susah saya jelaskan). Andaliman salah satu bumbu khas batak toba.

Arsik ini lebih nikmat lagi kalau dimasak dengan mangga mentah sebagai pengganti asam, atasnya dikasih kacang panjang atau ‘dali’ dan ditambah dengan haronda (semacam bawang tapi daunnya halus gak setipis sangge2 juga yak) dan saat memasak bagian bawah dillapisi dengan lengkuas selain sebagai bumbu pewangi, mungkin biar gak gosong. :)

2. Tinombur

Tinombur
Tinombur juga masakan orang batak toba yang tidak kalah nikmat dibanding arsik meskipun berbahan dasar sama yaitu ikan.Tinombur terbuat dari ikan bakar yang disajikan dengan kuah kental yang sudah diracik dengan penuh bumbu.

Bumbunya sendiri tentunya dibakar dulu sebelum ditumbuk mungkin agar aromanya lebih menantang. Seperti : bawang merah, kemiri, jahe,cabe rawit dan tak lupa Andaliman bumbu khas orang batak toba.

Semua bumbu ditumbuk hingga halus menyerupai sambel. Nah sambel tersebut dibasahi dengan air panas secukupnya. Ikan yang sudah dibakar tadi terlebih dahulu dipenyetkan. Lalu dimasukkan ke dalem kuah bumbu tadi.

Rasa cabe rawit yang super duper pedas dan andaliman yang getir akan menggoyang lidah pedas sedap rasanya nikmat. Saya sendiri sangat suka masakan yang diolah dengan proses dibakar.

3. Naniura

Naniura
Masakan naniura ini bisa dikatakan shusinya orang batak toba deh. Bahan dasarnya ikan mas,ikan nila dan ikan mujahir. Diusahakan ikan yang gemuk atau ikan yang banyak dagingnya.

Proses penyajian menggunakan asam dan bumbu yang sudah diracik dalam satu kesatuan dengan cita rasa yang Hot.

Tidak perlu dimasak karena asam dan bumbu itulah yang akan mematangkan daging ikan tersebut.Asam tersebut diperas dan dilumuri ke ikan yang sudah dibersihkan tentunya. Membuat naniura ini kudu sabar untuk menungu daging ikan bener matang siap untuk disantap.

4. Napinadar

Napinadar
Kalau di atas, saya sudah bahas masakan yang berbahan dasar ikan. Sekarang berbahan dasar Ayam (bhs batak : Manuk jambe/ manuk mira). Hmmm.. napinadar ini juga gak kalah nikmat lho.

Ya, napinadar ini sangatlah berkesan. Ayamnya dibakar dan di sertai dengan bumbu yang sudah dibakar terlebih dahulu dan diuleg hingga halus. Dan nantinya dicampur dengan daging ayam yang sudah dibakar dan dipotong-potong.

Dalam penyajiannya, sebagian daging ayam bagian dada yang dicincang dipisahkan dalam piring ini disebut ‘marsira pege’ dicampur dengan irisan bawang, jahe, cabe rawit. Bener-bener rasa bumbunya dan getiran andaliman pass di lidah.

5. Saksang

Saksang
Saksang merupakan makanan yang sangat familiar buat ‘halak hita’ (batak toba). Baik itu di rantau ataupun di kampung. Kalau di kampung sangsang ini biasanya pasti ada saat orang pesta atau acara tertentu.

Ya kalo di rantau mungkin kalau lagi pengin tinggal intip saja di lapo terdekat. Saksang berbahan dasar Hurje alias Pina alias pinahan. Lejatos!

6. Tanggo - tanggo

Tanggo-tanggo
Tanggo-tanggo ini hampir mirip dengan saksang. Hanya saja potongan dagingnya lebih besar dari saksang. Tapi enak banget tanggo-tanggo kalo dari daging aili (si Pina dari hutan). Di Ajibata enak banget ini. :D

7. Panggang

Panggang
Panggang ini juga tak boleh dilewatkan yak. Pina panggang bikin lidah sangar bergetar jika disajikan dengan bener. Mantap deh pokoknye ditambah lagi rasa andalimannya yang hot, bisa-bisa gak sadar kalo kita sudah duduk dipangkuan mertua.

8. Daun singkong tumbuk & ikan teri medan

Daun singkong tumbuk + teri medan
Sayur ini juga merupakan ciri khas masakan orang batak toba. Sayur daun singkong tumbuk berbahan dasar ya daun singkong yang ditumbuk dan menggunakan santan serta dicampurkan dengan rimbang (sejenis lalapan) yang bikin rasa tambah pulen. Begitu nikmat jika dijodohkan dengan ikan teri medan yang disambelpedaskan.

9. Mie gomak

Mie gomak
Mie gomak ini berbahan dasar mie.  Mengapa dikatakan mie gomak? Karena dulu cara memakannya dengan menggunakan kelima jari tangan. Dikarenakan susahnya sendok dan garpu di zaman dulu.

Kalo di kampung bilangnya mie lidi, ya karena bentuknya mungkin mirip seperti lidi. Mie gomak ini bisa dibilang spagetinya halak hita yakan! Hmm.. mantap deh kalau pedas!

Bonus!!!

10. Gadong

Singkong
Gadong/singkong adalah makanan yang bisa dikatakan makanan pokok jaman dulu. Kalo kids zaman now mah udah pake nasi lah ye!

Tapi meskipun ini makanan pokok zaman dulu entah kenapa lidah kyaknya suka kepengin makan gadong. Mungkin lidah saya lidah orang susah ya makanya saya tempatkan sebagai bonus. Hehh

Asli kalo sudah makan gadong rasanya nampol banget yak? Apalagi dijodohkan sama gulamo (ikan asin yang dibakar) terus dicolekin sama sambel yang diuleg dengan bumbu andaliman. Makyosss! Kalau rajin mah bisa dibuat berbagai cemilan entah itu djadikan tape,dagut-dagut,lappet, ect.

Nah itulah beberapa masakan favorit khas batak toba. Gimana dongans, adakah dari makanan yang saya ulas termasuk makanan favoritmu? Jika ‘ya’ berarti kita punya selera yang sama.

Kira-kira kalo kita buka lapo biar elegan gitu yekan. Jadi setiap orderan lengkap dengan struck. Outputnya begini deh :


Tulisan ini saya tuliskan sebagai ungkapan kerinduan akan Bona Pasogit, apresiasi terhadap bahasa, Budaya, Adat dan tradisi Batak Toba serta berharap budaya batak toba tetap lestari..

- NGOPI SADAYANA!!! 😎


Tuhan memberkati !
 
;