Jumat, 31 Mei 2019

My Birthday

Masihkah harus tetap tangan mendayung, agar tidak hanyut terbawa arus?
☆☆☆

Tiap kali tanggal 31 Mei itu datang menghampiri.. Ada rasa senang, namun sekaligus ada rasa khawatir juga. Yepppiie! hari ini saya ulang tahun.. *gak ada yang nanya! Haha* - NGOPI SADAYANA! 😎

Yaps, masih termasuk umur pemuda menurut kategori umur WHO yang terbaru. Terlepas saya masuk kategori umur yang mana, saya setuju dengan opini sebagian orang bahwa umur itu sesuatu yang relatif, yang penting bagaimana spirit dan energi kita.

Orang bisa saja umur 23 tahun tapi kalau pikirannya semurawut, ruwet, stress dan energinya rendah, bisa jadi seperti orang sudah 70 tahun wujudnya gak karuan. Bener gak?

Seperti biasa, saya tak punya standart khusus mengenai b’day moment, tidak ada yang begitu spesial, tak ada yang begitu “wow!", Tak mendapat ucapan “happy b’day” pun no what what!

Bahkan field wall dan notifikasi di facebook sengaja saya disable agar tak ada yang tahu dan memposting ke timeline facebook saya. *I think it will make my wall get dirty with many similar posts there.. :D

Meskipun ternyata ada beberapa teman yang tahu dan ingat hari ultah saya dan mengucapkannya lewat pesan, dan media sosial secara pribadi of course it's Ok for me.

:D
Bahkan ada juga yang sudi memberi kejutan, tapi mohon maaf jika ekspresi saya menyambut kejutan tersebut akan terlihat biasa saja. Apalah daya, saya udah coba latihan ekspresi terkejut di depan cermin, eh buset serem. Soalnya saya tak terlalu suka kejutan, kecuali mungkin dalam bentuk uang tunai. *dasar matre!

Nah salah satu yang biasa saya lakukan saat berulang-tahun adalah merefleksi diri dan bermeditasi (saat teduh) sebagai ucapan syukur atas kasih Tuhan. Selalu dalam doa saya minta Tuhan membimbing setiap langkah saya.

Well, kalau mau dipikir-pikir sebenarnya yang layak mendapatkan ucapan selamat atas hari ulang tahun saya adalah “sosok Ibu” yang telah melahirkan saya. Karena pada hari lahir saya mengingatkan bagaimana susah payahnya belio melahirkan saya tanpa bantuan medis.

Penuh perjuangan dan kebahagiaan ketika mendengar suara tangisan saya yang meledak-ledak dan menggelegar seperti gluduk sekian tahun yang lalu di sebuah desa di Amsterdam (Ambarita terus masuk dalam) tepatnya di Siarsam dolok.

Ibu saya lah yang paling layak mendapatkan ucapan itu. Untuk itu saya ucapkan terima kasih sebesar-besarnya untuk Ibu saya R.br.Napitu dan tentunya terimakasih juga buat Bapak saya J.Sihaloho. Karena kedua orang tua saya sudah sepakat, membulatkan niat, berencana untuk kehadiran saya atas ijin Tuhan. Bukan karena faktor mabok, pergaulan bebas atau unsur ketidaksengajaan lainnya.

Mengingat, menimbang dan menindaklanjuti! Pada dasarnya bagian dari “kehadiran” seseorang di muka bumi pertiwi ini adalah mengemban sebuah tanggung jawab. Mengingat hal itu, ada keinginan yang kuat, agar dapat mengaktualisasikan kehadiran diri menjadi lebih baik di dunia yang fana ini.

Namun timbul pertanyaan dibenak saya, dengan bertambahnya satu tahun usia ini, Apakah hari lahir saya ini pertanda menunjukkan bahwa kelak akan semakin bertambah sehat? Apakah waktu yang masih tersisa, cukup untuk berbuat? Atau akhirnya, semua ini  hanya sampai begini sajakah?

Sementara dengan bertambahnya usia akan bermunculan kendala secara alami. Kondisi fisik yang sudah tak ketje lagi *hehe* terbatas untuk menunjukan eksistensi. Peluang berkarya dalam upaya “unjuk gigi” yang semakin sempit bahkan tak ada. Pikiran yang sudah tak lagi secerdas sewaktu masa muda dulu itu.

Hmm.. kini saya sadar, rupanya waktu bisa merubah banyak hal, termasuk dalam diri pribadi seseorang beserta orientasi-orientasinya..

Selain itu, selama hayat masih di kandung badan, masih tetap harus memikul yang namanya tanggung jawab. Paling tidak, tangung jawab yang proporsial :  terhadap orang tua, keluarga, handai tauladan/sahabat dekat yang memerlukan. Oleh karena itu seyogyanya adalah semangat/spirit sangatlah penting.

Jadi, memang, dalam hal ini.. banyak hal yang belum saya tuntaskan..!

Di antaranya, segelintir cita-cita, impian yang tersimpan jauh dan hampir hilang. Belum lagi, tanggung jawab lain, seperti urusan duniawi yang serba material dan praktis ini. Dan masih banyak tanggung jawab lainnya yang harus dilakukan sebagai  kewajiban. Semua ini membutuhkan energi pikiran dan konsentrasi serta kesehatan fisik yang tentu saja harus prima.

Ternyata semuanya tidak mengenal adanya keterbatasan waktu atau fisik manusia dalam perjalanan hidup ini. Saya yang telah berusia "tidak muda" lagi, ternyata tak boleh berhenti melakoni peran, tanggung jawab dan cita-cita, walau terbatas! Sesuai dengan kemampuan, kompetensi dan proporsinya. Tampaknya, tidak ada kata pensiun dini buat menjalani hidup dan tanggung jawab tersebut.

Memikul tanggung jawab itu dengan rutinitas yang sama selama bertahun-tahun belakangan, terkadang mulai terasa datar dan membosankan jika tidak pandai-pandai melakoninya. Jika semua hal-hal diatas tidak terjawab dengan baik, hidup itu ternyata tidak  banyak manfaatnya.

Memang kesejahteraan hidup erat hubungannya dengan UANG. Namun, setelah saya pelajari UANG bukanlah  esensi dari tujuan hidup:  Mengapa saya dilahirkan dan dihidupkan oleh Tuhan di bumi ini?  Masak iya karena selembar UANG?

Katakanlah seandainya setelah semua itu diperoleh dan dilewati. Maksud saya, jikalau pada akhirnya, semua itu ternyata : ada masa-masanya, ada saat-saatnya, bahkan ada batas-batasannya? What is the next step? *mikir*

Maka setelah menimbang-nimbang di hari Ulang Tahun saya ini, semakin bertambahnya umur, Saya memutuskan untuk mensyukuri atas apa yang saya terima dari Tuhan. Karena masih diberikan kesempatan (bertambahnya usia) dan dikaruniai beragam kejutan kehidupan dari-Nya yang semakin menguatkan saya.

Saya tidak bilang bahwa jalan saya sampai saat ini mudah. Ada beberapa hal yang membuat saya gusar bahkan tidak nyaman, namun ternyata tetap saya bisa temukan solusinya atau setidaknya bisa saya lewati dengan meminimalisir rasa sakit.

Mungkin ini adalah buah dari pengalaman saya. Suatu saat saya pernah ada di kondisi yang amat tidak baik. Tidak hanya psikis namun juga fisik. Titik terendah yang pernah saya alami sepanjang hidup saya. Saya masih ingat betul rasanya dan waktu itu saya tau tak ada yang benar-benar bisa mengerti apa yang saya rasakan, ya kecuali saya sendiri.

Namun saya yakin betul, Tuhan lah yang menuntun saya saat itu untuk bisa bangkit kembali hingga setampan sekarang ini.

Mulai dari situlah saya sadar.. tak penting seberapa banyak teman/ saudara/ keluarga/ seiman dan setanah air.. dll. yang saya miliki saat ini, tetapi seberapa banyak yang benar-benar bisa saya anggap atau layak saya jadikan sebagai teman/ saudara/ keluarga/ seiman dan setanah air.. dll.

Karenanya, jangan kaget kalau saya berubah draktis dalam hal bersosialisasi, sekadar menutup diri saja dari orang yang saya anggap "unfaedah".

Semoga di usia saya saat ini saya dapat menjadi seseorang yang lebih baik dan lebih dapat berkarya dari tahun-tahun sebelumnya. Tanggung jawab dalam menjalankan amanah itu melekat pada diri saya sekarang. Ketika hari ini, saya diberi umur panjang oleh Tuhan, tentu saja, saya senang dan bahagia.

Saya juga senang ketika mendapatkan ucapan "Selamat Ulang Tahun"  dari begitu banyak orang, rekan, sahabat  dan keluarga.  Semua berdoa dan  mengharapkan: agar saya selalu tetap sehat, sukses, semangat terus dalam berkarya dan selalu ceria.

Terima kasih... I really appreciate it!

Semua ucapan itu akhirnya menjadi semacam penyejuk jiwa yang tersimpan jauh di dalam relung hati, sebagai energi bekal semangat perjalanan kehidupan selanjutnya. Semoga, kita semua pun sehat, sukses dan  selalu ceria di dalam menjalankan kehidupan masing-masing. Di manapun dan kapanpun!

Lalu..“Apa alesan saya untuk bersyukur?”, dan “Apa yang bisa saya syukuri?” tampaknya terlalu bertele-tele jika harus saya tuliskan sekarang. Tunggu saja postingan saya selanjutnya di blog channel yang sama.

Sepertinya tidak terlalu berlebihan kan ya, kalau saya pun akhirnya ingin mengatakan: "I love You ALL.." :D

Sampai disini dulu cuap-cuap kita hari ini, sampai berjumpa lagi di segmen selanjutnya!

*mohon maaf jika jadwal postingnya berpindah jam tayang, menyesuaikan jadwal kerja saya..fleksible :D

Nite &GBU more.. Bye!!!

Kamis, 23 Mei 2019

Merajut Persatuan Indonesia

KUALITAS SEORANG PEMIMPIN TERCERMIN DALAM STANDAR YANG MEREKA TETAPKAN UNTUK DIRI MEREKA SENDIRI.
Ray Kroc

Have a good day everyone!!

Tulisan ini sempat menjadi draf dengan alesan buntu alias miskin ide, akhirnya setelah saya ngopi bergalon-galon rampung juga. Selamat membaca.. Jangan lupa - NGOPI SADAYANA! 😎

OK, di akhir tulisan pada postingan “Menulis nakal jelang Pilpres”. Saya memprediksi bahwa ada aroma “Paslon 01” jadi juaranya. Ternyata tak meleset gaes. Memprediksi memang bisa bener bisa salah, yang penting ada acuan yang bisa diterima nalar. *tjaahh si @Hup sotoinya keluar. :D

Sebelumnya, udah baca belum kutipan bijak yang saya tempelkan di atas. Bagus khan dijadikan sebagai referensi untuk memilih seorang pemimpin. Tau dong si Ray Kroc itu siapa? Belio itu si pencetus misi besar McDonald. Tau dong sejarahnya? Kalau belum, Selamat anda punya minat baca yang minim.

Dulu saya menemukan kutipan ini terkait teori dan perilaku organisasi gitu deh. Kenapa 'dulu'? Karena saya lupa kapan terakhir kali saya menjerumuskan diri pada hal yang berbau akademis.

So, kalau saya ikut senang dengan hasil Pemilu 2019 boleh dong?? NGGAK!!! (dijawab berjamaah oleh pendukung Paslon no.02) *BODO AMAT! :D

Sekadar mengingatkan saja takutnya situ lupa, yang ngomong kalau Pak Jokowi menang akan potong alat kemaluannya ditunggu ya!! Terus yang bilang kalau Pak Jokowi menang akan pindah dari Indonesia, silahkan!! Indonesia tidak butuh manusia bermental pengecut, dengan senang hati kita ikhlas banget untuk ngurangi populasi masyarakat yang bodoh di negeri ini. *intermeso

Kalau boleh urun saran, jadikan itu sebagai pelajaran ke depannya jangan membuat statemen seenak perut. Percuma yekan sekolah tinggi-tinggi tapi asbun (akronim : asal bunyi).

Yang sudah baca sampai pragraf ini jangan kecewa, karena belum masuk ke pokok pembahasan..haha

Baik! Pertarungan di panggung politik merebut kekuasaan dalam Pilpres dan Pileg sudah berakhir, syukurlah yekan? Sebelumnya dimasa-masa kampanye seluruh Indonesia sempat terguncang kyak kapal nabrak karang, membuat gaduh netizen. Sehingga timbul konflik bagi sebagian masyarakat. Saya paham tentunya hal ini merupakan bagian proses demokrasi yang bebas menyuarakan aspirasi rakyat.

Namun sangat disayangkan, seandainya saja dipahami bahwa Pemilu merupakan sarana guna mengaplikasikan proses demokrasi. Seharusnya para elit politik dan seluruh elemen masyarakat Indonesia gak perlu terpecah belah. Sebab untuk mewujudkan sebuah pemerintahan yang demokratis tentu ada mekanismenya yaitu rule of law, dengan menyelenggarakan Pemilu yang berdasarkan transparansi, jujur dan adil.

Pesta demokrasi Pemilu serentak telah selesai kita gelar pada Rabu, 17 April 2019. Sesuai prosedur per-UU-an Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kamis, 22 Mei 2019 telah ketuk palu dan mempublikasikan pemenangnya, Pak Joko Widodo memenangkan Pilpres 2019 mengalahkan Pak Prabowo Subianto.

Yaps, tetiba keingat sama pesan Pak Ahok sebelum diadili bahwa “kekuasaan adalah sesuatu yang diberikan oleh Tuhan” :

Pemenang_pilpres_2019
Basuki Tjahaja Purnama
"Kepada pendukung kami, pasti merasa sedih dan kecewa kami mengerti,"
"Tapi enggak apa-apa percayalah bahwa kekuasaan itu Tuhan yang kasih Tuhan yang mengambil,"
"Tidak seorangpun bisa menjabat tanpa kekuasaan Tuhan"

Sepakat deh sama Pak Ahok. Memang kalau sudah kehendak Tuhan, tak ada yang bisa menghindar dari kekalahan. Sama halnya tak ada yang bisa menghalangi kemenangan, karena itupun merupakan bagian dari rencana-NYA.

Untuk itu, yang kalah jangan berkecil hati, dan yang menang jangan berbangga hati. Marilah kita semua bersatu, demi suksesnya keberlanjutan kepemimpinan nasional. Jangan sampai reputasinya anjlok lagi disaat Indonesia sudah mulai diakui dan dihargai atas segala prestasinya saat ini, serta pembangunannya yang pesat menuju Indonesia maju dan sejahtera yang disegani bangsa lain.

Untuk membentengi dan menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. Kita sebagai generasi Y harusnya menjadi garda terdepan. Jangan segala sesuatunya dikait-kaitkan dengan SARA, pokoknya jangan! Kita harus menjunjung tinggi nilai Bhinneka Tunggal Ika. Bener2 memaknai arti simbol negara yaitu PANCASILA dan butir-butirnya, juga berpedoman pada UUD 1945. Dibarengi pemerintahan harus dikelola dengan benar dan sebaik-baiknya sesuai dengan amanah yang sudah diberikan oleh rakyat.

Semoga saja dengan terpilihnya kembali Pak Jokowi sebagai Presiden Indonesia dan para anggota Legislatif baik dalam cakupan Kab/ Kota, Provinsi ataupun skala Nasional, maka ia harus sadar betul bahwa jabatan adalah sebuah “amanah” yang harus ditunaikan. Bisa dikatakan, bahwa nasib bangsa ini hingga lima tahun mendatang berada di tangan mereka yang menduduki kursi jabatan di pemerintahan yang terpilih dalam pemilu 2019.

Korelasinya dengan pemerintahan yang demokratis, amanah yang diemban atau sistem kekuasaan yang dikekola oleh pejabat yang terpilih itu bersumber dari rakyat. Ini yang disebut dengan prinsip kedaulatan rakyat. Hasil pemilu merupakan mandat bagi aparatur pemerintahan. So, mandat itu sebuah amanah yang harus betul-betul dijaga, dipelihara dan dijalankan dengan sebaik-baiknya.

Anyway.. walau Pilpres dan Pileg sudah selesai, namun ada sesuatu yang menarik untuk saya obrolkan. Mau tau? *scroll terus tulisan saya sampai selesai.. haha.

Menyaksikan segala situasi dan kondisi sekarang ini. Timbul sedikit kekwatiran dalam benak saya, memang tak baik jika su’udzon. Anggap saja ini pemikiran terburuk saya ya.

Mengingat rekam jejak Pak Prabowo yang kembali gagal untuk merebut kekuasaan itu. Padahal saat kampanye tim belio ini sudah banyak kontroversi dikalangan masyarakat. Barbar seolah-olah kemenangan itu sudah didepan mata, bahkan sudah sempat menyelenggarakan deklarasi kemenangan (what the fuck?).

Faktanya hal tersebut terbalik tak seperti yang mereka kira, yang saya kwatirkan hal tersebut akan membuat “garis keras” murka yang berpotensi menimbulkan kondisi semakin sengit.

Diibaratkan pengembara yang sudah lama mengembara dipadang tandus, tiba-tiba melihat seperti genangan air dari kejauhan, tentunya hal tersebut sangat menggembirakan, dan membuat hati lega, tapi pada kenyataannya hanya fatamorgana, maka murka pun tidak bisa dielakkan.

Inilah yang sangat saya kwatirkan. Padahal kalau pun Pak Jokowi harus menang dua periode, sebetulnya tidak perlu dipermasalahkan juga, karena itu sudah menjadi Takdirnya. Sekalipun hal tersebut tidak bisa diterima oleh kubu lawan. Karena tidak ada yang sia-sia dari apa yang sudah direncanakan Tuhan.

Kalau pun Pak Prabowo ditakdirkan kalah, itupun Tuhan sudah siapkan rencana yang lebih baik bagi Pak Prabowo dan pendukungnya. Yang terbaik bagi masyarakat adalah, apa pun hasilnya dari Pemilu 2019, semua pihak harus bisa menerima dengan lapang dada.

Saya pribadi mengucapkan selamat dan harapan yang terbaik atas terpilihnya Pak Jokowi sebagai Presiden Indonesia.

Ucapan_selamat_presiden_RI_2019
Jokowi-Amin
Ucapan selamat yang saya maksud bukanlah semata-mata karena mengalahkan kubu lawan. Ini hanya lebih ke rasa terimakasih ke Pak Jokowi atas kejujuran, niat baik dan kinerja yang sudah dikerjakan selama ini. Walau belum semua janjinya bisa di-follow up tentu butuh waktu. Untuk itu rakyat memilih Pak Jokowi memberikan kesempatan meneruskan program-programnya yang masih tertunda.

Okey, Kembali ke ucapan "Selamat"..hehe!

Bagi badan Legislatif yang baru terpilih, tak usah saya ucapkan selamat. Mohon maaf nih.. Sesungguhnya, ucapan selamat pada pejabat publik yang baru terpilih adalah kebiasaan yang salah kaprah menurut saya. Tradisi yang tak ada dasar logika dan etikanya.

Alesannya? Ya, karena belum apa-apa, hasil kerjanya belum bisa dievaluasi artinya belum ada karya dan hasil kerjanya yang bisa dilihat, ditunjukkan dan dibuktikan. Dari sisi mana ucapan selamat perlu saya berikan? Jika dengan alesan memenangkan pemilu, bukankah memenangkan pemilu tak menjamin kesuksesannya dalam tugas kepemimpinan? Selain itu, banyak kok pejabat masuk penjara belum lama setelah dilantik karena melakukan penyelewengan dan korupsi.

Tidak sedikit loh, yang memenangkan pemilu bukan calon terbaik, tapi yang paling banyak pendukungnya melalui mobilisasi massa. Bahkan dengan cara curang memenangkan ditempuh dengan cara-cara yang tidak etis dan tidak bermoral misalnya dengan money politis.

Niat dan tujuan mereka meraih jabatan bukan ingin berbakti dengan tulus, memberikan sumbangsih tenaga dan fikiran kepada masyarakat, negara dan bangsa. Tetapi lebih sebagai pengembangan karir, sebagai persaingan kelompok, rebutan kekuasaan dan bayangan menikmati fasilitas dan kekuasaan.

Imbasnya, banyak pejabat tidak maksimal melakukan tugasnya, gagal menjalankan amanat dan berdusta dengan janji-janjinya alias bulsit. Kemampuan bekerja minim, juga ketidakseriusannya mengatasi persoalan-persoalan, serta ketiadaan program-program strategis yang ditawarkan.

Itulah makanya program pemberantasan korupsi harus dipertegas. Sudah saatnya diberlakukan hukum mati buat tukang korupsi. Bila penting dikebiri dulu, ditetesin jeruk nipis gitu, biar bisa buat pelajaran buat yang lain. Saat kampanye begitu lemes mulutnya tapi prestasi NOL besar.

Sebagai penutup, sekali lagi saya ucapkan selamat untuk Pak Jokowi dan Legislatif yang kembali terpilih dan sudah berprestasi. Untuk Legislatif yang baru terpilih tunjukkan bahwa you pantas mendapat selamat... jangan cengengesan disitu apalagi cuman pencitraan foto-foto.

Mungkin soundtrack yang pas untuk mewakili isi hati rakyat, melihat kelakuan koruptor yang seperti bangsat! mari kita puter lagunya Om Iwan fals : "Surat Buat Wakil Rakyat"

Besar harapan saya semoga yang sudah terpilih bisa menjalankan amanahnya sebagai pemimpin di Indonesia tercinta ini. Berharap Indonesia lebih baik lagi. Semoga tak ada lagi status kebencian dan provokasi.

So.. 01 dan 02 sudah berlalu, sekarang kita teruskan ke 03 yaitu “PERSATUAN INDONESIA”. Terimakasih!

Sekian dulu cuap-cuap saya hari ini, sampai berjumpa lagi di segmen selanjutnya!

Nite & GBU more.. Bye!!!

Kamis, 16 Mei 2019

Pengaruh K-Pop bagi remaja Indonesia

Hello readers!
Annyeong haseyo.. *Samchon datang :D

Jika kalian bisa terhempas di page ini, kemungkinan besar ada ketertarikan dengan Korea. Iya bukan? bukan begitu? *Yok - NGOPI SADAYANA! 😎

Topik ini saya angkat sesuai request salah satu partner S-BUX SC48. Belio meminta opini penulis tentang pengaruh K-Pop bagi anak muda Indonesia. Sweater merah jangan sampai lewat! :D

Pengaruh-Kpop-bagi-remaja-indonesia
Gengs Sc48 :)
Saya langsung saja yak!

Searah bergulirnya zaman dan dampak dari globalisasi, masuknya budaya asing tentunya membawa pengaruh untuk bangsa Indonesia. Hal ini jelas terlihat beberapa tahun terakhir, kebudayaan asing mengontaminasi negara kita. Budaya asing dalam konteks ini, saya mengacu pada Republik Korea Selatan. Untuk mempersingkat, sebut saja K-pop dan K-drama.

Industri hiburan Korea Selatan ini mengguncang dunia entertainment dengan fenomena budaya pop-nya. Bahkan di negara-negara Asia, kedudukan musisi barat mulai digeser oleh musik K-Pop. Banyak hal yang membuat pecinta musik pindah haluan, mulai dari musiknya yang khas, lirik yang menginspirasi, tampilan para personilnya yang unik, bening dan segar, hingga wajahnya yang kinclong nyaris tanpa pori-pori *haha*.

Para Idol dari negeri ginseng tersebut mampu menghipnotis penonton untuk menjadi fans mereka, terutama para kaum remaja betina. Impactnya mewabahlah Korean wave (demam korea). Mulai dari style-nya, budayanya, bahasanya, makanannya dan tata cara perlakuan pun kini banyak sekali ditiru oleh K-Popers (julukan penyuka K-Pop).

Bahkan ada pula yang fanatik, hingga mereka tidak rela kalau idolanya mempunyai pacar. Daripada dibelai oleh wanita lain, mereka lebih memilih idolanya menjadi perjaka tingtong sepanjang masa. Hei.. fansgirl K-Pop bener gak??

Selain K-Pop, K-drama alias Drakor juga tak kalah menarik perhatian para fans nya. Tak jarang Drakor yang bercerita tentang percintaan menjadi favorit mereka di setiap episodenya. Makanya sering kita dengar kata-kata hidup ini penuh dengan drama, yaps.. itu kerap terjadi karena banyaknya Drakor yang muncul dipertelevisian Indonesia.

Namun gak bisa dipungkiri, tak sedikit yang memandang musik K-Pop ini sebelah mata. Hal tersebut memicu adanya isu yang menjadi kontroversi dikalangan masyarakat. Isu ini sering banget berseliweran di sosmed. Bener gak?

K-Popers sering mendapat stereotip negatif dari berbagai kalangan, baik dari kalangan orang-orang yang merasa keren dan classy sampai kalangan agamis, beramai-ramai menyindir para penyuka K-Pop. Soalnya stereotip kalo penyuka K-Pop itu masih abg-abg labil yang belum cukup umur.

Meskipun kegiatan ngefans sama oppa-oppa ini dianggap sebagai kegiatan yang childish. Tapi banyak juga kok wanita karier, bahkan ibu rumah tangga yang fans K-Pop. Tapi karena stereotip penganut “oppa is mine” itu (dominan ABG labil) sudah melekat, jadilah K-Pop dianggap "law class".

Sampai-sampai pernah ada saya temukan yang bikin konten, "Jangan nikahi wanita yang menyukai Korea! Ekspektasinya terhadap suaminya tinggi! Mereka maunya sama lelaki yang cakepnya kayak oppa! Bla bla bla..." *jangan gitu dong Ferguso!

Awalnya saya juga demikian, beranggapan kalo penyuka Korea itu pasti standar cowoknya jadi ketinggian. Pasti tipe-tipe cowoknya itu yang mirip oppa-oppanya. Namun, apakah kenyataannya seperti itu? Demi alasan penasaran, saya langsung stalking beberapa  fansgirl K-Pop di medsos yang saya miliki. Kabar baiknya “Enggak juga..!” :D

Kalo saya positif think aje sih, yang ganteng akan kalah sama yang bikin nyaman.*kira-kira begitu khan Esmeralda?

Peringatan ini juga berlaku yak buat dirimu para fansgirl K-Pop yang bermimpi besar mau jadi istrinya oppa. Meskipun sekarang kalian masih punya impian begitu, liat aja nanti kalo ketemu sama yang bikin nyaman kyak Samchon ini.  *digaplok sama readers. :D

Okey! Sebelum tulisan ini saya publish, saya mengutip respon dari beberapa orang tentang Kokorean ini, (((gengar-dengar))) ada yang bilang :

Lagu apaan neh? Kok bahasanya aneh? ih gak ngerti! Hah ini cowok? Kok kayak cewek sih? ih bencong banget! ih kok joget-joget gitu sih? Sesama cowok masa begitu? ih homo ya? Artis korea kan oplas semua. Ah artis K-Pop itu cuma modal tampang doang, enggak bisa apa-apa!

Mendengar ocehan seperti ini mungkin bisa membuat para K-Popers merasa kesal dan hatinya terasa terkoyak-koyak sampai berdarah-darah yakan?? Hei K-Popers sini duduk di samping Samchon. Biar kita klarifikasi.. haha.

Emang apa yang salah kalo menjadi seorang K-Popers? Selera setiap orang beda-beda. Namanya anak muda ada naluri tertarik dengan hal-hal seperti itu. Kalau dengan alasan bahasa yang gak ngerti? Banyak juga loh orang yang suka lagu Western tapi nggak ngerti artinya. Apa bedanya? Toh, kalo nggak tau juga tinggal tanya mbah gugle. Simple kan?

Penyuka K-Pop itu, sama kok kayak yang suka superhero, suka anime, suka bola, dan suka-suka lainnya. Sama-sama suka sesuatu. Jadi gak perlu disensiin sebegitunya. Menurut saya, sudah menjadi hak tersendiri bagi seseorang untuk mencintai dan mengidolakan siapa saja. *Hmm.. kyaknya Penulis K-Popers juga yak?

Sorry to say! Penulis gak terlalu suka sama Kokorean, Penulis lebih suka Jejepangan, Tataiwanan, Babaratan..haha

Saya enggak! gak menyangkal, emang bener. Kadang budaya K-Pop emang kontradiksi sama ajaran agama dan budaya negara kita sendiri.

Lantas kenapa K-Popers rasanya langsung jatuh ke kasta terendah dimata mereka?

Kesalahannya cuma letak kefanatikannya, sebagian K-Popers emang terlalu berlebihan. Masa cuma gara-gara ngeliat idolnya bisa sampe sehisteris itu dan heboh banget? Kalo gak fanatik mungkin juga yang bikin konten gak akan merasa tersaingi sama oppa-oppa itu yes khan?

Anehnya lagi, saya pernah menemukan tulisan K-Popers gini :
"Oppa! I believe in you.. no matter what they say.. no matter what you did and what happen.. We still beside you!"
*risih denger kata-kata itu, kyak udah di anggap Tuhan aja!

Penulis pun disela-sela kesibukan seorang penikmat film kok, seperti postingan saya sebelumnya “Review film : Children of Heaven”. Selama film tersebut asyik, saya akan asyik pulak menontonnya termasuk film Korea. Film Korea tidak melulu menyoal percintaan. Masih banyak genre lainnya. Misalnya: action, keluarga dll. Namun sekedarnya saja.

Bohong kalo saya bilang gak melek lihat yang pah*nya kinclong apalagi dengan balutan busana kurang bahan. Akan tetapi menurut penulis menonton ataupun mengefans kan sesuatu itu tidak harus secara berlebihan, dengan kata lain wajar-wajar saja.

Fans K-Pop tidak melulu dikaitkan dengan fanatisme dan obsesi. Ada banyak manfaat menyukai K-Pop yang bisa dirasakan oleh fans. Apalagi jika mereka bisa mengubah rasa suka menjadi dorongan yang positif. Oleh karena itu K-popers juga harus bijak memilah hal dari dunia K-pop ini, jangan langsung dilahap semua.

Berikut saya kutip jawaban dari narasumber sebagai K-Popers, beberapa alasan mengapa mereka suka K-Pop :
*di scroll ya (atas-bawah)
Alasan mengapa K-Popers menyukai artis K-pop :
  • Para member Boyband dan Girlband Korea harus melewati masa trainee sebelum debut. Ada seleksi yang ketat untuk menjadi trainee, ini membuat mereka dapat tampil bagus saat debut. Artinya yang berhasil debut saat ini, adalah orang-orang yang terpilih.
  • Artis K-Pop adalah seorang yang pekerja keras, terbukti dari usahanya mengikuti trainee bertahun-tahun. Mereka adalah orang yang energik dan bersemangat
  • Artis K-Pop multitalented. Mereka bisa eksis di bidang nyanyi, dance, MC, bahkan drama. Aktingnya bisa terlihat real, artinya tidak terlihat seperti dibuat-buat. Mereka menjalankan itu semua dengan tekun dan rajin.
  • Style fashion mereka selalu keren dan bisa menjadi panutan, juga memiliki wajah dan penampilan yang berkharisma, dan memiliki senyuman maut.
  • Mereka “tahan banting”. Mereka rela perform di panggung walaupun dalam keadaan sedang tidak enak badan. Memiliki kualitas yang tinggi dan prefesional.
  • Mereka selalu mengusahakan agar tampil Live *tidak lip-sync* kecuali ada hal-hal tertentu yang memaksa mereka untuk lip-sync.
  • Tidak Jaim kepada para fans. Meskipun terkenal tapi masih berusaha humble dan berterima kasih kepada para fans. Mereka menghargai para fans nya, dan mau menunjukkan siapa dirinya yang sebenarnya kepada masyarakat.
  • Hidup untuk fans, artinya mau mengeluarkan seluruh tenaganya demi kesenangan fans. Bahkan lebih mementingkan Fans daripada Pacarnya. Buktinya banyak diantara artis K-Pop yang belum memiliki pacar.
  • Dapat menyesuaikan diri dengan kondisi yang ada. Misalnya, saat di variety show mereka kan menjadi sosok yang lucu dan *gokil. Pada saat di panggung mereka dapat tampil dengan serius.
  • Kompak, satu sama lain. Mereka bersaing secara sportif. Ini terbukti sesama artis K-Pop walaupun beda managemen, mereka tetap bersahabat.
  • Suka mengadakan konser internasional, ini menunjukkan mereka mempunyai popularitas yang tinggi.
  • Kreatif, memiliki konsep yang berbeda untuk setiap lagunya. Cover Design albumnya keren dan inovatif.
  • Memiliki teknik dance/menari yang bagus.
  • Dapat menjadi salah satu sarana hiburan untuk me-refresh otak dari rutinitas yang penat.
  • Hal yang paling krusial tentunya K-pop berhasil bikin mood lebih baik, juga merasa lebih muda.
  • Lagu-lagu Korea memiliki banyak jenis, ada yang cocok untuk ngedance, ada yag cocok untuk dihayati (lagu ballad). Dan lagu Korea bersifat easy listening dan mudah dihafal. Serta lirik dari lagunya mempunyai arti yang bagus.
  • Memiliki kepribadian yang unik, juga memiliki tubuh yang indah dan itu semua mereka dapatkan dengan susah payah.
  • Memiliki nama Fansclub yang unik, dan setiap boyband/Girlband memiliki ciri khasnya masing-masing.

Yang perlu dikasih penekanan adalah “setiap hal pasti punya sisi baik – buruk” sama kayak dua sisi mata uang, tergantung gimana kita bisa memposisikan diri kita. K-pop itu memang salah satu sarana buat escape from reality. Namun, jangan terlalu terlena dengan escape-nya. Realita tetap harus dihadapi. Coba ambil yang baiknya yang jeleknya jadiin pelajaran dan batesan kalo hidup ini realita dan bukan drama.

Well, menurut penulis masuknya kebudayaan Korea ini dapat memberikan pengaruh positif maupun negatif bagi Indonesia. Check it out Bossku !

Dampak positif masuknya K-Pop ke Indonesia :

  1. Menambah wawasan mengenai bahasa dan budaya negara lain. Walau tujuan awalnya adalah untuk mengerti apa yang diucapkan oleh para idola kesayangan, banyak juga yang akhirnya bisa menggunakan kemampuan berbahasa Korea untuk mencari pekerjaan/menunjang karir.
  2. Munculnya motivasi untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Hal ini terinspirasi dari gaya hidup para idola. Idola K-Pop memang dikenal sangat disiplin, pekerja keras, dan punya semangat pantang menyerah dalam menggapai impian.
  3. Membangun Rasa Percaya Diri. Para K-Popers biasanya bakalan mengikuti gaya busana dan gaya rambut idolanya. Seperti : memakai sepatu, topi, tas, pakaian, bahkan aksesoris dan segala perintilannya. Gak heran kalo K-Popers jadi fashionable, ketje dan lebih modis.
  4. Mempererat hubungan bilateral antar negara Indonesia dengan Korea Selatan, sekaligus menambah devisa negara. Dengan banyaknya artis korea yang datang ke Indonesia untuk menggelar Konser seperti Super Junior yang secara tidak langsung mempromosikan Indonesia sebagai tujuan menarik para wisatawan asing. Di sisi lain, Korea Selatan dapat meningkatkan ekonomi mereka dengan menerima royalti dari penjualan album dan sebagainya. Disinilah hubungan timbal balik itu akan terjadi (simbiosis mutualisme).
  5. Mempermodern dan menambah genre musik di Indonesia. Hal ini mampu mengeksplore bakat dan kreatifitas terpendam. Para remaja bisa belajar seni tentang K-Pop, mulai dari dance, olah vokal, genre musiknya dsb.
  6. Menginspirasi dunia musik di Indonesia, hal ini terbukti dengan adanya Korean wave di Indonesia membuat banyak agensi di Indonesia yang memunculkan girl band atau boy band baru.
  7. Memperluas wawasan kuliner. Bicara soal K-Pop pastinya enggak bisa dipisahkan dari makanan Korea dong. Makanan yang sering muncul di antaranya jajangmyeon, kimchi stew, bibimbap dan saksang.

Dampak negatif masuknya K-Pop ke Indonesia :

  1. Lunturnya kebudayaan lokal Indonesia. Fans yang sangat fanatik dengan K-Pop akan mengikuti dan menyerap kebudayaan mereka sebagai wujud rasa cinta terhadap sang idola.
  2. Berkurang rasa cinta terhadap musik Indonesia. Hal ini berpotensi musik asli Indonesia seperti melayu dan dangdut, lama kelamaan akan hilang.
  3. Gaya pacaran yang kelewat batas. Entah semacam trik marketing, film korea emang selalu diselipin adegan “Hot” atau menampilkan gaya pacaran yang lebih berani. Adegan tersebut bisa mempengaruhi anak-anak ABG labil yang masih unyu dan suci (KTP saja belum punya) untuk menirunya.
  4. Lebih menyukai produk yang berasal dari luar di banding produk asli Indonesia. Hal ini jelas, kebanyakan masyarakat kita lebih merasa bangga jika menggunakan produk impor.
  5. Perubahan perilaku yang berkiblat pada budaya K-Pop. Khususnya bagi anak remaja yang belum bisa menyaring semua hal dengan baik. Bisa terpengaruh dengan budaya negatif korea seperti : adegan bermesraan, pergaulan bebas, tarian erotis, tatto, vulgarisme (pakaian yang terbuka dan mini), hidup hura-hura, mengkonsumsi minuman keras dan adegan lainnya. Bisa-bisa mereka menjadi lupa jati diri mereka sendiri sebagai anak bangsa Indonesia.
  6. Tindakan plagiatisme atau peniruan semakin banyak. Plagiatisme tentu memberikan dampak negatif bagi si plagiatnya. Mereka menjadi tidak kreatif dan tidak bisa berkreasi sendiri, hal ini dapat menjadikan seorang plagiat menjadi orang yang malas.
  7. Meski tidak selamanya merugikan orang lain, sifat konsumtif atau delusi terhadap K-Pop bisa berdampak buruk terhadap kehidupan seseorang dalam jangka waktu panjang.
Sedikit pesan moral dari penulis :

Lebih selektif terhadap pengaruh globalisasi khususnya dibidang ideologi dan sosial budaya asing yang masuk ke Indonesia. Jangan sampai menjadi fans fanatik yang buta sehingga melupakan moral yang ada dibangsa sendiri. Ada baiknya kita mengendalikan diri agar rasa kagum tersebut tidak melampaui batas. Intinya yang bermanfaat diambil, yang tidak bermanfaat sebisa mungkin dihindari.

☆☆☆☆☆

Sekian dulu cuap-cuap hari ini, sampai berjumpa lagi di segmen selanjutnya!

Nite & GBU more… Bye!!

Senin, 06 Mei 2019

Review film : Children of Heaven

Selamat Menunaikan Ibadah Puasa..😎

Welcome may..!

Sekarang saya lagi kalem nih, stamina lagi di level satu. Jadi ngomongnya juga rada kalem. Sembari manjain body, saya coba buka folder di laptop. Saya menemukan sebuah film menarik untuk saya review. - NGOPI SADAYANA! 😎

Film ini dulu dikasih sama Markonah (nama samaran) saat masih aktif di sebuah entitas. Ternyata filmnya masih ke-save, selain saya bisa menonton ulang film ini saya juga bisa mengenang memori bersama Markonah wanita muslimah yang cantik jelita itu.

review-film-children-of-heaven
Children of Heaven
Okey yang mau saya bahas bukan si Markonah, tapi filmnya! Saya langsung saja ya..!

Sebagian orang mungkin sudah pernah menonton film “Children of Heaven”. Film ini dulu pernah dinominasikan dalam Academy Award sebagai film berbahasa asing terbaik. Meski film ini jadul, buat saya tak ada bosen menontonnya. Film ini juga mampu membuat saya terpukau, nyaris tak berkutik sedikitpun dari tempat duduk.

Alasannya? Karena ide cerita yang logis, menginspirasi, akting yang bagus. Selain itu, alur ceritanya yang sangat simple. Simple dalam arti tidak hanya durasinya yang singkat tetapi juga isi ceritanya yang mudah dipahami.

Berbanding terbalik dengan kanca perfilman Indonesia yang lebih cenderung menampilkan tema yang justru sudah membuat “ngeri” duluan. Seperti : Hantu puncak datang bulan, Kutang kuntilanak, Air terjun pengantin. What the fuck??

Bahkan tak jarang serial film di Indonesia membuat judul yang “membingungkan”, seperti : “Suamiku adalah suami dari kakak ibu tiri ayah kandungku”. “Norak”!!! Sama sekali tidak bernuansa edukatif.

Film Children of Heaven terkesan sederhana, tidak ada baku tembak, jambak-jambakan, peran antagonis, juga ugal-ugalan naik motor gede, kesurupan ataupun ledakan bom.

Dibandingkan kebanyakan film layar lebar Indonesia yang hanya mengumbar kekerasan, perselingkuhan dan seksual secara vulgar, mengekspos bagian tubuh hasil suntik silicon sampai terlihat mau pecah dengan pakaian super ketat lebih ketat dari lemper dibungkus daun pisang. (lagi-lagi saya harus membandingkan dengan film Indo yang memang tak ada perbandingan) #asli gak mutu!

Fenomena ini menarik perhatian saya untuk mengulas tentang film “Children Of Heaven”. Meskipun berkisah tentang kehidupan anak-anak, menurut saya film ini sangat bagus dan layak, bisa dinikmati oleh semua kalangan. Saya sangat merekomendasikan untuk ditonton oleh para orang tua juga anak-anak (bagi yang belum pernah menonton).

Film Children of Heaven sungguh sebuah film bermutu, mengharukan dan terkesan sekali. Tak hanya rasa iba dan kesedihan mendalam yang membuat saya terenyuh menyaksikan sepasang bintang cilik ini beraksi. Namun kelucuan dan keluguannya terkadang mampu membuat tertawa menontonnya.

Okey, bagi yang belum pernah nonton, mending simak yok sinopsisnya!

Sinopsis Singkat

review children of heaven
Ali & Zahra
Kisah sinema ini mengambil settingan dengan sosok bocah lelaki bernama Ali Mandegar dan mempunyai adik perempuannya Zahra dan seorang lagi masih bayi. Anak belasan tahun dari keluarga Karim ini hidupnya sangat sederhana yang tergolong keluarga miskin. Maklum, Karim ayahnya hanya seorang Marbot pengurus masjid di tempat tinggalnya. Kemiskinan itulah yang membuat titik persoalan di film yang berdurasi singkat ini.

Ali yang mendapat tugas dari sang ibu untuk membeli kentang di pasar, awalnya memperbaiki sepatu adiknya Zahra pada seorang tukang sol sepatu. Usai sepatu adiknya dijahit oleh tukang sol sepatu, lalu dibungkus pakai kantong plastik kresek dan meneruskan tugas dari ibundanya ke pasar sayur mayur.

Untuk memudahkan belanja yang dipesan ibunya, Ali menaruh sepasang sepatu butut yang tadi di kantong plastik kresek ke sela-sela tumpukan kotak kayu di bawah sisa barang dagangan. Sialnya sepatu butut tersebut selanjutnya terbawa oleh tukang sampah yang membersihkan lingkungan kios-kios.

Tak heran usai belanja kentang, Ali tidak menemukan sepatu adiknya yang disimpanya di sela-sela tumpukan kotak kayu dekat barang dagangan. Kalang kabut Ali mencarinya. Ia pun mencoba mengendap-endap mencari sepatu itu, namun penjual sayur mayur didekatnya menjadi terganggu dan melihat Ali seolah-olah ingin mencuri barang dagangannya. Ali pun diusir dan dikejar sehingga Anak malang itu lari tunggang langgang.

Sesampainya di rumah Ali menjadi cemas dan pucat pasi. Berulang kali Zahra adiknya menanyakan sepatu yang diperbaiki, namun Ali tak bergeming. Akhirnya dengan jujur ia katakan bahwa sepatunya hilang di pasar sayur. Saat itulah Zahra terlihat sangat sedih karena ia tidak memiliki sepatu lagi, karena memang hanya satu-satunya untuk Zahra ke sekolah.

Ali pun berusaha menghibur adiknya dengan memberikan pensil kesukaannya. Bahkan Ali memberikan pulpen bagus yang ia dapat dari penghargaan atas prestasinya sebagai murid terpandai. Tentu saja dengan catatan agar Zahra tidak memberitahukan orang tuanya kalau ia tak memiliki sepatu lagi.

Yang menarik di film ini, Zahra bergantian memakai sepatu butut satu-satunya milik Ali. Kebetulan Zahra sekolah pagi sedangkan Ali masuk siang.

Di tengah jalan keduanya selalu memakai sepatu tersebut bergantian. Tidak jarang Ali sering terlambat masuk sekolah. Apa daya, meski Ali pun sudah lari bak kijang, tidak terlambat merupakan hal yang mustahil. Ditegur dan diinterogasi guru jadi santapan sehari-hari. Bahkan pernah suatu saat Ali diusir Kepala Sekolah, meski kemudian dibantu seorang guru untuk bisa masuk kelas.

Celakanya, suatu hari sepatu Ali yang dipakai Zahra jatuh di sebuah got berair mengalir deras (maklum sepatunya Ali kegedean untuk ukuran Zahra). Dengan kalang kabut Zahra mengambil sepatu yang terbawa arus got. Namun beruntung masih ada orang yang mau menolong mengambilkan sepatu yang hanyut. Kendati akhirnya Zahra pulang kesiangan dan Ali terpaksa mendapat terguran keras di sekolah.

“Jangan sampai ayah tahu adikku, kita bergantian sepatu.” kata Ali

“Mengapa? Kan ayah bisa beli lagi?” jawab Zahra.

“Jangan. Ayah kita tidak punya uang. Kita orang miskin. Kasihan ayah, sudah kerja keras tetapi tetap tidak punya uang. Apalagi adik kita masih bayi. Dia perlu susu dan makanan tambahan.” Kata Ali

Ali bersusah payah meyakinkan adiknya agar tak perlu melaporkan pada ayah tentang sepatu adiknya yang hilang.

Kisah semakin mengharukan ketika Zahra berhasil menemukan sepatunya yang hilang ternyata dipakai anak lain. Namun, karena anak tersebut lebih miskin darinya, maka Zahra pun tak tega meminta sepatu itu kembali.

Karim sebagai ayahnya seorang marbot dan pekerja serabutan. Karim memang tidak mampu membahagiakan keluarganya. Namun sebagai seorang ayah dari tiga anaknya yang masih kecil Karim tetap semangat untuk bekerja.

Suatu ketika ia mengajak putranya Ali untuk melamar menjadi tukang kebun di kota dengan naik sepeda ontel keliling kota, di komplek perumahan elit. Lantaran digonggong anjing galak, keduanya harus lari tunggang langgang. Pada bagian ini banyak adegan lucu yang muncul. Sampai akhirnya Karim mendapat job sebagai tukang potong rumput dan menyirami kembang di sebuah rumah mewah.

Karim dan anak-anaknya Ali dan Zahra juga pernah melakoni memecah gumpalan gula putih untuk jamaah pengajian di masjid tempat tugasnya sebagai marbot. Pada bagian ini, terjadi dialog yang membuat saya salut ketika Zahra menyuguhkan teh yang terasa kurang manis untuk ayahnya.

children of heaven
:)
Sang ayah : “Zahra, kau tak membawa gulanya?”

Zahra: “Ayah tinggal mengambil gula di depan ayah.” (dijawab dengan lugu)

Sang ayah: “Ini milik masjid. Kita tidak boleh mengambilnya anakku!”.

Sebagai orang yang taat akan ajaran Agamanya ia selalu berharap memakan makanan yang halal dari uang hasil kerja kerasnya, dengan cara jujur dan tidak merugikan orang lain.

Singkat cerita, Gubernur mengadakan lomba maraton untuk anak sekolah seusia Ali. Awalnya dia tidak tertarik. Tetapi begitu melihat bahwa juara ketiga akan mendapatkan hadiah berupa sepatu, Ali memohon pada gurunya untuk diikutkan lomba. Niat Ali mengikuti lomba itu tak lain ingin meraih juara ketiga dengan iming-iming hadiah sepatu karet. Jika berhasil hadiah itu akan ia persembahkan buat adiknya tercinta Zahra.

Padahal, saat itu utusan sekolah sudah diputuskan melalui tes. Karena tak tega melihat Ali memohon sebegitunya, diujilah si Ali ini. Dan yups, lolos dong. Secara dia tiap hari lari terus ke sekolah supaya tidak terlambat.. hehe.

Film diakhiri dengan keikutsertaan Ali dalam lomba lari yang diadakan sekolahnya. Sayang seribu sayang, usaha keras Ali untuk memenangkan sepatu ternyata tak berhasil. Bukan karena kalah lomba, berkat kegigihannya Ali malahan berhasil meraih juara I. Itu artinya ia mendapat hadiah sepasang sepatu olah raga laki-laki, bukan sepatu karet untuk wanita. Ali malah sedih, Ia merasa gagal membahagiakan Zahra. :D

Berikut beberapa capture film Children of Heaven :)
#Scroll gambar (atas - bawah)

Capture Children of Heaven
review children of heaven film
Ali meyakinkan Zahra


Ali dinterogasi guru


children of heaven film
Dibantu guru yang lain


Komplek perumahan elit

review film children of heaven


Haus minum air keran :(

Test seleksi

Ali tergiur juga :)

Terus memohon :D

Senjata terakhir air mata

Ali senang bisa ikut lomba

Ali berjanji pada adiknya

:)

:)
Ngintip


Masih ada yang lebih miskin

Saat perlombaan :)
Ali gak kelihatan :D

Ali berharap juara 3

Eh malah juara 1..:D

Ali kecewa.. hihi

Ekspresi kemenangan :D

-THE END-

Film ini memang mengambil latar kemiskinan penduduk Iran, tapi bukan kemiskinan yang menye-menye alias cengeng. Menyimak film Children of Heaven, ada banyak pesan moral yang disampaikan, nilai dan pelajaran tentang kehidupan yang bisa dipetik. Seperti :

Bertanggung jawab

Kita belajar tentang bahwa tanggung jawab itu tak mengenal kaya-miskin atau besar-kecilnya suatu hal. Tanggung jawab adalah tanggung jawab. TITIK!! Itulah yang ditunjukkan sosok Ali pada adiknya, Zahra. Ali tidak sibuk mencari alasan atau hanya minta maaf begitu saja. Sampai dia berusaha mengikuti lomba lari maraton.

Berempati, ikhlas dan tidak egois

Sikap Zahra ketika melihat sepatunya dipakai oleh murid lain yang berekonomi lebih miskin darinya, mereka tidak meminta untuk dikembalikan. Mengajarkan kita untuk ikhlas dan berempati kepada sesama. Oleh sebab itu, jangan biarkan rasa mengasihani diri membuat kita jadi egois dan tak mempunyai empati pada kepentingan orang lain. Salut untuk orang-orang seperti Zahra!

Mandiri / tidak membebani Orang tua

Kakak beradik itu sepakat tidak memberitahu orang tuanya bahwa sepatu milik Zahra telah hilang menunjukkan bahwa mereka benar-benar tidak ingin membebani orangtuanya. Mereka sangat memahami keadaan orang tuanya. Tetap bertahan dengan satu sepatu untuk berdua yang dipakai secara bergantian.

Berbuat baik dan murah hati

Bahwa sekalipun hidup berkekurangan, tidak lantas menghentikan diri untuk berbuat baik. Sang ibu mengajarkan keteladanan untuk berbuat baik kepada tetangga dengan mengirimi makanan yang dimasaknya.

Jangan Serakah

Bahwa apa yang bukan menjadi hak kita tidak seharusnya diambil, meskipun hanya hal kecil. Seperti ketika ayah mereka dimintai tolong untuk memecah gula batu untuk acara di masjid di tempat dia bekerja sebagai marbot.

Sang ayah: “Ini milik masjid. Kita tidak boleh mengambilnya anakku!”.

Hal itu tidak dilakukan oleh Karim, meskipun gumpalan gula yang dipecah-pecah untuk konsumsi jamaah pengajian, terlihat banyak di depannya.

Woww! Coba bandingkan dengan para pemegang amanah di negeri kita, ampun deh, hehe

Bersyukur dan Tawakal

Belajar menerima keadaan yang ada, bahwa tak peduli seberapa besar penderitaan yang kita alami, selalu ada pihak lain yang sebenarnya lebih sengsara daripada kita. “Hei, kita bukanlah orang yang paling malang di dunia ini”. Keterbatasan ekonomi tidak lantas membuat mereka menjadi cengeng dan minta belas kasihan orang lain. Bukan sekedar miskin uang, namun kemiskinan di sini juga bisa mencakup defisit moral, harga diri, impian, semangat juang, atau hal lainnya.


Masih banyak lagi pelajaran yang dapat dipetik dari kisah sinema ini. Saya ingin mengakatakan untuk mereka anak-anak dalam kisah seperti ini mereka adalah anak-anak hebat dan luar biasa. So, benarlah kalau film ini berjudul “Anak-anak Surga”. Semoga kisah ini bisa menginspirasi kita semua. Terimakasih

Assalamu’alaikum! (Bahasa Arab)
atau
"Shalom Aleichem!" (Bahasa Ibrani).

Okey biar gak panik, kita pakai bahasa Ibu (B.Inggris) :
May the peace, mercy, and blessing of God be upon you.. :)

*** AHLAN WA SAHLAN ***

Sampai berjumpa lagi di segmen selanjutnya!
Nite & GBU more.. Bye!!!

 
;