Senin, 29 April 2019

Rumah idaman

Hup!! Triiiiing! I'm back! *haha

Hmm.. ada yang kangen gak yah? *NGGAAKK!! (dijawab berjamaah oleh pembaca).

Minggu lalu tuh niatnya mau mengudara sih, berhubung saya terlalu sibuk ama urusan real life jadinya gak sempat untuk menulis. #alesan klise!

Ya tapi emang bener loh! buat saya nge-blogging itu perlu konsentrasi tinggi, kalo gak konsen kan bisa berantakan dah tuh tulisan. #oalahh bilang aje males!

Okay terserah sih ya, yang jelas sekarang saya mau lanjut ke judul yaitu “Rumah idaman”, ya sedikit everything about me! 😁

Setiap orang emang punya target dalam menjalani hidup, betul? Begitupun saya dan kawan-kawan saya saat masih lucu-lucunya.

Suatu saat kami kumpul di kostan dan sharing berbagi cerita soal target masing-masing ke depannya.

Waktu itu mungkin masih terlalu prematur untuk mengobrolkan target setelah mendapat pekerjaan, apalagi bekerja sebagai buruh.

Kesuksesan itu ditandai dengan "memiliki" sesuatu, begitulah yang ada dalam kamus kami. Sebetulnya anggapan ini salah total, karena sukses bukan hanya dinilai dari materi.

But, no what what dong! Selama itu bisa jadi motivasi kami untuk semangat bekerja?

Sebagaimana yang diinginkan kaum adam, rata-rata teman saya ingin punya moge alias motor gede, ada juga yang ingin beli mobil, ada yang ingin ngebahagiain orang tua (mulia banget kan?), pokoknya macam-macam lah pikiran kami.

Anak muda memang pantas dan layak untuk bermimpi bukan?

Tapi saya berbeda dengan kawan yang lain. Saya ingin keliling dunia berohh, jadi keinginan untuk melancong kesana kemari, sementara saya tahan demi alasan menabung.

Namun salah satu temen dekat saya bilang gini “Co, kita kredit rumah aje yuk! Ya hitung-hitung invest”.

Setelah menimbang-nimbang pencerahan dari temen, saya berubah pikiran. Saya memutuskan ingin punya rumah. "Entah bagaimana itu caranya, tapi saya harus bisa" kira-kira seperti ittuh. Alhasil urusan keliling dunia pun gatot.

Muluk-muluk gak? Kalau kata beberapa teman yang lain, iya.. “ngimpi loe ya, gaji gak seberapa pingin punya rumah”, katanya..

Memang jika dipikir dengan logika, harga rumah tentu saja mahal bukan? Maksud saya untuk sekelas buruh ya.

Setidaknya untuk down payment rumah tipe 21/60 saja bisa lebih dari 25 jeti dengan cicilan sekian jeti selama sekian tahun. *itu dulu ya!

Dengan bekerja sebagai buruh yang akan membayar cicilan sekian jeti selama sekian tahun? Logikanya sih mustahil. Tapi tak apa lah, namanya juga target bisa tercapai bisa juga tidak.

Tapi ternyata ada jalan keluar dari lamunan saya ini. Pemerintah memiliki program rumah subsidi. Program rumah subsidi inilah yang saya manfaatkan untuk nyicil rumah.

Step awal, saya browsing untuk mencari tahu informasi kelebihan dan kelemahan program rumah subsidi dari pemerintah ini. Setelah browsing ke beberapa forum serta blog, ada beberapa hal yang bisa saya simpulkan.

Rumah subsidi ini hanya bisa dimiliki oleh pekerja dengan pendapatan pokok (gaji pokok) di bawah 4 juta rupiah. Tidak dalam kondisi tengah mencicil rumah di lokasi lainnya. Memiliki NPWP pribadi, dan masih banyak aturan-aturan yang cukup ribet untuk diikuti.

Poin ini saya maklumi karena pastinya agar program ini tepat sasaran. Masih banyak poin lainnya yang terlalu panjang untuk saya tulis.

Tapi syarat yang paling utama sebenarnya adalah pendapatan pokok tidak boleh lebih dari 4 juta rupiah. Senang dong, itu artinya syarat utama ini jelas bisa saya penuhi. *malah tjurhat 😁

Setelah meneguhkan hati untuk ikut dalam program rumah subsidi ini, step berikutnya yang saya lakukan adalah mencari lokasi dan develover yang terpercaya.

Saya kumpulkan brosur-brosur rumah subsidi, dan memang semua rumah subsidi itu lokasinya cukup jauh dari keramaian. Ini sempat membuat saya ragu sebenarnya. "Percuma murah, kalo jauh dari peradaban", pikir saya waktu itu.

Awalnya saya tertarik dengan salah satu pengembang di daerah Serang Baru – Cikarang Selatan (itu loh yang deket taman buaya).

Setelah saya pikir-pikir aksesnya cukup bikin amsyong. Serang Baru dulu belum sekota sekarang masih dusun banget deh. Ditambah dengan unit yang belum ready stock.

Setelah beberapa kali survei ke banyak lokasi, saya putuskan untuk membeli rumah subsidi di BCM Cikarang.

Pertimbangannya adalah lokasinya yang tidak begitu jauh dari peradaban, sumber air yang memadai (PDAM), lokasi yang potensial, rumah yang ready stock dan aksesnya dekat ke jalan raya. Itulah pertimbangan utama membuat saya yakin untuk mengambil rumah di daerah ini.

Setelah beberapa bulan dan proses akad, akhirnya deal. Saya mulai mencicil uang pembayaran pertama tadi yang jumlahnya sekian jeti.

Rumah mungil KPR RSSS (Rumah Sederhana Sangat Sempit Sekali Sehingga Santai Saja Susah.. dst)  itu resmi mulai saya cicil. Tidak sedikit teman saya yang menganggap bahwa uang DP tersebut saya dapatkan dari orang tua.

TIDAK!! TIDAK!! Ini adalah rumah saya dan saya tidak ingin (pantang) melibatkan orang tua dalam hal apapun. Apalagi masalah biaya.

Kenapa? Karena buat saya, ini adalah bagian dari harga diri. Punya rumah sendiri tanpa bantuan orang tua adalah sebuah kebanggaan tersendiri. Maaf ya bukan saya sombong, tapi ini masalahnya soal pride.

Lantas dari mana saya dapat uang DP itu? Ya gali lobang tutup lobang.. saya pikir bukan hanya saya yang seperti itu.

Bila penting kencangkan ikat pinggang. Demi rumah idaman, yes khan? Maka dengan segala penderitaan pun saya jabani demi terkumpulnya uang yang bisa menutupi biaya awal rumah tersebut.

Teman-teman suka bertanya, "Kenapa sih ngotot pengen beli rumah. Padahal kan bisa setelah nikah, apalagi rumahnya daerah terpencil gitu?".

Pertanyaan seperti ini saya suka bingung jawab apa. Saya sih bodo amat dengan ejekan "rumah di pinggiran " atau "rumah kurcaci (size super mini)”. Persetan you know!!

So, berdasarkan pengalaman saya, maka saya coba share apa saja yang perlu diperhatikan dalam mengikuti program rumah subsidi.

Siapa tau ada yang minat, daripada hidup nomaden sepanjang masa. Inpoh ini mutlak bener adanya, yok disimak!

Jika ingin membeli rumah subsidi kita harus pintar memilih developer ya gaes. Tidak boleh memilih sembarang developer, harus yang sudah berpengalaman membangun rumah subsidi.

Ada beberapa kasus di mana karena developer kekurangan modal akhirnya proyeknya mangkrak dan ujung-ujungnya didemo oleh pembeli yang sudah terlanjur memberi DP. Ngeri bukan? Makanya harus teliti.

Studi kasus lainnya, seperti yang dialami temen saya, dia cerita suatu hari mau ikut demo. Dia bilang, “Mau demo develover Co, gue ngajuin KPR tapi tanahnya itu masih sengketa, padahal udah masuk duit 12 jeti”, katanya.

Repot yakan udah ikut demo serikat pekerja demo perumahan pulak. Kapan bahagianya sih hidup demo mulu?

Selanjutnya! Pepatah "ada harga ada rupa" berlaku di sini. Pasalnya dari beberapa ulasan yang saya baca saat browsing, permasalahan utamanya adalah unsur kerapian rumah hasil bangunan pengembang.

Hal itu bener, makanya gak usah kaget KPR itu bangunannya menyedihkan. Sekali towel bisa runtuh..

Next, Program rumah subsidi memang diperuntukkan bagi masyarakat dengan pendapatan terbatas. Oleh karena itu uang tanda jadi (DP) pun dibuat serendah mungkin.

Saya sarankan jangan tertipu dengan gimmick di brosur yang menerangkan bahwa DP rumah subsidi hanya berkisar antara 10 hingga 20 jeti. Bahkan ada yang tanpa DP (?).

Memang benar sekitar segitulah uang DP untuk rumah subsidi, tapi jangan lupa ada biaya-biaya tidak terlihat yang mengekor di belakangnya.

Makanya kita dituntut lagi untuk bermatematika, masuk ke kalkulasi biaya. Karena hidup ini dipenuhi dengan biaya lain-lain. Yes khan?

Biaya itu di antaranya adalah biaya notaris, biaya perubahan izin Hak Guna Bangunan (HGB) ke Surat Hak Milik (SHM) kemudian ada beberapa biaya lainnya yang menyusul. Biaya materai puluhan lembar dan titik bengeknya.

Jika ditanya berapa total biaya di muka ini, jawabannya relatif, tergantung si develover.

Tapi untuk amannya kita setidaknya harus menyiapkan dana maksimal dua kali lipat dari harga DP di brosur untuk semua biaya sampai terima kunci.

Tujuannya agar tidak keteter nantinya setelah sempat bayar uang booking fee. Seperti yang saya alami, hampir nangis bombay gaes!

Mahal? Tidak juga sebenarnya. Karena jika dibandingkan dengan rumah komersil, biaya ini hanya sepertiganya saja.

Bayangkan dengan uang 30 juta, kita bisa mulai mencicil rumah dengan cicilan sekitar sejutaan lebih selama sekian tahun (tergantung owner maunya berapa lama). Lumayan terjangkau bukan?

Rumah adalah benda yang layak untuk dijadikan investasi. Semakin lama, harganya semakin naik dan memilikinya lebih cepat, lebih baik bukan? Opsi terburuk, kalo kita gak kuat nyicil ya over kredit.

Apalagi saya sering ingat dengan kata-kata bijakers yang mengatakan "Derajat tertinggi seorang lelaki adalah ketika ia bisa berinvestasi”.

Inilah yang juga memecut semangat saya untuk nyicil sebuah hunian. Ya you know lah BTN (Bayar Tapi Nyicil).

Tinggal di PMI (Pondok Mertua Indah) emang maknyos, tapi takutnya saking kemaknyosan malah dicampakkan ke laut.

Puji Tuhan dengan segala suka dan duka, diiringi dengan rasa syukur atas apa yang telah dan masih saya dapatkan saat ini sudah melebihi dari mimpi saya.

Bahkan target keliling dunia pun dikabulkan (keliling dunia pabrikasi maksudnya), di Mutasi sana sini.. hayo wae atuh. 😆

Sekian dulu cuap-cuap kita hari ini, sampai berjumpa lagi di segmen selanjutnya!

Nite & GBU more. Bye!!

Jumat, 19 April 2019

Jumat Agung atau Paskah?

Happy good Friday everyone!

Salam sejahtera untuk kita semua!

Sedikit nyepik, hari ini adalah perayaan Jumat Agung bagi umat Kristen. Pagi tadi sempat hidup saya tercampakkan alias gak kebagian tempat duduk di GBI Lippo Cikarang padat merayap. Kebaktian hanya digelar dua kali jam tayang jam 07.00 WIB dan 10.30 WIB. Saya masuk jam 07.00 WIB nyaris telat bossku.

Siang bolong gini timbul niat menulis. Pasalnya hari ini saya mendapat ucapan “Paskah” dari segelintir teman dekat. Melihat hal ini, tentunya saya paham kalau maksud mereka itu “Jumat Agung”.. menarik yakan untuk diobrolkan? meskipun nanti malam jadwal syuting harus dituntaskan (ikatan dinas beroh), namun masih saja gatel untuk menulis.. :D

Memang tak sedikit orang yang keliru dalam memaknai perayaan Jumat Agung dan hari Paskah. Ada saja yang masih salah kaprah, mereka mengira hari Jumat ini adalah Hari Paskah. Bukan hanya orang awam, bahkan sebagian orang Kristen ada yang belum paham sepenuhnya mengenai makna kedua hari penting itu.

Kesalahkaprahan yang saya maksud, ketika sebagian orang memberikan ucapan hari Paskah pada hari Jumat Agung, seolah-olah keduanya ekuivalen. Padahal ada perbedaan baik itu secara dasar peristiwa dan maknanya.

Syalom!

Hal itu keliru.. Jumat ini (19 April 2019) bukan Hari Raya Paskah, melainkan Jumat Agung. Paskah itu akan dirayakan pada hari ketiga setelah Jumat Agung, yaitu besok hari Minggu, (21 April 2019). Kemudian 40 hari sesudah hari Paskah umat Kristen merayakan hari raya “Kenaikan Isa Almasih” Kamis (30 Mei 2019) mendatang. Lalu 50 hari sesudahnya ada perayaan hari “Pentakosta” dan ini berlangsung secara cuntinue untuk setiap tahunnya. Untuk alesan tanggal bisa berubah setiap tahunnya bukan kapasitas saya untuk menjelaskan. *sorry to say nih..

Mohon maaf sebelumnya kalau saya terlalu sok bijak jika kesempatan kali ini mengangkat topik yang agak serius. Saya memang bisa dikatakan layaknya domba yang hilang, bagaimana tidak? pergi ke gereja saja harus absen jalan (kalau gak bisa ibadah pagi, ya ibadah malam), sering juga terpaksa gak gereja *terlalu jujur. Namun semuanya itu bukan tak beralasan, faktor keadaan. Sedih jika harus saya ceritakan, biarkan saja hanya saya yang merasakan kegundahan ini, kamu pasti gak kuat..

Sekali lagi saya mohon maaf atas kesokbijakan saya, bahkan untuk menuliskan artikel ini saya juga terlebih dahulu mencari beberapa sumber sebagai referensi untuk menyempurnakan tulisan agar tak ada yang salah. Lalu saya simpulkan, sebab jika salah bisa impactnya buruk buat masa depan adik2.

So, pada artikel kali ini, saya sebagai orang Kristen yang tak luput dari dosa dan kesalahan (seperti yang barusan saya tjurhatkan) akan mencoba menjelaskan mengenai perbedaan antara Jumat Agung dan Paskah. Meskipun tulisan saya beraroma stensilan, ya besar harapan saya Anda bisa menghargai usaha saya. *maksain banget dihargai.. :D

Okey.. sebetulnya kedua hari tersebut memiliki makna yang berbeda karena didasarkan pada peristiwa yang berbeda pula. Untuk mempersingkat waktu. Saya langsung saja ya..!

Jumat Agung (Wafat Isa Almasih)

Secara umum Jumat Agung adalah hari peringatan akan kematian Tuhan Yesus (Wafat Isa Almasih). Mengapa hari Jumat? Hal ini didasarkan oleh berbagai penelitian. Menurut rincian Kitab Suci mengenai Pengadilan Sanhedrin atas Yesus beserta analisis ilmiah yang telah dilakukan, peristiwa penyaliban Yesus kemungkinan terjadi pada hari Jumat walaupun tanggal pastinya tidak diketahui.

Mengapa disebut sebagai Jumat Agung? Alesannya, karena pada Hari Jumat inilah dirayakan hari kematian Yesus Kristus di atas kayu salib, setelah diadili di pengadilan Sanhedrin (Mahkamah Agama Yahudi), dan dijatuhi hukuman mati, disiksa, dihina, kemudian disalibkan sampai mati di Bukit Golgota.

Kematian Yesus di atas kayu salib itu diimani oleh umat Kristen sebagai bentuk penebusan dosa umat manusia, maka itulah disebut “Jumat Agung”.

Paskah

Paskah umumnya dirayakan pada hari Minggu, sesuai dengan nubuat yang tertulis di Alkitab, setelah Yesus mati, dan dikuburkan, maka pada hari ketiga, yaitu Hari Minggu, Ia bangkit dari kematian-Nya. (Bagi Kristen hal ini jelas diutarakan di “pengakuan iman rasuli” atau dalam bahasa batak “manghatindanghon haporseoaon”).

Sampai disini, tentu kita sudah tahu titik temunya, yaitu bahwa Paskah merupakan hari dimana Yesus dibangkitkan dari kematian. Kebangkitan Yesus itu membuktikan bahwa Ia memang Anak Allah yang Hidup, maut pun ditaklukkan-Nya. Itulah yang disebut Paskah. 

Sesungguhnya, Paskah merupakan hari raya terpenting umat Kristen melebihi perayaan Hari Raya Natal, karena memperingati peristiwa yang paling sakral dalam hidup Yesus, seperti yang tercatat di dalam Injil di Perjanjian Baru.

Setelah 40 hari hidup bersama para murid-Nya, Yesus pun terangkat ke sorga. Lima puluh hari kemudian, turunlah Roh Kudus di antara para murid Yesus (para Rasul), sebagaimana dijanjikan Yesus kepada mereka.

Pada saat itulah para Rasul Yesus itu mentahbiskan ribuan orang menjadi pengikut Yesus, yang disebut juga sebagai awal dari gereja mula-mula, yang kemudian menyebar ke seluruh dunia. Perayaan hari tersebut disebut "Hari Raya Pentakosta".

Kebangkitan ini membuktikan bahwa nubuat nabi-nabi terdahulu benar adanya, yaitu bahwa Yesus adalah Mesias, Sang Juru Selamat. Selain itu, kebangkitan Yesus juga menyatakan bahwa Ia adalah Anak Allah dalam Allah Tritunggal atau Trinitas (Bapa (Allah), Putra  (Yesus Kristus), dan Roh Kudus sebagai "satu Allah dalam tiga Pribadi Ilahi") yang hidup dan berkuasa atas maut. Ini merupakan suatu pengharapan bagi kita yang percaya bahwa keselamatan yang diberikan-Nya itu nyata.

Makna Jumat Agung dan Paskah

Setelah kita mengetahui perbedaan dari hari Jumat Agung dan Paskah, pengetahuan akan semakin lengkap apabila kita memahami makna penting dari kedua hari tersebut. Dan berikut adalah makna hari Jumat Agung dan hari Paskah :

Jumat Agung

  • Bukti kasih Allah
Hari Jumat Agung bukanlah untuk berdukacita, melainkan untuk bersukacita karena cinta yang telah diberikan oleh Allah kepada kita. Karena begitu besar kasih-Nya, Ia rela mengorbankan Anak-Nya yang tunggal untuk dikorbankan.

Pengorbanan Yesus menjadi alasan mengapa kita perlu mengasihi orang lain. Kita mengasihi karena Allah terlebih dahulu menyatakan kasih-Nya kepada kita melalui Yesus Kristus. Apabila kita menyadari dan merasakan hal ini, maka tidak sulit bagi kita untuk menyalurkan kasih kepada sesama. Orang yang bisa memberikan kasih adalah mereka yang telah menerima kasih.

  • Membangun mentalitas di tengah kesulitan
Peristiwa Yesus memberikan pesan kepada kita semua bahwa hidup ini bukanlah tanpa tujuan dan pasti akan terdapat banyak rintangan di perjalanan. Walau begitu, tentu saja penderitaan bukanlah segalanya dan setelah kita melewati suatu masalah juga bukan suatu akhir. Meskipun kita akan selalu menghadapi masalah, namun tetap ada visi yang perlu kita capai. Itulah hidup dan itulah risiko yang akan selalu ada selama kita masih hidup.

Namun penderitaan Yesus selama di dunia akan selalu menguatkan dan membentuk kita menjadi karakter Kristen sejati. Bahwa apabila kita ingin menjadi pengikut-Nya, kita harus mau memikul salib kita. Itulah cara Allah membentuk kita menjadi pribadi yang tangguh, sehingga kita dapat bertumbuh dan berbuah di dalam Kristus.

  • Membangun mentalitas pemenang
Seseorang dapat dikatakan pemenang apabila ia telah berhasil melewati ujian atau rintangan. Ini berarti tidak ada yang bisa dikatakan pemenang apabila hidup tanpa masalah. Hal ini juga alasan mengapa banyak yang mengatakan bahwa hidup di dalam Kristus akan membuat kita hidup yang berkemenangan, dimana kita dimampukan untuk menghadapi setiap masalah dan memiliki banyak terobosan hidup.

Jadi, hidup dalam Tuhan bukan menjanjikan kita hidup aman, tentram, dan nyaman, melainkan menjamin bahwa kita akan menjadi pemenang dalam setiap persoalan. Dan bagaimana cara melakukannya, kita bisa mencontoh keteladanan Yesus Kristus. Dia bukan pengecut yang menghindari masalah, melainkan Dia adalah kesatria yang menghadapi setiap tantangan.

Paskah

  • Pengharapan bagi Orang Percaya
Paulus pernah mengatakan bahwa apabila Yesus tidak dibangkitkan maka sia-sia pemberitaan yang Ia beritakan. Hal ini karena apabila Yesus tidak dibangkitkan, maka kita juga tidak akan diselamatkan.

Kebangkitan Yesus mengalahkan maut menjadi pengaharapan bagi kita semua bahwa akan ada pelangi sehabis hujan. Sesuatu yang indah akan datang pada waktunya. Asal kita percaya dan hidup berserah kepada Tuhan, kita pasti akan dimampukan untuk melewati setiap masalah.

Kebangkitan Yesus juga membuktikan bahwa maut tidak berkuasa atas Yesus, dan apabila kita beriman dan percaya bahwa Yesus telah menebus kita, maka maut juga tidak akan berkuasa atas kita. Kita adalah manusia merdeka yang hidup berkemenangan di dalam Yesus.

Walaupun ada perbedaan arti atau makna, Jumat Agung dan Paskah adalah momen terpenting selain Natalan. Bahkan dua peristiwa inilah menjadi puncak dari kehadiran Yesus sebagai manusia di dunia karena memperingati peristiwa yang paling sakral dalam hidup Yesus.

Kesimpulan : Jumat Agung adalah Wafat Isa Almasih, sedangkan Paskah adalah hari kebangkitan Tuhan Yesus dari kematian.

Sekian artikel mengenai perbedaan Jumat Agung dan Paskah. Semoga artikel ini dapat menambah wawasan dan memberikan pengetahuan kepada pembaca.
Terima kasih.

Sekian dulu cuap-cuap hari ini, sampai berjumpa lagi di segmen selanjutnya!

Selamat merayakan hari Jumat Agung buat yang merayakannya. God Bless Us! :)

Senin, 15 April 2019

Menulis nakal jelang Pilpres 2019

Selamat malam gaes, salam sejahtera untuk kita semua!

Kesempatan kali ini, saya akan mulai dengan pantun “Aki-aki nongkrong diatas pager, ngopi nih seger!”
Pemirsah menjawab : udahhhh, gitu doang? haha.

*Off-tot nih gaes.. Yok - NGOPI SADAYANA! 😎

Warkop 21 :D
Suka menulis hal yang gak jelas dengan ide yang tak jelas pulak atau bisa dikatakan miskin ide, kira2 seperti itulah terkesan dari tulisan di blog saya ini.

Tadinya saya bermaksud pengen nulis di blog fokus pada satu bidang dengan konsep yang udah saya rancang. Pengennya punya konten yang elegan - elegan gitu lah isi blognya.

Namun saya pertimbangkan ulang *It's not me. Saya bukan tipe pria komersial. Makanya saya menulis apa adanya, nyablak, seancur -ancurnya, seasik-asiknya (?) dan sepaok-paoknya.

So, jangan heran kalo setiap segmen topiknya suka lari kesana kemari alias tulisannya “nakal”.

Lalu.. jika Anda bertanya, kenapa menulis nakal? Alesannya, karena menuliskan apa yang saya sukai justru akan mampu mendongkrak produktivitas dan semangat saya untuk menulis.. EAHHH!

Mungkin untuk anda yang beda tipis dengan saya, tak terlalu baik, bahkan tak luput dari dosa.. akan setuju jika kenakalan itu sesungguhnya menantang bukan? Makanya saya tertantang untuk menulis nakal. *alesan klise :)

Baik, saya kasih sedikit sketsa biar gak puyeng. Dalam dunia “keong racun” Okurrr! Kenakalan itu tak jarang berakhir di atas kasur. Untuk apa? Ya, untuk tidur. Eits jangan salah paham dulu ya, ini bukan soal meniduri, namun tidur beneran.

Apa bedanya? Hmm.. ya, kalo meniduri konotasinya “miring”, sedangkan tidur bisa juga miring tapi masih bisalah sambil terlentang atau tengkurep. Yang jelas, keduanya sama-sama menyenangkan towh!

Terus, apa korelasinya dengan nakal? Hmm.. ya, jika memilih untuk tidur, maka pilihan itu menyelamatkan diri sendiri untuk tak terpikir urusan skidipapap sawadikap slebew-slebew.

Di sisi lain, mengasihani anak orang supaya tak ternodai dan ternista. Maksud saya, suatu hal menyenangkan tak boleh melupakan gimana biar tetap dapat mengasihi.

Kira-kira seperti ittu kenakalan saya dalam menulis topik yang suka lari kesana kemari sesuka hati. Kemaren niatnya berkobar-kobar mau bikin postingan tentang pemenang Pilpres nantinya (tapi belum rampung), eh malah lari ke topik yang sekarang. Jadi kalimat-kalimat itu sementara masih jadi draft doang.

Pasalnya, barusan saya coba buka fesbuk yang sudah usang itu. Terus nemu sebiji mahluk influencer memposting statusnya dengan "Prediksi pemenang Pilpres"… menarik kan untuk diobrolkan?

Begindanglah sketsa kenakalan, memang “nakal” tak lepas dari urusan lirik melirik. Makanya kenapa terkadang saya sok cool man, tak mau melirik-lirik biar gak kerayu.

Anda yakin? Jangan dong, karena bisa jadi di hati kecil saya sedang melatih kelihaian tentang gimana cara melirik tanpa diketahui orang yang saya lirik.

Yang udah baca sampai paragraf ini, jangan kecewa ya, karena belom masuk ke inti cerita.

Walaupun analogi saya ini agak sedikit berbau-bau diktat, tapi saya yakin gambaran kyak gitu gak sampai membuat kening Anda mengerut.

Seperti halnya saya mengupayakan untuk tak terlalu mengerutkan kening, biar gak cepat keriput. Karena pastinya, jika sudah keriput maka saya mikir pahala saya udah banyak apa belum? kalo sudah banyak, ya sudah mending  mati dibanding di sisa usia harus ikut terseret arus. #EA

Maksud saya apa? Meskipun tulisan saya terkesan nakal apa saja dibahas, tapi ada topik yang memang anti untuk saya bahas yaitu soal politik busuk. Saya tidak mau terseret arus untuk memboroskan waktu pada hal-hal berbau imajinasi anyir.

Seperti halnya, ditengah hiruk-pikuk pertarungan merebut kekuasaan dalam pemerintahan sebagian orang  "garis keras" sibuk menjadikan satu isu sebagai tren topik, dan setiap tulisannya getol banget memperjuangkan jagoannya.

Menuliskan berita hoax untuk menggiring manusia yang awam terhadap internet. Bahkan di beranda medsosnya penuh share informasi yang narasumbernya tidak jelas.

Seharusnya saya ngikutin mereka. Lha ini kok slow down, malah menulis tetang hal yang dianggap sebagian orang tidak penting. Aneh memang, tapi saya pikir “Siapa gue?”.

Saya pantang untuk menulis nakal soal politik, saya lebih memilih melawan arus. Tak ikutan menulis (koprol) politik bukan karena buta soal berpolitik, tapi hanya menghindar biar gak disihir ikutan nyinyir karena kepentingan politik anyir.

Sebab, Indonesian peoples lebih condong atau tak sedikit yang memilih nyinyir soal politik meski ia menyadari dirinya adalah bukan siapa-siapa alias jongos.

Lantaran nyinyir itu hanya modal bibir, memang tak menguras tenaga dan pikiran (apalagi nyinyir berbasis digital).

Cukup bergabung disebuah group medsos, misalnya group yang sempat viral itu dengan hastag #2019gantikancut, ikuti saja perintah si Admin.

Opsi ini memang membantu otak tetap awet, karena jarang digunakan. Sayangnya jika otak diawetkan dengan cara begindang, khawatirnya nanti Tuhan mengambilnya kembali daripada tidak digunakan.

Untuk itu saya hanya mencoba untuk menyanggah suatu skenario busuk yang diyakini bisa berdampak buruk pada sesama manusia. Supaya tak ada lagi diskriminasi, dan tak ada lagi korban pembodohan sesama manusia yang justru dilakukan orang-orang yang konon pintar.

Seperti halnya, kadang saya suka merasa lucu melihat gambar para Caleg yang berseliwiran dipinggir jalan raya sana. Wuahh.. wujudnya sih manusia semua, tampilan agamis, seyumnya mempesona, gagah tampan perkosa eh perkasa dong maksudnya.

Bahkan ada yang akting megang dadanya mengisyaratkan kalau dia sangat berpegang sama janjinya (bukan lagi kena serangan jantung kan Pak?), gak kalah ngehek ada yang fotonya dipasang terbalik, dengan caption : siap jungkir balik.. (Please dong.. jangan main-main Pak!!). Terlepas dari partai mana itu. Saya pikir masyarakat juga udah pinter, gak usah lebay! Janji busuk kok diumbar.

Melihat fose dan tagline para Caleg ini, memang menggiurkan sepertinya menjanjikan. Tapi ya kembali lagi ke diri kita masing-masing, Capres dan Caleg bukanlah Tuhan jadi jangan langsung tertarik sebegitu getolnya memperjuangkan mereka.

Bisa dipetakan syarat menjadi Caleg itu bukanlah sesuatu yang wuahhhh. Kalo saya monitor gak mesti lulusan sarjana cumlaude, tidak juga menitikberatkan IPK, bukan kah yang penting ada partai pengusung? Itulah yang seharusnya direvisi oleh pemerintah peraturan syarat jadi pemimpin di negara ini.

Walaupun tulisan saya ini terkesan seperti kehilangan arah. Maksud saya, jika hanya menulis politik sekadar agar terlihat pintar. Itu sama halnya bukan hanya menipu diri, tapi rentan juga menipu dan membodohi banyak orang. Kalo begindang, apakah setelah diakui pintar lalu betul-betul dipandang berharga? TIDAK!!

Sebagai sebuah Pesta demokrasi, harusnya Pemilu disambut dengan riang gembira, bukan malah disambut layaknya menghadapi Medan tempur. Imbasnya tidak ada jeda sama sekali, perseteruan antar pendukung Paslon selalu perang di media sosial. Bahkan H-1 menjelang Pemilu serentak masih saja menegangkan. Kelakuan pendukung kedua Paslon semakin tak terkontrol.

Sebetulnya konflik pendukung kedua Paslon ini tak akan tuntas bahkan hingga pilpres periode selanjutnya. Hanya saja sebagian masyarakat khususnya "O.S.B" (Orang Selalu Benar) tak sadar bahwa dunia persilatan politik itu begitu picik. Mungkin saja saat ini jadi lawan, besok jadi kawan.. (Who knows??)

Tak ada teman yang abadi dalam politik berohhh, yang ada hanyalah kepentingan abadi baik itu kepentingan pribadi maupun kepentingan kelompok.

Saat ini kita membabi buta mendukung salah satu paslon, membuat statemen tanpa pertimbangan matang, menganalisa tanpa data. Tak jarang hingga membuat kita putus komunikasi dengan teman, sodara, tetangga. Padahal, mereka yang sekarang adalah lawan politik, besok atau lusa akan bergandengan tangan dengan mesra begitu intim. Sedangkan kita?? Masih aje sengketa, bersitegang penuh dendam satu sama lain.

Maksud saya dukung ya dukung aje, tapi santai saja gak usah urat apalagi memaki-maki bahkan mengkafir-kafirkan orang lain (yaelah kyak hidup situ udah suci aje). Tolong lah, jangan terlalu naif. Jangan habiskan waktumu untuk menyakiti dan disakiti ya anak muda! Tapi ya begitulah sosok OSB.

Perlu kita ketahui.. mengapa orang yang sering kali dipandang tidak pintar, lugu, tak jarang lebih dimuliakan karena mereka bahkan tak bermatematika saat membantu. Mereka membantu tanpa memusingkan orang ini satu suku denganku atau tidak, ia satu agama denganku tidak. Sebab mereka menyadari, siapapun yang ada di muka bumi tetap saja ciptaan Tuhan. Sepanjang ia baik, maka tetap punya hak atas segalanya untuk kebaikan dan membawa kebaikan.

Dalam konteks pemerintahan, kekuasaan sama sekali bukan Tuhan. Kenapa jika ada yang berusaha merebut kekuasaan itu, lalu dibela mati-matian alih-alih menyeret agama sebagai alasan? Bahkan ada yang rela mengkafirkan kaum mereka sendiri, kan parah?

Itu makanya saya menulis nakal di jelang Pilpres, agar yang baca tulisan saya bisa paham. Tulisan ini hanya sedikit upaya agar negara kita jangan sampai terpecah-belah karena beda pilihan. Tentunya kita sebagai rakyat hanya mempunyai satu harapan “mendapat pemimpin yang ideal dan terbaik”. Right??

Terkait dengan status “Prediksi pemenang Pilpres” boleh dong, saya memprediksi? Gak terlalu nakal kan? Kalo saya endus ada aroma "Paslon 01" deh juaranya, alesannya? Gak usah saya jabarkan takutnya kamu berubah pikiran dengan prediksi saya yang belum tentu bener, lagian keburu tutup nih Warkop.. hahah
Udah dulu ya gaes..!

Sekian dulu cuap-cuap kita hari ini, sampai berjumpa lagi di segmen selanjutnya!

Nite & GBU more.. Bye!!!! :)

Senin, 08 April 2019

Kultur bahasa kekinian

Selamat malem gaes, kumaha kabar sadayana? Cageur wae, right??

Agak lucu ya kalo seorang bintang Hollywood mengangkat topik recehan seperti yang akan saya ulas saat ini. Tapi teu nanaon atuh, toh juga saya tak pernah janji-janji kyak lagi kampanye untuk mengangkat topik yang up to date (sebagaimana yang dibahas orang lain di blognye), mending saya nulis apa yang pengen saya tulis deh yak! Kalo semacam topik politik mah keberatan saya ngangkatnya, :D
*Yok - NGOPI SADAYANA! 😎

Kali ini saya akan mengulas sedikit topik terkait kultur bahasa kekinian, yang menjadi bahasa sehari-hari penghuni Ibukota hingga saat ini. Saya langsung saja ya..!

Indonesia adalah negara yang plural, artinya Indonesia terdiri dari banyak suku bangsa, banyak kebudayaan, banyak ras, dan agama. Maka dari itu ada simbol Bhineka Tunggal Ika yang artinya “Berbeda-Beda Tapi Tetap Satu Jua”. Untuk hal ini.. sebagai mahluk sosial, saya sadar betul bahwa di setiap daerah tentu memiliki bahasa sehari-hari yang berbeda.

Semenjak hijrah ke Bekasi sebagai bagian dari kawasan Megapolitan JABODETABEK atau se-fruit (baca : sebuah) akronim dari Jakarta-Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi. Banyak hal kecil yang saya pelajari namun berarti besar buat saya. Karena di kota Megapolitan ini, ada sedikit perbedaan aksen, dialek dan diksi yang dipakai manusia sangat berbeda dengan daerah lain.

Ini salah satu tantangan yang saya hadapi ketika sudah sampai di ranah ratau ini. Mulanya merasa canggung dan dibumbui rasa tak nyaman. Terlepas dari logat masing-masing daerah, salah satu yang harus saya adaptasikan adalah lidah saya. Mau tidak mau saya mulai terikut dengan gaya bahasa orang-orang di lingkungan saya. Tapi mungkin itu lah arti dari “Di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung”.

Selaku pendatang, tentunya kudu menyesuaikan diri menggunakan bahasa sehari-hari di daerah mana kita tinggal. Maksud dan tujuannya sebetulnya sama, hanya saja bedanya penggunaannya lebih kepada bahasa gaul. Hal ini tentu menjadi bagian penting dari komunikasi.

Perkawinan bahasa di Ibukota saja sudah manghasilkan banyak bahasa yang "baru". Saya ambil cakupan yang lebih sederhana. Umumnya di Bekasi dan sekitarnya.. kata “Bagen” sering digunakan, dalam bahasa Sunda “Kajeun”, yang berarti, “biarkan…” yang apabila dalam KBBI berarti, relakan.

Bahkan di Cikarang setelah mengatakan “Gua” itu akan ditambahkan “Ge”, jadinya “Gua Ge...”, sedangkan di kota lain tak ada penambahan demikian. Bisa disimpulkan bahwa penggunaan bahasa sehari-hari bisa mencirikan dari daerah mana ia berasal.

Bergulirnya jaman yang semakin modern, dimana arus informasi seperti pasar tumpah, tak sedikit istilah baru pun bermunculan dalam keseharian kita. Media sosial banyak sekali menerbitkan bahasa baru dalam komunikasi verbal.

Terkait dengan istilah modern tersebut, di kota Megapolitan ini bahasa pun lebih gaul. Meskipun sebagian besar tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang baku. Misalnya yang lagi nge-tren: kanmaen (bukan main), warbyasa  (luar biasa), ntap (mantap), leh uga (boleh juga), atau mager sebagai akronim dari males gerak. Saran saya, kalo bisa lengkap kenapa harus disingkat?

Sebagai tambahan, saya juga kadang masih menemukan kata “w” (maksudnya mungkin “gue”) dalam komunikasi melalui perangkat telepon dalam ber-SMS, ber-WA. Positive thinking aje sih, mungkin saja karena ada suatu provider yang menawarkan 1 rupiah = 1 karakter. Biar lebih irit. Mungkin ya mungkin..!

Begitu juga penggunaan kosa kata “Lo-Gue” dan sejenisnya. Kata ganti orang pertama dan kedua, atau sebagai pengganti kata subyek dan obyek dalam percakapan juga menarik untuk saya obrolkan.

Misalnya penggunaan sebutan Lo, Gue, Ane, Aku, Kamu, Saya dan lain-lain. Meski sebagian terkesan alay dan menjadi kontroversi, seperti : Eike, Cyint, Ogut, Aqiu, Kamiu, Saiah..hehh. Penggunaan kosa kata ini bukan hal yang asing disini. Karenanya saya pun terbiasa dengan “Gue Lo”. Nah otomatis kita harus bisa bedain pada saat kapan kata itu bisa kita gunakan.

Sebagai perwakilan daerah yang migrasi ke kawasan Megapolitan ratusan purnama yang silam. Menurut saya ada hal yang menarik yang perlu saya respon dalam menggunakan kata-kata “Aku - Kamu” dan “Gue - Lo” di Ibukota ini. Yok kita ulas one by one.. :)

AKU-KAMU

"AKU-KAMU" Kata yang memiliki karakteristik formal, biasanya digunakan untuk berbicara secara sopan dan tidak terlalu intim. Cocok digunakan terhadap orangtua atau usianya lebih senior. Mungkin di daerah lain di luar Jabodetabek, seperti di pulau Andalas (Sumatera) "Aku-Kamu" bukanlah sesuatu yang aneh. Bagi saya sih “Aku-Kamu” gak masalah asalkan pada situasi yang tepat.

Lucunya untuk konteks “Aku-Kamu” di Jabodetabek dan sekitarnya, mempunyai makna keakraban yang lebih dari sekadar teman. Kalau kita pakai " Aku-Kamu " seolah-olah ingin menunjukkan rasa kasih sayang kepada pasangan atau orang yang punya hubungan spesial.

Memang kalau sudah lama tinggal di kota ini agak terdengar aneh sih, pasti akan merasa berbeda ketika ada orang yang bercakap " Aku-Kamu” yakan? *Aku-kamu?? Oh so sweet!! Jarang sekali saya mendengar antara teman seumuran berbicara " Aku-Kamu " apa lagi sesama jenis.. :D. Sebagai masukan, waspada kalau pasangannya chatting atau manggil orang lain dengan sebutan "Aku-Kamu" yak! Bukannya apa-apa takutnya mereka kebablasan.. :D

SAYA-ANDA

"SAYA" Kata yang memiliki karakteristik sedikit formal. Menurut saya sebutan “SAYA” adalah bahasa netral dan cocok untuk berbicara dengan orang yang lebih tua dari kita atau bisa dikatakan umum. Mengapa "SAYA" saya katakan sedikit formal? Alesannya, selain sering digunakan untuk acara resmi atau forum resmi seperti diskusi dan seminar, "SAYA" juga paling sering digunakan oleh para orang dewasa.

Sedangkan kata "ANDA" terkesan formal. Kata "ANDA" sering sekali digunakan dalam forum atau acara resmi, seperti dosen berbicara kepada mahasiswa atau acara seminar. Selain di acara tertentu, saya jarang sekali mendengar "ANDA" dipakai dalam kehidupan sehari-hari. Kalau pun kata "ANDA" pernah saya temui lewat SMS (Short Message Service) biasanya gak jauh dari SMS operator jebakan betmen gitu.

GUE-LO (bukan “gelo” yak! Eh)

“GUE-LO” untuk konteks Jabodetabek kosa kata ini termasuk komunikatif sering di ucapkan kepada teman yang semumuran/ teman sebaya atau umurnya tidak terpaut jauh. Pasalnya kata “Gue Lo” pun sudah familiar dan mendominasi sebagai bahasa sehari-hari manusia di Ibukota ini.

Bahkan banyak artikel/blog yang pernah saya kunjungi rerata menggunakan kata “Gue Lo”. Dan masih banyak lagi kosa kata yang tidak kalah gaul. Seperti ; Ente, Ane, Lau, Antum, Agan, Sista, Gaes, dll.

Terlepas dari bentuk ujaran yang kadang dilogat2in “Elo/Elu”. Kalo menurut saya "Gue Lo" terkesan akrab/bersahabat bila dipakai dalam kehidupan sehari hari. Malahan kadang kalo kita bercanda atau berhumor sering mengunakan kata "Gue Lo".

Hanya saja, kalau boleh urun saran nih ye! Jangan sekali-kali menggunakan “Gue Lo” kepada orang yang lebih tua atau kita hormati. Sekali lagi, jangan ya! Pokoknya jangan.. sesungguhnya hal itu terkesan angkuh dan gak sopan anak muda!

So, which one you prefer.. :)

Saya sendiri fleksible aje sih.. hehe, kadang pake “GUE-LO”, “AING”, “ANE”, “ENTE” dan seringan “SAYA”. Dikondisikan saja, lihat dengan siapa kita berbicara.

Seperti halnya, di kantor yang lama atasan saya pernah menerapkan aturan dilarang menggunakan “Gue Lo” dalam obrolan di lingkungan kerja.

Pertanyaan : Apakah “GUE” dan “LO” tergolong bad words? Saya yakin jawaban kalian gak juga yakan?

Jujur saya yang sedikit aneh, geli gimana gitu kalau berbicara menggunakan “Aku Kamu” kepada teman yang sehari-hari biasa minum kopi dan merokok bareng. Ditambah lagi muka saya aje muka perang, gak pantes banget pake “Aku”. Bodo amatlah yang penting gak pake bahasa alay apalagi bahasa planet Pluto.

Syukurlah aturan itu dihilangkan, jadi suatu saat.. ketika mau break saya sengaja deh di depan atasan. Saya panggil teman dengan hati deg2an, mulut setengah kram, dengan sebutan “Aku Kamu”.

Bayangkan saja ketika saya biasa menanyakan, "Ko, udah makan siang belum?" pada sosok Eko yang badannya kekar berotot itu, harus diganti dengan, "Hai, Eko. Kamu sudah makan siang belum? Barengan sama Aku, yuk!" Seisi ruangan itupun tertawa. Pada akhirnya “Aku Kamu” dijadikan bahan candaan ketika suasana lagi landai rasanya geli ampun-ampunan. Atasan pun ikut ngakak.. :D

Semenjak itu kalau lagi on duty, saya lebih nyaman pakai kata “SAYA” kalau bicara. Tapi kalau lagi sama temen yang sudah akrab ya pakai “Gue Lo” gak masalah. Jadi agar dikondisikan saja sesuai penempatannya. Memang sih tidak menutup kemungkinan kadang lidah salah berucap lantaran keseringan pake “Gue Lo”.

Pokoknya untuk saya semuanya fine-fine aje. Yang penting kedua belah pihak saat berkomunikasi merasa nyaman dan tentunya harus saling paham dong satu sama lain sehingga pesan dapat tersampaikan dengan baik. Syukur-syukur yekan bisa ngerti body language jadi gak berisik “Gue Lo”-an.

Kalo bisa kita upayakan menempatkan konteks penggunaannya benar dan yang tak kalah penting kita sopan dalam mengujarkannya. Misalnya, kalau kita ketemu orang baru yang belum kita kenal. Bolehlah “Gue Lo” dikesampingkan dulu. Kalau udah kenal sama tuh orang dan ngerasa nyaman, saya yakin “Gue Lo” menjadi primadona dalam setiap obrolan kita.

Okkeh itu saja sih opini saya mengenai bahasa kekinian. Mohon maaf lahir batin neh, bukan maksud menggurui, Sesungguhnya “Gue Loe” itu adalah hak segala bangsa..! haha

Sekian dulu cuap-cuap kita hari ini, sampai berjumpa lagi di segmen selanjutnya!

Nite and GBU more.. Bye!!!

Senin, 01 April 2019

Sikap inspiratif dari Barista Starbucks

Salam sejahtera untuk kita semua.

Kali ini saya mau mengulas topik bertajuk, sikap inspiratif dari barista Starbucks.

Saya langsung ye! - NGOPI SADAYANA! 😎

Kearifan lokal negara "+62" masih kental dengan budaya ketimurannya, terkait jargon “Tamu adalah raja”.

Dalam perusahaan waralaba dikenal dengan “Pelanggan adalah raja”. Sehingga bisa dikatakan kunci suksesnya sebuah Perusahaan, peranan pegawainya sangatlah penting.

Starbucks misalnya,..

Meskipun racikannya enak, tapi sambutan dan pelayanan, pemesanan, pembayaran, hingga saat menyajikan dirasa kurang berkesan, tentunya orang ogah datang kembali. Benar nggak?

Jadi, tak bisa dipungkiri. Starbucks bisa melebarkan sayapnya di setiap sudut kota ini. Tak lain dan tak bukan.. ya karena konduite atau performa Barista-nya.

Hal ini menunjukkan bahwa wujud kearifan lokal negara "+62" tersebut benar apa adanya, dan memberi dampak positif.

Sering ngopi ke Starbucks dong? Kalau iya, berarti familiar dengan profesi Barista yekan.

Tak sedikit dari kita mungkin berpikir kalau profesi tersebut mudah dijalankan. “Ah tampaknya gampang itu mah, tinggal catat, crot ini.. crot itu jadi deh kopi, bersihin meja!” Ini yang terlintas dalam benak kita bukan?

Eits, tidak semudah itu! Jangan menggampangkan dulu deh. Banyak tantangan yang dihadapi Barista yang harus dilewati setiap harinya.

Memang setiap pekerjaan memiliki tantangan masing-masing. Tak peduli apa pekerjaannya, tentunya memiliki banyak cerita dan kisah di balik setiap profesi. Namun Barista tetap profesional saat menjalankan pekerjaannya.

Daripada menggampangkan profesi “Pelayanan” dalam konteks ini yaitu Barista. Saya ada sedikit hasil riset kecil-kecilan. Sikap inspiratif barista Starbucks yang patut diteladani. Cekidot bossku :

1. Mudah tersenyum

Sebagai profesi dengan service oriented, barista Starbucks wajib menjadi personal yang mudah tersenyum kepada customer.

Jadi ya, yang namanya manusia pasti pernah berada di situasi yang tidak mengenakkan. Namun barista tetap tebar pesona meskipun hatinya sedang galau gundah gulana. Misalnya, saat jadwal jumping, ehh.

Inilah yang menjadi tantangan terberat dari seorang Barista. Mereka dituntut untuk lebih profesional dan mengabaikan kegundahan dalam hati demi menyenangkan para customer.

Apakah kita bisa bersikap demikian? “mungkin TIDAK”. Buktinya, tak jarang loh ada customer yang mengisyaratkan kegundahan hati dengan mimik wajah yang tidak menyenangkan saat ngorder (muka berak).

Hayo ngaku.. siapa tuh yang begitu? hehe. Kalau sudah begitu, pelanggan mana yang betah berlama-lama di gerai kopi tersebut? Selera ngopi para pelanggan mungkin akan hilang jika tidak pernah tersenyum.

Karenanya, mulai saat ini, mari kita belajar untuk mudah tersenyum. Tapi jangan senyum-senyum sendiri ye..

barista starbucks
Intan (Coffee Master)
*Speachless! Kalau sudah begini, lupa jadinya mau pesen apa! Hehh. Kawan yang ketje ini bukan artis pantura ya gaes. Orangnya baik, supel, humoris dll. Sukses ya kawan..!

2. Ramah

Keramahan Barista Starbucks pantas diacungi jempol. Mulai dari customer datang, memesan minuman, hingga balik kanan dari gerai kopi tersebut. Mereka tetap menjaga keramahtamahannya.

Sikap ramah ini ditujukan untuk semua customer tanpa kecuali lho, baik itu "  " (Orang kaya baru), Jones, broken heart, ect. Sebab mereka selalu memprioritaskan kepuasan pengunjung. Hebat yak?

Untuk itu mari kita belajar ramah kepada setiap orang tanpa peduli status pekerjaan orang tersebut.

sikap inspiratif barista starbucks
Reza (Barista)
*My best friend.. Pass bareng ama saya, dia pernah kena instan karma.. Hehh. Ngudut dulu lah kawan. Anaknya kocak samalah kyak barista yang lain friendly. Menurut pengakuan belio "duit tetap nomer satu, tapi yang penting sesuai passion." Good luck berohh!

3. Selow

Kejadian yang tidak diinginkan juga sering terjadi di gerai kopi ini. Misalnya : Starbucks Card offline, minuman tidak sesuai pesanan (sebenernya bukan tidak sesuai pesanan, itu mutlak kesalahan customer saat order.. *just my opinion).

Mungkin customer beranggapan kalau ini sepenuhnya menjadi kesalahan Barista. Kemudian customer langsung emosi, dan frontal.

Uniknya meskipun demikian, Barista tetap selow atau mampu mengendalikan emosinya, dan mereka hanya tersenyum saat menghadapi sikap customer yang menjengkelkan.

Sahabat Pena :D
Ketika customer marah kepada Barista, apakah mereka membalas amarah dengan amarah? Tentu TIDAK!! Mereka justru bersikap santai, berusaha meminta maaf, dan menjelaskan kejadian yang sebenarnya kepada customer.

Jika kita di posisi Barista ini, apakah bisa bersikap sama? Oleh karenanya, mari kita belajar mengendalikan emosi yass..

4. Multitasking

Memang barista memiliki job desc masing-masing di gerai kopi tersebut. Ada yang dibagian kasir, food/pastry, Bar, dan Drive THRU. Meskipun demikian, mereka harus sanggup menjalankan beberapa pekerjaan sekaligus.

Hal ini tentu menguntungkan bagi pihak Store, apalagi saat pengunjung store ramai meriah. Operasional tetap berjalan kondusif tanpa kecerobohan sekalipun. Mereka saling bahu-membahu.

starbucks
Stay di Bar & Drive THRU
Akan ada saat-saat di mana seorang Barista harus membersihkan meja tamu yang sudah selesai sambil menyapa tamu yang baru datang.

Atau saat meracik pesanan minuman sambil meladeni customer yang tetiba palanya muncul dibalik mesin Mastrena yang minta tolong “boleh penuhin es batu gak? Hihi

Terlepas dari opini bahwa sebaiknya fokus pada satu pekerjaan, tapi tuntutan keadaan pekerjaan seperti ini yang berlangsung secara continue bisa mengasah kemampuan multitasking ye. Benar nggak?

Skill melakukan lebih dari satu tugas dalam waktu bersamaan dapat  manajemen waktu dan melatih ketajaman respon.

Keren deh, apalagi yang stay di Drive THRU. Meskipun kadang saya lihat ada sedikit kendala teknis. Misalnya modulasinya ancur mungkin (speaker aerphone gemericik). Jadinya, haah? heeh? 😆

5. Supel

Sudah gak kaget kalau kerja di bagian pelayanan orangnya supel atau mudah bergaul. Barista selalu memprioritaskan kepuasan customer karena feedback dari customer jadi hal paling penting.

Karenanya, Barista dituntut untuk  selalu ramah, selalu tersenyum, dan luwes berkomunikasi demi mendapatkan hati pengunjung. Karena sudah biasa bertemu dengan banyak orang dan dengan tipe yang beragam, wajar kalau Barista jadi supel.

Starbucks-barista
Geser ada PIC ketje "Diana" :D
PIC yang satu ini, kalo lagi murka sama anak buahnye dia ngasih pilihan dulu beroh, “Loe mau gue maki2 mau gaya apahhh?" Hahh. tapi orangnya asyik apa aje bisa jadi topik.. mantab! Good luck ya rapunsel!

6. Fokus

Barista harus mampu menjelaskan rasa minuman atau food yang didisplay di pastry kepada customer dan harus menguasai seluk beluk mengenai kopi yang dijual di setiap gerainya.

Begitu juga saat mencatat pesenan customer yang beraneka ragam menjadi tantangan tersendiri bagi Barista Starbucks.

Ada saja customer punya permintaan begitu banyak ‘syarat’. Misalnya : whipped cream sedikit saja, jangan terlalu banyak es di minumannya, pakai susu kedelai campur susu tanpa lemak, pesan cappuccino tanpa foam (hellaaaw.. disebut cappuccino karena ada  foam-nya! :D).

Atau cotoh lain, minta sirup hanya 1/3 atau 1/4 pump (Half syrup sih, mungkin masih gampang, tapi bagaimana caranya mengukur 1/3 atau 1/4 pump sirup?), sampai minta minuman panas tapi jangan panas banget. Gimana coba? 😆

Barista juga manusia keleus. Sama seperti anda, mereka juga punya mood berbeda setiap harinya. Namun, Barista tidak pernah menunjukkan hal ini.

Jadi betapa hebatnya mereka masih bisa sabar melayani semua keinginan customer.

Bayangkan kalau saat menjadi Barista pikiran kita melayang ke mana-mana. Bisa-bisa pesanan tamu salah semua. Misalnya, pesen kopi malah dikasihnya macha.

Ini bukan Malika :D
Makanya penting banget buat fokus. Konon katanya kalau fokus kerja, tandanya kita juga fokus mencapai keuangan yang sehat. *yok kita fokus ngopinya.. hahah.

7. Teliti dan Sigap

Bekerja di bagian pelayanan itu, memang kalau gak sigap ya payah..hehe, Balik lagi soal tugas seorang Barista yang meliputi beberapa hal.

Contoh : stay di VOS Drive THRU bagaimana harus punch pesanan saat payment (memberikan kembalian), ternyata mobil berikutnya sudah ningnang-ningnung minta dilayani.. hebat yak!

Contoh lain : Ketika ada kotoran atau kopi tumpah di lantai, Barista juga harus dengan sigap membersihkan sebelum ada tamu yang terjatuh karenanya.

CM lagi clean up nih :D
Note : Sitepu langsung loncat dari Bar pas lihat “customer rempong” minumannya tumpah. Belio ini Coffee Master juga yang esensinya ahli bar bikin racikan kopi tapi sigap turun tangan clean up. Mohon maaf lahir batin, ini bukan pencitraan.. good job & happy working berohh! :D

Nah makanya mari kita belajar sigap.. masa cuman bawa 1 gelas doang bisa tumpah?

***

Dari ketujuh poin yang sudah kita ulas, tentunya ada batasannya. Seperti kata pepatah bahwa kesabaran / keramahan pasti ada batasnya, barista di Starbucks kerap menemui sikap customer yang tidak menyenangkan.

Starbucks coffee
Ngantre.. :)
Bayangkan situasi ini:

Saat sedang mengantre di Starbucks dan Anda berada persis di belakang orang yang sedang memesan punya begitu banyak ‘syarat & pertanyaan’ untuk pesanannya.

Customer seperti ini, membuat proses transaksinya menjadi lama dan tentu antrean juga jadi semakin panjang. Tahu kan, betapa mengesalkannya customer seperti itu? Bukan hanya bikin kesal customer lain, tapi juga baristanya.

Mungkin para customer sering mengira bahwa duduk berlama-lama di dalam Starbucks padahal hanya pesen satu minuman/menu membuat barista kesal dan berkata, “Kenapa orang ini gak enyah, sih?”.

Nyatanya TIDAK!.. saya ulangi TIDAK sama sekali. Justru barista senang karena ada pelanggan yang nyaman dan betah di dalam store.

Dengan catatan : gak nyampah dan gak membuat kegaduhan, they are cool with it, you know? Harusnya customer memantaskan diri sebagai “Raja”. Disiplin..

Disiplin itu dimulai dari diri sendiri bukan?.. “Buanglah sampah pada tempatnya”. Apa susahnya sih kalau boleh tau??

Kalau boleh saran, sebagai apresiasi coba deh mulai biasakan untuk kasih “tip” kalau pelayanan mereka emang berkualitas. Tolong tenangkanlah dulu dirimu dan belajar memberikan feedback yang positif ya!

Mulai sekarang mari kita belajar dari apa yang sudah kita ulas di atas. Jadi jangan sekali-kali nganggap remeh atau gampangin profesi melayani OK!

Ternyata, mental kerja dan dedikasi Barista tuh patut diacungi jempol, bahkan perlu juga kita teladani. Jadi, kita harus cobain deh jadi Barista sehari aja biar bisa lebih menghargai.

Sebagai inpoh tambahan Starbucks juga sering melakukan program CSR (Corporate Social Responsibility) dengan tagline tahun ini “We are comunity” atau “” Mereka begitu antusias bukan?

Di akhir tulisan, sukses terus dah buat managemen STARBUCKS. Dear Partner, tetap semangat!! Saya akan bantu mengucapkan slogan profesi pelayanan "Anda puas kami lemas", tenang jangan langsung cemas karena masih banyak yang bisa diremas-remas.. ehh!

Mari maju bersama pelanggan. Singkatnya yuk ngopi sadayana ke Starbucks.

Sampai disini dulu cuap-cuap kita hari ini.. sampai berjumpa lagi di segmen selanjutnya..!

Nite & GBU more.. Byeeee!

 
;