Senin, 31 Desember 2018

Tembagapura dan area Lowland Papua

Posting ini lanjutan posting sebelumnya. Biar gak salah paham, sebaiknya terlebih dahulu bacalah post sebelumnya" Klik disini ".
- NGOPI SADAYANA! 😎

Kurang afdhol yekan, kalau nggak bahas Tembagapura!

Setelah ikatan dinas di mile 74 finish sesuai surat tugas dan sudah ‘hand over’ dengan angkatan selanjutnya.

Inpohnya jalan menuju Timika lagi diblok oleh kelompok kriminal bersenjata akhirnya kepulangan kami dipending.

Karenanya surat tugas pun di injury time sama pihak PT.Freeport Indonesia. Karena mereka butuh tenaga profesional yang handal seperti kami, ahli dibidangnya.. hehe.

Team kami di-stay-kan di Mile 68 Tembagapura. Yok kita turun ke mile 68. :)

Terjun ke Tembagapura
Tembagapura sebuah kota dengan standar Amerika. Kalo pertama kali ke sini pasti ngerasa "Wow!! indah banget". Yo'i... namanya juga perusahaan multinasional, dari tata letak, struktur bangunan, dll.

Fasilitasnya lengkap seperti rumah sakit, tempat ibadah, sekolah (TK-SMP), messhall, lapangan olah raga,landasan helikopter, penjara (?), Shoping place .. yang jelas gak ada gepeng disana. 😆

Tembagapura
Kalau barak di mile 72 menempel disisi tebing, nah barak disini posisinya di tengah hutan lebat, tersuruk di lembah yang dipagari oleh puncak-puncak gunung yang menjulang tinggi.

Lembah :)
Situasinya sama kyak di Mile 72 hanya saja disini hunian di dominasi karyawan yang membawa pasangannya.

Maka terjadilah perkembangbiakan.. heheh. Yang berujung bertambahnya penghuni yang disebut penduduk.

Kota yang selalu dipayungi kabut dan nyaris tanpa siraman sinar mentari. Hujan hampir setiap saat mengguyur lembah itu sepanjang hari. Mungkin penduduknya kalo dikumpulin di GBK aje bakal masih banyak kursi yang kosong. 😆

Adem
Ada 3 mess di kawasan Mile 68 (Tembagapura): Mawar (Non-staff), Melati (junior staff), dan Flamboyant (senior staff).

Yang sangat terkesan udaranya yang sangat sejuk, dingin, embun yang menyentuh tubuh setiap harinya. Mohon maaf lahir batin nih, saya cuman seminggu tinggal disitu, jadi gak bisa banyak cakap.. wkwk.

Barak mile 68
Petualangan kami pun tak sampai disitu saja. Setelah berkoordinasi dengan Satgas pengaman Opvitnas menyatakan area jalan menuju Timika sudah steril.

Akhirnya kita pun dicampakkan ke area Lowland. Yuk.. let’s go!

Di Mile 50 kita disweeping ama Brimob, mungkin takut ya kita bawa konsentratnye.. 😊

Baracknya ada di Mile 38. Panaaaaaas!!! Itulah kesan saya saat pertama di tempat ini. Yoi.. anak gunung Jayawijaya dipindah kesini pasti kepanasan. Wkwk.

Terus sudah ada masyarat asli Papua diseputaran barack tapi sudah agak modern dengan baju ala kadarnya (tidak pake koteka).

Menuju lowland
Kalo pulang kerja kita suka nongkrong tuh di belakang barack, kebetulan dibelakang barack ada sungai besar.

Terlihat ada beberapa masyarakat yang lagi ngedulang konsentrat ampas dari gunung sana mungkin. Dan di area lowland ini sangat rawan dengan wabah Malaria.

Tempat kami bekerja disini banyak lokasinya, di terminal gorong-gorong, check point 32, warehouse, pabrican, dan Institut Pertambangan Nemangkawi yang arah Kuala Kencana.

Tapi disini agak ngeri, hampir tiap malem saya mendengar suara tembakan peringatan dari Brimob yang bertugas patroli area Lowland.

Beda halnya di mile 74 damai sentosa hanya berperang dengan alam. Makanya mungkin saat menuju mile 74 harus melalui pemeriksaan yang super ketat.

Kira-kira hampir dua bulan di area lowland, kondisinya pun sudah agak stabil akhirnya team kami pun bisa pulang ke Jakarta.

Begitulah pengalaman saya selama ikatan dinas ke PT.Freeport Indonesia. Saya sangat bersyukur atas kesempatan itu.

Sebagai penutup, tak lupa saya menyapa temen saya yang masih ikatan dinas disana. Tetap semangat! jaga kondisi, semoga keluarga di Jakarta tetap dalam lindunganNYA.

Terimakasih, sampai jumpa lagi ya di segmen selanjutnya.

GBU more! 😎
Kamis, 27 Desember 2018

Alur produksi PT.Freeport Indonesia

Posting ini lanjutan posting sebelumnya. Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, sebaiknya terlebih dahulu bacalah post sebelumnya" Klik disini ".
- NGOPI SADAYANA! 😎

Yuk kita masuk ke alur produksi di MILL PT.Freeport Indonesia tepatnya di mile 74.

Produk PT.Freeport Indonesia yaitu “konsentrat” yang mengandung emas, tembaga, dan perak. Bukan emas yang mereka hasilkan, anggapan itu salah besar!

Jadi jangan bayangin ada gudang emas batangan di sana, apalagi membayangin goa berlapis emas.. 🤣

Area Plant PT.FI
Wujudnya masih konsentrat, ibaratnya donat yang masih tepung, eh analoginya masuk gak?

Iya bener.. maksud saya, batu itu ada kadar emasnya tapi kan itu batu bukan mas.. bingungkan? Sama, saya juga jadi bingung jelasinnya. 😝

Ilustrasi :)
Untuk memperoleh gambaran mengenai proses pengolahan bijih (ore) di PT.FI. Bersiap-siaplah membaca paragraf panjang tentang pengolahan di MILL.

Proses pengolahan di pabrik PT.Freeport Indonesia berlangsung secara simultan selama 24 jam. Mesin-mesin beroperasi dengan tingkat ketelitian tinggi.

Terdapat control room dikendalikan beberapa karyawan, yang berfungsi untuk memonitor proses operasional produksi berjalan dengan baik, serta melakukan berbagai penyesuaian setelan mesin apabila diperlukan.

Crusher
Material/bahan dasarnya batu yang sumbernya dari GRASBERG dan UNDERGROUND. Material dibagi 2 menurut nilai ekonomisnya: bijih (ore) dan batuan penutup (overburden).

Bijih diancurin pake crusher lalu dikirim ke MILL (Produksi) untuk diolah lebih lanjut via belt conveyor. Sedangkan overburden dikirim ke Overburden Handling System (OHS), lalu ditimbun di Lower Wanagon pake stacker.

Amole stockpile
So, mari kita fokus ke bijih (ore) material inputan ke MILL. Langkah awal, bijih (ore) yang sudah diancurin pake crusher lalu dikirim via belt conveyor ke MILL (produksi), sebagai inputan ke SAG Mill kemudian digiling untuk mengaluskan.

Kira-kira mekanismenya begindang :

SAG MIL --> BALL MILL --> FLOTASI --> (KONSENTRAT & TAILING) --> LABORATORIUM.

1. SAG MILL

Sag Mill yaitu mesin giling, untuk menghaluskan bijih (ore). Komponen di dalem Sag Mill ada Liner (besi bentuk rusuk). Sehingga membentuk rongga dan Grinding Ball (besi bulat).

Fungsinya : mengubah besaran bijih menjadi partikel yang lebih halus untuk menyiapkan ukuran yang sesuai ke proses selanjutnya.

SAG MILL
Saat saya on duty, Saya pernah ikut saat mesin Sag Mill shut down. Aktifitasnya mengganti liner yang sudah menitipis akibat gesekan bijih (ore) dan grinding ball.

Otomatis sementara mesin stop running. Tapi hanya bisa sampai dipincutnya (corongnya). Kalo lagi shut down kadang ditemukan kerak kandungan konsentrat dicelah2 linernya sudah menggumpal. Oh iya, disana hanya ada dua buah Sag Mill.

Setiap ada kegiatan di area Mill (plant) harus mengikuti standarisasi L.O.T.O (Log Out Tag Out). Dibutuhkan ketelitian karena beresiko tinggi.

Buat yang sudah pernah kesana pasti tau akan aturan mainya si LOTO yang satu ini.

Ngenesnya saat start pasang LOTO di area Sag Mill (lantai paling atas area Mill) nama kita taruhannya. Eh pas posisi kita di Ground (lantai dasar tambang) ada yang talking2 karena LOTO sudah finish. Ampun Gusti!!

Kadang dengan sisa nafas harus berlari menaiki anak tangga yang ribuan itu. Dengkul serasa mau copot, jantung mau meledak, ngosngosan. Sungguh pengalaman yang tak terlupakan. 😆

2. BALL MILL

Komponen dan fungsinya sama seperti Sag mill hanya saja ukurannya lebih kecil (setengah dari badannya si Sag Mill).

Bijih (ore) yang sudah halus sebagai output dari Sag Mill diteruskan sebagai input ke Ball Mill untuk memperhalus bijih hingga menjadi bubur konsentrat (slurry). Perangkat Ball Mill ada Scalvin screen (ayakan), Knelson (pick up sampling) dll.

3. FLOTASI

Flotasi / pengapungan yaitu proses pemisahan yang digunakan untuk menghasilkan konsentrat.

Bubur konsentrat (slurry) hasil gilingan yang keluar dari Ball Mill dipompa ke seperangkat tangki Cyclone (elemen berbentuk cumi) untuk memisahkan mineral dengan material yang tidak bernilai ekonomis.

Dan dicampur dengan ‘Reagent’ dimasukkan ke dalam serangkaian tangki pengaduk yang disebut dengan sel flotasi.

Sel Flotasi
Reagent yaitu suatu pereaksi untuk memodifikasi sifat permukaan suatu zat. Partikel yang semula bersifat menolak udara (aerofobik) diubah menjadi mengikat udara (aerofili).

Ada dua jenis reagen yang digunakan dalam proses flotasi ini. Jenis pertama akan mengikat mineral berharga, sedangkan jenis kedua yaitu pembuih (frother) akan menghasilkan buih selama proses pengadukan partikel.

Slurry
Buih yang bermuatan mineral tersebut, diselimuti oleh mineral berharga yang berbentuk seperti pasir yang menyerupai buih deterjen metalik, meluap dari bibir atas mesin flotasi kedalam palung (launders) sebagai tempat pengumpulan mineral berharga.

Mineral berharga yang terkumpul didalam palung tersebutlah yang dibawa ke proses selanjutnya untuk dijadikan konsentrat. Sementara material yang mengendap dibagian bawah dikenal dengan istilah tailing.

Biar nggak pusing, jadi gini..

Inputnya : bijih (ore), outputnya : konsentrat dan tailing. Tidak ada perubahan sifat kimia pada partikel bijih yang telah dipisahkan menjadi partikel konsentrat dan tailing yang diakibatkan oleh proses pengolahan di pabrik.

Bijih, konsentrat dan tailing pada dasarnya memiliki sifat yang sama. Perbedaannya adalah pada komposisi mineral berharga yang terkandung di dalemnya (bahasa premannya ‘kadarnya’).

Jujur saja, saya senang jalan diantara kepingan-kepingan kuning ini. Meskipun getarannya berasa sampai ke ubun2 tapi disini hangat (hangat dari uapnya). Memang bau sih! tapi siapa perduli yang bau, saya kan butuh kehangatan disitu.. 🤣

4. TOWER MILL

Disini lah semacam akhir proses khususnya di area MILL sebelum masuk ke laboratorium. Slurry hasil proses flotasi dikonsentrasikan ke tower mill.

Masuk ke area ini harus ada permitnya. Dan ketika keluar dari lokasi pun harus disearching body dengan garet atau detector.

Disini katanya konsentratnya kadar emasnya pun sudah lebih tinggi. Makanya Tower mill ini areanya di krengkeng alias dipager dibawah pengawasan ketat pihak terkait.

Di MILL (plant) hanya ada 2 buah tower mill. Saya pernah masuk kesini tapi kena sembur sama pipa konsentrat (bocor).

Karenanya, mata saya kelilipan dan seragam saya berlumurkan lumpur konsentrat. Persis kyak peserta benteng takeshi yang kejebur got. 😣

5. TAILING

Pasir yang tak bernilai yang terkumpul di dasar sel flotasi yang terakhir sebagai tailing.

Tailing akhir ini disalurkan menuju suatu sistem pembuangan alami yang mengalir dari Mill menuju Daerah Pengendapan.

Lihat gambar, itu namanya tailing 400. Tengki bundar besar untuk menampung tailing dari sel flotasi.

Tailing 400 & 300
Ditengahnya itu ada semacam besi memutar pada porosnya lengkap dengan alarm bunyi terus. Tuiu..iiu..iuu..iuut.. kira2 begitu.. hehe.

Dan masih banyak lagi tailing yang lain. Seperti tailing 300, tailing 210 tapi ukurannya lebih kecil tentunya.

6. LABORATORIUM

Disini lah proses pengeringan konsentratnya dan test sample yang diambil dari tiap komponen Knelson.

Kalau saya lihat prosesnya seperti dioven kemudian ditimbang, karena itu bagian dari tugas departemen kami.

Pengambilan sample ini biasanya 2x dalam satu sift. Baik sample dari Southtell dan Northtell.

Okkeh.. demikianlah alur produksi di MILL. Gimana anak muda? Paham? Kalau nggak paham dengan penjelasan saya, jangan panik, nggak usah dibaca berulang-ulang juga.

Intinya proses di MILL (produksi) itu bisa dijelaskan dibawah 140 karakter untuk menghemat bite (<140 chars: )

"Batu dihancurkan kemudian digiling sehalus mungkin. Partikel metalnya diapungkan dan dikonsentrasikan. Lalu dipompakan untuk menghasilkan konsentrat berkadar murni.”

Masih gak paham juga? Kita ngopi yuk!! 🤣

Mohon maaf nih, bukannya sok tahu.. saya menulis atas apa yang saya kerjakan selama saya dinas disana.

Tulisan ini bukan sekedar hasil riset seorang mahasiswa magang yang notabenenya cuman tanya2, lihat2, dokumentasi (selfi2 ria), cengengesan dan menghasilkan karya ilmiah yang bersilit-silit hingga ribuan halaman.

Tapi justru ini adalah bagian tanggung jawab kami selama dinas dan sampai misi itupun tuntas sempurna sesuai waktu yang tertera di LOD (Letter Office on Duty). Sombong!! 😝

Minggu, 23 Desember 2018

Ikatan dinas ke PT.Freeport Indonesia

Merry Christmas & Happy New Year!

Amole.. :)

Kali ini saya akan berbagi pengalaman saat ditugaskan ke PT. Freeport Indonesia, Timika - Papua. *Dinas ke luar nih ceritanye!

Monmaap baru dipublish, abisnya sejauh mata memandang, teman dan senior saya tak ada yang mengungkap kisah ini di medianya mereka.

Mungkin pada sibuk. So, anggap saja saya sebagai perwakilan..hehe. - NGOPI SADAYANA! 😎

Pengalaman_kerja_di_PT.Freeport
MAP
Sebelum diberangkatkan ke PT.FI harus MCU dulu di Gd.Dinar jln. Raden Saleh, Jakarta pusat. Jika hasilnya sehat jasmani dan rohani, lalu mengikuti training di Cilandak.

Seperti : Simulasi First AID, Safety & Emergency Evacuations, Hazard Identification, Risk Assessment & Risk Control, Emergency Response (tersertifikasi), juga binsik melatih mental baja (bukan mental tempe ya) biar disananya gak melempem kyak kerupuk kena angin puting beliung.. ehh

Angkatan saya sebanyak 30 person (13 branch Jakarta, 13 branch Surabaya, 4 branch Bandung) terdiri dari : 4 betina dan 26 jantan. Yang dibagi ke dua team, karena disana nantinya akan dinas dua sift.

Tiba hari ‘H’ jam 21.00 WIB take off by AIRFAST INDONESIA dari Soehatta (Jkt) --> Ngurah Rai (Bali) --> Sultan Hasanuddin (Makassar) --> Mozes Kilangin (Timika) tiba jam 04.00 WIT.

Untuk masuk ke area PT. FI nggak sembarangan men. Pemeriksaan super ketat. Mulai dari surat perintah tugas yang sudah di-approved oleh PT.FI. Lalu validasi data  (KTP, ID Card), dll.

Setelah checking dinyatakan fix, team kami dijemput dengan bus warna orange. Keluar bandara, berhenti di “Terminal gorong-gorong”.

Perjanan menuju puncak Wijaya
Terminal gorong-gorong

Mile 52 - Mile 54

Mile 57

Mile 58 masuk Tunnel

Mile 58 keluar Tunnel

Mile 61 - Mile 62

Mile 68 Tembagapura


*Scroll gambar (atas-bawah)


Usut punya usut, mobil yang menuju ke puncak Jayawijaya saat itu harus konvoi antisipasi teror penembakan.

Menunggu sejam lebih (kumpul lah sekitar 8 bus). Berangkatnya di-escort ama Brimob meluncur ke Mile 74. Oke.. let’s go!!!

Perasaan campur aduk antara excited dan waswas kena peluru nyasar. Tak lupa mulut komat kamit seperti baca mantra ‘berdoa’.

Sepanjang perjalanan, Wow!!! Seperti sedang OFF ROAD jalanan sangat ekstrim, berbatu, menanjak, berkelok-kelok dan masuk terowongan (ratusan meter) menembus gunung hingga ketemu lagi gunung yang lebih menjulang.

Melaju diantara jurang dan tebing. Gak ada rumah atau manusia selama diperjalanan. Ada “post m*nyet” di beberapa titik.

Pegangan yang kencang rasanya mobil kyak mau kebalik gitu deh. Namun hal itu tertutup oleh adrenalin yang dipicu antusiasme si bolang. 😆

Siangnya tiba di mile 68 Tembagapura, kembali disweeping memastikan surat2 dan barang bawaan.

Selesai digrepek2 dijemput oleh bus yang khusus ke Plant, turun di barak mile 72. Posisinya di disisi tebing. Istirahat sebentar, sekalian bagi kamar di barack.

Sorenya pake seragam lengkap APD. Lalu meluncur ke area plant Mile 74 untuk mengikuti Safety Inductions (Permit to Work System, Muster Point, Indicator light, K3, LOTO, Golden rule dan basic tambang lainnye) juga orlap alias orientasi lapangan di area MILL dengan waktu singkat, membingungkan men.. 😆

Area Plant Mile 74 Memory
Area plant Mile 74

Jemputan

Berangkat ke Plant

Breafing

Bravo :)

Senja di Mile 74

Okurrr..rr! :D


*Scroll gambar (atas-bawah)


Selesai safety induction, kira2 jam 20.30 WIT pulang ke barak. Langsung bersantap ria soalnye perut udah keroncongan.

Terus nyender sambil bercanda ria sama team. Tetiba Mr.Iyan (Expat/Chief Devisi) bangkit dari kubur sambil teriak kyak TOA.

"Hei fuck you men.. boulsittt!.. you kesini mau work or hepi-hepi??? Hei.. siapa you punya namaaa!!"

Emang sih malem itu juga jam 00.00 WIT harus 'hand over' dengan angkatan sebelumnya, tapi kan jemputan belon datang bossku!! Masa jalan kaki, ah langka pikiran.. 😆

Malam itu juga saya langsung on duty. Namun sedikit stress juga lantaran belum menguasai mekanisme kerjanya, ditambah lagi saya diterjang serangan 'mountain sickness'.

Saya ‘mimisan’ alias ‘tarngurngur men.. wkwk’’ dan bibir terasa kaku mau retak saking dinginnya.

Suasana berkabut jarak pandang hanya radius 10 meter. Mungkin juga karena seharian lelah di perjalanan. Yang ada dibenak saya, bakalan mati beku disitu.

Hal itu terjadi hari pertama aje sih efek adaptasi lingkungan, minggu berganti dengan bulan sudah enjoy mungkin raga ini sudah menyatu dengan alam Papua.

Pokoknya makan buah Apple & sunkist sebanyak2nya agar stamina kembali ke level 100. Selama disini siang malem rasanya sama saja, hujan, dan kabut.

Hanya mengandalkan lampu. Siang bolong terang sebentar tapi rasanya dingin banget. Lihat matahari seperti bulan tak menghangatkan.

Soal makan.. di area plant Mile 74 dapatnya nasi kotak. Kalo di barack, banyak banget pilihannya. Roti dan buah juga banyak banget.

Nafsu makan itu bertahan dua hari saja. Kok bisa? Iya, soalnya baru aje catering yang dikelola PT.Pangan Sari Utama anter makanan, bentar lagi segala yang berkuah udah jadi ‘ager’ saking dinginnya. Tapi ada microwave.. 👌

Barak fasilitasnya lengkap. Pemanas ruangan, jadi bukan AC ya karena di sana udaranya dingin sekali men, shower (panas/dingin), selimut tebal dan halus, ruangan olah body. dll. Maklumlah standart Amerika men.

Urusan cucian? ada OB kok, serasa raja sehari deh kalo di barack. Pulang kerja tinggal tumpuk, bahkan sampai s*mpak, kaus kaki taro disitu *tips kasih nama MAWAR, 😝

Lokasi kerja PT.FI ada di area OB, GRASBERG, UNDERGROUND dan MILL. Tapi disini yang mau saya bahas yaitu di MILL (area produksi), karena disinilah ruang lingkup tugas saya.


Area Mill 74
Salah satu aturan menarik di sini, demi keselamatan kita diwajibkan memakai Personal Protection Equipment / PPE (Alat Pelindung Diri / APD) berupa reflective vest, safety shoes, safety helmet, Ear plugs and Safety glasses.

Jadi begitu turun dari bus harus udah lengkap semua terpasang. MILL itu bising, kadang berdebu, dan suka bau-bau bahan kimia, jadi kalo berkunjung ke MILL selain mandatory PPE jangan lupa selalu sedia masker ya gaes! :)

Jumat, 07 Desember 2018

Fakta dibalik ekspektasi

“Karena masa depan sungguh ada,
dan harapanmu tidak akan hilang”
- Amsal 23 : 18

Akhir-akhir ini cuaca sulit diprediksi, pengaruh pancaroba musim kawin yang sedang berlangsung di tempat ini. Tadi siang panas menyengat, tapi sore ini cuaca murung, tetiba atmosfirnya merubah suasana jadi melankolis. - NGOPI SADAYANA! 😎

Untuk menjaga kesehatan mental. Pulang kerja langsung deh melipir ke suatu tempat santai sama temen, beli Baso A-Fung super pedas. Tapi nongkrongnya di toko sebelah demi wifi gratisan. Nikmat dunia mana lagi yang harus saya dustakan.. Oh my Lord ! Hehe

Baik, bukan hanya cuaca yang sulit diprediksi, begitu juga perjalanan kehidupan seseorang tidaklah selalu sesuai dengan harapan. Karena setiap manusia telah ditakdirkan sebelum manusia itu sendiri dilahirkan. Apapun yang kita lakukan, usaha ataupun pilihan kita, semuanya telah tercatat dalam suratan takdir.

Jadi keingat lagunya Desy Ratnasari yang berjudul “Takdir”. Lagu itu sempat menjadi polemik. Pasalnya, di bagian reffrain dalam lagu itu ada kalimat yang berbunyi, “takdir memang kejam”. Mungkin generasi Y (generasi Milenial) pasti pernah mendengarnya, lagu itu sempat populer bahkan dijadikan soundtrack sinetron dengan judul yang sama.

Lalu orang-orang “tertentu” yang merasa terusik itu, melayangkan protes terhadap pencipta dan penyanyi lagu tersebut, agar kalimat “takdir memang kejam” diganti dengan kalimat lain.

Alesannya? Mungkin, menurut mereka yang protes, Jika takdir dianggap kejam maka berarti Tuhan juga kejam, karena DIA-lah si pemilik dan penentu takdir. Karenanya, menyebut takdir itu kejam sungguh tidak layak dan tidak benar, karena seolah-olah kita sedang menyalahkan takdir Tuhan.

Untungnya pencipta lagu dan penyanyi langsung kooperatif. Mereka tidak meributkan protes itu dan segera mengganti lirik lagu tersebut. Setelah itu, lirik lagu itu pun terdengar ‘aneh’ karena sudah terbiasa dinyanyikan dengan “Taaakdirr memang kejam..”. tekdung.. tekdung..! hehe

Oke, itu hanya sedikit gosip usang..!

Sambil menulis artikel ini, saya akan melihat secara realitas kondisi yang terjadi dan mencoba mengasosiasikan dengan polemik tersebut.

Banyak orang jujur yang harus membanting tulang dan bermandikan keringat untuk mendapatkan rejki, tapi hasil yang didapatkan tak sesuai dengan semua jerih payahnya.

Namun, sebagian lagi hanya duduk santai diruangan ber AC, selfi2 ria, hanya menggunakan jari telunjuk minta dibikinin kopi sama OB. Sungguh perbedaan yang sangat signifikan antara kerja dengan otot dan kerja dengan menggunakan otak.

Akan tetapi dibanding keduanya, sudah menjadi rahasia umum jika dijaman ini banyak orang yang mengejar kesenangan duniawi. Mereka memilih jalan pintas dalam usahanya mencapai puncak kesuksesan, kejayaan atau level tertinggi dalam piramid kehidupan. Tak jarang ada orang yang menggapainya dengan segala cara dan upaya walaupun dengan kecurangan dan kebodohan yang merugikan orang lain. Sungguh egoisnya orang seperti itu yang merampas hak milik orang lain.

Namun, tak sedikit pula ada orang yang berusaha sekuat tenaga dengan keringat dan jerih payahnya untuk membangun kesuksesannya sendiri, tanpa mengorbankan orang lain. Memang saya tak tau usaha apa yang telah mereka (orang sukses) lakukan, mungkin mereka lebih berusaha dibandingkan saya.

Terkadang saya berpikir jika hidup itu tidaklah adil, ada yang bekerja keras susah payah untuk mendapatkan hal yang diinginkan namun kenyataannya berkata lain. Tapi ada pula yang tidak terlalu bekerja keras bahkan tak ada niat untuk mendapatkan sesuatu akan tetapi malah mendapatkannya begitu gampang.

Seperti halnya cerita teman letting yang mengatakan jika dia kalah bersaing dalam dunia pekerjaan. Kalahnya bukan karena dia kurang berbakat, kurang kreatif ataupun kurang bekerja keras. Tapi karena gak punya “koneksi”.

Sudah menjadi hal biasa jika di negeri ini faktor menentukan masa depan seseorang peranan seperti ‘koneksi’ sangatlah penting yekan? Karena jika terdapat lowongan pekerjaan, maka “orang dalam” akan merekomendasikan sanak saudara atau temannya terlebih dahulu daripada orang lain yang tak mereka kenal.

Lalu bagaimana nasib seseorang yang tidak punya relasi yang bisa diandalkan? Hal ini bisa dirasakan ketika surat lamaran yang kita berikan tak dilirik sama sekali atau emailnya langsung di skip.

Dia juga berkata jika ia selama ini salah masuk jurusan meskipun jurusan yang dipilih sudah sesuai dengan passion-nya.

Namun saya pikir semua jurusan memiliki potensinya masing-masing, tergantung ada atau tidaknya ‘peluang’. Bukankah pekerjaan terbaik adalah hobi yang dibayar? Seahli apapun seseorang dalem bidangnya kalo peluangnya nihil hasilnya dipastikan “Zonk”.

Saya juga pernah tumbang karena masalah seperti ini. Saya terlalu optimis dengan semua harapan dan rencana yang telah saya susun, namun tak pernah mempersiapkan diri untuk kegagalannya. Hal tersebut membuat saya menjadi seorang yang pesimis. Namun kenyataannya, jika saya pesimis, justru saya meng’iya’kan sebuah takdir akan kekalahan. Karena pesimis itu seseorang yang mudah menyerah.. bukan begitu Ferguso??

Saya tau hidup ini adalah anugrah dari Tuhan, terlepas dari menyenangkan atau membahagiakan dalam setiap perjalanannya. Namun ada yang saya tak mengerti mengapa Tuhan memberikan beberapa pilihan dalam hidup yang saya jalani.

Apakah ini sebagai hukuman yang Tuhan berikan, sehingga hidup ini menjadi begitu terbebani karena pilihan itu? Atau ini bentuk kasih sayangNya yang lain? Sehingga saya bisa bebas menjalani hidup yang saya inginkan.

Manusia memiliki segala keterbatasan, yekan? terbatas untuk berpikir, terbatas pengetahuan tentang dunia dan segala aspeknya. Hal itu juga berlaku untuk saya tentunya, sehingga saya tak tau apa yang akan terjadi satu menit, satu bulan, satu tahun kemudian di dalam hidup saya.

Entah saya harus merasa ini adil apa tidak, ketika Tuhan memberikan kesempatan untuk memilih namun saya tak tau apa yang akan terjadi di masa depan andaikata saya mengambil sebuah pilihan.

Sejujurnya banyak penyesalan yang telah saya alami. Bahkan hingga sekarang masih terdapat beberapa penyesalan yang amat saya sesali karena sangat berpengaruh hingga saat ini. Anggap saja itu rahasia saya sama Tuhan saya. Namun saya masih berusaha belajar dari penyesalan itu dengan mencari hikmahnya dan belajar mengikhlaskan.

Sebut saja saya memilih jalan hidup ‘A’. Tapi kemudian jalan tersebut salah. Dan membuat saya merasa menjadi terbebani.

Kemudian saya mencoba memilih jalan hidup ‘B’. Tapi ternyata salah juga. Malah membuat orang2 sekitar saya kecewa, marah, dan mempertanyakan nya.

Lalu orang2 sekitar saya menyarankan coba jalan ‘C’. Ketika dicoba ternyata jalan tersebut tidak sesuai dengan yang saya dan orang sekitar inginkan. Dan akhirnya saya merasa gagal lagi. Dan kecewa pada diri sendiri.

Lalu saya mencoba jalan hidup ‘D’. Tapi ternyata itu adalah jalan yang salah juga. Hal itu membuat saya putus asa dan merasa tidak berguna. Karena selalu memilih jalan yang salah.

Dan apa yang harus saya lakukan jika ternyata pilihan yang saya ambil justru membuat semua hal menjadi semakin sulit? Apakah harus mencoba semua jalan (dari A-Z)? Semua terasa salah dan rumit. Rasa sesak datang bersama sesal yang bergelut dihati. Seketika semua hal menjadi tak menyenangkan dan perasaan lelah datang lebih berat dari biasanya. Tapi seketika saya sadar keputusan yang saya ambil adalah keputusan yang salah, saya telah gegabah mengambil tindakan. Perasaan ingin kembali ke masa lalu menyeruak hanya untuk menarik semua keputusan itu ataupun mengganti pilihan saya.

Seperti halnya menyesal karena telah menghabiskan usia hingga kepala seratus (oke yang ini bohong ya Esmeralda! hehh), namun ilmu, pengalaman dan kisah hidup saya masih minim jika dibandingkan dengan orang-orang yang seusia saya. terlalu banyak waktu dan biaya yang saya habiskan untuk hal-hal bodoh dan membuangnya dengan sia-sia tanpa adanya kesan baik dalam hidup saya.

Tak hanya itu, sayapun merasa menyesal hingga saat ini belum bisa membahagiakan kedua orang tua, bahkan memberikan waktu luang untuk bersamapun saya tak bisa. Rasa rindu yang sangat mendalem membuat saya gak kuat puterin lagu berjudul “Sulangan mangan (lagu batak)” diatas jam 5 sore.

Saat sesal datang memang sungguh menyesakkan dan selalu mengintimidasi diri ini. Pikiran untuk memutar waktu tak bisa saya hindari, keinginan untuk memperbaiki, seribu pengandaian menghampiri, dan ribuan sesal yang hanya bisa saya tangisi. Saya marah karena saya ingin pilihan yang saya ambil sesuai dengan segala ekspetasi saya.

Lelah rasanya jika saya hanya menyalahkan keadaan yang sudah terjadi. Menyadari itu hanya membuat keadaan semakin sulit, saya memilih untuk berdamai saja dengan keadaan. Tak sama dengan pasrah, karena saya tak ingin kejadian itu terulang kembali. Hidup itu memang penuh dengan resiko, termasuk pilihan yang saya ambil.

Saya tak dapat menuntut Tuhan agar mengembalikan saya ke waktu yang  diinginkan untuk sekedar mendapatkan kembali kesempatan yang pernah hilang ataupun memperbaiki suatu kesalahan yang pernah terjadi. Karena sesungguhnya sesuatu yang sudah terjadi biarlah terjadi... Oh yeah! :)

Tak bisa menghindar memang, jadi saya nikmati saja sesak itu datang sebagai bagian dari warna dalam hidup saya. Saya yakin sesak itu akan hilang seiring berjalannya waktu dan mengintrospeksi diri. Dan ini bukan hal yang harus dilebih-lebihkan, mungkin Tuhan sudah menyediakan hal yang lebih indah dari apa yang saya sesali.

Sambil ngopi, saya coba melihat hal ini dari sudut pandang lain, dan ternyata masih ada berbagai macam pesan yang Tuhan titipkan untuk saya karena mengambil pilihan yang saya anggap salah itu. Saya belajar untuk tidak lagi gegabah mengambil setiap keputusan, saya tidak boleh mengambil keputusan berdasarkan nafsu sesaat. Dan saya harus libatkan Tuhan untuk segala keputusan yang ingin saya buat.

Masih banyak orang yang lebih sedih ataupun lebih bahagia hidupnya dari yang saya jalani saat ini. Dan lagi-lagi ini adalah pilihan, apakah saya ingin meratapi kesalahan atau berdiri untuk memulai lagi. Luka itu mungkin masih ada, rasa sesal mungkin masih menghantui. Tapi saya harus menghibur diri juga, bukankah setiap detik hidup kita itu atas izin-Nya. Bahkan kesalahan ini pun sudah di izinkan Tuhan untuk saya alami. Dan rasanya menyalahkan Tuhan juga bukan keputusan yang tepat.

Ibarat katanya, persiapan adalah usaha dan harapan adalah doa. Jadi teruslah berdoa walaupun usaha yang kita lakukan belum membuahkan hasil atau gagal sekalipun. Karena Tuhan ingin melihat kita bangkit dari keterpurukan. Tuhan tidak akan memberi cobaan diluar batas dari kemampuan umat-Nya.

Hidup ini lebih berarti dibandingkan setumpuk kertas atau logam yang bergambarkan sosok seseorang dengan jumlah nominal, yang saya sebut ‘hepeng’. Kita diciptakan untuk sesuatu yang lebih besar dibandingkan hal semacam itu. Semoga ini semua belum terlambat agar tak ada penyesalan dikemudian hari.

Kenyataan memang tak sesuai dengan apa yang saya harapkan, namun bukan berarti itu lebih buruk. Saya belajar menerima akan kesalahan dan fakta yang saya hadapi. Saya pun memilih untuk lebih bersyukur atas apa yang sudah saya miliki saat ini.

Yuk, balik lagi deh ke gosip yang usang itu!

Jadi, menurut saya sifat manusia itu tidak terlepas dari interpretasi. Terutama di era saat ini. Interpretasi adalah cara manusia dalam memahami sesuatu. Bagaimana menilai dan menjalani, juga bagaimana beropini terhadap sesuatu. Karena pikiran manusia berbeda-beda tentunya memiliki interpretasi yang tidak sama dong. Sebagai bukti nyata boleh kita lihat netijen yang maha benar dengan segala komentarnya di media sosial yang saling ‘ngegas’. Artinya kita dituntut agar lebih cerdas dalam menanggapi segala sesuatu.

Lalu apakah “takdir memang kejam” sebagaimana yang dinyanyikan Desy Ratnasari?? Ataukah takdir tidak kejam sebagaimana yang diklaim orang-orang yang memprotes lirik lagu tersebut?? Silahkan kembali pada interpretasi masing2 untuk menilainya.

Sekali lagi, ini adalah soal opini. Misalkan, Jika ada orang  yang penuh kesengsaraan, kemiskinan, penderitaan dan kesengsaraan sepanjang hidupnya terus menerus. Padahal sudah berusaha melakukan yang terbaik. Kemudian ia berkata “takdir memang kejam”. Apakah kita harus menyanggah dan meralat opininya??

Mungkin anda (orang yang suka protes) hidup penuh kebahagiaan dan berkelimpahan. Sehingga anda pun meyakini bahwa “takdir memang asoy geboyy..”. Tapi saya pikir bukanlah hak anda untuk menyalahkan orang lain jika menyatakan opini yang berbeda tentang takdir manusia. Apa hak anda mengatakan seperti itu??”  hehe

Karenanya.. jika lagunya Desy Ratnasari menyatakan “takdir memang kejam”, saya lebih memilih untuk tidak menyalahkannya. Lebih dari itu, tugas kita bukanlah untuk menyalahkan mereka yang menyatakan takdir memang kejam. Tapi menunjukkan kepada mereka bahwa sesungguhnya takdir tidaklah sekejam yang mereka bayangkan.

Sampai disini dulu ya cuap-cuap hari ini.. :)

Oh iya, saya lupa nawarin.. yuk ngopi sadayana! *saya mah gitu orangnya kalo hidupnya udah enak dikit suka lupa sama temen.. hehe

Sampai berjumpa lagi dilain kesempatan.. nuhun! GBU more

 
;