Kenapa?? Alasan yang paling logis, tentu karena udah berhasil kami eksekusi saat perjalanan menuju kampung, minggu lalu.
Sepengalaman saya, secara umum kondisi jalan lintas timur sumatera bagus. Sehingga perjalanan terasa nyaman, lebih ringan dan mudah dilalui.
Are you ready, guys?
PULAU SAMOSIR–PEKANBARU
![]() |
Bayangkan, hari itu adalah hari pertama di tahun 2021. Kami berangkat naik kapal feri IHAN BATAK 12.00 WIB dari pelabuhan Ambarita. Setibanya di pelabuhan Ajibata 13.00 WIB langsung meluncur, let's go!!
Senandung lagu “Pariban dari Jakarta” yang dipopulerkan Suryanto Siregar mengalun merdu di telinga, mengantar keberangkatan kami meninggalkan Pulau Samosir siang itu.
Di tengah perjalanan menuju Siantar, cuaca murung diiringi nyanyian gerimis. Seolah-olah kondisi ini merepresentasikan bahwa, Pulau Samosir bersedih atas kepulangan kami kembali ke rantau.
Perlahan tapi pasti, langit semakin kelam. Sore hari kami tiba di Siantar dan belanja oleh-oleh. Oh iya, di Kota Pematang Siantar ada tulisan begini, "PEMATANG SIANTAR SAPANGAMBEI MANOKTOK HITEI". Artinya apa ya??
![]() |
Lalu, kami menepi di salah satu warung pangsit. Meski antriannya ramai, tak ragu jatah ponakanku yang yang tersisa, saya lahap semua. Alasan pembenarannya, nanti kalau sudah di jalan bakalan susah cari makan. Walhasil kekenyangan, galau. 🤪
Tak berapa lama kami kembali melaju di atas roda, menjemput kelam. Jalan arus balik saat itu sungguh bersahabat. Hanya ada beberapa kendaraan yang kami lewati, mungkin banyak orang memilih untuk tahun baruan di rumah.
Sesekali kaca mobil sengaja kami buka. Udara sejuk membelai wajah. Spidometer bergeser sangat cepat. Kita sepakat untuk melalui jalanan sepanjang jalur arus balik ini seoptimal mungkin dengan acuan, Senin (04/01/2021) sudah bisa masuk kerja normal.
Malam semakin larut, jalanan semakin kelam, ternyata waktu sudah pukul 00.50 WIB (02/01/2021), kami rehat sejenak di salah satu SPBU Kota Pinang, Labuhan Batu, Sumatera Utara.
![]() |
Gpl, sejam kemudian kami melanjutkan perjalanan. Badan masih lelah dan kantuk tak tertahankan. Bayangkan saja, malam itu mata sudah 5 watt semua, tapi konsentrasi dituntut untuk selalu prima. Ah namanya juga perjalanan jauh, jadi dinikmati sajalah!
Sebetulnya yang membuat kami berupaya tetap semangat adalah melihat dan melintasi gapura selamat datang dan selamat jalan yang ada di gerbang suatu kota. Semua tampak berjalan lancar.
Jadi begitu melihat tulisan gapura "Selamat Jalan" di suatu kota, rasanya timbul semangat yang baru layaknya habis menang memainkan game yang kemudian “go the next level” gitu lho!
Apalagi malam itu, ketika kami sudah tiba di pintu tol menuju Pekanbaru. Yeeyyy, ada sedikit keceriaan terpancar.
Sebagaimana sudah saya ceritakan di post sebelumnya, jalan tol Duri–Pekanbaru aspalnya masih mulus jadi bisa mempercepat perjalanan. Kanan kirinya perkebunan. Namun yang saya takutkan adalah : bijimane kalo ada babi hutan yang melintas. Omegot!!!
Masih di Tol Dumai–Pekanbaru, 05.30 WIB kami kembali rehat sejenak di salah satu rest area, saya lupa itu lokasinya di kilometer berapa. Rest area ini masih kelihatan seperti barak darurat.
Di sana kami ngopi, gaes!
![]() |
Pukul 07.00 WIB kami melanjutkan perjalanan. Tak terasa kami sudah keluar tol dan memasuki daerah kabupaten provinsi Riau, Pekanbaru. Aroma kota oil and gas semakin terasa.
![]() |
PEKANBARU–JAMBI
Seperti kita ketahui, Pekanbaru memang terkenal dengan propinsi yang kaya akan sumber daya alam minyak dan gas.
Apalagi ketika melewati kawasan PT. Chevron Pacific Indonesia, nuansa itu semakin kental, euy, ada banyak bangunan tangki-tangki perusahaan minyak di tepi jalan lintas timur ini. Selebihnya sih, pemandangan kebun kelapa sawit dan pemukiman warga.
Masih di wilayah Pekanbaru, 10.15 WIB kami berhenti untuk mengisi 'kampung tengah' alias makan, gaes. Di sini kami break agak lama.
![]() |
Lanjut 11.35 WIB, let’s go!!! Perjalanan masih panjang. Gapura-gapura selamat datang dan selamat jalan yang melintang masih banyak yang harus dilintasi. Semangat harus tetap disemai hingga tiba di kota tujuan, Bekasi.
Perjalanan menuju Jambi, dilema melanda. Saat itu sudah sore hari, kami keluar dari jalan lintas timur sumatera. Sesuai petunjuk GoogleMaps, mengikuti jalan alternatif melewati perkebunan.
Berharap bisa touch down lebih awal di Jambi. Sialnya setelah melaju masuk perkebunan sejauh 10 Km, kami mendapati jalannya ternyata diportal (tutup). Semesta merintih! Finally, kami kembali ke jalan lintas timur sumatera.
Dengan semangat ‘45’, sore itu kami berhasil tiba di wilayah Merlung. Hmmm, kami beruntung bisa melewati tempat ini di siang/sore hari. Sehingga bisa menikmati suasana alam Merlung yang begitu adem.
Sambil mendengarkan sayup-sayup lagu favorit di play list. Saya tak henti berdecak kagum melihat betapa asrinya pemandangan di kanan kiri jalan, pepohonan yang berjejer rapi, hijau daun yang ranum dan langit yang mengepul awan putih. Sangat menyejukkan hati.
Namun seperti yang sudah saya wartakan sebelumnya *berita kali ah*, sepanjang jalan di daerah Merlung ini mulus beraspal, namun kontur jalanannya tanjakan dan turunan silih berganti yang disertai tikungan di tengah perkebunan.
Dua kali kami melihat kecelakaan tunggal lalulintas, mulai dari truk yang ngangkut kelapa sawit nyungsep di pinggir jalan, hingga mobil trailer yang kebalik pas tanjakan/tikungan.
Kejadian-kejadian tersebut membuat kami semakin berhati-hati lagi dalam berkendara. Untuk alasan keselamatan kami hanya menjalankan kendaraan dengan kecepatan antara 60-80km/jam.
JAMBI–PALEMBANG
![]() |
Yass! Pukul 19.20 WIB kami tiba di kota Jambi. Lalu, kami mencari warung pecel tempat kami makan saat kepulangan beberapa hari lalu. Namun tak ketemu jua, akhirnya karena udah laper kami berhenti di warung pecel tempat yang berbeda.
Amsyong!!! Maaf warung pecel ini agak kumuh, pelayannya juga *maaf* rada jorok. Tapi namanya juga lapar, apa saja langsung disikat. Tak peduli soal rasa.
Disini kembali dilema melanda, ketika itu segerombolan muda-mudi dengan tampang sangar dan penampilan yang agak mencurigakan duduk di samping kami.
Merasa seperti mau ditodong, kami buru-buru naik ke mobil, melanjutkan perjalanan menuju Palembang. Padahal lagi laper-lapernya itu, hadeuh.
Dengan kecepatan yang luar biasa, layaknya dikejar-kejar syetan. Sambil cilingak-cilinguk, takutnya diikuti (su’uzon.. haha).
Pukul 20.30 WIB kami berhenti di SPBU jalan Jambi-Palembang. Ada kali 2 jam kami istirahat di sana ngumpulin tenaga. Selanjutnya malam itu kami jalan terus menuju pintu Tol Palembang–Bakauheni.
PALEMBANG–BAKAUHENI
Akhirnya 03.30 WIB (03/01/2021) kami masuk tol Palembang – Bakauheni. Lagi-lagi dilema melanda. Perjalanan via tol dari Palembang ke Bakauheni yang seharusnya bisa langsung, Eh buset!! Kami malah dikeluarkan dari arena balapan.
Jadi saking semangatnya, sampai-sampai kami tak melihat marka jalan, ternyata kami dicampakkan/keluar dari tol dan kembali ke jalan lintas timur sumatera, sedih!
Saya yang didaulat sebagai Navigator utama merasa bersalah dong tentunya, ini kelalaian Navigator woii!!! (Ngantuk banget).. Tak terima dicampakkan, kembali kami mencari pintu masuk tol.
Masih di Tol Palembang–Bakauheni pukul 05.05 WIB, kami kembali rehat sejenak di salah satu rest area. Hmm, rest area ini bagus sekali, fasilitas lengkap, dan bersih. Bangunan permanen pendukungnya juga sudah bagus.
![]() |
Pukul 07.15 WIB let’s go!!! Di tengah perjalanan, tetiba mata menangkap marka tanda jalan tol bahwa Bakauheni tak jauh lagi.
Tersadar bahwa tiket kapal penyeberangan belum dipesan. Kami memutuskan berhenti di rest area berikutnya untuk top-up E-tol sekaligus beli tiket feri online by aplikasi “Ferizy”.
![]() |
Perjalanan selanjutnya, tak terasa pintu keluar tol Bakauheni sudah berada di pelupuk mata. Kami serentak merasa legahhh, itu tandanya misi kami akan segera berakhir. Aktifitas pelabuhan Bakauheni sudah terlihat, meski dari kejauhan.
![]() |
Pukul 09.45 WIB tiba di pelabuhan. Kapal feri Bakauheni-Merak sudah bersandar di dermaga. Gpl, kami dipersilahkan masuk ke kapal.
Sembari menunggu di atas kapal, hiburan kecil-kecilan kami lempar koin dulu ah!
![]() |
Kalo dikasih goceng nih ya, orangnya bakalan terjun dari atas kapal lho. Tapi kurang seru ahh, kecuali kalo lompat dari atas kapal dengan posisi tengkurep. 😝
![]() |
Pukul 11.00 WIB kapal feri yang kami tumpangi berlayar menuju pelabuhan Merak. Oh, begitu indah selat Sunda. Saya sangat menikmati perjalanan ini.
![]() |
Ya, namanya juga berlayar tak ada kata macet, nggak terasa 13.00 WIB kapal sudah merapat di pelabuhan Merak.
MERAK–BEKASI
Selanjutnya perjalanan dari Merak ke Cikarang (Bekasi) kami tempuh selama kurleb 3 jam berjalan lancar. Sorenya kami sudah tiba di rumah dengan sehat walafiat.
Misi selesai!!!
Puji Tuhan, perjalanan kami dari mulai mudik menuju kampung halaman hingga arus balik menuju Bekasi berjalan lancar jaya.
Hanya saja kedalanya, mungkin waktunya yang terlalu mepet dan biaya perjalanan yang bikin dompet kurus. Ehh, udah kayak pilihan berganda ya, cuma kali ini jawabannya, semua benar! 😂
Udah gitu aja sih perjalanan arus mudik menuju Bekasi kemarin.
Oh iya, di next konten saya akan kasih sedikit bocoran kisaran biaya transport selama perjalanan pulang pergi. Nantikan jam tayangnya yah Ronaldo!! Tjaahhhh
Sekian dulu cuap-cuap hari ini, terima kasih!
See you next latter..
Nite & GBU more. Bye..!!!







































































- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact