Minggu, 11 Oktober 2020

Memasuki Hening

Memasuki Hening — A little update for my blog.

Tidak banyak kejadian menarik di tahun 2020 ini. Awal tahun 2020 lalu diawali dengan banjir yang berlebihan. Bulan berikutnya disusul dengan pandemi kupit–19, dan musim kemarau yang tak berkesudahan, hingga sekarang.

Hidup dengan kebiasaan baru dimasa pandemi pun sudah mulai stabil. Kecemasan tentu masih ada, tapi sudah tidak semenegangkan di masa awal pandemi.

Semalam saya ditelpon salah satu teman letting. Kami memang tinggal di kota yang beda dan belakangan ini sedang mengalami permasalahan yang agak mirip meski tak sama.

Kami saling bertukar kabar, sudah lama tak ada komunikasi diantara kami. Sehingga membuat obrolan ini agak bernostalgia.

Ngobrol ngalor ngidul sambil cekikikan. Segala topik dari yang berbobot hingga yang unfaedah turut diperbincangkan.

Sampai–sampai gibah aib–aib temen sendiri yang dulunya tidak terlalu terkenal, sekarang sudah berani unjuk gigi di media sosial (itu sih kata temen saya ^ _ ^).

Obrolan yang tadinya penuh canda dan tawa, berubah menjadi saling meledek, dan berujung acara nasehat menasehati pun tak terelakkan lagi.

Namun salah satu obrolan yang membuat saya tertegun, ketika teman saya bertanya “NATAL pulang kampung nggak?”.

Disitu saya tersadar ..

Hmm, nggak kerasa ternyata udah bulan Oktober 2020 saja. Sebentar lagi udah mau NATAL dan tahun 2020 pun akan segera berlalu. Artinya udah 10 bulan saya lewati di tahun 2020 ini.

Dan sialnya 10 bulan itu saya lewati dengan gitu-gitu saja. Nggak ada yang mengesankan, nggak ada yang istimewa, nggak ada perubahan yang terlihat di diri saya.

Akibat pandemi ini, mungkin bukan hanya saya yang merasakannya. Ah sial memang ..

Kalau mau dipikir–pikir bayi saja hanya membutuhkan 9 bulan dalam kandungan. Oke, jika itu bagimu terlalu sulit untuk dibayangkan. ^ _ ^

Yang lain misalnya. Dalam hitungan bulan, benih padi bisa berubah jadi nasi. Atau bahkan dalam 21 hari saja (nggak sampai sebulan), telor bisa berubah jadi ayam.

Segitu hebatnya waktu hingga bisa mengubah telur ayam yang nggak bisa apa-apa menjadi ayam hidup dan bisa jalan kemana–mana, atau bahkan lebih bermanfaat bisa diolah jadi pecel ayam.

Kita? Eh kita, dari yang tadinya “gini” tetep jadi “gini”. Ah sial ..

Jika diibaratkan waktu adalah kereta, saya hanya seorang penumpang yang membayar tiket tetapi diam terpaku ketika keretanya lewat.

Bukannya ikut naik dan bergerak, tapi saya malah diem mandangi sang kereta lewat gitu aja. Dan pada akhirnya, saya ketinggalan kereta.

Saya suka iri sama mereka yang bisa memanfaatkan waktu dengan baik. Orang-orang yang bisa mengendalikan waktu.

Mereka yang bisa ikut berjalan beriringan dengan waktu. Mereka yang bisa ngikutin arus waktu tanpa berhenti sedikit atau pun terlindas oleh waktu.

Walau biasanya, mereka yang seperti itu bakal berubah seiring berjalannya waktu. Dan itu pasti!

Kapan yah bisa kayak mereka?? Hal ini menjadi perhatian yang sangat serius bagi saya pribadi.

Memasuki hening, timing–nya untuk intropeksi diri.

Mungkin akan dimulai dari saat ini. Tapi semua itu diawali dengan hidup sehat. Konon untuk bisa bertahan hidup, manusia harus bisa beradaptasi, berevolusi sehingga berkembang menjadi seperti saat ini.

Jadi, kendati demikian adanya, tetaplah hidup walau tak berguna. Jangan lupa pakai masker ya gaes, stay healthy ...

Eh omong–omong soal pulang kampung, kalau berangkat hari ini, kira–kira bisa tiba nggak ya sebelum NATAL? *jalan kaki sih*

Udah gitu aje, update nya kali ini. Terima kasih!

See you next time..

Nite & GBU more. Bye.. !!
Rabu, 07 Oktober 2020

Sebuah Harapan

DEAR GOD,
THANK YOU FOR BLESSING ME MUCH MORE THAN I DESERVE.

Ya Tuhan, Engkau Maha Besar, Kekuasaan-Mu pasti lebih  besar dari pada masalah hamba. Untuk itu hamba tak pantas berputus asa.

Hamba yang berbuat dosa, selayaknya memang hamba yang menanggung segala akibatnya.

Tapi hamba juga tahu, bahwa samudera ampunan-Mu begitu luas, sehingga mampu membebaskan hamba dari segala akibat. Lantaran inilah harapan hamba muncul, maka jangan Engkau pupuskan harapan hamba.


Ya Tuhan, di tengah lautan permasalahan kehidupan yang hamba hadapi, baik yang hamba buat sendiri ataupun yang muncul akibat kebodohan dan kelalaian hamba.

Hamba tidak ingin pernah berhenti berharap, bahwa Engkau tidak akan menutup mata terhadap kesalahan-kesalahan hamba, dan segera membentangkan lindungan dan pertolongan-Mu di atas kehidupan hamba.

Ya Tuhan, di tengah keterbatasan hamba menutupi kesalahan-kesalahan hamba dan berjuang untuk hidup dan kehidupan, hamba tidak pernah ingin berhenti berharap, bahwa Engkau tidak pernah akan lari dari kehidupan hamba, betapa pun hamba adanya.

Semoga harapan-harapan hamba ini tidak menjadi harapan kosong dimata-Mu, Engkau-lah ujung segala harapan.

Saya percaya Engkau bukan manusia yang punya kesabaran terbatas, karena Engkau adalah Tuhan semesta yang tidak pernah mempunyai batas. Amen

*go to the new life, and forget the past.


Selasa, 06 Oktober 2020

Merindukan Ketenangan dan Kesenangan

Merindukan Ketenangan dan Kesenangan – Entah udah berapa lama musim kemarau melanda kota tempat saya tinggal.

Teriknya mentari membuat udara menyengat, tanah gersang, debu-debu beterbangan. Bunga di taman yang tadinya hijau, kini tampak layu – hidup segan matipun tak mau.

Fenomena ini seperti merepresentasikan perasaan “gundah gulana” yang sesungguhnya. Mungkin juga kamu sedang merasakannya.. ^ _ ^

Selain merindukan hujan, di musim kemarau yang tak kunjung usai ini, saya juga merindukan ketenangan serta kesenangan.

merindukan-ketenangan-dan-kesenangan

Biar saya uraikan dulu bagaimana merindukan ketenangan dan kesenangan yang saya maksud.

Bicara tentang ketenangan ...

Ketenangan bagiku adalah suatu kondisi yang benar–benar nyaman, tidak ada kebisingan, bebas dari konflik, tekanan, ancaman, termasuk urusan hutang piutang dan hal negatif lainnya.

Belakangan ini ada sedikit rasa gelisah dan khawatir yang menghantui pikiranku. Perasaan campur aduk tak karuan. Seperti ada sesuatu yang mengoncang jiwa, mengobok–obok kedamaian, dan merampas paksa kenyamanan hati.

Sudah kemarau tak kunjung usai, belum lagi pandemi coronce tak teratasi. Ditambah lagi intoleransi yang selalu mengintimidasi. Carut marut ini pun semakin menjadi seperti tak ingin disudahi.

Apalagi sebagai kota yang sibuk, tentu tak bisa lepas dari rutinitas di tengah kebisingan. Saban hari kebisingan menemani kita, selama bekerja - sampai pulang kembali ke rumah.

Sungguh jauh dari kata ‘tenang’ ...

Padahal di sela-sela kesibukan, kebutuhan untuk lari sejenak dari keriuhan itu perlu bukan? Maksud saya, meskipun sudah terbiasa dengan kebisingan, ada kalanya butuh kesunyian, keheningan dan ketenangan.

Kerinduan akan ketenangan ini pun begitu menggebu di benakku.

Ingin rasanya kulampiaskan semua amarah, gaduh, gelisah, gemuruh, gerah, dan semua rasa yang telah membuat diri ini tak tenang. Rasanya habis sudah batas kesabaranku. Ingin marah, karena hati sudah lebam rasanya.

Selain beban di pikiran, hiruk pikuk di sekitarku membuat saya merindukan ketenangan lebih dari apapun saat ini.

merindukan-ketenangan-dan-kesenangan

Selanjutnya di tengah musim kemarau panjang tak berkesudahan ini. Selain merindukan hujan dan ketenangan, hal lain yang saya rindukan adalah kesenangan.

Bicara tentang kesenangan ...

Menurut saya, kesenangan merupakan suatu kondisi yang mampu membuat hati tenang, riang dan gembira. Hati yang senang akan membuat kita merasa tenang.

Kesenangan bagiku adalah dimana kita bisa memanjakan body, suasana adem, membuat pikiran fresh, dan terasa sangat betah untuk tetap berada di situasi itu selama mungkin.

Namun dengan kenyataan yang ada, bukan hanya bikin puyeng pala kapten, tapi bikin emosi.

Kesenangan yang saya rindukan memang tak sedikit. Namun bukan kesenangan yang muluk–muluk seperti yang didambakan kebanyakan orang.

Ketika rutinitas terasa membosankan, mungkin sebagian orang akan pergi ke Mall atau Cafe, atau Diskotik untuk bersenang - senang.

Disini terlihat jelas kebisingan yang selalu menerpa pendengaran, ternyata bisa membuat sebagian orang menjadi pecandu kebisingan!

Tapi saya berbeda, saya tidak suka kebisingan. Saya senengnya kayak diem di lokasi yang menurut saya nggak begitu banyak orang di lokasi tersebut.

Bersenang–senang versiku, seperti : ngopi di pagi hari menghadap ke arah barat (ke arah timur silau soalnya). Santai di tepi pantai menikmati semilir angin. Berenang di danau di sore hari menjelang senja. Bercanda ria dengan saudara dan teman terdekat.

Dan masih banyak kesenangan yang lain, seperti malam ini duduk santai, tenang dan hening sambil ngetik tulisan ini, ditemani segelas kopi hitam. Itu sudah cukup menyenangkan.

Namun kesenangan yang sangat saya rindu adalah saya ingin diriku yang dulu semasa tinggal bersama keluarga tercinta. Meski hidup serba kekurangan tapi hidup penuh dengan sukacita.

Sebagai penutup manis, saya ingin merasakan  ketenangan dan kesenangan mulai malam ini. Saya ingin melupakan masalah–masalah yang pernah singgah dalam hidupku.

Karenanya, kamu juga perlu mencobanya ...

Yuk menikmati malam baik ini untuk kembali menenangkan diri. Sediakanlah secangkir kopi hangat dengan rasa yang paling kamu suka. Sambil membaca “RENUNGAN” ini.

Semoga kita semua baik–baik saja, dan tetap dalam lindungan–NYA. Amen

Terima kasih

See you next time ..

Nite & GBU more. Bye ..!!
 
;