Memasuki Hening — A little update for my blog.
Tidak banyak kejadian menarik di tahun 2020 ini. Awal tahun 2020 lalu diawali dengan banjir yang berlebihan. Bulan berikutnya disusul dengan pandemi kupit–19, dan musim kemarau yang tak berkesudahan, hingga sekarang.
Hidup dengan kebiasaan baru dimasa pandemi pun sudah mulai stabil. Kecemasan tentu masih ada, tapi sudah tidak semenegangkan di masa awal pandemi.
Semalam saya ditelpon salah satu teman letting. Kami memang tinggal di kota yang beda dan belakangan ini sedang mengalami permasalahan yang agak mirip meski tak sama.
Kami saling bertukar kabar, sudah lama tak ada komunikasi diantara kami. Sehingga membuat obrolan ini agak bernostalgia.
Ngobrol ngalor ngidul sambil cekikikan. Segala topik dari yang berbobot hingga yang unfaedah turut diperbincangkan.
Sampai–sampai gibah aib–aib temen sendiri yang dulunya tidak terlalu terkenal, sekarang sudah berani unjuk gigi di media sosial (itu sih kata temen saya ^ _ ^).
Obrolan yang tadinya penuh canda dan tawa, berubah menjadi saling meledek, dan berujung acara nasehat menasehati pun tak terelakkan lagi.
Namun salah satu obrolan yang membuat saya tertegun, ketika teman saya bertanya “NATAL pulang kampung nggak?”.
Disitu saya tersadar ..
Hmm, nggak kerasa ternyata udah bulan Oktober 2020 saja. Sebentar lagi udah mau NATAL dan tahun 2020 pun akan segera berlalu. Artinya udah 10 bulan saya lewati di tahun 2020 ini.
Dan sialnya 10 bulan itu saya lewati dengan gitu-gitu saja. Nggak ada yang mengesankan, nggak ada yang istimewa, nggak ada perubahan yang terlihat di diri saya.
Akibat pandemi ini, mungkin bukan hanya saya yang merasakannya. Ah sial memang ..
Kalau mau dipikir–pikir bayi saja hanya membutuhkan 9 bulan dalam kandungan. Oke, jika itu bagimu terlalu sulit untuk dibayangkan. ^ _ ^
Yang lain misalnya. Dalam hitungan bulan, benih padi bisa berubah jadi nasi. Atau bahkan dalam 21 hari saja (nggak sampai sebulan), telor bisa berubah jadi ayam.
Segitu hebatnya waktu hingga bisa mengubah telur ayam yang nggak bisa apa-apa menjadi ayam hidup dan bisa jalan kemana–mana, atau bahkan lebih bermanfaat bisa diolah jadi pecel ayam.
Kita? Eh kita, dari yang tadinya “gini” tetep jadi “gini”. Ah sial ..
Jika diibaratkan waktu adalah kereta, saya hanya seorang penumpang yang membayar tiket tetapi diam terpaku ketika keretanya lewat.
Bukannya ikut naik dan bergerak, tapi saya malah diem mandangi sang kereta lewat gitu aja. Dan pada akhirnya, saya ketinggalan kereta.
Saya suka iri sama mereka yang bisa memanfaatkan waktu dengan baik. Orang-orang yang bisa mengendalikan waktu.
Mereka yang bisa ikut berjalan beriringan dengan waktu. Mereka yang bisa ngikutin arus waktu tanpa berhenti sedikit atau pun terlindas oleh waktu.
Walau biasanya, mereka yang seperti itu bakal berubah seiring berjalannya waktu. Dan itu pasti!
Kapan yah bisa kayak mereka?? Hal ini menjadi perhatian yang sangat serius bagi saya pribadi.
Memasuki hening, timing–nya untuk intropeksi diri.
Mungkin akan dimulai dari saat ini. Tapi semua itu diawali dengan hidup sehat. Konon untuk bisa bertahan hidup, manusia harus bisa beradaptasi, berevolusi sehingga berkembang menjadi seperti saat ini.
Jadi, kendati demikian adanya, tetaplah hidup walau tak berguna. Jangan lupa pakai masker ya gaes, stay healthy ...
Eh omong–omong soal pulang kampung, kalau berangkat hari ini, kira–kira bisa tiba nggak ya sebelum NATAL? *jalan kaki sih*
Udah gitu aje, update nya kali ini. Terima kasih!
See you next time..
Nite & GBU more. Bye.. !!





- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact