Minggu, 28 Februari 2021

Waktu Dan Energi Juga Investasi

Waktu Dan Energi Juga Investasi – Postingan ini tidak penting, sama seperti postingan sebelumnya yang hanya berisi curcol saya yang sama sekali tidak penting. Namun meski begitu, saya ingin tetap menuliskannya.

Jadi ya, bagi reader yang tak mengenal saya secara personal, atau bagi yang kenal tapi nggak begitu peduli, mending skip this post and save your time. Waktu dan energi juga investasi lho.

Sedangkan bagi yang kenal sama saya, yang diam-diam suka ngintip postingan saya (munafik dan nggak peka), tapi kepo nya luar biasa *hehh*. Nggak apa-apa dibaca buat bahan gibah kalian.

Sementara bagi reader yang mengenal saya dan peduli (entahlah, mahluk tipe ini masih ada atau sudah punah) silahkan dibaca sampai selesai. Tapi kalo sudah dibaca, jangan lupa kasih saran di kolom komentar yah!

Khususnya bagi blogger yang sedang melakukan tour blogwalking. Silahkan berinvestasi di blog saya ini. Caranya? Cukup berkomentar sesuai ketentuan (lihat di bawah postingan). Karena secara tidak langsung kamu akan dapat blacklink gratis lho. Waktu dan energi juga investasi yakan!

Yang udah baca sampai paragraf ini, jangan kecewa, karena kita belum masuk ke pokok pembahasan. 😄

waktu-dan-energi-juga-investasi

Back to the beginning..

Waktu luang saat yang tepat untuk merenung dan intropeksi diri. Nampaknya saya pun harus melakukan hal yang sama. Mengingat semua perjalanan yang pernah dilalui di tahun sebelumnya. Jika menilik ke belakang banyak yang bisa dijadikan pelajaran.

Seperti halnya judul thread kali ini, waktu dan energi juga investasi. Mungkin akan terdengar agak sedikit ngehe yah, tapi ini saat yang tepat untuk mengaplikasikannya. 

Baik, biar kujelaskan dengan lebih sederhana bagaimana saya bisa menyebutkan“waktu dan energi juga investasi”.

Apa itu investasi??

Secara umum, investasi adalah penanaman modal dengan jangka waktu tertentu demi memperoleh imbal balik yang lebih besar di masa depan.

Memang istilah investasi merupakan suatu yang berhubungan dengan aset ataupun uang (harta). Namun bukan hanya uang (harta) yang bisa disebut investasi.

Istilah investasi ini juga bisa diterapkan dalam hal lain, waktu dan energi misalnya. Menurut saya, waktu dan energi juga investasi.

Seperti yang sudah disinggung di atas, sederhananya bahwa berinvestasi memiliki tujuan untuk yang lebih bermanfaat. Sama halnya, waktu dan energi perlu dialokasikan untuk hal-hal yang bermanfaat. Saya menyebut ini sebagai investasi.

Dua hari yang lalu. Saya janjian untuk bertemu dengan teman satu kerjaan dulu di kedai kopi tidak jauh dari rumah.

Dalam perbincangan kami, temen meminta saya untuk ikutan reuni dengan dalih silahturahmi. Waktu, tempat dan biaya yang harus dikeluarkan selanjutnya akan di share by WhatsApp.

Tawaran itu saya tolak mentah-mentah. Iya saya tolak. Saya bilang saja, sibuk!

Belakangan ini memang tak sedikit ajakan, basa-basi ataupun sekedar sapaan dari beberapa orang yang kemudian saya abaikan. Terlebih lagi orang tersebut pernah cacat perilaku di mata saya.

Saya memutuskan untuk mengabaikan mereka. Karena menurut akal sehat saya, investasi saya terlalu besar untuk mereka yang berdampak minim pada hidup saya.

Bukan hanya pada diri saya saat ini, tapi juga di masa depan saya. Saya tegaskan, khususnya orang yang reputasinya jelek di mata saya.

Saya sudah mengambil jarak dari kaum mereka yang seperti itu. Muak! Setidaknya, ini adalah upaya untuk menjaga kebaikan yang terkadang begitu rapuh untuk dipertahankan. Sekaligus upaya untuk mencintai diri sendiri.

Meskipun saya tidak terjun di bidang Entrepreneur. Tapi dulu saya sempat mempelajari poin–poin dasar dalam berinvestasi.

Pertama. Memiliki tujuan yang jelas (objective). Waktu dan energi juga investasi, ini penting!!

waktu-dan-energi-juga-investasi

Apa tujuannya?? Untuk reuni atau silahturahmi saja kah? Ehm, jangan-jangan ajang pamer jabatan atau banda. Untuk sharing kah? Untuk bersenang–senang kah? Untuk debat kah? atau kemungkinan terburuk untuk nipu kah? Etc.

Kedua. Memahami resiko terburuk yang akan terjadi dikemudian hari. Dalam berinvestasi, imbal balik (return) dan risiko (risk) akan selalu beriringan.

Waktu dan energi juga investasi. Jika berteman dengan seseorang yang hanya meminta tolong, lalu pergi dengan sebuah kata “maaf”. Apakah investasi ini berhasil? TIDAK. Ini akan memperburuk situasi.

Atau jika bertemu dengan seseorang hanya untuk menyusahkan, menuntut, menggurui, menceramahi, atau melukai dengan kalimat halus *sindiran*.

Bahkan parahnya lagi hobi membanding-bandingkan pencapaiannya dengan kita, yang diselipkan dengan kata-kata motivasi ta*k kucing. Percuma! Buang–buang waktu dan energi, atau bahkan biaya.

Djujur saya tak pernah seperhitungan ini, namun dari pengalaman pahit yang saya alami dari sebagian orang. Akhir-akhir ini, saya memperhitungkan setiap aspek yang harus saya korbankan untuk akhirnya mau bersosialisasi dengannya atau bahkan untuk bertemu.

Di sini mungkin salah satu alasan mengapa beberapa orang menyebut saya menjadi pribadi yang berubah dari sebelumnya. Ada yang bilang “tertutup” (pintu kali ahk!), bahkan ada yang langsung menghakimi “sombong”.

Padahal bagi saya, itu adalah cara saya memilah dan memilih toxic people di kehidupan saya dan menyesuaikan pola hubungan saya dengan toxic people ini.

You know what i mean, kan? Maklumlah sekarang jaman udah banyak perubahan.

Saya rasa secara alamiah ini terjadi pada hampir setiap orang. Bagaimana orang-orang di sekitar hidup kita saat ini berubah komposisinya dengan sekian tahun silam misalkan.

Nggak usah jauh-jauh, coba perhatikan orang di sekitarmu. Yang tadinya hidupnya melarat, kampungan, sering merih, setelah kenal duit bisa saja berubah. Masalah? Nggak juga sebetulnya, hanya saja kita lebih baik tau diri deh.

Maksud saya apa?? Ya maksud saya di sini, silahkan berinvestasi dengan orang-orang yang tepat dan disaat yang tepat. Nggak mau kan, saban hari makan hati, disindir, diremehkan, atau bahkan dilecehkan *hehh*?

Tunggu! Lah bukanya makan hati (ampela) itu enak Co?? Ehm.. enak sih, tapi kalo hatinya diiris-iris, gimana? Hahh. *ah you know lah!

Ya intinya, selagi kamu masih nyaman bersosialisasi dengan seseorang, silahkan. Namun sekiranya udah kurang nyaman, mundur lah teratur. Ingat! Waktu dan energi juga investasi lho.

Walaupun cocoklogi saya ini kurang bisa diterima nalar (cocoklogi apa ngarang.. hehh), tapi saya yakin gambaran seperti ini nggak sampai membuat kening Anda mengerut.

Seperti halnya saya mengupayakan untuk tak terlalu mengerutkan kening, biar gak cepat keriput. Karena pastinya, jika sudah keriput maka saya mikir pahala saya udah banyak apa belum? Kalo sudah banyak, ya sudah mending  mati dibanding di sisa usia harus gagal terus dalam berinvestasi. *Tjaaahhh!

Nah, itulah alasan pemilihan judul thread kali ini, waktu dan energi juga investasi. Sampai di sini dulu cuap-cuap kita malem ini. Terima kasih

See you on top..

Nite & GBU more. Bye.. !!!
Minggu, 21 Februari 2021

Hasian, Cepatlah Sembuh

Hasian, Cepatlah Sembuh – Entah mengapa malam ini aku memikirkan keadaanmu. Apa malam yang hening tanpa kehadiran segelas kopi hitam selalu mampu menggugah pikiran?

Entahlah, aku sendiri tak terlalu tahu dan tak ingin mencari tahu. Dan itu nggak penting!

Hasian, menerima kabar tentangmu beberapa hari lalu sebenarnya cukup membuatku shock! Ternyata sungguh berbanding terbalik 180° dari yang pernah saya bayangkan sebelumnya.

Hatiku hancur lebur. Badanku rasanya tak berdaya, tulangku rapuh, dengkulku serasa copot, mulutku bungkam tak mampu berucap apa-apa. Aku merasa bersalah padamu!

Hasian, cepatlah sembuh..

Aku teringat semua kisah kita dulu, cerita di masa mudamu dan masa kecilku. Bagaimana kau memperlakukanku, begitu sayangnya kau padaku.

Kau gendong aku kemana kau pergi, dan kadang kau panggul aku di pundakmu. Kau membawaku pergi sambil berlari, aku tertawa cekikikan sambil memelukmu sangat erat.

hasian-cepatlah-sembuh

Bayangan itu bukan lagi samar, namun sangat jelas dan tak akan pernah hilang dari ingatanku.

Hasian, bukan aku tak perduli denganmu. Jangan kau berpikir demikian. Apa yang kau rasakan bisa kurasakan. Bukankah aku darah dagingmu? Bukankah kita berasal dari titisan yang sama? Bahkan jantung kita pun berdegup seirama.

Hasian, aku juga sama sepertimu yang tak punya keahlian apa-apa, yang hidup apa adanya. Kadang aku juga berpikir, kau menurunkannya terlampau banyak kepadaku.

Lantas, apakah aku menyesal menjadi anakmu? TIDAK!

Justru itu membuatku semakin bersyukur. Bersyukur bisa menjadi pribadi yang mirip, atau setidaknya tidak jauh sepertimu. Seperti kata pepatah yang mengatakan, “Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya”.

Aku sangat beruntung dan bangga memiliki bapak yang baik sepertimu. Aku sangat bersyukur bisa akrab denganmu, tidak seperti kebanyakan hubungan antara bapak dan anak di luar sana.

Bagiku, kau sebagai bapak sekaligus sahabat. Bahkan aku jauh lebih nyaman berbicara denganmu dan ibu dibanding siapa pun itu.

Akhir-akhir ini aku lebih banyak diam, tak ada sedikitpun niatku untuk membuatmu kecewa. Hanya saja aku sadar kesalahanku terlalu banyak, sikapku terlalu sombong dan terkadang aku melawanmu. Sesungguhnya hatiku menangis bila tak bicara denganmu.

Hasian, perlu kau ketahui. Setiap kali aku menikmati makanan enak di sini, ya di rantau ini. Sebelum kulahap, tak jarang aku kebayang wajahmu. Terlintas dipikiranku, apakah kau dan ibu sudah makan di sana?

Hasian, cepatlah sembuh..

Ucapanmu itu sebenarnya sudah lama saya save di otakku. Bukannya aku tak memikirkan apa yang kau tunggu dariku. Itu bukan lah harapan yang aneh, karena saya sendiri pun sering berharap begitu. Bersabarlah sedikit..

Hasian, cepatlah sembuh..

Tak seperti biasanya, kau duluan yang selalu memecahkan keheningan dengan kata-kata nyelenehmu itu, dengan candamu itu. Kenapa sekarang ketika kupanggil, responmu dingin.

Apakah kau marah padaku??

Apakah kau sudah lupa semua kisah yang kita jalani saat menyusuri jalanan dimasa lalu? Ya, saat aku tinggal di rumahmu.

Saat aku bersamamu kejar-kejaran sambil ketawa sepulang dari kebun. Saat aku mengejarmu mengelilingi rumah kita dan aku mencarimu sampai ketemu, lalu kugebug. Plak!!

Saat kita bercanda ria tanpa batas sebelum tidur, tertawa lepas bahagia sampai kadang ibu memarahi kita berdua. Jleb!!! Dan akhirnya, diam. Aku tidur lelap diantara kau dan ibu.

Dan masih banyak lagi bapaku hasian..

Mungkin kakak-kakakku dan abangku, mereka lebih sayang dan tak pernah marah padamu. Sedangkan aku, kerap emosi dan memarahimu.

Apakah karena itu, kau jadi malas bicara denganku??

Hasian, sebetulnya bukan karena aku benci kepadamu. Justru karena aku menganggapmu seperti diriku sendiri, ya cerminan diriku sendiri.

Aku lihat, kau terlalu cuek dengan kesehatanmu sendiri. Kadang demi menghargai orang-orang di sekitarmu, kau tidak mencintai diri sendiri.

Seberapa penting menyebarkan kebaikan itu buatmu?? Hingga kau lupa, bahwa kau bukanlah robot yang bisa dikontrol untuk ngelakuin sesuatu termasuk di saat kelelahan.

Itu sebabnya aku sering memarahimu. Aku tidak mau melihatmu sakit, aku tidak mau kau kelihatan kusut, aku tidak mau kau kelelahan, aku tidak mau kebaikanmu dimanfaatkan sama orang disekitarmu seperti apa yang kurasakan.

Kuakui, aku memang bawel padamu. Mulutku memang tak bisa kutahan. Kerap kali aku mengaturmu, aku selalu bilang cukur rambutmu itu, cukur kumismu itu, gunting kukumu itu, ganti bajumu itu, jangan kau pulang malam, etc.

Biarlah aku dianggap anak yang tak beradap, aku nggak peduli..

Aku tak lagi melihatmu sekuat dulu, saat aku lihat kau berusaha membelah potongan kayu dengan kapak.

Aku tak lagi melihatmu sekuat dulu, saat kau angkat aku duduk ditengkukmu berjalan menuruni bukit.

Hasian, cepatlah sembuh..

Dulu ketika aku masih duduk di bangku SMA, kau juga pernah sakit lebih parah. Aku ikut merawatmu, akulah yang menjadi babu kesana kemari demi kesembuhanmu. Hingga kau bisa kembali sehat.

Namun yang tidak bisa saya bayangkan. Kini kau terbaring sakit tak berdaya apa-apa, hanya tinggal berdua dengan ibu di rumah. Sedangkan anak-anakmu jauh di rantau.

Bagaimana keadaanmu di sana bapaku. Aku sangat khawatir akan kesehatanmu. Harusnya aku lah yang memapah otot-ototmu yang lelah itu.

Bapaku hasian, cepatlah sembuh..

Berjuanglah melawan rasa sakit itu, seperti yang engkau ajarkan kepadaku saat aku dilanda musibah kecelakaan beberapa tahun lalu. Walau aku sempat kehilangan harapan, tapi aku berupaya untuk berjuang.

Bapaku lihat lah, kini aku bisa kuat kan? Lebih tegar dari pohon ingul yang kau tebang dengan parang. Lebih mandiri seperti yang sudah kau didik kepadaku sejak dini. Dan aku juga berharap demikian, kau pasti kuat dan sanggup melewatinya.

Aku tahu itu sakit dan berat untukmu. Memohonlah kepada Tuhan untuk kesembuhanmu. Bukankah kau lebih dekat dengan-NYA? Sedangkan aku hanya setengah-setengah.

Mungkin juga kau lagi butuh perhatian lebih dariku atau dari anak-anakmu yang lain. Sama halnya ketika aku kecelakaan dulu, aku juga sangat membutuhkan kasih sayangmu dan ibu.

Tapi yakinlah disaat seperti ini, Tuhan selalu mengirimkan malaikat-malaikatnya. Hingga kita bisa bangkit lagi. Jadi aku mohon bapaku, cobalah untuk bertahan dan kuat.

Hasian, cepatlah sembuh..

Tahu kah kau keadaanku di sini. Aku tak ada semangat sedikitpun, layaknya kehabisan amunisi. Tak terasa air mataku kadang menetes tak menentu. Aku sangat khawatir akan kesehatanmu dan ibuku.

Aku selalu berdoa untuk bapak dan ibu, dalam setiap sujudku, aku sampaikan setiap kata yang ingin kusampaikan kepada Tuhan. Dalam setiap lantunan doa yang kucurahkan hanya untuk kesembuhanmu dan ibu.

Bapaku hasian, cepatlah sembuh..

Sepucuk surat ini, mungkin tidak berarti apa-apa bagimu. Namun dengan menuliskannya setidaknya aku bisa bernafas legah. Dan berharap Tuhan mengabulkan doaku, serta menyampaikan isi hatiku kepadamu.

Bapaku hasian, senyum dan tawa andalanmu itu seakan sedikit memberi ketenangan bagiku.

Malam ini juga rasanya aku ingin memelukmu dan ibu. Lalu aku akan mengelus pundakmu, dan akan kubisikan ke telingamu “Bapaku hasian, berantem yuk!”.

Akh, biarlah malam ini aku tidur dengan bayangan itu. Semoga besok aku bisa tersenyum, seperti senyum andalan bapaku itu.

Semoga bapaku cepat sembuh. Amin

Nite & GBU more. Bye..!!
Minggu, 14 Februari 2021

Mencintai Diri Sendiri

Mencintai diri sendiri – Catatan ini sebagai self reminder buat saya pribadi. Bicara tentang tentang mencintai diri sendiri di sini bukan berarti egois, sombong, apalagi narsis (kyak Om yang ittu..!) ^ _ ^

Mencintai diri sendiri maksudnya tentang penerimaan diri, penguasaan diri dan rasa hormat kepada diri sendiri. Sederhananya, mencintai diri sendiri artinya menghargai diri dan bersyukur atas apa yang kita miliki.

Saya akan jelaskan bagaimana cara mencintai diri sendiri yang saya maksud. Dan hal apa saja yang saya lakukan dalam upaya mencintai diri sendiri.

Februari ini bulan ke–7 sejak saya dimutasi ke Project yang sekarang, dan sampai saat ini belum juga dipecat. ^ _ ^

Menariknya di project ini kapasitas beraktifitas agak selo. Jauh berbeda dengan kehidupan terdahulu itu. Waktu terlalu banyak dikangkangi oleh kesibukan. Tak ada waktu luang yang bisa digunakan untuk hal lain.

Ini salah satu alasan mengapa saya merindukan ketenangan dan kesenangan. Lelah Wak! Lelah tak hanya berbicara tentang fisik, lelah bisa juga dialami oleh batin. Bukan begitu? Begitu bukan??

Nah demi menjaga kesehatan mental, selain ngopi bergalon–galon, saya coba me–reschedule diri dari kesibukan yang tidak jelas itu.

Belakangan ini, waktu luang saya manfaatkan untuk menenangkan diri. Tidak memikirkan urusan yang membuat stres. Sesi ini sebagai upaya mencintai diri sendiri.

Saat memasuki hening, saya mencoba mengurai banyak kejadian yang saya alami di dalam hidup saya. Konklusi yang saya dapat adalah satu hal penting yang harus dimiliki semua orang yaitu “mencintai diri sendiri”.

Kalimat ini memang mudah sekali terucap, namun terkadang makna sesungguhnya sulit untuk saya pahami. Saya rasa lebih mudah untuk memahami arti dari mencintai orang lain.

Mungkin itu sebabnya saya lebih sibuk membahagiakan orang lain (bahkan sering dimanfaatkan), sampai lupa membahagiakan diri sendiri. Dan ternyata apa yang saya lakukan selama ini adalah tindakan yang salah.

Seperti yang pernah saya baca dalam sebuah Meme (nggak pake ‘k’) :
“Sebelum mencintai orang lain, cintailah dirimu terlebih dahulu”
Terdengar klise yah, namun ya itu tadi, bagi saya mencintai diri sendiri bukan perkara yang gampang.

Ada banyak hal yang terjadi sejak dulu yang membuat pikiran saya gusar. Kecenderungan merasa diri kurang, tidak mampu, khawatir, dan juga kejadian-kejadian muram terdahulu, hingga pesimis.

Karenanya tak jarang saya merasa kecewa pada diri sendiri, lantaran menilai semua kekurangan saya secara berlebihan. Lalu menghakimi diri saya sendiri, dan berujung memberikan ‘hukuman’ pada diri sendiri.

Kadang kasihan juga sih sama diri sendiri ini, huhh

Seperti halnya kejadian ketika saya tersandung dan terjatuh, lalu down berada di titik terendah. Saya masih ingat betul, ada banyak kritikan yang tertangkap oleh telinga saya. Mirisnya kritikan itu sungguh membunuh karakter. Sakit rasanya, Wak!

Sekalipun itu alasannya untuk kebaikan saya sendiri, alih-alih memberi semangat. Namun kritikan itu justru membuat saya merasa seperti manusia terburuk yang pernah ada di muka bumi ini.

Entahlah, mungkin saja saya yang terlalu mendalami karakter. Tapi yang pasti, saya kasihan melihat diri saya sendiri saat itu. Nyesek!

“Hidupmu berharga, kamu sudah ada di titik ini. Bukan hanya karena perjuanganmu sendiri. Namun perjuangan banyak orang di sekitarmu, orangtua, keluarga, saudara, sahabat dan banyak yang lain. Waktu akan berjalan terus. Jadi cintai dirimu, hargai hidupmu”.

Dulu perspektif ini disampaikan oleh seorang hamba Tuhan. Dimana saat itu saya mengalami musibah yang meninggalkan bekas di sisa hidup saya. Namun perspektif itu baru–baru ini kembali saya selami.

Waktu luang membuat saya menjelajahi kekurangan dan kelebihan saya, mengenali siapa saya dan batas kemampuan saya. Di sinilah saya menemukan bahwa mencintai diri sendiri menjadi hal yang perlu diprioritaskan.

Setelah mengingat, menimbang, menelusuri, menganalisa dan menindaklanjuti! Mencintai diri sendiri ini ternyata banyak aspeknya.

Yang terutama dan paling penting adalah penerimaan diri. Saya harus bisa menerima diri sendiri apa adanya dan memahami batas kemampuan saya.

Menerima kelebihan sekaligus berlapang dada menerima kekurangan dalam diri saya, termasuk kondisi tubuh saya yang tidak terlalu tampan ini.

Di sisi lain, saya juga harus menyadari bahwa ada yang namanya pemberian. Pemberian ini ya antara lain jabatan, harta, dan hal–hal yang sifatnya duniawi.

Yepz, meski hal ini agak sulit *teteup nggak terima..*, namun kalo bukan dimulai dari sekarang mungkin saya akan terus dihantui rasa kecewa, cemas, bahkan sampai menyalahkan diri sendiri yang berujung depresi.

You know what i mean kan? Yeah, begilu lah harapan versus kenyataan. Emang kudu kuat.

Tugas saya selanjutnya, belajar memaafkan diri sendiri. Memaafkan kesalahan diri sendiri ini, saya anggap bagian dari intropeksi diri untuk menjadi sosok yang lebih baik.

Mungkin saya akan mencoba berdamai dengan diri sendiri dengan berusaha untuk memaafkan apa pun kesalahan saya di masa lalu. Termasuk “Sesuatu yang kusesali”.

Saya juga harus sadar diri, harus bisa mengesampingkan ekspektasi. Meskipun hal ini sangat berat bagiku. Karena jika saya tetap menomorsatukan ekspektasi, itu artinya saya tidak mencintai diri sendiri.

Dan impactnya mungkin saya tidak bisa menghargai diri saya sendiri atau bahkan kurang bersyukur atas apa yang saya miliki saat ini.

Selanjutnya upaya yang saya lakukan untuk mencintai diri sendiri adalah menjaga kesehatan.

Minggu lalu, ketika saya on duty. Temen saya bilang, “Co, emang nggak pengap kerja pake marker sama face shield?”. Ehm, kamu mah kepo kisanak!!

Kalo mau tahu, pengap banget cuyy. Tapi ya balik lagi, saya harus mencintai diri sendiri. Apalagi dimasa pandemi yang semakin masif saat ini. Menjaga kesehatan itu penting towh.

Berikut ini beberapa cara mencintai diri sendiri. Bagian ini saya anggap sebagai langkah peremajaan. Saya akan mulai dari hal-hal yang sederhana. Misalnya :

✔️ Pakai masker dan sedia hand sanitizer.
✔️ Potong kuku yang udah ketombean gegara coronce.
✔️ Mencukur rambut dan bulu–bulu yang sekiranya mengganggu estetika.
✔️ Beli cotton bud biar nggak budeg–budeg banget.
✔️ Tidur yang cukup 7–8 jam/hari, dan olah raga (kalo nggak males tapinya).
✔️ Makan teratur sesuai jamnya, etc.

Selain itu, menjaga kesehatan di sini bukan hanya kesehatan secara fisik, tentu saja menjaga kesehatan rohani dan mental.

Nah, demi alasan menjaga kesehatan mental. Saya juga akan memprioritaskan aktivitas yang membuat perasaan senang dan bahagia. Seperti :

✔️ Meluangkan waktu untuk bersantai, ini semacam quality time untuk diri sendiri. Misalnya : Ngopi, dengerin lagu favorit, browsing berita, etc.

✔️ Melakuan hobi kecil-kecilan, Misalnya : membersihkan aquarium, dan menulis di Blog. Ehm, meskipun tidak dihargai secara komersial alias dibayar dengan uang. Namun cukup menyenangkan ketika tulisan bisa nangkring di search engine.

✔️ Menuntaskan tanggung jawab moral (bukan pekerjaan, red) yang masih menumpuk. Misalnya, membersihkan rumah agar bisa betah. Kan males juga kalo di pojokan ada ayam bertelur, di ruang tamu ada panci gosong, di langit-langit ada genderuwo beranak.

✔️ Lebih selektif dalam berteman, mengabaikan haters dan mencoba memahami mengapa mereka bersikap seperti itu.

✔️ Bermain jika membutuhkan dan tentu saja menghindari pengaruh buruk. Misalnya : mabok, judi, etc.

✔️ Mencoba untuk tersenyum, sekalipun dalam keadaan sulit.

✔️ Bersyukur dan berterima kasih pada diri sendiri, serta orang yang disekitar yang sudah bersedia menerima keberadaan diri.

✔️ Memberi waktu untuk memahami diri, dan memberi afirmasi atau penguatan kepada diri sendiri. Tidak berfokus pada kelemahan.

✔️ Mencoba melihat kembali segala pencapaian, prestasi, keputusan terbaik, pujian, dan kemampuan, etc.

Oh iya, saya pernah membaca sebuah artikel menarik yang menyarankan mencintai diri sendiri dengan cara melakukan ‘Meditasi’ selama 15 menit per hari. Sepertinya bagus nih untuk dicoba. ^_^

Yass!!! Intinya melakukan apa yang kita sukai adalah kebebasan, dan menyukai apa yang kita lakukan adalah kebahagiaan. Kira-kira seperti ittu!

So, dengan adanya waktu luang belakangan ini, maka tugas saya adalah menjaga kesehatan dengan memenuhi kebutuhan fisik, rohani dan mental yang sudah saya sebutkan di atas.

Dengan mencintai diri sendiri, harapannya sih bisa melepaskan beban sosial, sehingga mampu belajar untuk memahami diri sendiri dan bersyukur atas hidup ini.

Sebelum tulisan ini saya akhiri, saya mau bilang kepada diriku sendiri. Terima kasih sudah bertahan sejauh ini. Segagal-gagalnya rencana, banyak hal yang tak bisa diwujudkan, setidaknya sudah mampu melewati.

Tenang saja wahai jiwaku, selama masih diberi kesehatan dan umur panjang semuanya bisa dikejar kembali.

Jadi gimana, sebelum kamu mengucapkan happy valentine. Coba jawab pertanyaan saya ini. Apakah kamu sudah mencintai dirimu sendiri?

Jika ‘Iya’, eta terangkeunlahhh seperti apa bentuk kecintaanmu pada dirimu sendiri? (jangan ngarang kamu)

Jawab di kolom komentar ya! Siapa tahu cara mencintai diri sendiri versi kamu, bisa bermanfaat buat yang lain, terutama buat pria sederhana seperti saya ini. Terima kasih

See you on top..

Nite & GBU more. Bye..!!!
Minggu, 07 Februari 2021

Hal–hal Yang Perlu Diketahui Saat Perjalanan Lewat Jalan Lintas Timur Sumatera

Punya rencana jalan–jalan, atau mau pulang kampung lewat jalan lintas timur sumatera? Simak kuy!!

Disclaimer : Tulisan ini bukan ditujukan kepada keturunan Sultan ya. Horang kayah mah mau jalan–jalan nggak perlu mikir. So, feel free to skip! 
Kecuali ya kalian–kalian kelas menengah ngehe yang hidup cuma dari gaji tanpa campur tangan warisan orang tua seperti saya. Baca sampai selesai, karena ini penting banget! L.O.L.

Tulisan ini akan mengurai hal–hal yang perlu diketahui saat melakukan perjalanan lewat jalan lintas timur sumatera. Semoga bisa membantu dalam membuat itinerary perjalanan terutama bagi sobat yang memiliki keterbatasan waktu dan uang.

Membuat itinerary perjalanan sangat penting untuk memperkirakan buget dan jadwal yang harus dipersiapkan. Meski kadang ketika di lapangan semuanya bisa meleset, eh meleset. Setidaknya udah ada bayangan.

Mungkin ada sebagian orang yang berpikiran bahwa jalan–jalan atau mudik dengan naik mobil ke Sumatera Utara itu biayanya hampir sama naik pesawat. Ah ngapain sih naik mobil? Belum biaya bahan bakar, biaya konsumsi, belum nginep, capeknya, etc.

Ehm, bener juga sih anggapan begitu. Tapi balik lagi ke gaya perjalanannya. Kalo kamu mudik naik mobil, tapi makannya harus ke restoran mewah, nginep harus ke hotel berbintang, mau mandi harus ke sauna.. hehe. Nah kalo sudah begini memang betul mending naik pesawat sekalian.

Padahal ada kok jalan–jalan yang hemat bin irit, hehe.. Untuk alasan ini, emang kudu siap makan ala kadarnya, nginep pun tidur seadanya. Dan tak kalah penting berdoa. *Uhuk!

hal-hal-yang-perlu-diketahui-saat-perjalanan-lewat-jalan-lintas-sumatera
Tol Trans Sumatera

Sebetulnya alasan kami untuk memilih menggunakan mobil sebagai alat transportasi saat mudik akhir tahun lalu yaitu tak lain dan tak bukan, efisiensi biaya.

Saya paham kok! Setiap orang memang memiliki gaya perjalanan masing–masing, tergantung buget.

Namun dari pengalaman seru perjalanan mode hemat bin irit beberapa hari lalu. Saya mendapat sebuah hikmah bahwa, “Sehebat apapun kehidupan kita sebetulnya, kebutuhan dasar manusia hanya sandang dan pangan”. Lainnya hanya memenuhi gaya hidup. Right??

Saya sendiri sudah merasakan manfaatnya. Sepengalaman saya, ada banyak kelebihan yang bisa dirasakan ketika perjalanan pulang kampung menggunakan mobil :

Mempunyai waktu yang fleksibel. Misalnya saat di perjalanan jika kita ingin istirahat, makan, etc, waktunya bisa dikondisikan. Sedangkan saat menggunakan transportasi umum kita selalu terikat dengan jadwal mereka, sekalipun itu udah kebelet.

Selain itu, kita bisa mengunjungi suatu tempat dengan itinerary sendiri. Misalnya saat melakukan tour keliling Pulau Samosir . Yepz, lebih mudah pergi kemana pun yang kita mau. Dan ini akan sulit bagi mereka yang jalan-jalan dengan naik pesawat, kereta atau kapal.

Selanjutnya, kita bisa mengenal daerah yang dilalui. Menurut pengalaman saya (selama perjalanan saat mudik menuju kampung dan arus balik), ada banyak kota dan provinsi yang saya lalui.

Sehingga membuat saya dapat lebih mengenal dan melihat secara langsung daerah-daerah dan bentuk rumah adat masing-masing daerah yang ada di sepanjang jalan lintas timur sumatera.

Menariknya lagi, kita dapat menjalin kekompakan bersama keluarga. Tentu saja akan ada pembagian tugas selama perjalanan. Misalnya : siapa yang menyetir, siapa yang sebagai navigator, siapa yang menemani supir agar tidak tertidur, dan juga tak kalah penting siapa yang seksi konsumsi.. ^ _ ^

Dan ini akan membutuhkan kerja sama yang bagus, serta kebersamaan dan kehangatan khas keluarga yang hanya didapatkan saat berkendara bersama.

Dan masih banyak lagi kelebihan yang lain..

Dari beberapa kelebihan perjalanan mode hemat bin irit di atas. Saya coba tarik simpul bahwa, “Pengalaman dari setiap perjalanan tidak bisa dinilai dengan materi”. Bener enggak??

Ada bayak kenangan dan cerita pengalaman (suka duka) yang terukir selama di perjalanan. Dan kisah itu tidak dapat dirasakan oleh mereka yang memilih jalan pintas, naik pesawat misalnya.

Yepz, yang saya maksud di sini adalah jangan pernah bandingkan sebuah pengalaman dengan materi ya, anak muda. Catat!! 😝

Jadi gimana, punya rencana mau jalan–jalan, atau mudik ke arah Sumatera Utara dengan buget minimalis? Simak kuyy..!

Berikut beberapa catatan saya selama perjalanan menjajal jalan lintas timur sumatera :

✔️ Pastikan kondisi kendaraan dalam keadaan prima apalagi ini perjalanan jauh. Apakah sanggup menghadapi medan perjalanan seperti yang sudah saya ceritakan di post sebelumnya.

✔️ Pastikan pulsa cukup agar bisa mengakses GoogleMaps. Bila perlu print out rute perjalanan seperti yang kami lakukan waktu itu. Hal ini gunanya untuk mem-backup, karena memang ada di beberapa titik perjalanan yang susah sinyal/gangguan koneksi internet.

✔️ Optimalkan perjalanan saat pagi/siang/sore, karena memang di sana masih minim penerangan. Apalagi saat melewati perkebunan, paling banter juga seperti glow in the dark, kena sinar baru bercahaya.. ^ _ ^

✔️ Selama perjalanan akan sering berpapasan dengan kendaraan truk besar dan panjang. Jadi waspadalah! Utamakan keselamatan, karena keluarga menunggu di rumah.

✔️ Jangan terpancing dengan mobil yang berusaha mendahului kita. Boleh–boleh aja sih kebutan yang penting terkontrol, dan patuhi rambu-rambu lalu lintas.

✔️ Pertimbangkan juga beban yang diangkut, jangan sampai melebihi kapasitas kendaraan. Kalo mau naruh barang di atas mobil, pastikan safety (diikat sekencang-kencangnya). Seperti halnya mobil yang di depan kami saat itu, barangnya 1/1 terjun bebas dari atas.. ^ _ ^

✔️ Hemat itu perlu, bukan berarti pelit ya. Jadi bawalah persediaan makanan, dan minuman yang cukup. Siapkan juga camilan yang banyak. Tau kan camilan? Itu loh cebelum cepuluh, ada celapan dan camilan. Ee

✔️ Perkiraan waktu tempuh tidak selalu sama dengan prediksi google karena ada banyak hal-hal yang terjadi di luar kontrol kita. Seperti halnya pengalaman kami saat itu, jalan alternatif yang ternyata difortal (tutup), macet karena ada kecelakaan/hal lain, atau bahkan nyasar, etc.

✔️ Istirahat yang cukup, dan fokus saat di perjalanan. Nikmatin perjalanan, jangan malah sibuk live streaming, demi kelihatan wuahh di media sosial.

Emang sih, sampai saat ini belum ada larangan untuk hal itu. Hanya saja untuk alesan keselamatan, bukan hanya keselamatan kita loh ya. Tentu saja keselamantan pengguna jalan lainnya.

Kalo boleh urun saran, nanti saja kalo udah sampai selamat sampai tujuan. Kan bisa di-upload dan diceritain lagi. Kyak saya dong, udah sebulan lewat masih asyik bercerita edisi pulang kampung.. haha. (habisnya seru sii..)

Oh, ini penting! Saat perjalanan jauh seperti halnya melewati jalan lintas Sumatera, aktifitas favorit di dalam mobil nggak jauh dari bercengkrama sambil mendengar lagu. Jadi, pastikan membawa play list idaman bagi penumpang.

Nah kalo kami sih saat mudik kemarin itu, kebetulan punya beberapa selera musik yang sama. Seperti koleksi lagu pop, lagu barat, serta lagu batak.

Misalnya nih ya, saat muter lagu batak.. seperti, Judul : Rap sai nimmu tua ahu, etc.

Lirik lagu Batak “Rap sai nimmu tu ahu” :

Judul lagu : RAP

Rap sai nimmu tu ahu
Tu dia ho laho, Tu si do nang ahu
Rap sai nimmu tu ahu
Dung tundalanmu, lupa do ho


Hu boto do hasian
Na songoni pangalahom
Molo adong di kangtunghi
Rap hita ito sai nimmu tu ahu


Unang sai gabusi ahu
Attar di dok ho ma, holong roham


Pargabusan mi ma aha
Bolo-bolo mi ma aha
Bolo-bolo mi ma aha


Pargabusan mi ma aha
Bolo-bolo mi ma aha
Bolo-bolo mi ma aha



Apalagi pas dibagian refrain liriknya :

Pargabusan mi ma AHA!
Bolo-bolo mi ma AHA!
Bolo-bolo mi ma AHA!

Ponakan-ponakanku ikut nyanyi cuyy, kadang kami seperti ada yang komando-in, lalu koor.. seru! 😁

Tuh, saya bilang juga apa? Bener kan, momen seperti ini hanya ada saat road trip perjalanan jauh dengan menggunakan mobil.

Terbukti koleksi play list seperti ini sangat membantu banget dalam menjaga mood selama dalam perjalanan panjang lho!

Jadi, sebaiknya dikomunikasikan dulu deh, lagu apa yang mau diputer. Jangan sampai yang satu sukanya dangdut, yang satu lagi keroncong, yang lainnya rock'n roll atau bahkan lagu seriosa. Repot nanti, bisa-bisa selama perjalanan semua penumpang pakai Earphone masing-masing. Skip!!!

Next, berikut ini biaya akomodasi (bahan bakar) selama perjalanan pulang pergi saat mudik melewati jalan lintas timur sumatera :

KMAmount
6.248
Rp. 200.000/Pertalite
6.465
Rp. 210.000/Pertalite
6.817
Rp. 210.000/Pertalite
7.096
Rp. 140.000/Premium
7.356
Rp. 173.000/Pertalite
7.757
Rp. 209.000/Pertalite
8.002
Rp. 100.000/Pertalite
8.738
Rp. 190.000/Pertalite
9.019
Rp. 142.000/Pertalite
9.346
Rp. 177.000/Pertalite
9.739
Rp. 172.000/Premium
10.073
Rp. 176.000/Pertalite
10.387
Rp. 166.000/Pertalite
📍Catatan : Sepanjang perjalanan, kami pakai AC terus ya, kecuali lagi istirahat.

Oh iya, biaya di atas belum termasuk tiket kapal feri Merak–Bakauheni, tiket kapal feri Ajibata–Ambarita (Samosir), E-Tol, dan segala tetek bengek perjalanan. Jadi jangan lupa isi E-Tol, dan membawa uang tunai secukupnya.

Kumaha sob, kalo mau ditotal jauh lebih hemat kan dibanding naik pesawat?? Ingat, ini biaya perjalanan untuk 6 orang lho. Kalo naik pesawat hitung aje sendiri, yess!

So, nggak mesti naik pesawat. Tidak ada salahnya kok untuk mencoba jalan–jalan atau pulang kampung lewat jalan lintas timur sumatera dengan menggunakan kendaraan sendiri. Mau nyoba naik motor mungkin.. hehh.

Baik, pembahasan seputar edisi pulang kampung sepertinya sudah clear dan akan saya close sampai di sini. Tok.. tok.. tokk!! (suara ketukan palu)


Omong-omong dari beberapa judul tulisan saya yang bertajuk seputar edisi pulang kampung ini. Kira-kira pesan moral apa sih yang dapat kita petik?? *Oalah, boro-boro ada pesan moral yang bisa dipetik dari tulisan lu Co.. 😆

Sttt... Perhatikan!!

Sesungguhnya tak ada perjalanan yang sempurna, apalagi perjalanan jauh. Lelah iya, ngantuk iya. Namun cobalah untuk menikmati setiap proses perjalanan.

Secara fitrah, perjalanan seharusnya menghadirkan kesenangan bukan menjadi hari-hari yang penuh keluhan. Karena keluhan juga tidak akan membuat perjalanan menjadi sempurna. *Tjaaahhh! #dileparkeJonggol.

Itu saja sii yang bisa saya sharing–kan di sini. Semoga tulisan ini berguna bagi reader yang ingin melakukan perjalanan jauh, seperti halnya perjalanan mudik lewat jalan lintas timur Sumatera. Sekian dan terima kasih!

Ehh cuma mau ngasih tahu, field komentar terbuka untuk umum lho..

See you on top.

Nite & GBU more. Bye..!!!
 
;