Ngopi sadayana! 😎
Sembari menyongsong pergantian tahun. Saya memilih untuk menelorkan tulisan di blog ini.
Kronologinya : Minggu terakhir di ujung tahun ini, ada banyak yang minta maaf sama saya sob. Bahkan tadi mesin ATM ikut-ikutan minta maaf "Maaf saldo anda.. bla bla ". Eh, mau nelpon pun begitu juga "Maaf pulsa anda.. bla bla ". Hmm.. sungguh terlalu!
Sesuai judul thread, kali ini saya akan mengulas topik bertajuk “MEMAAFKAN”. Inspirasi tulisan ini sendiri dari pengalaman pribadi penulis.
Yupz, memaafkan itu memang adalah hal yang baik. Sesuatu yang memang diajarkan dalam semua agama untuk kita lakukan. “Memaafkan” sebuah kata yang gampang buat diucapkan, tapi agak sedikit susah buat ngelakuinnya. Tapi relative yak! Semua tergantung orangnya juga.
Mungkin ada banyak orang yang gampang buat memaafkan kesalahan orang lain, tapi tak kalah banyak juga yang agak susah dan bisa jadi butuh waktu yang cukup lama buat memaafkan.
Yang jelas, memaafkan itu nggak segampang membuat status di akun Media sosial. Yoii, status sepanjang potongan novel yang ceritanya tempe. Eh
Kalau saya pribadi, gampang atau susahnya untuk memaafkan seseorang tergantung masalahnya dulu. Saya masih punya hati nurani, dan kondisional. Artinya saya akan coba melihat dari berbagai sisi terlebih dahulu.
Namun, saya juga manusia biasa yang masih memiliki kesabaran yang terbatas. Bagi saya memaafkan itu nggak bisa express secepat kilat dan nggak bisa dibuat-buat. Tentunya semua butuh proses dan emang datangnya harus dari sini (nunjuk dada).
Wajar saja sebenernya. Saya ini kan manusia biasa, bukan robot yang bisa dikontrol atau yang bisa diprogram lewat coding untuk ngelakuin sesuatu termasuk "MEMAAFKAN".
Seperti jeritan hati saya pada posting “Niat baik tak selalu dibalas dengan kebaikan”. Jadi ya, namanya manusia. Kadang masih suka terniang-niang dipikiran saya. Kok bisa ya ada orang yang seperti itu?
Dalam agama juga kita diajarkan membantu orang lain bukan hanya disaat kita berlebihan harta. Kalau membantu orang lain disaat berlebihan harta sih sudah biasa, namun disaat kita nggak punya uang (paspasan) tapi bisa rela membantu itu baru sangat luar biasa.
Saya sendiri sering menerapkan metode itu, sob. Saya selalu berupaya untuk membantu teman sesuai dengan ajaran dogma greja yang saya pelajari. Bukan karena saya udah sukses atau semacamnya. Hanya saja saya bisa merasakan apa yang dirasakan oleh mereka yang seperti itu *nggak tegaan*.
Saya bantuin orang meski saya pun dalem kesusahan. Saya cari pinjaman sana sini buat bantu orang. Bahkan uang makan saya sekalipun kadang saya berikan demi alesan kemanusiaan “membantu”.
Eh, orang yang saya bantu cuek-cuek saja cuma minta maaf seperti tak ada beban, atau malah pergi begitu saja tanpa pamit. Akhirnya saya yang menanggung hutang dan kesusahan sendiri.
Apa jadinya jika setiap permintaan tolong dibales dengan seupil kata "MAAF"?
Mungkin sebagian sobat beropini begini, yah elah, ikhlasin saja kenapa sih? Uang bisa dicari, pertemanan kan nggak bisa dibeli!
OK! Berucap memang mudah sob. Saya juga sebelum jadi korban, punya opini yang sama. Namun terkadang orang harus merasakan sendiri untuk mengerti situasi yang sebenarnya terjadi. Lo pikir bae-bae..
Mengikhlaskan apa yang dipinjamkan bisa saja. Tapi, jika yang meminjamkan masih membutuhkan, itu yang membuat ikhlas menjadi berat. Dilema kian meningkat, membuat hati jadi tersayat. Apa iya mengikhlaskan itu cara terbaik untuk mencari maslahat?
Jika sekali dua kali mungkin masih bisa dimaklumi, tapi kalau sudah jadi tradisi? Si peminta bantuan ini esoknya meminta bantuan lagi pada kita, kemudian esoknya lagi, dan esoknya lagi. Saya yakin kalian juga akan berpikir dua kali.
Misalnya, hari ini minta tolong. Bulan depannya? minta maaf doang yang sebenarnya bisa diusahain namun tak ada itikad baik. Sibuk minta maaf tapi hobi kredit barang baru padahal utang udah dua periode ganti presiden nggak lunas-lunas, sibuk mencari-cari alasan, ect. Mereka seperti itu memang memiliki watak jelek alias tolol permanen.
I think.. bahkan malaikat sekalipun akan lebih memilih kabur daripada lelah memenuhi permintaan tolong seseorang yang itu-itu saja. Apalagi kita manusia biasa. Ampun Bossku.. *white flag*.
Ada yang bilang memaafkan itu berarti melupakan. Tapi kalau buat saya pribadi TIDAK! Bagi saya, memaafkan itu bukan berarti melupakan. Kalaupun saya maafin seseorang, tapi bukan berarti saya lupa sama apa yang udah dia perbuat.
Entahlah mungkin ini kelemahan saya sebagai mahluk ciptaan-NYA. Hanya ada dua pilihan jika mendapati kelakuan yang seperti itu. “Jaga jarak/putuskan hubungan” atau “Tetap dimanfaatkan”.
Nah sekarang saya pilih “Jaga jarak”, dan nggak mau berurusan sama yang bersangkutan tersebut. Bukan berarti dendam yak, tapi lebih menganggap "NOTHING" . Itulah cara saya memaafkan, memaafkan nggak mesti kembali intim seperti semula khan?
Lalu, mungkin ada yang bilang! Masa iya hanya karena rupiah atau harta benda membuat pertemanan putus? Atau masa lebih memilih uang/harta daripada saudara?
Tunggu! Ini bukan quiz “SUPER DEAL” loh! Dalam konteks ini menyangkut hasil keringet kita yang tidak dihargai atau malah disalahgunakan oleh orang yang tidak bertanggung jawab.
Urusan hutang piutang memang sangat kompleks sob. Apalagi kalau masih ada pertalian darah, rumit jadinya.
Awalnya saya nggak yakin sedikit pun dengan statemen yang tak kalah menohok, “Uang bisa memutuskan tali persaudaraan”. Tapi, dengan apa yang saya alami akhirnya saya meng'iya'kan statemen tersebut. Bukan tanpa alasan.
Saya kecewa sedalem-dalemnya, bahkan kekecewaan saya lebih dalem dari palung Mariana di Pilipina. Jelas saja saya kecewa karena bantuan saya salah sasaran.
Sebenarnya masalahnya adalah soal tanggung jawab. Kita yang sudah berbaik hati meminjamkan uang/ barang seharusnya mendapatkan hak kita tanpa harus menderita konflik batin.
Seperti yang saya alami, djujur saya kecewa dengan kelakuan beberapa orang disekitar saya. Justru tak jarang orang terdekat saya yang bertingkah TOLOL, yang harus saya hadapi. Saya ngebatin! Ditagih, salah. Nggak ditagih, resikonya harus saya tanggung sendiri.
Mungkin perlu kita ketahui, bukan hanya uang yang tidak mengenal saudara. Tanggung jawab sendiri nggak mengenal saudara. Catat!!
Makanya, lihat deh jika ada orang yang terbiasa menggampangkan urusan karena hubungan kekeluargaan, bisa saya pastikan lama kelamaan bakal berimbas jadi kebiasaan.
Akan terbentuk pola pikir TOLOL. Ah, dia kan saudara gw. Ah, dia kan sohib gw. Ah dia kan CS gw. Ah, dia kan baik... dst -> to be continue
Karena sudah terbiasa meremehkan tanggung jawab. Dan ujung-ujungnya sudah bisa ditebak, orang seperti itu akan menjadi “benalu” bagi yang lain. Bener nggak??
Kembali ke laptop!! #EA
Djujur nih! Dimanfaatkan seseorang dalam konotasi negatif memang nggak enak banget yekan. Maunya sih ngebales, bahkan mungkin ada juga sobat yang berharap supaya ada hal buruk yang terjadi sama orang itu. Atau bahkan pengin nampol..?
![]() |
Bener nggak? Apa cuma saya yang begitu? Jujur saja deh, keluarin dulu sisi kemanusiaanmu. Nggak usah munafik.
Dan setelah dimanfaatkan seseorang habis-habisan, rasanya terpuruk dalam lembah penyesalan, kemarahan, dan kesedihan, kesal, dongkol, dll.
Namun saya pikir-pikir..
Jahat dibalas dengan jahat, baik dibalas dengan baik. Itu sih udah biasa. Yang luar biasa itu kalau jahat dibalas dengan baik. Setelah dimanfaatkan habis-habisan, tapi masih bisa mengharapkan hal baik terjadi pada orang itu.
Bisa nggak? Nah itu PR kita sobat. Saya juga lagi belajar kok.. 😁
Nah bagi sobat yang punya derita sama seperti saya, daripada kelamaan memendam rasa kesel atau bahkan sakit hati karena uda dimanfaatkan. Yuk kita susun strategi agar bisa memanfaatkan balik.
Lebih baik kita bales dendam yuk! Loh kok..? Berarti ini sama aja jahat bales jahat? NO!!!
Balas dendam secara anggun dong maksudnya. Manfaatin balik di sini bukan berarti manfaatin orangnya, tapi memanfaatkan situasi yang ada untuk belajar supaya bisa jadi lebih baik.
Kita pikirkan bae-bae gimana caranya memanfaatkan kejadian tersebut supaya bisa berguna buat diri sendiri. Misalnya, supaya kejadian yang sama nggak terulang kembali.
Ini baru saya terapkan akhir-akhir ini. Bermula saat saya mengikuti sebuah ibadah malam di salah satu Greja tempat saya tinggal. Saya menemukan pencerahan dari sebuah perikop :
Matius 7 : 6 - "Jangan kamu memberikan barang yang kudus kepada anjing dan jangan kamu melemparkan mutiaramu kepada babi, supaya jangan diinjak-injaknya dengan kakinya, lalu ia berbalik mengoyak kamu”.
Mohon maaf saya bukan aktivis Greja, saya hanyalah manusia yang tidak luput dari dosa *anggap saja saya domba yang hilang*. Namun disamping kelemahan itu, saya masih berupaya mencari jalan kebenaran.
Kira-kira gini penjelasan yang bisa saya simpulkan dari kotbah tersebut.
Disini, Tuhan mungkin sedang berbicara tentang ajaran kebenaran sebagai mutiara dan barang kudus, namun tentu saja ini dapat diaplikasi untuk segala bidang yang lain.
Bagi orang Yahudi baik anjing dan babi adalah sama-sama binatang yang tidak berguna sama sekali. Jadi, ini menggambarkan manusia yang tidak bermanfaat, dungu seperti apa yang saya obrolkan tadi.
Mereka ini ibarat duri dalam daging yang seringkali membuat kita tersandung. Yang menyedihkan adalah fakta bahwa memang orang-orang seperti itu ada dimana-mana sob.
Waspadalahhhhh!
Diakhir tulisan, saya memaafkan atau saya akan belajar memaafkan kalian yang sudah memanfaatkan saya. Itupun setelah saya melayangkan umpat2an di atas. Salah?? ya maaf! :)
Namun kalian juga harus memaafkan saya ya, karena kalian harus saya keluarkan secara paksa dari list pertemanan. Ibarat virus, saya tidak mau berlarut terinfeksi. Tanggung jawab adalah tanggung jawab! TITIK
Sebagai saran penulis :
Nampaknya harus realistis kalau mau bantu dan lebih selektif lagi sob. Supaya kelak nggak jadi sesal tak berkesudahan.
Sampai disini dulu cuap-cuap kita di ujung tahun ini.
Semoga kita tetap dalam lindungan-NYA
Amin2020KM
Nite & GBU more.. !! Bye..!!!


























- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact