Senin, 15 April 2019

Menulis nakal jelang Pilpres 2019

Selamat malam gaes, salam sejahtera untuk kita semua!

Kesempatan kali ini, saya akan mulai dengan pantun “Aki-aki nongkrong diatas pager, ngopi nih seger!”
Pemirsah menjawab : udahhhh, gitu doang? haha.

*Off-tot nih gaes.. Yok - NGOPI SADAYANA! 😎

Warkop 21 :D
Suka menulis hal yang gak jelas dengan ide yang tak jelas pulak atau bisa dikatakan miskin ide, kira2 seperti itulah terkesan dari tulisan di blog saya ini.

Tadinya saya bermaksud pengen nulis di blog fokus pada satu bidang dengan konsep yang udah saya rancang. Pengennya punya konten yang elegan - elegan gitu lah isi blognya.

Namun saya pertimbangkan ulang *It's not me. Saya bukan tipe pria komersial. Makanya saya menulis apa adanya, nyablak, seancur -ancurnya, seasik-asiknya (?) dan sepaok-paoknya.

So, jangan heran kalo setiap segmen topiknya suka lari kesana kemari alias tulisannya “nakal”.

Lalu.. jika Anda bertanya, kenapa menulis nakal? Alesannya, karena menuliskan apa yang saya sukai justru akan mampu mendongkrak produktivitas dan semangat saya untuk menulis.. EAHHH!

Mungkin untuk anda yang beda tipis dengan saya, tak terlalu baik, bahkan tak luput dari dosa.. akan setuju jika kenakalan itu sesungguhnya menantang bukan? Makanya saya tertantang untuk menulis nakal. *alesan klise :)

Baik, saya kasih sedikit sketsa biar gak puyeng. Dalam dunia “keong racun” Okurrr! Kenakalan itu tak jarang berakhir di atas kasur. Untuk apa? Ya, untuk tidur. Eits jangan salah paham dulu ya, ini bukan soal meniduri, namun tidur beneran.

Apa bedanya? Hmm.. ya, kalo meniduri konotasinya “miring”, sedangkan tidur bisa juga miring tapi masih bisalah sambil terlentang atau tengkurep. Yang jelas, keduanya sama-sama menyenangkan towh!

Terus, apa korelasinya dengan nakal? Hmm.. ya, jika memilih untuk tidur, maka pilihan itu menyelamatkan diri sendiri untuk tak terpikir urusan skidipapap sawadikap slebew-slebew.

Di sisi lain, mengasihani anak orang supaya tak ternodai dan ternista. Maksud saya, suatu hal menyenangkan tak boleh melupakan gimana biar tetap dapat mengasihi.

Kira-kira seperti ittu kenakalan saya dalam menulis topik yang suka lari kesana kemari sesuka hati. Kemaren niatnya berkobar-kobar mau bikin postingan tentang pemenang Pilpres nantinya (tapi belum rampung), eh malah lari ke topik yang sekarang. Jadi kalimat-kalimat itu sementara masih jadi draft doang.

Pasalnya, barusan saya coba buka fesbuk yang sudah usang itu. Terus nemu sebiji mahluk influencer memposting statusnya dengan "Prediksi pemenang Pilpres"… menarik kan untuk diobrolkan?

Begindanglah sketsa kenakalan, memang “nakal” tak lepas dari urusan lirik melirik. Makanya kenapa terkadang saya sok cool man, tak mau melirik-lirik biar gak kerayu.

Anda yakin? Jangan dong, karena bisa jadi di hati kecil saya sedang melatih kelihaian tentang gimana cara melirik tanpa diketahui orang yang saya lirik.

Yang udah baca sampai paragraf ini, jangan kecewa ya, karena belom masuk ke inti cerita.

Walaupun analogi saya ini agak sedikit berbau-bau diktat, tapi saya yakin gambaran kyak gitu gak sampai membuat kening Anda mengerut.

Seperti halnya saya mengupayakan untuk tak terlalu mengerutkan kening, biar gak cepat keriput. Karena pastinya, jika sudah keriput maka saya mikir pahala saya udah banyak apa belum? kalo sudah banyak, ya sudah mending  mati dibanding di sisa usia harus ikut terseret arus. #EA

Maksud saya apa? Meskipun tulisan saya terkesan nakal apa saja dibahas, tapi ada topik yang memang anti untuk saya bahas yaitu soal politik busuk. Saya tidak mau terseret arus untuk memboroskan waktu pada hal-hal berbau imajinasi anyir.

Seperti halnya, ditengah hiruk-pikuk pertarungan merebut kekuasaan dalam pemerintahan sebagian orang  "garis keras" sibuk menjadikan satu isu sebagai tren topik, dan setiap tulisannya getol banget memperjuangkan jagoannya.

Menuliskan berita hoax untuk menggiring manusia yang awam terhadap internet. Bahkan di beranda medsosnya penuh share informasi yang narasumbernya tidak jelas.

Seharusnya saya ngikutin mereka. Lha ini kok slow down, malah menulis tetang hal yang dianggap sebagian orang tidak penting. Aneh memang, tapi saya pikir “Siapa gue?”.

Saya pantang untuk menulis nakal soal politik, saya lebih memilih melawan arus. Tak ikutan menulis (koprol) politik bukan karena buta soal berpolitik, tapi hanya menghindar biar gak disihir ikutan nyinyir karena kepentingan politik anyir.

Sebab, Indonesian peoples lebih condong atau tak sedikit yang memilih nyinyir soal politik meski ia menyadari dirinya adalah bukan siapa-siapa alias jongos.

Lantaran nyinyir itu hanya modal bibir, memang tak menguras tenaga dan pikiran (apalagi nyinyir berbasis digital).

Cukup bergabung disebuah group medsos, misalnya group yang sempat viral itu dengan hastag #2019gantikancut, ikuti saja perintah si Admin.

Opsi ini memang membantu otak tetap awet, karena jarang digunakan. Sayangnya jika otak diawetkan dengan cara begindang, khawatirnya nanti Tuhan mengambilnya kembali daripada tidak digunakan.

Untuk itu saya hanya mencoba untuk menyanggah suatu skenario busuk yang diyakini bisa berdampak buruk pada sesama manusia. Supaya tak ada lagi diskriminasi, dan tak ada lagi korban pembodohan sesama manusia yang justru dilakukan orang-orang yang konon pintar.

Seperti halnya, kadang saya suka merasa lucu melihat gambar para Caleg yang berseliwiran dipinggir jalan raya sana. Wuahh.. wujudnya sih manusia semua, tampilan agamis, seyumnya mempesona, gagah tampan perkosa eh perkasa dong maksudnya.

Bahkan ada yang akting megang dadanya mengisyaratkan kalau dia sangat berpegang sama janjinya (bukan lagi kena serangan jantung kan Pak?), gak kalah ngehek ada yang fotonya dipasang terbalik, dengan caption : siap jungkir balik.. (Please dong.. jangan main-main Pak!!). Terlepas dari partai mana itu. Saya pikir masyarakat juga udah pinter, gak usah lebay! Janji busuk kok diumbar.

Melihat fose dan tagline para Caleg ini, memang menggiurkan sepertinya menjanjikan. Tapi ya kembali lagi ke diri kita masing-masing, Capres dan Caleg bukanlah Tuhan jadi jangan langsung tertarik sebegitu getolnya memperjuangkan mereka.

Bisa dipetakan syarat menjadi Caleg itu bukanlah sesuatu yang wuahhhh. Kalo saya monitor gak mesti lulusan sarjana cumlaude, tidak juga menitikberatkan IPK, bukan kah yang penting ada partai pengusung? Itulah yang seharusnya direvisi oleh pemerintah peraturan syarat jadi pemimpin di negara ini.

Walaupun tulisan saya ini terkesan seperti kehilangan arah. Maksud saya, jika hanya menulis politik sekadar agar terlihat pintar. Itu sama halnya bukan hanya menipu diri, tapi rentan juga menipu dan membodohi banyak orang. Kalo begindang, apakah setelah diakui pintar lalu betul-betul dipandang berharga? TIDAK!!

Sebagai sebuah Pesta demokrasi, harusnya Pemilu disambut dengan riang gembira, bukan malah disambut layaknya menghadapi Medan tempur. Imbasnya tidak ada jeda sama sekali, perseteruan antar pendukung Paslon selalu perang di media sosial. Bahkan H-1 menjelang Pemilu serentak masih saja menegangkan. Kelakuan pendukung kedua Paslon semakin tak terkontrol.

Sebetulnya konflik pendukung kedua Paslon ini tak akan tuntas bahkan hingga pilpres periode selanjutnya. Hanya saja sebagian masyarakat khususnya "O.S.B" (Orang Selalu Benar) tak sadar bahwa dunia persilatan politik itu begitu picik. Mungkin saja saat ini jadi lawan, besok jadi kawan.. (Who knows??)

Tak ada teman yang abadi dalam politik berohhh, yang ada hanyalah kepentingan abadi baik itu kepentingan pribadi maupun kepentingan kelompok.

Saat ini kita membabi buta mendukung salah satu paslon, membuat statemen tanpa pertimbangan matang, menganalisa tanpa data. Tak jarang hingga membuat kita putus komunikasi dengan teman, sodara, tetangga. Padahal, mereka yang sekarang adalah lawan politik, besok atau lusa akan bergandengan tangan dengan mesra begitu intim. Sedangkan kita?? Masih aje sengketa, bersitegang penuh dendam satu sama lain.

Maksud saya dukung ya dukung aje, tapi santai saja gak usah urat apalagi memaki-maki bahkan mengkafir-kafirkan orang lain (yaelah kyak hidup situ udah suci aje). Tolong lah, jangan terlalu naif. Jangan habiskan waktumu untuk menyakiti dan disakiti ya anak muda! Tapi ya begitulah sosok OSB.

Perlu kita ketahui.. mengapa orang yang sering kali dipandang tidak pintar, lugu, tak jarang lebih dimuliakan karena mereka bahkan tak bermatematika saat membantu. Mereka membantu tanpa memusingkan orang ini satu suku denganku atau tidak, ia satu agama denganku tidak. Sebab mereka menyadari, siapapun yang ada di muka bumi tetap saja ciptaan Tuhan. Sepanjang ia baik, maka tetap punya hak atas segalanya untuk kebaikan dan membawa kebaikan.

Dalam konteks pemerintahan, kekuasaan sama sekali bukan Tuhan. Kenapa jika ada yang berusaha merebut kekuasaan itu, lalu dibela mati-matian alih-alih menyeret agama sebagai alasan? Bahkan ada yang rela mengkafirkan kaum mereka sendiri, kan parah?

Itu makanya saya menulis nakal di jelang Pilpres, agar yang baca tulisan saya bisa paham. Tulisan ini hanya sedikit upaya agar negara kita jangan sampai terpecah-belah karena beda pilihan. Tentunya kita sebagai rakyat hanya mempunyai satu harapan “mendapat pemimpin yang ideal dan terbaik”. Right??

Terkait dengan status “Prediksi pemenang Pilpres” boleh dong, saya memprediksi? Gak terlalu nakal kan? Kalo saya endus ada aroma "Paslon 01" deh juaranya, alesannya? Gak usah saya jabarkan takutnya kamu berubah pikiran dengan prediksi saya yang belum tentu bener, lagian keburu tutup nih Warkop.. hahah
Udah dulu ya gaes..!

Sekian dulu cuap-cuap kita hari ini, sampai berjumpa lagi di segmen selanjutnya!

Nite & GBU more.. Bye!!!! :)

5 komentar:

  1. Ha ha.. Harusnya kasih dong apa alesan memprediksi!

    BalasHapus
  2. Thanks Tian, alesannya nanti ya.. saya posting di segmen selanjutnya kalo prediksi saya menang tapi.. hehe

    BalasHapus
  3. Gue tunggu postingannya.. ngopi bung! Hahhhaaay

    BalasHapus
  4. Kl ane liat penyebab "nakal menulis" kebanyakan asupan kafein. Ngopi bae.. Wkwk

    BalasHapus
  5. Felix@ ngopi itu kenikmatan yang haqiqi berohh.. haha

    BalasHapus

1. Relevan (Tidak Out of Topic).
2. Sopan, jangan meninggalkan komentar SPAM di blog saya.
3. Jangan menggunakan bahasa kasar atau SARA.
4. Berilah masukan yang membangun kecerdasan berpikir.
Terima kasih atas perhatiannya!

 
;