Senin, 08 April 2019

Kultur bahasa kekinian

Selamat malem gaes, kumaha kabar sadayana? Cageur wae, right??

Agak lucu ya kalo seorang bintang Hollywood mengangkat topik recehan seperti yang akan saya ulas saat ini. Tapi teu nanaon atuh, toh juga saya tak pernah janji-janji kyak lagi kampanye untuk mengangkat topik yang up to date (sebagaimana yang dibahas orang lain di blognye), mending saya nulis apa yang pengen saya tulis deh yak! Kalo semacam topik politik mah keberatan saya ngangkatnya, :D
*Yok - NGOPI SADAYANA! 😎

Kali ini saya akan mengulas sedikit topik terkait kultur bahasa kekinian, yang menjadi bahasa sehari-hari penghuni Ibukota hingga saat ini. Saya langsung saja ya..!

Indonesia adalah negara yang plural, artinya Indonesia terdiri dari banyak suku bangsa, banyak kebudayaan, banyak ras, dan agama. Maka dari itu ada simbol Bhineka Tunggal Ika yang artinya “Berbeda-Beda Tapi Tetap Satu Jua”. Untuk hal ini.. sebagai mahluk sosial, saya sadar betul bahwa di setiap daerah tentu memiliki bahasa sehari-hari yang berbeda.

Semenjak hijrah ke Bekasi sebagai bagian dari kawasan Megapolitan JABODETABEK atau se-fruit (baca : sebuah) akronim dari Jakarta-Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi. Banyak hal kecil yang saya pelajari namun berarti besar buat saya. Karena di kota Megapolitan ini, ada sedikit perbedaan aksen, dialek dan diksi yang dipakai manusia sangat berbeda dengan daerah lain.

Ini salah satu tantangan yang saya hadapi ketika sudah sampai di ranah ratau ini. Mulanya merasa canggung dan dibumbui rasa tak nyaman. Terlepas dari logat masing-masing daerah, salah satu yang harus saya adaptasikan adalah lidah saya. Mau tidak mau saya mulai terikut dengan gaya bahasa orang-orang di lingkungan saya. Tapi mungkin itu lah arti dari “Di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung”.

Selaku pendatang, tentunya kudu menyesuaikan diri menggunakan bahasa sehari-hari di daerah mana kita tinggal. Maksud dan tujuannya sebetulnya sama, hanya saja bedanya penggunaannya lebih kepada bahasa gaul. Hal ini tentu menjadi bagian penting dari komunikasi.

Perkawinan bahasa di Ibukota saja sudah manghasilkan banyak bahasa yang "baru". Saya ambil cakupan yang lebih sederhana. Umumnya di Bekasi dan sekitarnya.. kata “Bagen” sering digunakan, dalam bahasa Sunda “Kajeun”, yang berarti, “biarkan…” yang apabila dalam KBBI berarti, relakan.

Bahkan di Cikarang setelah mengatakan “Gua” itu akan ditambahkan “Ge”, jadinya “Gua Ge...”, sedangkan di kota lain tak ada penambahan demikian. Bisa disimpulkan bahwa penggunaan bahasa sehari-hari bisa mencirikan dari daerah mana ia berasal.

Bergulirnya jaman yang semakin modern, dimana arus informasi seperti pasar tumpah, tak sedikit istilah baru pun bermunculan dalam keseharian kita. Media sosial banyak sekali menerbitkan bahasa baru dalam komunikasi verbal.

Terkait dengan istilah modern tersebut, di kota Megapolitan ini bahasa pun lebih gaul. Meskipun sebagian besar tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang baku. Misalnya yang lagi nge-tren: kanmaen (bukan main), warbyasa  (luar biasa), ntap (mantap), leh uga (boleh juga), atau mager sebagai akronim dari males gerak. Saran saya, kalo bisa lengkap kenapa harus disingkat?

Sebagai tambahan, saya juga kadang masih menemukan kata “w” (maksudnya mungkin “gue”) dalam komunikasi melalui perangkat telepon dalam ber-SMS, ber-WA. Positive thinking aje sih, mungkin saja karena ada suatu provider yang menawarkan 1 rupiah = 1 karakter. Biar lebih irit. Mungkin ya mungkin..!

Begitu juga penggunaan kosa kata “Lo-Gue” dan sejenisnya. Kata ganti orang pertama dan kedua, atau sebagai pengganti kata subyek dan obyek dalam percakapan juga menarik untuk saya obrolkan.

Misalnya penggunaan sebutan Lo, Gue, Ane, Aku, Kamu, Saya dan lain-lain. Meski sebagian terkesan alay dan menjadi kontroversi, seperti : Eike, Cyint, Ogut, Aqiu, Kamiu, Saiah..hehh. Penggunaan kosa kata ini bukan hal yang asing disini. Karenanya saya pun terbiasa dengan “Gue Lo”. Nah otomatis kita harus bisa bedain pada saat kapan kata itu bisa kita gunakan.

Sebagai perwakilan daerah yang migrasi ke kawasan Megapolitan ratusan purnama yang silam. Menurut saya ada hal yang menarik yang perlu saya respon dalam menggunakan kata-kata “Aku - Kamu” dan “Gue - Lo” di Ibukota ini. Yok kita ulas one by one.. :)

AKU-KAMU

"AKU-KAMU" Kata yang memiliki karakteristik formal, biasanya digunakan untuk berbicara secara sopan dan tidak terlalu intim. Cocok digunakan terhadap orangtua atau usianya lebih senior. Mungkin di daerah lain di luar Jabodetabek, seperti di pulau Andalas (Sumatera) "Aku-Kamu" bukanlah sesuatu yang aneh. Bagi saya sih “Aku-Kamu” gak masalah asalkan pada situasi yang tepat.

Lucunya untuk konteks “Aku-Kamu” di Jabodetabek dan sekitarnya, mempunyai makna keakraban yang lebih dari sekadar teman. Kalau kita pakai " Aku-Kamu " seolah-olah ingin menunjukkan rasa kasih sayang kepada pasangan atau orang yang punya hubungan spesial.

Memang kalau sudah lama tinggal di kota ini agak terdengar aneh sih, pasti akan merasa berbeda ketika ada orang yang bercakap " Aku-Kamu” yakan? *Aku-kamu?? Oh so sweet!! Jarang sekali saya mendengar antara teman seumuran berbicara " Aku-Kamu " apa lagi sesama jenis.. :D. Sebagai masukan, waspada kalau pasangannya chatting atau manggil orang lain dengan sebutan "Aku-Kamu" yak! Bukannya apa-apa takutnya mereka kebablasan.. :D

SAYA-ANDA

"SAYA" Kata yang memiliki karakteristik sedikit formal. Menurut saya sebutan “SAYA” adalah bahasa netral dan cocok untuk berbicara dengan orang yang lebih tua dari kita atau bisa dikatakan umum. Mengapa "SAYA" saya katakan sedikit formal? Alesannya, selain sering digunakan untuk acara resmi atau forum resmi seperti diskusi dan seminar, "SAYA" juga paling sering digunakan oleh para orang dewasa.

Sedangkan kata "ANDA" terkesan formal. Kata "ANDA" sering sekali digunakan dalam forum atau acara resmi, seperti dosen berbicara kepada mahasiswa atau acara seminar. Selain di acara tertentu, saya jarang sekali mendengar "ANDA" dipakai dalam kehidupan sehari-hari. Kalau pun kata "ANDA" pernah saya temui lewat SMS (Short Message Service) biasanya gak jauh dari SMS operator jebakan betmen gitu.

GUE-LO (bukan “gelo” yak! Eh)

“GUE-LO” untuk konteks Jabodetabek kosa kata ini termasuk komunikatif sering di ucapkan kepada teman yang semumuran/ teman sebaya atau umurnya tidak terpaut jauh. Pasalnya kata “Gue Lo” pun sudah familiar dan mendominasi sebagai bahasa sehari-hari manusia di Ibukota ini.

Bahkan banyak artikel/blog yang pernah saya kunjungi rerata menggunakan kata “Gue Lo”. Dan masih banyak lagi kosa kata yang tidak kalah gaul. Seperti ; Ente, Ane, Lau, Antum, Agan, Sista, Gaes, dll.

Terlepas dari bentuk ujaran yang kadang dilogat2in “Elo/Elu”. Kalo menurut saya "Gue Lo" terkesan akrab/bersahabat bila dipakai dalam kehidupan sehari hari. Malahan kadang kalo kita bercanda atau berhumor sering mengunakan kata "Gue Lo".

Hanya saja, kalau boleh urun saran nih ye! Jangan sekali-kali menggunakan “Gue Lo” kepada orang yang lebih tua atau kita hormati. Sekali lagi, jangan ya! Pokoknya jangan.. sesungguhnya hal itu terkesan angkuh dan gak sopan anak muda!

So, which one you prefer.. :)

Saya sendiri fleksible aje sih.. hehe, kadang pake “GUE-LO”, “AING”, “ANE”, “ENTE” dan seringan “SAYA”. Dikondisikan saja, lihat dengan siapa kita berbicara.

Seperti halnya, di kantor yang lama atasan saya pernah menerapkan aturan dilarang menggunakan “Gue Lo” dalam obrolan di lingkungan kerja.

Pertanyaan : Apakah “GUE” dan “LO” tergolong bad words? Saya yakin jawaban kalian gak juga yakan?

Jujur saya yang sedikit aneh, geli gimana gitu kalau berbicara menggunakan “Aku Kamu” kepada teman yang sehari-hari biasa minum kopi dan merokok bareng. Ditambah lagi muka saya aje muka perang, gak pantes banget pake “Aku”. Bodo amatlah yang penting gak pake bahasa alay apalagi bahasa planet Pluto.

Syukurlah aturan itu dihilangkan, jadi suatu saat.. ketika mau break saya sengaja deh di depan atasan. Saya panggil teman dengan hati deg2an, mulut setengah kram, dengan sebutan “Aku Kamu”.

Bayangkan saja ketika saya biasa menanyakan, "Ko, udah makan siang belum?" pada sosok Eko yang badannya kekar berotot itu, harus diganti dengan, "Hai, Eko. Kamu sudah makan siang belum? Barengan sama Aku, yuk!" Seisi ruangan itupun tertawa. Pada akhirnya “Aku Kamu” dijadikan bahan candaan ketika suasana lagi landai rasanya geli ampun-ampunan. Atasan pun ikut ngakak.. :D

Semenjak itu kalau lagi on duty, saya lebih nyaman pakai kata “SAYA” kalau bicara. Tapi kalau lagi sama temen yang sudah akrab ya pakai “Gue Lo” gak masalah. Jadi agar dikondisikan saja sesuai penempatannya. Memang sih tidak menutup kemungkinan kadang lidah salah berucap lantaran keseringan pake “Gue Lo”.

Pokoknya untuk saya semuanya fine-fine aje. Yang penting kedua belah pihak saat berkomunikasi merasa nyaman dan tentunya harus saling paham dong satu sama lain sehingga pesan dapat tersampaikan dengan baik. Syukur-syukur yekan bisa ngerti body language jadi gak berisik “Gue Lo”-an.

Kalo bisa kita upayakan menempatkan konteks penggunaannya benar dan yang tak kalah penting kita sopan dalam mengujarkannya. Misalnya, kalau kita ketemu orang baru yang belum kita kenal. Bolehlah “Gue Lo” dikesampingkan dulu. Kalau udah kenal sama tuh orang dan ngerasa nyaman, saya yakin “Gue Lo” menjadi primadona dalam setiap obrolan kita.

Okkeh itu saja sih opini saya mengenai bahasa kekinian. Mohon maaf lahir batin neh, bukan maksud menggurui, Sesungguhnya “Gue Loe” itu adalah hak segala bangsa..! haha

Sekian dulu cuap-cuap kita hari ini, sampai berjumpa lagi di segmen selanjutnya!

Nite and GBU more.. Bye!!!

0 komentar:

Posting Komentar

1. Relevan (Tidak Out of Topic).
2. Sopan, jangan meninggalkan komentar SPAM di blog saya.
3. Jangan menggunakan bahasa kasar atau SARA.
4. Berilah masukan yang membangun kecerdasan berpikir.
Terima kasih atas perhatiannya!

 
;