Jumat, 21 Oktober 2016

Teori jeruk nipis


Ngopi sadayana! 😎

Kali ini kita bermain imajinasi dengan "teori jeruk nipis".

Bayangkan ada sebuah jeruk nipis berwarna hijau agak ke kuning-kuningan. Lalu jeruk nipis tersebut Anda potong jadi dua bagian. Kemudian pegang salah satunya dan peraslah, sampai air tetesannya mengucur. Apa yang Anda rasakan? Asam bukan? Setiap tetesnya Anda akan menelan ludah.

Kalau imajinasi Anda kuat, sekarang Anda sedang menelan air liur, saking asamnya. Betul? Padahal jeruk nipisnya tidak ada yakan! Tapi rasa asamnya terasa hingga Anda harus menelan ludah. Jika Anda merasakan kejadian serupa itulah yang disebut dengan "TEORI JERUK NIPIS".
 
teori-jeruk-nipis
Ilustrasi
Bahwa tubuh manusia dirancang untuk merespon apa yang dibayangkan. Apa yang dipikirkan itulah yang menjadi kenyataan. Sehingga jika kita sedang menghadapi masalah lalu kita berpikir yang aneh-aneh, maka yang terjadi adalah tubuh menjadi drop.

Kemungkinan kita akan jatuh sakit  dan bahkan  kemungkinan terburuk kita akan depresi. Padahal kekwatiran itu belum tentu terjadi. Kita sebenarnyan sedang “Meneteskan jeruk nipis” di kehidupan kita. Semakin banyak tetesannya semakin berat masalahnya.

Ternyata kuncinya ada dalam pikiran. Jika air liur saja bisa dipancing hanya dengan memikirkan sebuah jeruk nipis. Maka masalahpun bisa diselesaikan dengan permainan pikiran.

Maaf sebelumnya, coba Anda perhatikan  orang yang kelainan jiwa (sehat tapi gak waras). Secara fisik mereka sehat namun mereka hidup di dunia yang berbeda. Mereka menciptakan dunianya sendiri. Jeruk nipis yang mereka teteskan terlalu banyak. Sehingga muncul lawan bicara yang begitu nyata. Yang bisa diajak bicara.

Sekarang mari kita ubah mindset, jika didera masalah bertubi-tubi anggap saja itu “proses pondasi”  bahwa Tuhan hendak membangun Hotel berlantai 100.

Bayangkan sebuah proyek Hotel dengan tinggi 100 lantai. Pondasinya pasti dalam sekali dan dalam sekali tentunya, pengerjaannya pun pasti lama. Jika pondasinya selesai maka akan mampu menopang beban. Hingga 100 lantai sekalipun.

Tuhan tidak iseng memberi kita masalah. DIA ingin kita kuat bukan ingin kita sekarat. Maka berhati-hatilah pikiran Anda. Berbaik sangkalah maka kehidupan pun atas ijin Tuhan akan membaik.

Berpikir baik dan berbuat baik terhadap orang lain menjadikan kita menjadi awet muda, murah tersenyum dan selalu mengasihi satu dengan yang lain. Usia hanyalah angka..jiwa tetap semangat muda. Big Think!!

Saya merenungkan kejadian di atas, ternyata apa yang kita yakini intulah yang terjadi. Ketika kita menghadapi masalah, kita mulai berpikiran yang aneh-aneh. “Jangan-jangan ini emang yang Tuhan mau, Tuhan pasti sengaja deh bikin keadaan saya terpuruk begini”.

Pemikiran seperti ini merasuki kita hingga ahirnya kita percaya dengan pemikiran kita di atas. Kemudian kita drop merasa depresi, merana, gundah gulana. Padahal belum tentu semua yang kita pikirkan itu terjadi yakan. Jadi mirip seperti teori Jeruk nipis tadi.

Masalah tersebut terlihat pahit, keras tidak bisa dipatahkan. Namun sebenarnya hal itu hanya ada dalam pikiran kita. Mungkin masalah yang sedang dihadapi ini hanya bersumber dari pikiran saja. 

Sebagai orang yang percaya Tuhan kita tidak boleh dengan sengaja meracuni hidup dengan pemikiran-pemikiran yang negatif terhadap masalah yang kita hadapi.

Dari teori jeruk nipis kita belajar kalau keasaman bisa jadi berasal dari pemikiran kita. Dan jika kita percaya kepada Tuhan, maka kita pasti bisa mematahkan segala pikiran yang negatif.

Berdoa dan bersyukur selalu kepada sang Pencipta. Tetap rendah hati. Yakin semua indah pada waktunya.

Terima kasih!
 
;