Selasa, 26 Maret 2019

Berkamuflase

Selamat malam pemirsahhhh...!

Sebelum meluncur ke topik pembahasan, sedikit nyepik-nyepik.. Hidup itu memang indah yakan, namun dibalik indahnya kehidupan banyak kebusukan di dalamnya sehingga bisa dimaknai bahwa hidup ini penuh kebulsitan, tipuan, kepalsuan dan kebohongan.

Tak baik memang jika melihat kehidupan dari sisi buruknya, tapi apakah baik jika hanya melihat sisi indahnya kehidupan, tanpa pernah melihat sisi buruknya kehidupan yang penuh penderitaan, penuh luka dan air mata yang menyayat hati?

Mungkin itu sebagai openingnya di segmen kali ini.. *Yok - NGOPI SADAYANA! 😎

Postingan ini merupakan lanjutan “Tentang media sosial” yang mana kali ini penulis akan mengulas sikap manusia yang suka berkamuflase atau bertindak “seolah-olah” yang menjadi ciri khas generasi milenial di jaman digital.

Ilustrasi
Di era teknologi yang semakin canggih saat ini, manusia hampir tidak bisa terlepas dari internet atau lebih spesifiknya media sosial. Dimana kita bisa menyerap segudang informasi atau bisa bertukar informasi secara militan.

Mohon maaf lahir batin nih, tak ada maksud menilai jelek ke media sosial atau melarang menggunakan media sosial. Tapi saya disini cuma ingin berbagi apa yang saya pikirkan, apa yang saya analisa dan dampaknya kepada sebagian orang.

Baiklah, secara fungsional internet berguna sebagai sarana komunikasi tanpa batas, pertukaran informasi, sebagai sumber informasi dan pengetahuan, dan membuat segalanya menjadi serba instan. Misalnya : silaturahmi semakin instan, ketemuan semakin instan, ampe mau bobo bareng aja semakin instan dan tak bisa dipungkiri akhir2 ini perkawinan instan alias “kawin dadakan” pun sering terjadi (eh korelasinya apa yak?).

Ketika media sosial booming, fenomena pamer pun semakin menjadi-jadi. Gak pandang umur, mulai dari anak bau kencur ampe anak bau kentut.. ehh. Semua berlomba-lomba serasa masuk di arena kompetisi untuk menonjolkan apa yang mereka punya. Bisa itu jabatannya, keahliannya, kekayaannya ataupun kesedihan mereka yang dipublis ke dalam beranda di medsos mereka.

Sayangnya gak jarang mendramatisasi situasi dan kondisi sebenarnya. Bahkan “halu” membuat drama-drama yang hanya bisa dia mengerti sendiri. Padahal ketika kita terjun ke dunia yang sebenernya, bahwa semuanya memang biasa aje. Dia hanya melebih-lebihkan sesuatu yang terlihat biasa.

Yaps.. seperti ketidakpuasan, memamerkan segala bentuk apa yang mereka pikir itu layak untuk di lihat oleh banyak orang. Disitu sudah mulai sedikit nampak dari impactnya sebuah media sosial, yang berubah fungsi dari tujuan awalnya.

Muncul lah gaya hidup baru yang tidak sehat, dan jujur saya pernah mengalami hal seperti itu sebelum akhirnya saya taubat.. *tjurhat :D. Tapi yang kita mau selalu tidak merasa puas, lapar dengan like, komentar dan haus dengan segala pujian, persetujuan atau perhatian dari banyak orang kepada kita. Bener gak?

Topik ini saya angkat lantaran saya abis terhempas di sebuah group media sosial yang saya miliki. Jadi begindang..

Awalnya seekor teman mengirim fotonya sendiri ke group WhatsApp. Berfose dengan gaya andalannya menggengam smartphone seri teranyar, lengkap dengan kaca mata tembus pandang. Tangannya agak dikepal menunjukkan merk jam yang mahal itu.. seolah-olah mengisyaratkan "Hey, I'm in lho..!", "Gue happy donk!!", "Jangan anggap remeh gue!!".. *mungkin ya mungkin :)

Di bawah gambar dimuat caption yang terdiri dari beberapa perkawinan kata berbahasa inggris berohh!

Mulanya foto ini tak ada yang merespon. Melihat style mode on si kawan, akhirnya saya sedikit mengkoreksi.. “ini Begu (nama samaran) yang dulu ***** itu yakan?”

Pas saya berkomentar begitu, one by one temans pun pada nimprung keluar dari cangkangnya.. hehe. Ada yang bilang gini.. "Woii.. merapat!! Rico lagi turun gunung, habis bertapa!!" jreng.. jreng.. group itupun seperti di BOOM..saling sahut menyahuti.. ya ujung2nya bisa ditebak bercanda online dan bernostalgile.

Singkat cerita si Begu itu langsung telpon saya, seolah-olah dia berusaha menyakinkan saya bahwa dia bukanlah Begu yang dulu..

Begu : Hello.. Co loe masih hidup aje?
Saya : lah loe sendiri kenapa belum mati sih? *maaf bercandanya kelewatan :D

Obrolan awalnya ringan berubah jadi agak sedikit berat untuk direspon, karena sudah berhubungan dengan hal-hal berbau pribadi. Obrolan pun didominasi belio dengan kata-kata super. Seolah-olah mengkerdilkan keberadaan orang lain. Begitu bangga dan sombong atas pencapaiannya saat ini. Pokoknya jauh beda deh dengan Begu yang saya kenal sebelumnya.

Tanya jawab yang berubah menjadi saling meledek dan berujung acara nasihat menasihati pun tak terelakkan lagi. Saya sempat minta tabloitnya atau yang versi online gitu? Siapa tau yekan bisa ikutan gaya ala perlente. Eh ternyata gak punya..

Saat dia asyik ngemeng, saya diam sejenak.. lahlu, saya bilang "Apah? Hello, hello.. putus-putus suara lo".. tutt.. uttutt!! (telpon saya matiin) *Please child don't try this at home OK!. Saya memutuskan membiarkan belio menikmati dunianya.

Mengingat alegori bahasanya si Begu itu, seketika pikiran rasionalku memunculkan pertanyaan yang cukup menggelitik di otakku. Mau sampai kapan hidup penuh kepalsuan seperti itu?

Bagi saya, berkamuflase sama halnya dengan tindakan kejahatan. What?? Iya, berkamuflase artinya menipu diri, menipu diri sama halnya menjadi orang lain, menjadi orang lain sama halnya membunuh diri sendiri. Nah ini yang saya maksudkan tindakan kejahatan. Sehingga tak ada lagi minat mendekatkan diri ketika kepura2an bersetubuh dengan angin.

Akhir-akhir ini saya sudah mengambil jarak dari kaum mereka yang seperti itu, baik teman, saudara dan apapun itu.. muak! Setidaknya, ini adalah upaya untuk menjaga kebaikan yang terkadang begitu rapuh untuk dipertahankan.

So, untuk yang ngerasa aje..!

Jaman memang menuntut dan menawarkan lebih dari yang kita punya, Ia selalu pintar meminta dan merayu, namun jangan sampai candu. Berinteraksi dengan mengendalikan diri secara konsisten merupakan suatu yang tak terbeli dan tampil apa adanya udah lebih dari cukup.

Saya lihat kau tak kuat menjadi rajawali dan mungkin belum saatnya meroket menembus cakrawala. Ada kelemahan yang jelas malu-malu kau tutupi dalam diri, tapi tak pernah kau akui. Ketahuilah bahwa sesungguhnya perlu waktu untuk bisa terbang dengan sempurna.

Belum cukup kuat kepakmu, mungkin belum saatnya kau menyentuh awan. Tentu saja saya tak ada upaya mencegahmu terbang tinggi, lebih tinggi lagi seperti yang diidam-idamkan banyak orang. Tapi perhatikan kekuatan sayapmu. Untuk bisa terbang tinggi ada proses belajar.

Bukan maksud hati menggurui, kau memiliki lebih banyak dari yang saya miliki. Kesombongan dan tingkah polahmu, bahkan terminologi bahasamu mengisyaratkan begitu kalapnya kau menghadapi jaman, yang sebenernya dalam hati kau tolak habis-habisan. Adakalanya kau melihat orang disekitarmu, di atas langit ada langit berohh.

Gak usah kau munafik, sebagai anak kost filosofi hidup pertama yaitu bisa menahan lapar. Jatah makan manusia normal yang tiga kali sehari bisa kau reduksi menjadi sekali sehari demi style mode on ala perlente untuk kau pamerkan di media sosialmu (kau pasti penganut seperi itu bukan? Ehh :D). Sudahlah gak usah membuat dirimu menjadi yang bukan-bukan. Kau selalu lebih baik dari apapun dan siapapun di dunia persilatan ini.

Saya ingat saat kita ngopi ngobrol begitu jujur dan serius, begitu intim. Kau tunjukkan sisi kemanusiaanmu yang tak sempurna dan tak mungkin sempurna, kau nampakkan segala kelemahanmu dan kau muntahkan segala kegundahanmu. Dan itu yang membuat saya nyaman untuk bertukar pikiran, karena kau tidak menempatkan diri sebagai hakim – yang memponis orang yang belum tentu bersalah.

Catatan ini mungkin tidak akan mengubah dan tak akan menjadi apa-apa. Jika boleh berharap, biar hanya sedikit kau mau ngegubris. Karena ketika rasa bosen menghampiri dan tak ada lagi minat untuk berbincang, mendegar, menyapa bahkan berempati. Saya takut jika suatu saat hal itu terjadi dan kau membutuhkannya.

Masih banyak beroh, masih banyak dampak yang pengen saya ceritakan. Tapi lain kali aja karna perlu jeda untuk menganalisa dan berpikir sedikit tidak waras dengan kegilaan ini semua.

Sekali lagi saya menikmati media sosial kok... meskipun saya gak mengikuti semua trends. Saya juga gak merasa pinter cenderung paok. Saya masih awam dan masih butuh banyak pengalaman untuk ngomongin ini semua. Terserah sih, kau mau ngegubris atau tidak. Bodo amat!

Sedikit pesan moral dari penulis :

Ada baiknya kita memanfaatkan inteligen untung mengungkap fakta, terutama di era digital sekarang ini. Guna memetakan segala sesuatu dalam hidup sosial dinamis, agar kita tak mudah dikibuli. Karena terlalu banyak hal di alam semesta ini yang terlihat tidak sebagaimana ia semestinya terlihat.

Maaf kalau tulisan ini agak sedikit nge-gass.. sumfah eneg teing berhadapan sama manusia yang munafik, hobi berkamuflase.

Sekian dulu ya cuap-cuap bulsit saya hari ini, sampai berjumpa lagi di segmen selanjutnya..

Nite & GBU more… Bye!! :)

0 komentar:

Posting Komentar

1. Relevan (Tidak Out of Topic).
2. Sopan, jangan meninggalkan komentar SPAM di blog saya.
3. Jangan menggunakan bahasa kasar atau SARA.
4. Berilah masukan yang membangun kecerdasan berpikir.
Terima kasih atas perhatiannya!

 
;