Oh yes dear, pada nyadar nggak sii belakangan ini saya nggak update blog? Hmm, nggak ada ternyata! *bubarrrr* ^ _ ^
Walaupun nggak ada yang nanya, saya bakalan nekat ngasih tau kenapa saya belakangan ini kudet. Maklom, baru pindah kerja. Jadi sok sibuk!
Saya resmi dipindah dari bagian “Spare Box”. Saya sudah dimutasi ke sebuah kota terlengkap di timur Jekardah.
Saat ini saya stay di salah satu perusahaan yang ‘katanya’ berskala Internasional. OH YEAHH???
OK. Pencitraan doang, nih saya ceritain kebenarannya..
Jadi ceritanye *curhat dimulai*, ketika saya masih aktif ikatan dinas di bagian “Spare Box”. Saya dapat tawaran dari My Bos untuk bergabung di project yang katanya berskala Internasional ini.
Awalnya saya ogah–ogahan. Bukan karena di bagian “Spare Box” itu gajinya tumpeh–tumpeh kyak Rafi Ahmad.
Tapi karena setelah mengulik inpoh soal project yang katanya berskala Internasional ini, (((dengar–dengar))) sepertinya kurang sesuai dengan ekspektasi. ʘ‿ʘ
Seperti lagunya Doraemon lho sob (versi Sunda) : “Kuring mah hayang kieu, Kuring mah hayang kitu, Hayang kieu, hayang kitu sagala hayang..”. Manusiawi bukan?
Namun setelah saya pikir-pikir dengan seksama, akhirnya tawaran itu saya terima dengan lapang dada.
IYA, SAYA TERIMA!
Sebetulnya bisa saja saya tolak. Namun jika tawaran itu saya tolak dengan alesan tidak sesuai ekspektasi. Sepertinya saya terlalu egois bin naif, lebih mementingkan hak daripada kewajiban saya sebagai bawahan.
Saya ingat betul ucapan salah satu senior saya dulu. Belio bilang “Co kerja itu harus ikhlas, biar nanti gajinya juga jadi berkah. Sekarang mah banyak–banyakin nyari berkah”. Beuhh menohok!
Ketika mendengarkan nasehat belio tuh, saya langsung terbelalak. Rasanya saya kyak tertohok gimana gitu. Terhipnotis, tersugesti.. hehe. He’s absolutely right.
Ucapan itu sangat berfaedah dan sarat akan pesan moral. Kadang jabatan tinggi dan gaji gede juga percuma kalau tidak bisa menjadi berkah, apalagi tidak bermanfaat bagi sesama!
Kembali ke laptop! #EA!
Project yang katanya berskala Internasional ini, HO-nya ada di Jekardah. Namun cabangnya banyak sekali (Sabang–Merauke). Salah satunya di kota terlengkap penderitaannya di timur Jekardah.
Menariknya, kantor cabang yang berlokasi di timur Jekardah ini merupakan cabang terbesar di seluruh Indonesia (National Distribution Center). Bangga dikit boleh yah! *apanya yang mau dibanggain coba ^ _ ^
Saya nggak bisa sebut nama perusahaannya. Privasi dikit dong.. hehh. Singkat cerita perusahaan ini bergerak di bidang distributor produk farmasi, atau sebagai inovator di bidang pelayanan kesehatan (sedikit bocoran).
Layanannya mencakup distribusi, pemasaran dan penjualan, clinical reach, program farmasi, serta pelayanan yang berfokus pada kesehatan.
![]() |
Reaksi saya sewaktu pertama kali memasuki perusahaan ini adalah “wew.. !!”. Perusahaan dengan tipe bangunan yang tampil elegan dan mewah.
Sebetulnya ketika saya ditawarin untuk bergabung di project ini. Saya langsung googling mencari informasi dengan berbagai macam keyword. Mulai dari alamatnya, gajinya, owner-nya dari planet mana.. dsb, termasuk gedungnya gedee atau sekelas ruko.
Jadi alasan paling kuat kenapa saya menerima tawaran itu ya karena alasan terakhir itu sih. Ehe..
Sebagai karyawan yang sedang masa percobaan (bahasa kerennya masa probation). Kita dikasih kesempatan selama dua minggu ‘tandem’ untuk mempelajari jobdesk–nya (Sebodoh itu kah sampai dua minggu?).
Saya sempat kepikiran, dua minggu?? Jangan–jangan mau dijadikan kelinci percobaan buat bikin vaksin anti corona. Oh men, saya belum siap menjadi terkenal karena si coronce itu.
Umumlah yah! Agenda hari pertama adalah pengenalan perusahaan secara umum, penjelasan fasilitas, tata tertib, struktur organisasi, dll.
Tenyata pas masuk ke bagian yang lain dari perusahaan ini, saya dibikin melongok dan ngomong “wew.. weww!!” lagi. Ah stop it you..! 😁
Perusahaan ini dibangun di atas lahan kurlep 3500m dengan fasilitas memadai.
Walau isinya banyak banget banget bangetttt produk kesehatan (Oke lebay!). Tapi teteup keren, produk tersusun dengan rapi, higenis nyaris tanpa debu.
Ya, iyalahh namanya juga bidang farmasi. Kalau banyak oli mah itu bengkel, norak!! 🤭
![]() |
Efektif per tanggal 01 Agustus 2020, saya sudah terjadwal masuk di project yang katanya berskala internasional ini.
Sedikitpun tak ada yang saya takutkan, nggak takut kalau nggak bisa bergaul dengan orang baru. Nggak takut karena belum mengenal partner, team dan atasan baru disini. Lah saya mah aslinya supel sebetulnya.. hehe
Saya juga nggak terlalu kwatir kalau harus kembali belajar mulai dari awal. Nggak takut pada suatu hal yang belum pernah saya kerjakan di waktu sebelumnya. Justru saya menyukai suatu perubahan atau tantangan.
Omong - omong secara prosedural, nggak jauh beda dengan PT. GAC Samudera Logistik (Perusahaan tempat pertama kali saya terjun bebas dalam dunia kerja). Di sanalah saya mendapat banyak knowledge.
Jadi saya tak terlalu kewalahan untuk dipekerjakan di project yang katanya berskala internasional seperti ini.
Salah satu aturan menarik di sini, setiap kita memasuki area plan harus menggunakan APD lengkap. Jadi disitu masuk sudah harus terpasang dengan rapi, serta harus menggunakan ID card (akses).
Yang pasti “taking fhoto is frohabited”. Dilarang membawa henpon ke dalam area plan. Kecuali saat stock opname dan sudah ada ijin dari si user–nya. Jadi bagi yang suka main henpon saya sarankan jangan melamar ke sini.
Yass!! Tak terasa sudah sebulan saya bergabung di project yang katanya berskala Internasional ini *yaelah baru juga sebulan.. hehh*.
Tapi kalau mau dipikir–pikir, daripada saban hari harus mengeluh karena nggak sesuai ekspektasi. Saya coba petik hikmahnya, dari hal yang kecil dulu yah!
Jika ke project yang lama waktu tempuh bisa hampir 1 jam (kalau lancar), pasalnya jalur macet tentu saja intensitas rawan kecelakaan. Makanya dulu berangkat kerja itu waswas banget.
Selain itu di sana juga harus bayar parkir (Rp.3000), belum lagi kena bea cukai penyeberangan antar daerah Cikarang – Cibitung (Rp.1000). Kalau pulang–pergi? Hitung saja sendiri.
Meskipun saya bukan #AnakEkonomi yang #NggakMauRugi, tentu saja hal ini bisa jadi pertimbangan. 😁
Sedangkan project yang sekarang ini, gak terlalu jauh dari rumah. Kalau naik motor waktu tempuh sekitar 20-30 menit. Kalo merayap belum tau sih, belum saya cobain.
Biaya parkiran? Mau kerja bawa “Counteiner 1 x 40 fit” juga, gratis tis tis!
Mau nginep di kantor? Sok atuh, mau fitness?? Boleh.
Dari segi jam kerja? Yaps, disini kerja lebih manusiawi. Saat ini sih saya udah mulai enjoy. Selain itu, kerja disini bisa tenggo (disitu teng langsung go!). Kadang belum teng, udah go.. 😁
Kira-kira seperti itu!
Dari curhatan saya yang nggak jelas ini, saya hanya ingin berbagi pengalaman kepada para pembaca yang saat ini menjalani atau bernasib sama dengan saya. Mari kita jalani mutasi kerja dengan ihklas.
Udah ye gitu aja updatenya. Yang kerjanya udah nerapin new normal teteup dipatuhi ya protokol kesehatannya. Kayak Bosskuh yang itu dong, kalau kerja pake masker sama face shield. Monmaap itu tukang las ya?? Ehe..
Terima kasih ye sudah sudi untuk membaca tulisan ini!
See you on top..
Nite & GBU more. Bye..!!




- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact