Spare Box – Antara Gengsi dan Kebutuhan – Sebelum saya mulai cuap–cuap, apasii maksud tulisan ini. Saya mau ngaku dosa dulu dah!
Hampura kasadayana, kalau ternyata blog ini harus kembali ke kodratnya yaitu berisi konten placement curahan hati. Soalnya saya baru saja dapat hidayah dan saya ingin segera bertaubat. 😁
Jadi gini! Selama pandemi Kupit - 19, saya kerja udah berulangkali ganti posisi. Kalau saya jadi aktor drakor, saya pasti jadi idola cabe–cabean.
Kapan lagi coba punya aktor multitalent yang bisa memainkan skenario yang berbeda. Mulai dari jadi penonton, penonton bayaran, pemeran pengganti, pemeran utama, model, body guard, sampai jadi detective (detective conan.. hehh).
Keren..
![]() |
*Ilustarasi baru dirotasi ke bagian spare box.
Kenapa saya bilang begitu? Kebetulan terhitung mulai bulan Februari 2020, sejak putus cinta dari project lama. Saya dirotasi ke bagian “Spare Box”. Sejak itu pula kantor menerapkan social distancing atau #dirumahaja.
Namun meskipun social distancing [ Ketika kaum rebahan menjadi pahlawan ], bukan berarti saya rebahan terus #dirumahaja. Berhubung karena saya sudah terjadwal di kantor sebagai spesialis “Spare Box”. Itu artinya saya harus bisa mem–back up semua bidang (ahli di bidangnya tapi ya).
Kapan dan dimana pun diperlukan sesuai kebutuhan operasional. Kecuali hari sabtu - minggu dan tanggal merah, itu wajib “OFF”. Karena tanggal merah itu “haram” khususnya bagi spare box. Itu doang sih enaknya di bagian ini menurut saya.
Nggak enaknya? BANYAK!
Jadi kalau ada karyawan yang mau cuti, sakit, izin atau bahkan yang mau oplas ganti kelam*n. Itu menjadi urusan saya, di perusahaan yang berbeda lho yah. Saya harus meng-handle tugas mereka selama mereka belum kembali ke alamnya.
Di kantor bukan rahasia umum lagi, kalau di bagian spare box ini dijuluki kursi panas. Salah satu bagian yang agak menyebalkan. Mungkin bagi mereka yang belum terbiasa, bisa seperti “NERAKA”. Djujur! Bagi saya pribadi ini pilihan yang tak terelakkan sebetulnya ^ _ ^.
Kalau kata kids jaman now “Sakitnyahh tuh dih sinihh!” – semua kata diakhiri dengan huruf ‘h’. Dan dalam kasus ini, mungkin bagi sobat yang mengalami hal yang sama akan menjawab “Dih sinih jugahh”.
“Ohh sepertih ittuhh!”, kata si Boss sambil mengeluarkan SP (Surat Peringatan). “MAU JALAN ATAU TANDA TANGAN??” dengan nada suara badman.
Ucapan itu terngiang–ngiang di telinga, sampai nggak nafsu makan..
JALAN.
ATAU.
TANDA TANGAN.
((( MAU JALAN ATAU TANDA TANGAN!! )))
Oh GUSTI! Ini sungguh pilihan yang sulit. Bener-bener celaka dua belas. Pengin murka, lalu berubah menjadi makhluk hijau raksasa dan mulai menghancurkan kota.
Tapi nggak jadi..
Sebaiknya berdamai dulu dengan diri sendiri “antara gengsi dan kebutuhan”. So, cooling down.. 😎
![]() |
Finally, dengan tampang lusuh terpaksa berjalan menuju arah matahari terbenam, sambil nyanyi “Aku tak sanggup lagi, menerima derita ini..”. Sekip!!
Ini sudah saya alami sendiri. Sudah banyak teman yang menjadi korban hingga kena SP. Bahkan ada lho yang berujung resign ketika menduduki kursi panas ini (Selemah itu kah dengan kursi??).
Sekarang saya jadi paham, kenapa mereka lebih memilih resign ketimbang dirotasi kebagian spare box ini. Alesannya tak lain dan tak bukan, yaitu nggak kuat dengan aturan mainnya, tanggung jawabnya lumayan berat, belum lagi pressure dari atasan. Dan itu juga sudah saya rasakan.
Tapi ada juga sii yang resign karena udah dapat kerjaan baru atas referensi temannya yang sudah lebih dulu sukses. Intinya di bagian spare box ini kalau nggak kuat mental, bisa mati lah kau ferguso!!
Tak ada yang betah berlama–lama di bagian spare boxs ini. Kalau pun ada, mungkin mereka yang disebut sesuai passion kali yah?
Ah persetan dengan passion..
Kalau saya ditanya, apakah saya betah di bagian ini?? “TIDAK!!”. Saya TIDAK BETAH, tapi saya BUTUH! Kira–kira seperti itu maksud judul thread di atas, Spare Box - antara gengsi dan kebutuhan.
Sepengalaman saya terjadwal di bagian spare box ini, emang rasanya campur aduk kyak Matcha Espresso Fusion di Starbucks. Cuma bedanya, kalau Matcha Espresso Fusion itu merupakan campuran “Green Tea + Espresso + Susu”, jadi rasanya nikmat sekali.
Nah kalau di bagian spare box ini rasanya macam–macam, mulai dari manis, pahit, asem, kecut, sampai rasa ayam bawang. LOL
![]() |
*Ilustrasi setelah berbulan – bulan di bagian spare box.
Arghhh ini sih parah.. asli! 😄
Namun saya nggak mempermasalahkan hal itu. Saya punya prinsip tersendiri di bagian spare box ini, yaitu “Jika kau buang, maka kuambil”. No gengsi!
Saya ambil positifnya, yang penting pengalaman saya setidaknya bertambah. Saya sudah nggak kaget masuk di lingkungan baru. Saya bisa lebih memahami bagaimana cara menyesuaikan diri dan bergaul di lingkungan baru. Tentu saja memiliki banyak teman baru.
Bagaimana saya mempelajari setiap orang yang saya temui di kantor atau project yang berbeda. Bagaimana mekanisme kerja di masing–masing project tersebut. Bagaimana sifat dan watak manusianya, termasuk bagaimana sifat atasan di sana yang menurut saya masih ada “harga dirinya bisa dibeli seharga nasi uduk”.
Banyak kendala yang harus saya alami, dan beragam karakter yang harus saya hadapi. Ada yang begini, ada yang begitu.. ini–itu! Pokoknya mah ada–ada saja. Itu menjadi sebuah memori yang akan saya kenang kelak.
Tapi yang jelas dari pengalaman tersebut, di sini mental saya yang diasah habis - habisan. Ini semacam uji nyali atau makna lain dari menguji mental saya supaya bisa lebih kuat lagi. Mengingat di luar sana, masih banyak orang yang memiliki watak dan karakter yang berbeda.
Kemarin saya baru dapat e-mail dari HRD, bahwa minggu depan saya akan “Dimutasi” atau dipindahtugaskan alias di- ploting tetap ke Zimbabwe (Negara termiskin di dunia).
Saya belum tahu, apakah ini mau saya anggap kabar baik atau kabar buruk (Siapa tahu di Zimbabwe kursinya malah lebih panas.. hahh). Tapi yang pasti! Saya senang bisa dipindah dari bagian spare box ini, tanpa SP lho.. eh hampir deng!
Saya sungguh berterimakasih atas kesempatan baik ini dan saya selalu berupaya ikhlas menjalaninya. Jujur bagi saya pekerjaan ini sungguh seru, sangat seru layaknya seorang aktor di film film hollywood. Saya bebas dan punya akses kemanapun saya mau.
Saya berharap di tempat kerja yang baru nanti, atasan saya bijaksana. Objektif menilai dan adil terhadap sesuatu!
Yaps! Pemimpin yang bisa menjadikan anak buahnya sebagai sahabat, yang bisa memimpin dan menuntun anak buahnya ke jalan yang bener. Bukan menganggap anak buahnya sebagai anak bodoh yang tak bisa apa - apa. *boleh diaminin kok!
Sebagai pesan moral yang mungkin bisa saya sampaikan melalui kisah ini, khususnya bagi sobat yang sependeritaan.
✔️ Siapapun anda, apapun profesi anda dan di bidang apapun industri kerja anda. Cintailah pekerjaan anda! Udah gitu aja.. 😎
Kita harus bangga dengan pekerjaan yang kita geluti saat ini. Towh sementereng apapun pekerjaan orang lain, kita tidak makan dari sana.
Kalau kata Ucuber Jess No Limit mah..“Be Yourself and Never Surrender” ^ _ ^.
Oke! Ini hanya sepenggal kisah saya selama ikatan dinas di bagian Spare Box – Antara gengsi dan kebutuhan. Mungkin menurut sebagian pembaca pengalaman saya ini belum seberapa. Tapi ini sudah bisa saya jadikan pembelajaran, bahwa dalam hidup ini tak ada yang abadi.
Oh iya, di next konten saya akan membahas tentang Project Anyar!. Tunggu saja ya jam tayangnya. 😁
Sampai di sini dulu cuap – cuap malem ini. Semoga kalian sehat dan diberi kesehatan jasmani dan rohani. Amin. Terima kasih!
See you next time..
Nite & GBU more. Bye..!!




























- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact