Senin, 29 April 2019

Rumah idaman

Hup!! Triiiiing! I'm back! *haha

Hmm.. ada yang kangen gak yah? *NGGAAKK!! (dijawab berjamaah oleh pembaca).

Minggu lalu tuh niatnya mau mengudara sih, berhubung saya terlalu sibuk ama urusan real life jadinya gak sempat untuk menulis. #alesan klise!

Ya tapi emang bener loh! buat saya nge-blogging itu perlu konsentrasi tinggi, kalo gak konsen kan bisa berantakan dah tuh tulisan. #oalahh bilang aje males!

Okay terserah sih ya, yang jelas sekarang saya mau lanjut ke judul yaitu “Rumah idaman”, ya sedikit everything about me! 😁

Setiap orang emang punya target dalam menjalani hidup, betul? Begitupun saya dan kawan-kawan saya saat masih lucu-lucunya.

Suatu saat kami kumpul di kostan dan sharing berbagi cerita soal target masing-masing ke depannya.

Waktu itu mungkin masih terlalu prematur untuk mengobrolkan target setelah mendapat pekerjaan, apalagi bekerja sebagai buruh.

Kesuksesan itu ditandai dengan "memiliki" sesuatu, begitulah yang ada dalam kamus kami. Sebetulnya anggapan ini salah total, karena sukses bukan hanya dinilai dari materi.

But, no what what dong! Selama itu bisa jadi motivasi kami untuk semangat bekerja?

Sebagaimana yang diinginkan kaum adam, rata-rata teman saya ingin punya moge alias motor gede, ada juga yang ingin beli mobil, ada yang ingin ngebahagiain orang tua (mulia banget kan?), pokoknya macam-macam lah pikiran kami.

Anak muda memang pantas dan layak untuk bermimpi bukan?

Tapi saya berbeda dengan kawan yang lain. Saya ingin keliling dunia berohh, jadi keinginan untuk melancong kesana kemari, sementara saya tahan demi alasan menabung.

Namun salah satu temen dekat saya bilang gini “Co, kita kredit rumah aje yuk! Ya hitung-hitung invest”.

Setelah menimbang-nimbang pencerahan dari temen, saya berubah pikiran. Saya memutuskan ingin punya rumah. "Entah bagaimana itu caranya, tapi saya harus bisa" kira-kira seperti ittuh. Alhasil urusan keliling dunia pun gatot.

Muluk-muluk gak? Kalau kata beberapa teman yang lain, iya.. “ngimpi loe ya, gaji gak seberapa pingin punya rumah”, katanya..

Memang jika dipikir dengan logika, harga rumah tentu saja mahal bukan? Maksud saya untuk sekelas buruh ya.

Setidaknya untuk down payment rumah tipe 21/60 saja bisa lebih dari 25 jeti dengan cicilan sekian jeti selama sekian tahun. *itu dulu ya!

Dengan bekerja sebagai buruh yang akan membayar cicilan sekian jeti selama sekian tahun? Logikanya sih mustahil. Tapi tak apa lah, namanya juga target bisa tercapai bisa juga tidak.

Tapi ternyata ada jalan keluar dari lamunan saya ini. Pemerintah memiliki program rumah subsidi. Program rumah subsidi inilah yang saya manfaatkan untuk nyicil rumah.

Step awal, saya browsing untuk mencari tahu informasi kelebihan dan kelemahan program rumah subsidi dari pemerintah ini. Setelah browsing ke beberapa forum serta blog, ada beberapa hal yang bisa saya simpulkan.

Rumah subsidi ini hanya bisa dimiliki oleh pekerja dengan pendapatan pokok (gaji pokok) di bawah 4 juta rupiah. Tidak dalam kondisi tengah mencicil rumah di lokasi lainnya. Memiliki NPWP pribadi, dan masih banyak aturan-aturan yang cukup ribet untuk diikuti.

Poin ini saya maklumi karena pastinya agar program ini tepat sasaran. Masih banyak poin lainnya yang terlalu panjang untuk saya tulis.

Tapi syarat yang paling utama sebenarnya adalah pendapatan pokok tidak boleh lebih dari 4 juta rupiah. Senang dong, itu artinya syarat utama ini jelas bisa saya penuhi. *malah tjurhat 😁

Setelah meneguhkan hati untuk ikut dalam program rumah subsidi ini, step berikutnya yang saya lakukan adalah mencari lokasi dan develover yang terpercaya.

Saya kumpulkan brosur-brosur rumah subsidi, dan memang semua rumah subsidi itu lokasinya cukup jauh dari keramaian. Ini sempat membuat saya ragu sebenarnya. "Percuma murah, kalo jauh dari peradaban", pikir saya waktu itu.

Awalnya saya tertarik dengan salah satu pengembang di daerah Serang Baru – Cikarang Selatan (itu loh yang deket taman buaya).

Setelah saya pikir-pikir aksesnya cukup bikin amsyong. Serang Baru dulu belum sekota sekarang masih dusun banget deh. Ditambah dengan unit yang belum ready stock.

Setelah beberapa kali survei ke banyak lokasi, saya putuskan untuk membeli rumah subsidi di BCM Cikarang.

Pertimbangannya adalah lokasinya yang tidak begitu jauh dari peradaban, sumber air yang memadai (PDAM), lokasi yang potensial, rumah yang ready stock dan aksesnya dekat ke jalan raya. Itulah pertimbangan utama membuat saya yakin untuk mengambil rumah di daerah ini.

Setelah beberapa bulan dan proses akad, akhirnya deal. Saya mulai mencicil uang pembayaran pertama tadi yang jumlahnya sekian jeti.

Rumah mungil KPR RSSS (Rumah Sederhana Sangat Sempit Sekali Sehingga Santai Saja Susah.. dst)  itu resmi mulai saya cicil. Tidak sedikit teman saya yang menganggap bahwa uang DP tersebut saya dapatkan dari orang tua.

TIDAK!! TIDAK!! Ini adalah rumah saya dan saya tidak ingin (pantang) melibatkan orang tua dalam hal apapun. Apalagi masalah biaya.

Kenapa? Karena buat saya, ini adalah bagian dari harga diri. Punya rumah sendiri tanpa bantuan orang tua adalah sebuah kebanggaan tersendiri. Maaf ya bukan saya sombong, tapi ini masalahnya soal pride.

Lantas dari mana saya dapat uang DP itu? Ya gali lobang tutup lobang.. saya pikir bukan hanya saya yang seperti itu.

Bila penting kencangkan ikat pinggang. Demi rumah idaman, yes khan? Maka dengan segala penderitaan pun saya jabani demi terkumpulnya uang yang bisa menutupi biaya awal rumah tersebut.

Teman-teman suka bertanya, "Kenapa sih ngotot pengen beli rumah. Padahal kan bisa setelah nikah, apalagi rumahnya daerah terpencil gitu?".

Pertanyaan seperti ini saya suka bingung jawab apa. Saya sih bodo amat dengan ejekan "rumah di pinggiran " atau "rumah kurcaci (size super mini)”. Persetan you know!!

So, berdasarkan pengalaman saya, maka saya coba share apa saja yang perlu diperhatikan dalam mengikuti program rumah subsidi.

Siapa tau ada yang minat, daripada hidup nomaden sepanjang masa. Inpoh ini mutlak bener adanya, yok disimak!

Jika ingin membeli rumah subsidi kita harus pintar memilih developer ya gaes. Tidak boleh memilih sembarang developer, harus yang sudah berpengalaman membangun rumah subsidi.

Ada beberapa kasus di mana karena developer kekurangan modal akhirnya proyeknya mangkrak dan ujung-ujungnya didemo oleh pembeli yang sudah terlanjur memberi DP. Ngeri bukan? Makanya harus teliti.

Studi kasus lainnya, seperti yang dialami temen saya, dia cerita suatu hari mau ikut demo. Dia bilang, “Mau demo develover Co, gue ngajuin KPR tapi tanahnya itu masih sengketa, padahal udah masuk duit 12 jeti”, katanya.

Repot yakan udah ikut demo serikat pekerja demo perumahan pulak. Kapan bahagianya sih hidup demo mulu?

Selanjutnya! Pepatah "ada harga ada rupa" berlaku di sini. Pasalnya dari beberapa ulasan yang saya baca saat browsing, permasalahan utamanya adalah unsur kerapian rumah hasil bangunan pengembang.

Hal itu bener, makanya gak usah kaget KPR itu bangunannya menyedihkan. Sekali towel bisa runtuh..

Next, Program rumah subsidi memang diperuntukkan bagi masyarakat dengan pendapatan terbatas. Oleh karena itu uang tanda jadi (DP) pun dibuat serendah mungkin.

Saya sarankan jangan tertipu dengan gimmick di brosur yang menerangkan bahwa DP rumah subsidi hanya berkisar antara 10 hingga 20 jeti. Bahkan ada yang tanpa DP (?).

Memang benar sekitar segitulah uang DP untuk rumah subsidi, tapi jangan lupa ada biaya-biaya tidak terlihat yang mengekor di belakangnya.

Makanya kita dituntut lagi untuk bermatematika, masuk ke kalkulasi biaya. Karena hidup ini dipenuhi dengan biaya lain-lain. Yes khan?

Biaya itu di antaranya adalah biaya notaris, biaya perubahan izin Hak Guna Bangunan (HGB) ke Surat Hak Milik (SHM) kemudian ada beberapa biaya lainnya yang menyusul. Biaya materai puluhan lembar dan titik bengeknya.

Jika ditanya berapa total biaya di muka ini, jawabannya relatif, tergantung si develover.

Tapi untuk amannya kita setidaknya harus menyiapkan dana maksimal dua kali lipat dari harga DP di brosur untuk semua biaya sampai terima kunci.

Tujuannya agar tidak keteter nantinya setelah sempat bayar uang booking fee. Seperti yang saya alami, hampir nangis bombay gaes!

Mahal? Tidak juga sebenarnya. Karena jika dibandingkan dengan rumah komersil, biaya ini hanya sepertiganya saja.

Bayangkan dengan uang 30 juta, kita bisa mulai mencicil rumah dengan cicilan sekitar sejutaan lebih selama sekian tahun (tergantung owner maunya berapa lama). Lumayan terjangkau bukan?

Rumah adalah benda yang layak untuk dijadikan investasi. Semakin lama, harganya semakin naik dan memilikinya lebih cepat, lebih baik bukan? Opsi terburuk, kalo kita gak kuat nyicil ya over kredit.

Apalagi saya sering ingat dengan kata-kata bijakers yang mengatakan "Derajat tertinggi seorang lelaki adalah ketika ia bisa berinvestasi”.

Inilah yang juga memecut semangat saya untuk nyicil sebuah hunian. Ya you know lah BTN (Bayar Tapi Nyicil).

Tinggal di PMI (Pondok Mertua Indah) emang maknyos, tapi takutnya saking kemaknyosan malah dicampakkan ke laut.

Puji Tuhan dengan segala suka dan duka, diiringi dengan rasa syukur atas apa yang telah dan masih saya dapatkan saat ini sudah melebihi dari mimpi saya.

Bahkan target keliling dunia pun dikabulkan (keliling dunia pabrikasi maksudnya), di Mutasi sana sini.. hayo wae atuh. 😆

Sekian dulu cuap-cuap kita hari ini, sampai berjumpa lagi di segmen selanjutnya!

Nite & GBU more. Bye!!

2 komentar:

  1. Ardy_jar234Mei 18, 2019

    Nice info.. Bg bro area Bekasi ya? bales email gue dong, gue mau sharing. Please!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Udah boss! Maaf emailnya kesekip jauh.. :D

      Hapus

1. Relevan (Tidak Out of Topic).
2. Sopan, jangan meninggalkan komentar SPAM di blog saya.
3. Jangan menggunakan bahasa kasar atau SARA.
4. Berilah masukan yang membangun kecerdasan berpikir.
Terima kasih atas perhatiannya!

 
;