Senin, 06 Mei 2019

Review film : Children of Heaven

Selamat Menunaikan Ibadah Puasa..😎

Welcome may..!

Sekarang saya lagi kalem nih, stamina lagi di level satu. Jadi ngomongnya juga rada kalem. Sembari manjain body, saya coba buka folder di laptop. Saya menemukan sebuah film menarik untuk saya review. - NGOPI SADAYANA! 😎

Film ini dulu dikasih sama Markonah (nama samaran) saat masih aktif di sebuah entitas. Ternyata filmnya masih ke-save, selain saya bisa menonton ulang film ini saya juga bisa mengenang memori bersama Markonah wanita muslimah yang cantik jelita itu.

review-film-children-of-heaven
Children of Heaven
Okey yang mau saya bahas bukan si Markonah, tapi filmnya! Saya langsung saja ya..!

Sebagian orang mungkin sudah pernah menonton film “Children of Heaven”. Film ini dulu pernah dinominasikan dalam Academy Award sebagai film berbahasa asing terbaik. Meski film ini jadul, buat saya tak ada bosen menontonnya. Film ini juga mampu membuat saya terpukau, nyaris tak berkutik sedikitpun dari tempat duduk.

Alasannya? Karena ide cerita yang logis, menginspirasi, akting yang bagus. Selain itu, alur ceritanya yang sangat simple. Simple dalam arti tidak hanya durasinya yang singkat tetapi juga isi ceritanya yang mudah dipahami.

Berbanding terbalik dengan kanca perfilman Indonesia yang lebih cenderung menampilkan tema yang justru sudah membuat “ngeri” duluan. Seperti : Hantu puncak datang bulan, Kutang kuntilanak, Air terjun pengantin. What the fuck??

Bahkan tak jarang serial film di Indonesia membuat judul yang “membingungkan”, seperti : “Suamiku adalah suami dari kakak ibu tiri ayah kandungku”. “Norak”!!! Sama sekali tidak bernuansa edukatif.

Film Children of Heaven terkesan sederhana, tidak ada baku tembak, jambak-jambakan, peran antagonis, juga ugal-ugalan naik motor gede, kesurupan ataupun ledakan bom.

Dibandingkan kebanyakan film layar lebar Indonesia yang hanya mengumbar kekerasan, perselingkuhan dan seksual secara vulgar, mengekspos bagian tubuh hasil suntik silicon sampai terlihat mau pecah dengan pakaian super ketat lebih ketat dari lemper dibungkus daun pisang. (lagi-lagi saya harus membandingkan dengan film Indo yang memang tak ada perbandingan) #asli gak mutu!

Fenomena ini menarik perhatian saya untuk mengulas tentang film “Children Of Heaven”. Meskipun berkisah tentang kehidupan anak-anak, menurut saya film ini sangat bagus dan layak, bisa dinikmati oleh semua kalangan. Saya sangat merekomendasikan untuk ditonton oleh para orang tua juga anak-anak (bagi yang belum pernah menonton).

Film Children of Heaven sungguh sebuah film bermutu, mengharukan dan terkesan sekali. Tak hanya rasa iba dan kesedihan mendalam yang membuat saya terenyuh menyaksikan sepasang bintang cilik ini beraksi. Namun kelucuan dan keluguannya terkadang mampu membuat tertawa menontonnya.

Okey, bagi yang belum pernah nonton, mending simak yok sinopsisnya!

Sinopsis Singkat

review children of heaven
Ali & Zahra
Kisah sinema ini mengambil settingan dengan sosok bocah lelaki bernama Ali Mandegar dan mempunyai adik perempuannya Zahra dan seorang lagi masih bayi. Anak belasan tahun dari keluarga Karim ini hidupnya sangat sederhana yang tergolong keluarga miskin. Maklum, Karim ayahnya hanya seorang Marbot pengurus masjid di tempat tinggalnya. Kemiskinan itulah yang membuat titik persoalan di film yang berdurasi singkat ini.

Ali yang mendapat tugas dari sang ibu untuk membeli kentang di pasar, awalnya memperbaiki sepatu adiknya Zahra pada seorang tukang sol sepatu. Usai sepatu adiknya dijahit oleh tukang sol sepatu, lalu dibungkus pakai kantong plastik kresek dan meneruskan tugas dari ibundanya ke pasar sayur mayur.

Untuk memudahkan belanja yang dipesan ibunya, Ali menaruh sepasang sepatu butut yang tadi di kantong plastik kresek ke sela-sela tumpukan kotak kayu di bawah sisa barang dagangan. Sialnya sepatu butut tersebut selanjutnya terbawa oleh tukang sampah yang membersihkan lingkungan kios-kios.

Tak heran usai belanja kentang, Ali tidak menemukan sepatu adiknya yang disimpanya di sela-sela tumpukan kotak kayu dekat barang dagangan. Kalang kabut Ali mencarinya. Ia pun mencoba mengendap-endap mencari sepatu itu, namun penjual sayur mayur didekatnya menjadi terganggu dan melihat Ali seolah-olah ingin mencuri barang dagangannya. Ali pun diusir dan dikejar sehingga Anak malang itu lari tunggang langgang.

Sesampainya di rumah Ali menjadi cemas dan pucat pasi. Berulang kali Zahra adiknya menanyakan sepatu yang diperbaiki, namun Ali tak bergeming. Akhirnya dengan jujur ia katakan bahwa sepatunya hilang di pasar sayur. Saat itulah Zahra terlihat sangat sedih karena ia tidak memiliki sepatu lagi, karena memang hanya satu-satunya untuk Zahra ke sekolah.

Ali pun berusaha menghibur adiknya dengan memberikan pensil kesukaannya. Bahkan Ali memberikan pulpen bagus yang ia dapat dari penghargaan atas prestasinya sebagai murid terpandai. Tentu saja dengan catatan agar Zahra tidak memberitahukan orang tuanya kalau ia tak memiliki sepatu lagi.

Yang menarik di film ini, Zahra bergantian memakai sepatu butut satu-satunya milik Ali. Kebetulan Zahra sekolah pagi sedangkan Ali masuk siang.

Di tengah jalan keduanya selalu memakai sepatu tersebut bergantian. Tidak jarang Ali sering terlambat masuk sekolah. Apa daya, meski Ali pun sudah lari bak kijang, tidak terlambat merupakan hal yang mustahil. Ditegur dan diinterogasi guru jadi santapan sehari-hari. Bahkan pernah suatu saat Ali diusir Kepala Sekolah, meski kemudian dibantu seorang guru untuk bisa masuk kelas.

Celakanya, suatu hari sepatu Ali yang dipakai Zahra jatuh di sebuah got berair mengalir deras (maklum sepatunya Ali kegedean untuk ukuran Zahra). Dengan kalang kabut Zahra mengambil sepatu yang terbawa arus got. Namun beruntung masih ada orang yang mau menolong mengambilkan sepatu yang hanyut. Kendati akhirnya Zahra pulang kesiangan dan Ali terpaksa mendapat terguran keras di sekolah.

“Jangan sampai ayah tahu adikku, kita bergantian sepatu.” kata Ali

“Mengapa? Kan ayah bisa beli lagi?” jawab Zahra.

“Jangan. Ayah kita tidak punya uang. Kita orang miskin. Kasihan ayah, sudah kerja keras tetapi tetap tidak punya uang. Apalagi adik kita masih bayi. Dia perlu susu dan makanan tambahan.” Kata Ali

Ali bersusah payah meyakinkan adiknya agar tak perlu melaporkan pada ayah tentang sepatu adiknya yang hilang.

Kisah semakin mengharukan ketika Zahra berhasil menemukan sepatunya yang hilang ternyata dipakai anak lain. Namun, karena anak tersebut lebih miskin darinya, maka Zahra pun tak tega meminta sepatu itu kembali.

Karim sebagai ayahnya seorang marbot dan pekerja serabutan. Karim memang tidak mampu membahagiakan keluarganya. Namun sebagai seorang ayah dari tiga anaknya yang masih kecil Karim tetap semangat untuk bekerja.

Suatu ketika ia mengajak putranya Ali untuk melamar menjadi tukang kebun di kota dengan naik sepeda ontel keliling kota, di komplek perumahan elit. Lantaran digonggong anjing galak, keduanya harus lari tunggang langgang. Pada bagian ini banyak adegan lucu yang muncul. Sampai akhirnya Karim mendapat job sebagai tukang potong rumput dan menyirami kembang di sebuah rumah mewah.

Karim dan anak-anaknya Ali dan Zahra juga pernah melakoni memecah gumpalan gula putih untuk jamaah pengajian di masjid tempat tugasnya sebagai marbot. Pada bagian ini, terjadi dialog yang membuat saya salut ketika Zahra menyuguhkan teh yang terasa kurang manis untuk ayahnya.

children of heaven
:)
Sang ayah : “Zahra, kau tak membawa gulanya?”

Zahra: “Ayah tinggal mengambil gula di depan ayah.” (dijawab dengan lugu)

Sang ayah: “Ini milik masjid. Kita tidak boleh mengambilnya anakku!”.

Sebagai orang yang taat akan ajaran Agamanya ia selalu berharap memakan makanan yang halal dari uang hasil kerja kerasnya, dengan cara jujur dan tidak merugikan orang lain.

Singkat cerita, Gubernur mengadakan lomba maraton untuk anak sekolah seusia Ali. Awalnya dia tidak tertarik. Tetapi begitu melihat bahwa juara ketiga akan mendapatkan hadiah berupa sepatu, Ali memohon pada gurunya untuk diikutkan lomba. Niat Ali mengikuti lomba itu tak lain ingin meraih juara ketiga dengan iming-iming hadiah sepatu karet. Jika berhasil hadiah itu akan ia persembahkan buat adiknya tercinta Zahra.

Padahal, saat itu utusan sekolah sudah diputuskan melalui tes. Karena tak tega melihat Ali memohon sebegitunya, diujilah si Ali ini. Dan yups, lolos dong. Secara dia tiap hari lari terus ke sekolah supaya tidak terlambat.. hehe.

Film diakhiri dengan keikutsertaan Ali dalam lomba lari yang diadakan sekolahnya. Sayang seribu sayang, usaha keras Ali untuk memenangkan sepatu ternyata tak berhasil. Bukan karena kalah lomba, berkat kegigihannya Ali malahan berhasil meraih juara I. Itu artinya ia mendapat hadiah sepasang sepatu olah raga laki-laki, bukan sepatu karet untuk wanita. Ali malah sedih, Ia merasa gagal membahagiakan Zahra. :D

Berikut beberapa capture film Children of Heaven :)
#Scroll gambar (atas - bawah)

Capture Children of Heaven
review children of heaven film
Ali meyakinkan Zahra


Ali dinterogasi guru


children of heaven film
Dibantu guru yang lain


Komplek perumahan elit

review film children of heaven


Haus minum air keran :(

Test seleksi

Ali tergiur juga :)

Terus memohon :D

Senjata terakhir air mata

Ali senang bisa ikut lomba

Ali berjanji pada adiknya

:)

:)
Ngintip


Masih ada yang lebih miskin

Saat perlombaan :)
Ali gak kelihatan :D

Ali berharap juara 3

Eh malah juara 1..:D

Ali kecewa.. hihi

Ekspresi kemenangan :D

-THE END-

Film ini memang mengambil latar kemiskinan penduduk Iran, tapi bukan kemiskinan yang menye-menye alias cengeng. Menyimak film Children of Heaven, ada banyak pesan moral yang disampaikan, nilai dan pelajaran tentang kehidupan yang bisa dipetik. Seperti :

Bertanggung jawab

Kita belajar tentang bahwa tanggung jawab itu tak mengenal kaya-miskin atau besar-kecilnya suatu hal. Tanggung jawab adalah tanggung jawab. TITIK!! Itulah yang ditunjukkan sosok Ali pada adiknya, Zahra. Ali tidak sibuk mencari alasan atau hanya minta maaf begitu saja. Sampai dia berusaha mengikuti lomba lari maraton.

Berempati, ikhlas dan tidak egois

Sikap Zahra ketika melihat sepatunya dipakai oleh murid lain yang berekonomi lebih miskin darinya, mereka tidak meminta untuk dikembalikan. Mengajarkan kita untuk ikhlas dan berempati kepada sesama. Oleh sebab itu, jangan biarkan rasa mengasihani diri membuat kita jadi egois dan tak mempunyai empati pada kepentingan orang lain. Salut untuk orang-orang seperti Zahra!

Mandiri / tidak membebani Orang tua

Kakak beradik itu sepakat tidak memberitahu orang tuanya bahwa sepatu milik Zahra telah hilang menunjukkan bahwa mereka benar-benar tidak ingin membebani orangtuanya. Mereka sangat memahami keadaan orang tuanya. Tetap bertahan dengan satu sepatu untuk berdua yang dipakai secara bergantian.

Berbuat baik dan murah hati

Bahwa sekalipun hidup berkekurangan, tidak lantas menghentikan diri untuk berbuat baik. Sang ibu mengajarkan keteladanan untuk berbuat baik kepada tetangga dengan mengirimi makanan yang dimasaknya.

Jangan Serakah

Bahwa apa yang bukan menjadi hak kita tidak seharusnya diambil, meskipun hanya hal kecil. Seperti ketika ayah mereka dimintai tolong untuk memecah gula batu untuk acara di masjid di tempat dia bekerja sebagai marbot.

Sang ayah: “Ini milik masjid. Kita tidak boleh mengambilnya anakku!”.

Hal itu tidak dilakukan oleh Karim, meskipun gumpalan gula yang dipecah-pecah untuk konsumsi jamaah pengajian, terlihat banyak di depannya.

Woww! Coba bandingkan dengan para pemegang amanah di negeri kita, ampun deh, hehe

Bersyukur dan Tawakal

Belajar menerima keadaan yang ada, bahwa tak peduli seberapa besar penderitaan yang kita alami, selalu ada pihak lain yang sebenarnya lebih sengsara daripada kita. “Hei, kita bukanlah orang yang paling malang di dunia ini”. Keterbatasan ekonomi tidak lantas membuat mereka menjadi cengeng dan minta belas kasihan orang lain. Bukan sekedar miskin uang, namun kemiskinan di sini juga bisa mencakup defisit moral, harga diri, impian, semangat juang, atau hal lainnya.


Masih banyak lagi pelajaran yang dapat dipetik dari kisah sinema ini. Saya ingin mengakatakan untuk mereka anak-anak dalam kisah seperti ini mereka adalah anak-anak hebat dan luar biasa. So, benarlah kalau film ini berjudul “Anak-anak Surga”. Semoga kisah ini bisa menginspirasi kita semua. Terimakasih

Assalamu’alaikum! (Bahasa Arab)
atau
"Shalom Aleichem!" (Bahasa Ibrani).

Okey biar gak panik, kita pakai bahasa Ibu (B.Inggris) :
May the peace, mercy, and blessing of God be upon you.. :)

*** AHLAN WA SAHLAN ***

Sampai berjumpa lagi di segmen selanjutnya!
Nite & GBU more.. Bye!!!

2 komentar:

  1. Putri bungsuMei 18, 2019

    Aku udah nonton filmnya, sedih banget asli..nangis! Huh:(

    BalasHapus

1. Relevan (Tidak Out of Topic).
2. Sopan, jangan meninggalkan komentar SPAM di blog saya.
3. Jangan menggunakan bahasa kasar atau SARA.
4. Berilah masukan yang membangun kecerdasan berpikir.
Terima kasih atas perhatiannya!

 
;