Rabu, 30 September 2020

Sesuatu Yang Kusesali

Sesuatu yang kusesali – Ada sesuatu yang kusesali. Sesuatu yang telah kusia-siakan dan sudah tiada. Sebuah kisah buruk. Saya membuangnya begitu saja, Ia telah lenyap dan hilang.

Sudah lama saya hidup tanpanya, mulai dari menangis sampai lupa pernah memilikinya. Sesuatu yang kusesali..

Jalan setapak yang kulalui ternyata jalan yang salah. Sering tersandung oleh bebatuan.

Bangkit.. lalu tersandung, bangkit lagi dan terjatuh lagi. Begitu menyakitkan. Meski tak bisa saya tahan, sungguh saya tak tahu apa yang bisa dilakukan.

Entah berapa lama saya menahan rasa hampa, namun selama itu pula terdiam, hingga menjadi duri dalam daging. Sesuatu yang kusesali..

Manusiawi bila Ia pernah saya anggap segalanya. Namun pada akhirnya terbuang dengan cara menyedihkan. Berulang kali saya mengingatkan diri, namun tak mampu melawan arus.

Pada saat itu saya bener–bener kalap, saya hanya ingin memberikan reward ke diriku sendiri. Tapi ternyata saya tak mampu mengontrol diri. Sungguh di luar ekspektasi..

Seperti mimpi, segalanya yang terjadi di luar dugaan. Anggapanku keliru, mengharapkan keajaiban yang mustahil. Sesuatu yang kusesali..

Layaknya terjun bebas dari ketinggian 2000 mdpl tanpa parasut, jatuh ke tanah hancur berkeping–keping. Pikiran ini kacau, hidup jadi nggak tenang, tidur pun tidak nyenyak.

Menunggu dalam sebuah penantian panjang. Waktu pun merubah segalanya. Berharap akan bisa kembali seperti semula. Namun itu hanya sebuah ilusi. Sesuatu yang kusesali..

sesuatu-yang-kusesali

Saya tersadar bahwa tak mungkin saya mampu kembali memperbaikinya. Tak mungkin kugapai harapan, dan kembali merajut asa yang sudah pudar.

Kini segala kisah tercipta dalam kalbu yang terdalam. Bahkan luka saat kehilangannya yang dulu, belum sembuh dan telah membekas menjadi sebuah cerita.

Semua menjadi sia–sia. Karena kegagalanku di masa lalu, atau takdir yang memang sudah seharusnya begitu?

Inikah alasan Tuhan menciptakan semesta?

Terdiam dalam keheningan, meneteskan air mata. Mungkin saja anganku untuk menemukannya kembali, hanyalah doa yang tak pernah menjadi nyata.

Entah apa yang saya pikirkan dan apa yang saya lakukan, yang pasti orang–orang disekitarku penuh tanya. Ada apa denganku??

Lalu terdiam ...

Menyesal? Ya, saya rasa ada sesuatu yang kusesali. Ia sudah saya buang dan saya sia-siakan.

Tak sedikit kritikan, dan opini yang mereka lontarkan tanpa perasaan. Banyak nasehat tanpa solusi. Hal itu kadang membuatku merasa seperti manusia terburuk yang pernah ada.

Namun ketahuilah sodara, bahwa saya juga marah kepada diriku sendiri. Saya juga kecewa pada diriku sendiri. Bahkan saya pun berulangkali menghukum diriku sendiri.

Ada sesuatu yang kusesali, namun sesal itu pun serasa tak cukup. Nyesek rasanya! Syukur masih bisa waras untuk tidak mendahului kehendak Tuhan.

Saya menarik napas dalam- dalam dan berpikir lagi.. mengapa saya hidup, pasti ada rencana Tuhan yang telah di siapkan bagiku.

Alasan itu terkadang membuat saya semakin kuat ketika menghadapi segala sesuatu yang sedang terjadi.

Saya, seseorang yang selama ini selalu berada di zona nyamanku. Masih berharap semoga bisa tergantikan dan tak akan rela kulepaskan.

Wahai semangatku kembali lah dengan caramu, bersamaku dalam dekapan rindu. Saya Merindukan Ketenangan dan Kesenangan, merindukan lingkungan yang menghargai dan menyayangi saya.

Sesuatu yang kusesali yaitu sesuatu yang telah saya sia–siakan dan saya buang. Impian. Angan. Harapan.

Jika Ia datang kembali, masih pantaskan saya mendapatkannya? Masih sanggupkah saya memeluknya? Dimana rasa maluku saat menatapnya?

Apa saya nyerah? Tidak. Saya akan selalu berupaya menggapainya. Bagaimana? Entahlah, saya tak akan berhenti berharap. Tapi sekarang, tak boleh ada yang tau tentangnya atau kisahnya akan terulang.

Mulai sekarang akan kujaga meski harus kusembunyikan. Sesuatu yang kusesali. Sebuah hasrat. Sebuah cita.

Hmm, penyesalan memang jahat ya? Ia selalu datang di akhir. Andai saja waktu dapat diputar kembali, namun saya tak mau jatuh ke dalam lubang yang sama.

Memang di atas tanah di bawah langit tak ada yang sempurna. Dikala yang salah terlanjur diperbuat. Yang bisa kulakukan hanyalah berucap maaf. Seraya berterimakasih.

Tuhan telah menyadarkanku. Karena sudah memberiku pelajaran yang sangat berharga. Menyentilku agar menjadi seorang yang lebih baik kedepannya.

Hingga malam ini tiba, dengan merubah segala beban di pikiranku menjadi butiran–butiran yang lebih kecil. Goresan pena ini menjadi self reminder, sekaligus “janjiku” demi sesuatu yang kusesali.

Terima kasih sahabat. Semuanya berkat kisah yang kalian ukir di dinding maya. Setidaknya motivasi itu sudah membuka sedikit celah dibenak saya.

Djujur! Saya kagum akan kisah kalian. Meski belum semua saya baca. Saya iri. Saya malu.

Semoga masih diberi peluang untuk menyambut kembali kebahagiaan kelak. Hopeful .. 😇

Nite & GBU more. Bye..!!!

0 komentar:

Posting Komentar

1. Relevan (Tidak Out of Topic).
2. Sopan, jangan meninggalkan komentar SPAM di blog saya.
3. Jangan menggunakan bahasa kasar atau SARA.
4. Berilah masukan yang membangun kecerdasan berpikir.
Terima kasih atas perhatiannya!

 
;