Senin, 11 Februari 2019

OSB (Orang Selalu Benar)

Salam sejahtera untuk kita semua !!

Postingan ini merupakan lanjutan dari segmen “Katakan "adios" untuk hoax” yang kali ini bertajuk tentang ‘O.S.B (Orang Selalu Benar)’ yang disusun oleh Author : Rico Sihaloho alias penulis sendiri.

Langsung saja yak! - NGOPI SADAYANA! 😎

Seperti yang sudah kita ketahui bahwa Pilpres serentak akan digelar 17 April 2019 mendatang, dan KPU (Komisi Pemilihan Umum) menjadwalkan lima kali debat dalam kurun waktu Januari-April 2019. Debat Pilpres 2019 yang pertama telah digelar pada Kamis (17/01/19) bulan lalu. Ada yang gak nonton??

Rugi lho kalo gak nonton, agar gak salah pilih, demi masa depan Indonesia 5 tahun ke depan. *Ingat.. ingatt.. Tinggggg!!!*

Lalu bagaimana tanggapan Author melihat respon para pendukung kedua Paslon Capres dan Cawapres di sejagat raya saat ini yang membuat situasisasi semakin menggegerkan dan banyak mereka bereinkarnasi menjadi sosok OSB (Orang Selalu Bener).. check it out bossku !!!

Linimasa media sosial dibanjiri dengan ulasan tentang Pilpres. Opini-opini bijakers pun melumuri field komentar jejaring sosial. Saya perhatikan, tak sedikit teman-teman tetiba jadi politisi paling handal.

Padahal mereka hanyalah rakyat biasa, kamra, pegawai kantoran, ibu rumah tangga, Office boy, satpam, tukang taman, tukang ngutang (gak mampu bayar :D), tukang kredit yang tekor alias tumpur (kyak Om yang ittu!).

Kebanyakan dari “OSB” ini curhat tentang pandangannya terhadap kedua paslon capres-cawapres yang sudah memaparkan pencapaian dan memproklamirkan dirinya itu, masing-masing paslon punya kelebihan menurut pengakuaan kedua paslon itu. Salah satunya, ada yang bermain di Hight way (infrastruktur), ada juga yang mendaki gunung Mount Everest. Wow!!!

Sebagian netijen ada yang kemudian menjadi pengamat mahir, merasa menjadi timsus, sok-sok an menshare artikel dan menambahkan caption yang sok tahu dan sok bijak. Dan acap kali mereka menjustifikasi terhadap salah satu paslon. Bahkan sebagian lagi mereka seolah-olah ilmunya lebih hebat dari google, yang tugasnya menjelaskan sedetail mungkin, demi memenangkan paslon jagoan mereka.

Sayangnya, mereka seperti sedang memperjuangkan keselamatan bangsa ini, tapi ternyata di ending cerita nanti baru sadar bahwa semua yang terjadi hanya Imajinasi, resolusi omong kosong itu hanya terjadi di sekitar ekspetasinya saja alias gigit jari. Mengapa saya berasumsi demikian.. tunggu dulu! Justru itulah yang mau saya obrolkan.. :)

Memang masih banyak pendukung paslon yang santun. Yang tidak pernah terlibat perang mulut di media sosial dengan pendukung lawan. Yang tidak pernah peduli dengan retorika lawan dan lebih peduli pada visi misi yang diusung paslon jagoannya. Karena bagitu lah seharusnya.

Saya sendiri, sebagai seorang WNI yang menderita (wkwk..), pantang untuk ikut dalam politik praktis. Bukannya saya tidak menghargai sistem demokrasi di Indonesia tanah airku (tanah kusewa air kubeli.. :D). Justru ini lah cara saya lebih aware, kalo pun saya tidak bisa membantu setidaknya saya tidak membuat suasana malah tambah kacau. Saya berperan sebagai warga yang harus netral. Maksud saya, jangan memperkeruh situasi, kecuali situasu.. :D

Kadang saya sedih melihat mereka membenci sesuatu karena hal itu tidak sejalan dengan jalur pikiran mereka. Buruknya lagi sampai ada yang memaki-maki, ngamuk-ngamuk, sibuk kopar-kapir..dsb. Menyeramkan bukan? *tapi makasih lohhh, hal itu tak membuat saya ikut terguncang.. wkwk

Okeyy alesan mencolok alih-alih menyeret issu hitam SARA, hal itu sungguh menyedihkan dan memalukan. Apa tidak ada hal lain, yang lebih cerdas yang bisa diungkapkan? Mungkin cara ini masih mereka anggap ampuh untuk mengeksploitasi perilaku pemilih. Issu hitam SARA menjadi momok yang selalu digembar-gemborkan oleh mereka untuk menyerang pihak lawan.

Seringkali mereka merasa paling suci, merasa dihina, merasa dilecehkan, dan perasaan-perasaan lainnya yang selalu menghantui mereka. Sehingga mereka cepat sekali tersulut, tersungging, emosi, mengarahkan dan menggiring yang awam lainnya untuk ikutan marah-marah maju tak gentar membela yang bayar. Berani bacot di medsos, tapi tidak memperlihatkan indentitas aslinya dan bersembunyi dibelakang jabatan org lain.

Saya perlu ngemeng khusus soal ini, agar tidak ada yang salah paham. Kebenaran itu tidak dibangun dengan cara menyalahkan orang lain, Agama tidak butuh preman, dan Tuhan juga tidak butuh di-escort dengan Bodyguard. Selow aje kale bossku, ingatlah! bukan fakta yang membuktikan keburukan, tapi waktu.. kira-kira seperti ittu :)

Saya pikir jam terbang mereka ini sudah banyak, pikirannya semakin luas dan terbuka. Perlu kita ketahui, manusia tidak hidup dengan hanya agama ‘A’ di belahan bumi ini bahkan banyak yang tidak beragama (atheis). Lantas anda memperlakukan mereka dengan mendoktrin sebagai kafir dan tidak masuk surga?

Saya pikir Tuhan dalam agama yang saya yakini tak setega itu mendanggurhon (baca : mencampakkan) manusia ke dalam neraka hanya karena tidak menganut dan mempercayai agama Kristen dan ajarannya. Tuhan itu milik Universal sodara, jangan mempersempit kekuasaan Tuhan ya sodaraku yang tampan, yang ketje, yang suci dan mulia. :D

Sekip.. sekip.. skip!!!

Maksud saya disini kalo kita sudah punya pilihan satu diantara Paslon. Yaudah diem aje sii, gak usah banyak bacot dan mencari borok Paslon lain. Meskipun ada yang mewartakan A-Z balik lagi cara bersosial media yang cerdas. Nanti kalo sudah tiba tanggal mainnya, nah disitulah perlu hati-hati saat berada di bilik suara jangan sampai salah tusuk.

Perlu kita ketahui jua, kenapa saat pemilu harus masuk ke dalam bilik suara, kenapa gak di atas panggung? Fungsinya ya karena pencoblosan tersebut sifatnya rahasia/privasi, agar tak ada yang berantem lantaran beda pilihan. Jadi kalo anda sudah menggembar-gemborkan pilihan anda, apalagi ngajak berantem melulu. lantas apa dong fungsi bilik suara?? Wkwk..

Saya sangat bersyukur, karena Tuhan tidak memberikan saya sikap fanatik terhadap sesuatu (orang, barang, tokoh atau apapun itu). Jadi “sesuatu” itu tidak akan membutakan pandangan saya.

Hati-hati lho.. katanya fanatisme itu dipenuhi dengan sakit hati dan dengki gaes! Makanya saya tak mau menghabiskan energi dan waktu untuk hal-hal yang tak memberi pengaruh besar dalam hidup saya. Sebagai studi kasus ;

Di Pilgub DKI 2016, saya tak berkoar-koar siapa pun untuk jadi pemenang. Dalam hati ada sih resep terhadap satu Paslon, tapi tak membuat saya mempublikasikan di media sosial. Lagian ngapain saya repot-repot nyinyir, orang saya bukan warga DKI ini. Saya kan tinggal di planet Bekasi jaya raya yang saya cintai ini.

Saya keep aje dalam hati. Kenapa why? Karena because, saya tau, di sosial media yang saya miliki, teman-teman saya terbagi dalam dua kubu pendukung. Yang satu mendukung Paslon ini, satunya lagi mendukung Paslon itu.

Dan karena pada dasarnya saya ditakdirkan jadi orang baik.. (Essehh! :D) Saya lebih memilih diam. Saya tak mau menyakiti hati siapa pun. Saya tak akan menjelekkan satu Paslon hanya untuk menyenangkan perasaan saya sendiri, sementara di luar sana ada banyak teman yang membaca status saya, dan akan merasa sakit hati jika paslon dukungan mereka direndahkan. Bukan begitu Ferguso?!

Studi kasus berikutnya, bukannya saya tak tau.. tak sedikit teman yang sejak Presiden periode 2014 lalu terpilih, hingga saat ini kerjanya masih nyinyir dengan kritikan negatif. Gak usah jauh-jauh bisa disaksikan yang viral saat ini sampai diringkus sama Aparat. Terkait menyebarkan berita hoax, ujaran kebencian, baik yang keluar dari congornya ataupun di tulisannya.

Saya??? Bicara Politik!! No.. !!!

Saya tergolong memiliki kehidupan yang datar-datar saja, yang tak punya kapasitas bicara tentang politik. Saya menikmati waktu lebih banyak ngopi, karena bagi saya ngopi itu merupakan kenikmatan yang kaqiqi.. wkwk, tanpa harus berdebat tentang siapa yang benar, siapa yang lebih baik, dan siapa yang menang.

Saya akan ucapkan congrat buat siapapun yang terpilih nanti, semoga bisa menjalankan amanahnya sebagai pemimpin di Indonesia tercinta ini. Berharap Indonesia lebih baik lagi. Semoga tak ada lagi status kebencian dan provokasi.

Bukankah hidup itu mesti indah??

Selama kita masih bisa bekerja dapat upah, bisa berdikari, woles aje. Siapa pun presidennya toh sarapan saya masih nasi uduk + telur, kadang pake tongkol sama pete/semur jengkol, atau sesekali soto super pedas, bahkan kadang nasi doang.. sedih!! Wkwk..

So..! Dear, para pendukung yang fanatik terhadap salah satu paslon, sedikit saran dari saya :

“Kalau anda alergi makan siput, cari makanan unggas!” atau “Kalau anda suka pedas tapi gak bisa makan pake sambel, Yok kita makan pake lada! ” Simple kan?? :D

Pesan moral :

● Hindari berdebat dengan orang yang tidak menguasai data permasalahan, dan ilmu, sebab bila mental kita masih lemah maka hanya emosi dan permusuhan yang kita dapat. Berdebat untuk sesuatu yang tidak perlu diperebutkan kebenarannya hanya akan menguras energi yang sia-sia. Ada saatnya kita diam untuk menghindari/mengakhiri perdebatan yang tidak perlu.

● Diam bukan berarti kalah, menang juga bukan hal yang luar biasa apalagi menang lawan orang bodoh. Karena pemenang sejati adalah orang yang mampu menklukkan egonya sendiri. Sebelum berdamai dengan orang lain, sebaiknya berdamailah dulu dengan diri sendiri.

Begitu aje dulu curhatan saya malem ini, sampai berjumpa lagi di segmen selanjutnya!!

Selamat malam! GBU more and Anneyong..! :)

0 komentar:

Posting Komentar

1. Relevan (Tidak Out of Topic).
2. Sopan, jangan meninggalkan komentar SPAM di blog saya.
3. Jangan menggunakan bahasa kasar atau SARA.
4. Berilah masukan yang membangun kecerdasan berpikir.
Terima kasih atas perhatiannya!

 
;