Senin, 04 Februari 2019

Katakan "adios" untuk hoax

Selamat malam gaes, salam sejahtera untuk kita semua!!

Dari siang hujannya awet bet berohh kyak pake formalin, jadi ceritanya saat mau pulang petang tadi menepi sebentar di warkop pinggir jalan. - NGOPI SADAYANA! 😎


Pengertian_clickbait_atau_umpan_balik
Senja di BCM :)
Loh dari sore, kok malam baru mengudara? Iya ya dipersorry gaes, soalnya kan perlu juga ada jeda untuk menganalisa dan berpikir sedikit terkait topik yang mau saya bahas ini. *ada aje alesannye :D

Baik, kali ini saya mau bahas tentang Inet dan orang-orang yang begitu konsumtif terhadap Inet. Terutama orang-orang yang begitu awam dan mudah terhasut isu dari Inet. (Asyikkk nih si rico mulai sotoi”nya keluar) hahah.. saya langsung aje ya!

Secangkir kopi hitam dan ditemani berita terkini yang dimuat di koran langganan, sembari angkat kaki sebelah, merupakan tipikal para pembaca berita zaman dulu. Saat itu surat kabar menjadi media sumber informasi terpercaya.

Namun seiring perkembangan teknologi, basis informasi beralih dari media kertas ke media digital, alhasil dampak positifnya kita dapat mengakses berita lebih cepat, kapan pun dan dimana pun dalam hitungan detik. Bahkan belakangan ini informasi media internet seperti menjadi pasar tumpah. Satu berita bisa menimbulkan beragam cerita.. bener gak?

Nah menyikapi situasi demikian, kita harus cerdas dalam membaca, terutama dalam membaca berita yang kemunculannya kadang tanpa harus kita cari, tiba-tiba datang notifikasi lewat aplikasi yang kita miliki. Seperti : Facebook, Whatsapp, Email, Esemes dan sebagainya.

Saya monitor, Indonesian people saat ini banyak netizen diterjang "Inet sickness" terutama mereka yang awam (buta inet), dimana sipenerima informasi cepat tersulut dan terlalu bodoh. Berita tersebut langsung di-share ke publik tanpa difilter bagaimana ke absahan/ statusisasi artikel tersebut.

Sepertinya jari netizen lebih cepat dari cara berpikir mereka. Maksud saya, buat sebagian netizen dalam menyikapi sebuah berita atau apalah yang suka ada kolom komentar, dia suka mengisi komentar mereka tanpa berpikir panjang. Hanya mengikuti ego dan jari-jari mereka.

Teknologi internet yang seyogyanya bisa di manfaatkan untuk mendapat kucuran informasi atau sarana bertukar informasi secara militan, malah menjadi medan pertempuran sengit saling caci-maki di dunia maya.. menyedihkan bukan? :D

Maksud saya disini cerdas membaca itu, bagaimana menela’ah informasi yang kita terima dan memiliki kemampuan untuk menilai apakah berita itu murni (objektif) atau subjektif atau justru tampak objektif namun kontennya mengandung maksud-maksud terselubung dengan nuansa unsur propaganda (negatif). Jangan nanti kita kemakan hoax dan malah menjadi bagian yang memviralkannya dengan sejumlah share ke media sosial yang kita punya.

Sebetulnya hal ini tidak terlepas dari ilmu Teknologi Informasi Komputer yang dirancang orang-orang ahli dibidangnya. Sayangnya banyak orang menyalagunakan keahliannya tersebut demi kepentingan kelompok atau pribadi demi uang.. uang dan uang!! Tanpa peduli resiko dari talenta yang disalahgunakan tersebut. Sehingga berdampak negatif, membuat kebenaran yang telah dirajut indah berubah menjadi hoax yang mampu mempengaruhi para pembaca.

Oh iya, sebelum saya mengoceh panjang lebar, sebelumnya saya minta maaf untuk kaum expert di lapak ini. Ilmu saya mungkin kurang mumpuni untuk menjelaskan hal ini lebih kompleks. Tapi izinkan saya untuk menumpahkan sedikit pemikiran saya dari sedikit sisa-sisa brainstorming yang saya miliki. Dan bila ada yang kurang betul, tolong dibantu saran di field komentar ya senior :)

Baik, pernah kah mendengar seorang penulis bisa menjadi Miliarder? Saya awalnya tak percaya akan hal tersebut bagaimana bisa orang yang hanya menulis online bisa dapat honor yang lumayan menggiurkan. Apalagi terkait artikel hoax! Tetapi ketidakpercayaan saya itu terpatahkan ketika saya menyelami ilmu di samudera yang luas terkait informasi teknologi. Sehingga saya dapat sedikit pencerahan.. :D

Supaya pembaca yang mungkin belum paham dapat mengikuti maksud tulisan saya (yang udah paham diam aje ya.. ngopi kita!). Faktor yang perlu kita ketahui, darimana sumber honor si Miliarder tadi?

Jadi begindang ya gaes, dalam dunia perinternetan ada istilah "clickbait". Apa itu clickbait? Mari kita meluncur naik baling-baling doraemon langsung ke tekape, hehe. caranya ketik "clickbait" di google kesayangan anda, maka kita akan dapat defenisinya dari sumber terpercaya dan akurat, yang dimuat di "Wikipedia" :

“Umpan klik (clickbait) adalah suatu istilah peyoratif yang merujuk kepada konten web  yang ditujukan untuk mendapatkan penghasilan iklan daring, terutama dengan mengorbankan kualitas atau akurasi, dengan bergantung kepada tajuk sensasional atau gambar mini yang menarik mata guna mengundang klik-tayang  (click-through) dan mendorong penerusan bahan tersebut melalui jejaring sosial daring. Tajuk umpan klik umumnya bertujuan untuk mengeksploitasi "kesenjangan keingintahuan" (curiosity gap) dengan hanya memberi informasi yang cukup membuat pembaca penasaran ingin tahu, tetapi tidak cukup untuk memenuhi rasa ingin tahu tersebut tanpa mengklik pada tautan atau pranala yang diberikan.”

*Scroll aje ya, saya transkrip secara utuh :)

Gimana gaes...paham?? Kalo gak paham jangan langsung panik, justru inilah topik yang mau saya oprek-oprek..

Yaps!! coba kita tengok media-media daring di internet, seperti Kompas.com, Merdeka.com. Tempo.co, Tirto.id, Tribunnews.com, Detik.Com, Kapanlagi.Com, dan sejenisnya.

Q : Apa persamaan mereka?
A : Sama-sama media yang menyajikan berita! *86 betul.. betul banget!! Cakeeeeeeeep!!

Situs-situs (media massa) tersebut dan para jurnalisnya bekerja keras menyajikan berita bagi para pembaca. Berita dan artikel tersebut diperoleh melalui peliputan serta pencarian data-data, dan dokumentasi. Bahkan, tak jarang para jurnalis mengorbankan jiwa raga hanya untuk dapat menyajikan berita di hadapan pembaca. Artinya, agar situs mereka tetap beroperasi dan dapat terus eksis semakin dipercaya oleh pembaca.

Tentunya perusahaan pemilik masing-masing situs harus membayar biaya operasional situs (menggaji para pekerja, membayar biaya server, hosting, dll). Untuk mendapat pemasukan, situs tersebut memasang iklan komersial dengan tujuan untuk memperoleh profit/keuntungan.

Umumnya ya umumnya, situs di internet mendapat pemasukan melalui iklan komersial. Iklan tersebut boleh kita tengok berbentuk banner yang terpasang di sisi (kanan/kiri-atas/bawah) artikel dan bahkan ada yang ditengah/diantara konten. Iklan-iklan itulah yang memberi pemasukan pada masing-masing situs, hingga dapat membayar biaya operasional. Tentu saja masing-masing perusahaan pemilik situs juga ingin mendapat profit (semakin besar semakin bagus).

Terkait iklan yang terpasang, ada beragam pembayaran yang diperoleh situs. Dua yang paling populer adalah “bayar per tampilan” dan “bayar per klik”. Artinya, semakin banyak halaman situs yang dibuka pengunjung, situs akan memperoleh bayaran (dari si pemasang iklan). Atau, jika ada pengunjung situs yang mengklik iklan, semakin besar pula bayaran yang mereka terima.

Okay kita stop dulu disitu, sekarang udah paham kan sumber honornya si Miliarder tadi darimana??

Yok kita lanjoot!! dari situlah dimulai cikal bakal "clickbait". Tak cukup stuck disitu aje, mereka pun gak kehabisan akal dan bertanya-tanya, “gimana caranya agar pemasukan dari iklan bisa sebesar mungkin?”

Bagi media yang memiliki integritas, pertanyaan itu memicu mereka untuk berpikir kreatif. Hasilnya, mereka menyajikan konten atau artikel yang lebih baik dari rata-rata situs lain, atau memperbanyak artikel dengan cara positif, sehingga pengunjung mendapat lebih banyak bacaan. Mereka menyajikan berita secara objektif sesuai kaidah tugas jurnalis pada umumnya. Finaly, terjadilah simbiosis mutualisme yang mana pengunjung senang, pemilik situs juga untung.

Sebaliknya, bagi media yang tidak berintegritas, mereka juga gak kalah “kreatif”. Sama-sama kreatif, tapi dalam tanda kutip. Biasanya, yang mereka lakukan adalah membuat judul-judul bombastis yang tidak relevan (judul tidak nyambung dengan isi berita). Berusaha menggiring opini pembaca yang masih awam. Dibumbui dengan isu yang menyeret SARA.

Mereka sengaja membuat judul berita yang memancing emosi, membuat bagaimana si pembaca berita tersebut terpancing untuk bernyinyir ria. Hal tersebut dilakukan dengan merekayasa sesuatu, menarik perhatian, membuat kekacauan atau fitnah, ujaran kebencian, serta melakukan sesuatu untuk menutupi pandangan pembaca. Padahal antara judul dan isi berita jelas-jelas tidak relevan sama sekali. Pernah gak menemukan berita sekamfrett itu?

Judul-judul yang tidak relevan, itulah yang disebut "clickbait"! Tujuannya agar pembaca penasaran, lalu mengklik tautan berita yang disajikan. Tapi situs bersangkutan tidak mau tahu. Bagi mereka, yang penting pembaca mengklik tautan yang mereka sodorkan. Mereka haus akan klikan demi bayaran. Soal pembaca puas atau tidak, bodo amat! Yang penting situs mereka dikunjungi, artikel mereka dibaca dan persetan denganmu !

Sudah mulai paham yang disebut "clickbait" ?? *bentar ya saya mau seruput kopi heula.. :D

Want to know? seperti apa judul yang tergolong clickbait? Okeyy, judulnya biasanya ditandai dengan kata sifat yang subjektif dari si penulis berita. Hal ini menunjukkan kalo situs tersebut tidak “berintegritas” yang seharusnya penulis bersifat Objektif. Misal :

Menyedihkan! Kucing garong ini.. bla bla bla
Mengharukan, Ternyata keong racun ini.. bla bla bla
Ironis, Sepasang tomkat menempel di celana dalam pak Rt.. bla bla
Miris! Beginilah si kamfrett setelah pindah agama.. bla bla bla

Setahu saya wartawan hanya bertugas mewartakan. Soal apakah isi beritanya menyedihkan, mengharukan, ironis, miris, dll, itu hak pembaca untuk menilai dan menentukan.

Seharusnya tidak perlu memasukkan opini ke dalam judul. Karena salah satu kode etik wartawan adalah objektif. Sementara judul-judul di atas justru subjektif, karena memasukkan opini. Dalam konteks pemberitaan media daring, praktik semacam itu bisa digolongkan “clickbait”.

Yang lebih nge-fuck and the ngehek, ada judul-judul yang sangat kamfrett. Biasanya, judul sangat panjang, diakhiri kalimat sok tahu. Misal:

Inilah 10 hal yang dlakukan buaya betina saat sendirian di kamar, nomor 7 akan membuatmu lari ke toilet dan menabrak wastafel lalu mati!

Judul keparat apa itu? Okelah, orang mungkin bisa menulis tentang “10 hal yang dilakukan buaya betina saat sendirian di kamar”. Itu ilmiah dan logikanya masih bisa diterima nalar. Tapi siapa yang bisa menjamin bahwa “nomor 7 akan membuatmu lari ke toilet dan menabrak wastafel lalu mati! Wkwk..

Next, selain judul yang tidak relevan, praktik curang alias kamfretoss yang juga dilakukan sebagian situs berita di internet adalah “memecah satu artikel dalam beberapa halaman” padahal berita itu relatif pendek. Berusaha membesar-besarkan berita, menipu dengan menggunakan/meminjam pernyataan orang lain tanpa ada bukti-bukti yang akurat.

Memang saya paham maksud mereka, kendala suatu tulisan yang terlalu panjang bisa mengganggu kenyamanan pembaca artinya pembaca harus melakukan scroll berkali-kali untuk membaca artikel seutuhnya. Artikel yang sangat panjang juga bisa membuat proses loading tidak lancar, khususnya jika situs bersangkutan menggunakan server yang tidak bagus ya. Ngemeng-ngemeng, ini lah alesan saya membuat tulisan saya bersegmen-segmen loh.. Skip!! :D

Sebetulnya untuk mengantisipasi hal semacam itu, Hal ini juga dilakukan situs yang memiliki integritas berpikir untuk memecah artikel panjang menjadi 1 - 3 halaman. Dalam hal ini, bisa dibilang no problemo dan saya menghargai itikad baik situs bersangkutan yang memang bertujuan membuat pengunjung nyaman, baik saat membuka halaman, maupun saat membaca artikel bersangkutan.

Tetapi, situs yang tidak berintegritas benar-benar kamfrett berohh! Mereka memecah artikel hingga beberapa halaman, tapi bukan bertujuan membuat pengunjung nyaman, tapi justru membuat pengunjung tidak nyaman!

Tak jarang saya menjumpai berita di suatu situs, yang memuat artikel pendek tapi dipecah hingga beberapa halaman. Padahal, artikel itu sangat pendek hingga masing-masing halaman hanya memuat satu atau dua paragraf! Itu benar-benar parah! Yang lebih parah, berita yang dipecah dalam beberapa halaman itu tidak penting-penting amat dan biasanya hanya berita yang sekadar membuat pembaca penasaran! Biasanya saya langsung leave off post. Asli gak mutu! :D

Dalam konteks yang sedang saya obrolkan disini yaitu situs yang tidak berintegritas. Praktik memecah satu artikel pendek dalam beberapa halaman semacam itu disebut clickbait. Yaitu upaya “memaksa” pengunjung/pembaca untuk terus melakukan klik dan klik, yang tujuannya keuntungan bagi situs bersangkutan. Rata-rata situs yang melakukan praktik curang alias kamfrett semacam itu biasanya memiliki iklan sangat banyak, hingga satu klik membutuhkan waktu loading lama, akibat banyaknya iklan.

Well, sekarang sudah paham dong gimana sebagian media sengaja “memanipulasi” pembaca melalui (judul-judul) berita yang mereka sajikan dan apa yang disebut "clickbait" ?? Itulah kenapa menyikapi praktik semacam itu kita harus cerdas bersosial media. Agar si pembaca sadar akan tujuan si Penulis kamfrett itu.

Penulis kamfrett yang saya maksud disini yaitu penulis yang gagal jadi Miliarder itu, menulis dengan membalikan fakta, menyebarkan berita hoax dan ujaran-ujaran kebencian di tulisannya.

Baiklah diakhir postingan ini, mari kita cerdas bersosial media. Jangan sampai dunia semakin terbalik karena berita-berita dari media yang tidak berintegrasi (tidak kredible) terus bermunculan, untuk saat ini dan selamanya pastikan mengucapkan "adios" atau selamat tinggal untuk hoax!

Sekian dulu cuap-cuap saya malam ini, sampai berjumpa lagi di segmen selanjutnya..!

Nite and God bless you more.. Bye!!!

0 komentar:

Posting Komentar

1. Relevan (Tidak Out of Topic).
2. Sopan, jangan meninggalkan komentar SPAM di blog saya.
3. Jangan menggunakan bahasa kasar atau SARA.
4. Berilah masukan yang membangun kecerdasan berpikir.
Terima kasih atas perhatiannya!

 
;