Hasian, Cepatlah Sembuh – Entah mengapa malam ini aku memikirkan keadaanmu. Apa malam yang hening tanpa kehadiran segelas kopi hitam selalu mampu menggugah pikiran?
Entahlah, aku sendiri tak terlalu tahu dan tak ingin mencari tahu. Dan itu nggak penting!
Hasian, menerima kabar tentangmu beberapa hari lalu sebenarnya cukup membuatku shock! Ternyata sungguh berbanding terbalik 180° dari yang pernah saya bayangkan sebelumnya.
Hatiku hancur lebur. Badanku rasanya tak berdaya, tulangku rapuh, dengkulku serasa copot, mulutku bungkam tak mampu berucap apa-apa. Aku merasa bersalah padamu!
Hasian, cepatlah sembuh..
Aku teringat semua kisah kita dulu, cerita di masa mudamu dan masa kecilku. Bagaimana kau memperlakukanku, begitu sayangnya kau padaku.
Kau gendong aku kemana kau pergi, dan kadang kau panggul aku di pundakmu. Kau membawaku pergi sambil berlari, aku tertawa cekikikan sambil memelukmu sangat erat.
![]() |
Bayangan itu bukan lagi samar, namun sangat jelas dan tak akan pernah hilang dari ingatanku.
Hasian, bukan aku tak perduli denganmu. Jangan kau berpikir demikian. Apa yang kau rasakan bisa kurasakan. Bukankah aku darah dagingmu? Bukankah kita berasal dari titisan yang sama? Bahkan jantung kita pun berdegup seirama.
Hasian, aku juga sama sepertimu yang tak punya keahlian apa-apa, yang hidup apa adanya. Kadang aku juga berpikir, kau menurunkannya terlampau banyak kepadaku.
Lantas, apakah aku menyesal menjadi anakmu? TIDAK!
Justru itu membuatku semakin bersyukur. Bersyukur bisa menjadi pribadi yang mirip, atau setidaknya tidak jauh sepertimu. Seperti kata pepatah yang mengatakan, “Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya”.
Aku sangat beruntung dan bangga memiliki bapak yang baik sepertimu. Aku sangat bersyukur bisa akrab denganmu, tidak seperti kebanyakan hubungan antara bapak dan anak di luar sana.
Bagiku, kau sebagai bapak sekaligus sahabat. Bahkan aku jauh lebih nyaman berbicara denganmu dan ibu dibanding siapa pun itu.
Akhir-akhir ini aku lebih banyak diam, tak ada sedikitpun niatku untuk membuatmu kecewa. Hanya saja aku sadar kesalahanku terlalu banyak, sikapku terlalu sombong dan terkadang aku melawanmu. Sesungguhnya hatiku menangis bila tak bicara denganmu.
Hasian, perlu kau ketahui. Setiap kali aku menikmati makanan enak di sini, ya di rantau ini. Sebelum kulahap, tak jarang aku kebayang wajahmu. Terlintas dipikiranku, apakah kau dan ibu sudah makan di sana?
Hasian, cepatlah sembuh..
Ucapanmu itu sebenarnya sudah lama saya save di otakku. Bukannya aku tak memikirkan apa yang kau tunggu dariku. Itu bukan lah harapan yang aneh, karena saya sendiri pun sering berharap begitu. Bersabarlah sedikit..
Hasian, cepatlah sembuh..
Tak seperti biasanya, kau duluan yang selalu memecahkan keheningan dengan kata-kata nyelenehmu itu, dengan candamu itu. Kenapa sekarang ketika kupanggil, responmu dingin.
Apakah kau marah padaku??
Apakah kau sudah lupa semua kisah yang kita jalani saat menyusuri jalanan dimasa lalu? Ya, saat aku tinggal di rumahmu.
Saat aku bersamamu kejar-kejaran sambil ketawa sepulang dari kebun. Saat aku mengejarmu mengelilingi rumah kita dan aku mencarimu sampai ketemu, lalu kugebug. Plak!!
Saat kita bercanda ria tanpa batas sebelum tidur, tertawa lepas bahagia sampai kadang ibu memarahi kita berdua. Jleb!!! Dan akhirnya, diam. Aku tidur lelap diantara kau dan ibu.
Dan masih banyak lagi bapaku hasian..
Mungkin kakak-kakakku dan abangku, mereka lebih sayang dan tak pernah marah padamu. Sedangkan aku, kerap emosi dan memarahimu.
Apakah karena itu, kau jadi malas bicara denganku??
Hasian, sebetulnya bukan karena aku benci kepadamu. Justru karena aku menganggapmu seperti diriku sendiri, ya cerminan diriku sendiri.
Aku lihat, kau terlalu cuek dengan kesehatanmu sendiri. Kadang demi menghargai orang-orang di sekitarmu, kau tidak mencintai diri sendiri.
Seberapa penting menyebarkan kebaikan itu buatmu?? Hingga kau lupa, bahwa kau bukanlah robot yang bisa dikontrol untuk ngelakuin sesuatu termasuk di saat kelelahan.
Itu sebabnya aku sering memarahimu. Aku tidak mau melihatmu sakit, aku tidak mau kau kelihatan kusut, aku tidak mau kau kelelahan, aku tidak mau kebaikanmu dimanfaatkan sama orang disekitarmu seperti apa yang kurasakan.
Kuakui, aku memang bawel padamu. Mulutku memang tak bisa kutahan. Kerap kali aku mengaturmu, aku selalu bilang cukur rambutmu itu, cukur kumismu itu, gunting kukumu itu, ganti bajumu itu, jangan kau pulang malam, etc.
Biarlah aku dianggap anak yang tak beradap, aku nggak peduli..
Aku tak lagi melihatmu sekuat dulu, saat aku lihat kau berusaha membelah potongan kayu dengan kapak.
Aku tak lagi melihatmu sekuat dulu, saat kau angkat aku duduk ditengkukmu berjalan menuruni bukit.
Hasian, cepatlah sembuh..
Dulu ketika aku masih duduk di bangku SMA, kau juga pernah sakit lebih parah. Aku ikut merawatmu, akulah yang menjadi babu kesana kemari demi kesembuhanmu. Hingga kau bisa kembali sehat.
Namun yang tidak bisa saya bayangkan. Kini kau terbaring sakit tak berdaya apa-apa, hanya tinggal berdua dengan ibu di rumah. Sedangkan anak-anakmu jauh di rantau.
Bagaimana keadaanmu di sana bapaku. Aku sangat khawatir akan kesehatanmu. Harusnya aku lah yang memapah otot-ototmu yang lelah itu.
Bapaku hasian, cepatlah sembuh..
Berjuanglah melawan rasa sakit itu, seperti yang engkau ajarkan kepadaku saat aku dilanda musibah kecelakaan beberapa tahun lalu. Walau aku sempat kehilangan harapan, tapi aku berupaya untuk berjuang.
Bapaku lihat lah, kini aku bisa kuat kan? Lebih tegar dari pohon ingul yang kau tebang dengan parang. Lebih mandiri seperti yang sudah kau didik kepadaku sejak dini. Dan aku juga berharap demikian, kau pasti kuat dan sanggup melewatinya.
Aku tahu itu sakit dan berat untukmu. Memohonlah kepada Tuhan untuk kesembuhanmu. Bukankah kau lebih dekat dengan-NYA? Sedangkan aku hanya setengah-setengah.
Mungkin juga kau lagi butuh perhatian lebih dariku atau dari anak-anakmu yang lain. Sama halnya ketika aku kecelakaan dulu, aku juga sangat membutuhkan kasih sayangmu dan ibu.
Tapi yakinlah disaat seperti ini, Tuhan selalu mengirimkan malaikat-malaikatnya. Hingga kita bisa bangkit lagi. Jadi aku mohon bapaku, cobalah untuk bertahan dan kuat.
Hasian, cepatlah sembuh..
Tahu kah kau keadaanku di sini. Aku tak ada semangat sedikitpun, layaknya kehabisan amunisi. Tak terasa air mataku kadang menetes tak menentu. Aku sangat khawatir akan kesehatanmu dan ibuku.
Aku selalu berdoa untuk bapak dan ibu, dalam setiap sujudku, aku sampaikan setiap kata yang ingin kusampaikan kepada Tuhan. Dalam setiap lantunan doa yang kucurahkan hanya untuk kesembuhanmu dan ibu.
Bapaku hasian, cepatlah sembuh..
Sepucuk surat ini, mungkin tidak berarti apa-apa bagimu. Namun dengan menuliskannya setidaknya aku bisa bernafas legah. Dan berharap Tuhan mengabulkan doaku, serta menyampaikan isi hatiku kepadamu.
Bapaku hasian, senyum dan tawa andalanmu itu seakan sedikit memberi ketenangan bagiku.
Malam ini juga rasanya aku ingin memelukmu dan ibu. Lalu aku akan mengelus pundakmu, dan akan kubisikan ke telingamu “Bapaku hasian, berantem yuk!”.
Akh, biarlah malam ini aku tidur dengan bayangan itu. Semoga besok aku bisa tersenyum, seperti senyum andalan bapaku itu.
Semoga bapaku cepat sembuh. Amin
Nite & GBU more. Bye..!!



0 komentar:
Posting Komentar
1. Relevan (Tidak Out of Topic).
2. Sopan, jangan meninggalkan komentar SPAM di blog saya.
3. Jangan menggunakan bahasa kasar atau SARA.
4. Berilah masukan yang membangun kecerdasan berpikir.
Terima kasih atas perhatiannya!