Jumat, 10 April 2020

Mencegah Virus Corona

Semoga kita semua selalu dalam lindungan-NYA. Amin

Baca, simak dan amalkan. Mencegah virus corona dimulai dari diri sendiri #DiRumahAja! #JagaJarak! Dan jangan lupa – NGOPI SADAYANA! 😎

Pandemi COVID-19 (Corona Virus Disease) atau yang dikenal dengan virus corona, menjadi salah satu permasalahan dunia saat ini. Saya tidak tahu lebih detail tentang virus ini. Yang pasti, virus corona sangat mematikan dan penyebaran virus ini sangat cepat dan mudah untuk menular.

Setahu saya dari berita di TV dan internet bahwa virus corona pertama kali diidentifikasi di kota Wuhan (China) pada akhir 2019 lalu. Kemudian merebak ke berbagai negara di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.

cara-mencegah-virus-corona

Untuk mencegah virus corona, pemerintah mencanangkan social distancing dan meminta agar mengisolasi diri #dirumahaja, yang tujuannya menutup atau meminimalisir ruang gerak seseorang untuk bebas keluyuran keluar rumah. Semua aktifitas pun dibatasi, seperti belajar di rumah, ibadah di rumah, maupun bekerja di rumah, nge-grab (?).

Tapi, ya sudahlah semua itu demi kebaikan bersama agar virus ini cepat enyah dari Indonesia tercinta ini. Saya yakin, apapun kebijakan yang diputuskan oleh pemerintah semoga itu yang terbaik. Sebagai warga negara kita hanya perlu mematuhi, mendukung dan menjalankan apa yang jadi kebijakan pemerintah. Bukan begitu? Begitu bukan??

Dan saya sependapat dengan kebijakan pemerintah soal social distancing, namun saya pikir social distancing tidak sampai disini. Mengingat masih banyak masyarakat yang mungkin sependeritaan dengan saya. Apalah daya Bossku “nggak kerja nggak makan”.

Sangat sulit dilakukan bagi kami sebagai buruh pabrik untuk menjalankan himbauan social distancing yang sudah berulangkali diumumkan. Bukan kami nggak sayang diri sendiri ataupun keluarga, tapi karena kami masih bekerja sesuai aturan perusahaan.

So bagi kalian yang sibuk tereak-tereak meminta lockdown. Coba dipikir lagi, jangankan lockdown, social distancing aje payah! Maafkan kami ini yang belum bisa diam di rumah. Terlepas dari virus apapun itu, sebenarnya setiap hari kita dibayang-bayangi oleh takdir bernama kematian. Kalian tenang saja ya di rumah. Tuhan kita sama kok, sama-sama Maha penyayang. 😊

Nah bagi teman yang harus berjuang diluar sana dan tak punya pilihan untuk #dirumahaja. Meskipun kita tidak bisa mengikuti kebijakan pemerintah social distancing, tetap semangat.

Wait.. bukan berarti kita pasrah terlentang yah! Kita perlu juga melakukan upaya mencegah virus corona ini.

Bagaimana cara mencegah virus corona?


cara-mencegah-virus-corona

Ada banyak cara mencegah virus corona. Berikut ini merupakan cara mencegah virus corona secara umum yang dianjurkan oleh Dokter :

*Rajin mencuci tangan dengan sabun, memakai hand sanitizer.

*Tidak menyentuh bagian muka (mata, hidung dan mulut).

*Memakai masker, terutama bagi yang sedang sakit.

*Menghindari kontak langsung dari orang lain alias jaga jarak (jarak aman 1 meter/lebih).

*Menjaga kebugaran (berolahraga, istirahat cukup, dan makan asupan yang bergizi) dan menjaga imunitas tubuh.

Well, cara di atas memang cukup ampuh dalam pencegahan virus corona. Namun menurut saya masih ada faktor ‘X’ yang juga bisa mempengaruhi terjangkit tanpa kita sadari.

Seperti yang saya ceritaken di awal, djujur saya sempat menjadi paranoit. Teman batuk dikit saja kepikiran, eh jangan-jangan dia kena nih? Ternyata karena keseleg habis makan rengginang. Tenggorokan kering.. hmm, tuh kan menular?? Padahal karena belum ngopi. Panik!

Wajar saja sebenarnya, semua media mewartakan soal virus corona ini dari pagi hingga malem. Baik itu di TV, internet, koran, bahkan tak sedikit orang dengan sukarela memberikan informasi di setiap sosial medianya. Mereka melahap segala informasi tanpa mengecek keabsahan beritanya.

Belum lagi dapat pesan berantai dari WhatshApp yang cukup masif yang menambah puyeng kepala kapten. Alih-alih memberikan informasi yang bermanfaat, malah menurut saya justru cenderung banyak menyebarkan berita hoax yang tidak jelas sumbernya membuat masyarakat jadi semakin bingung.

Mungkin impact dari informasi yang ngejubel yang memenuhi kepala saya hingga overload. Akhirnya saya bodo amat sama berita busuk.

Daripada makin puyeng kepala kapten dengan banyaknya berita aneh-aneh yang bikin parno, lebih baik menyikapinya dengan hal-hal yang positif di tengah pandemi COVID-19 ini. All is well..

Jangan panik, tetap tenang! Yakinlah, badai pasti berlalu. Semua ini akan baik-baik saja. Dari beberapa pengalaman pribadi yang saya alami, kepanikan justru membuat situasi menjadi semakin kacau.

cara-mencegah-virus-corona

Oh iya, saya pernah menonton youtube  “Prank”. Dimana ada satu orang pura-pura panik yang berlari sekencang-kencangnya dan berteriak histeris. Yang bikin saya ngakak, orang-orang yang berada di sekitarnya dan menyaksikan aksi tersebut ikut panik. Mereka ikut lari tunggang-langgang, bahkan ada yang sampai kejebur kali.

Padahal mereka nggak mengetahui konteksnya, mereka juga tidak tahu apa yang sebenarnya sedang ditakutkan. Bayangkan, masih mending cuman kejebur kali. Kalau di kali-nya ada bambu runcing atau buaya sekalian? Apa nggak mokad tuh orang. Eh

Nah disini jelas terlihat karena disebabkan adanya kepanikan kolektif. Pada kenyataannya, kepanikan kolektif merupakan hal yang sangat berbahaya dan bisa mematikan. Betul?

Maksud saya gini, bagi teman yang dapat mengerjakan pekerjaannya di rumah. Silahkan lakukan pekerjaannya semaksimal mungkin. Sedangkan bagi teman yang harus keluar, ya kita lakukan juga dengan tindakan pencegahan seperti di atas. All is well..

Paling tidak, dengan pencegahan tersebut akan meminimalisir terkena virus ketika sedang berada di luar rumah. Ini penting! Dalam kondisi yang semakin ngeri seperti saat ini, sebisa mungkin ya #dirumahaja. So, bagi yang mau mudik, sebaiknya urungkan dulu niatmu.

Bisa disimpulkan, virus itu menyebar karena orang-orang panik. Virus tidak akan menyebar kalau kita semua bisa tenang. Kalau kita tenang, orang-orang di sekitar kita juga akan tenang. Ketenangan kolektif tentu jauh lebih baik daripada kepanikan kolektif. Bener nggak?

Selain kepanikan, kehadiran virus corona ini memang banyak menimbulkan berbagai kecemasan dalam diri kita. Sehingga sangking cemasnya tak sedikit orang yang menjadi “kalap”. Misalnya saja berapa waktu lalu viral susahnya mendapatkan masker, hand sanitizer, hingga sembako.

Mereka memborong segala sesuatunya yang dianggap perlu (secara berlebihan), dan menimbunnya di rumahnya karena takut kehabisan stok. Bahkan bangsat-nya lagi, ada oknum yang sengaja bermain skenario ditengah pandemi COVID-19 ini. Menaikan harga segala sesuatunya nggak kira-kira, dengan tujuan mendapat ‘laba’. Sungguh tercela! Otak mati emang yah.

Saya kok kepikiran disaat semacam itu, kenapa ya nggak di edukasi bagaimana berempati terhadap sesama. Emangnya situ mau hidup sendirian di bumi ini??

Jangan cemas berlebihan ding! Kecemasan itu bisa mendatangkan penyakit. Lagi-lagi saya harus membuka kelemahan sendiri. Jauh sebelum saya bisa bangkit lagi, saya pernah mengalami cemas yang luar biasa, *bukan karena si Rona yah.. hehe*. Namun bukan solusi yang saya dapat, justru penyakit. Saya ngebatin..

Dari pengalaman saya itu, ternyata pada kondisi tertentu  disaat kita cemas pasti ada perasaan sesak nafas, mules, puyeng, mual, muntah bahkan berak-berak. Arggggg!

Memang kalau sudah cemas dan kesal duluan dengan keadaan apa yang kita lakukan, maka nggak akan mendapatkan manfaat. Stress iya, capek iya, pahala? Nol besar. Oohh lalungse dude! Segala sesuatu yang dilakukan juga jadi nggak maksimal, ujung-ujungnya daya tahan tubuh jadi turun dan malah tumbang.

Nah jika kecemasan ringan seperti yang saya alami saja bisa membuat sakit, bagaimana jika apa-apa dibikin cemas dan panik duluan. Sebenarnya bukan kena virus, bisa saja sesak nafas karena terlalu cemas atau karena panik sehingga asam lambung naik atau malah asam urat yang kambuh.

Tentu saja rasa cemas berlebihan itu akan mempengaruhi imunitas tubuh. Bukan kah disaat seperti ini daya imunitas tubuh justru harus terjaga agar stamina tetap di level 100? Bukan hanya menjaga kesehatan dan kebersihan, tetapi juga kesehatan mental.

Nah demi menjaga kesehatan mental dan mengurangi kecemasan, serta kepanikan yang selalu menghantui. Sebaiknya batasi informasi yang masuk yang berkaitan dengan pendemi COVID-19. Kepala dan hati kita tidak akan bisa menampung semua itu, nggak bakal sanggup.

Skip aje berita yang nggak jelas sumber dan keabsahannya. Baca, simak dan cukup berhenti di kamu. Jangan ikut-ikutan share, apalagi nyinyir. Yang bikin warga +62 tambah gaduh sebenarnya kita bukan hanya mencegah virus corona, tapi masih saling sentil soal politik busuk.

Di akhir tulisan ini saya mau menyampaikan. Sebagai manusia, kita tentu harus berusaha bertahan hidup. Mari kita bersama mencegah virus corona #dirumahaja dan #jagajarak agar kita semua masih bisa berjumpa, bercerita, menangis, dan tertawa bersama saat kita berhasil melewati masa-masa sulit ini. Terima kasih!

See you next time..

Nite & GBU more!! Bye..!!!

0 komentar:

Posting Komentar

1. Relevan (Tidak Out of Topic).
2. Sopan, jangan meninggalkan komentar SPAM di blog saya.
3. Jangan menggunakan bahasa kasar atau SARA.
4. Berilah masukan yang membangun kecerdasan berpikir.
Terima kasih atas perhatiannya!

 
;