Selasa, 21 April 2020

Ketika kaum rebahan menjadi pahlawan

Dear, kaum rebahan. Udah ngopi hari ini? Udah nyoba bikin dalgona coffee yang lagi ngehits itu? Yuk ngopi sadayana! 😎

Semenjak diberlakukannya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Bekasi, selama itu juga saya #dirumahaja. And here i am now.. duduk di depan laptop sambil ngopi.

To the point saja yah..

Kebijakan social distancing dan physical distancing masih menjadi senjata andalan pemerintah dalam “Mencegah virus corona” sekaligus untuk memutus rantai penyebaran COVID-19 yang semakin masif.

Dengan adanya kebijakan tersebut, disitu istilah “kaum rebahan” muncul lagi. Istilah kaum rebahan kembali menjadi ulasan populer yang viral di berbagai media internet.

Seingat saya istilah kaum rebahan ini, sudah pernah booming sejak aksi demo para mahasiswa menjelang akhir 2019 lalu. Sayangnya, saat itu orang yang dilabelin sebagai kaum rebahan menimbulkan stereotip negatif dari berbagai kalangan.

Pasalnya istilah kaum rebahan mengacuh pada seseorang pemalas, tidak produktif, maunya rebahan aja santuy di sofa, maunya serba instan, tidak mempunyai target, melewatkan kesempatan, tidak menghasilkan apa-apa, etc. Yaps, semacam tabiat yang kurang elok untuk ditiru.

Namun siapa sangka di tengah pandemi Covid-19, stigma buruk terhadap kaum rebahan berubah total. Kini kaum rebahan justru dianggap menjadi pahlawan.

apa-maksudnya-kaum-rebahan

Banyak dukungan bagi kaum rebahan dari berbagai pihak, karena #dirumahaja dianggap bisa membawa keamanan. “Kalian di rumah saja, biar kami yang bekerja” begitulah himbauan para tenaga medis melalui media sosial.

Sangat jelas, bahwa tenaga medis & semua pihak yang terkait di dalam penanganan pandemi Covid-19 sungguh membutuhkan bantuan berupa kerjasama. Maksudnya dengan #dirumahaja, kita sudah ikut andil berperan aktif guna memutus rantai persebaran pandemi Covid-19. Oleh karenanya, saatnya kaum rebahan berbakti kepada nusa dan bangsa.

Terkait dengan stereotip negatif terhadap kaum rebahan. Ternyata tidak selamanya ya, rebahan itu menjadi salah satu kegiatan yang dianggap buruk. Nyatanya, tubuh kita kan memang butuh istirahat setelah melakukan aktifitas sehari-hari di luar rumah. Terutama di tengah hiruk pikuk ibukota yang penuh dengan kemacetan, kebisingan, polusi, etc.

Penerapan social distancing bisa saja menjadi dream comes true bagi sebagian para kaum rebahan. Apalagi di jaman yang serba canggih saat ini. Dengan berkembangnya teknologi dan media internet. Kegiatan rebahan #dirumahaja bukanlah hambatan untuk tetap produktif.

Karena selain sebagai kegiatan manjain body, kaum rebahan pun dapat menikmati WFH (Work From Home) bebas dengan berbagai macam gaya, termasuk rebahan.

Dengan adanya media internet, kegiatan rebahan juga berguna untuk memperluas wawasan buat si perebah. Para kaum rebahan dapat ber-multitasking, seperti e-learning, online shop, dan bersosialisasi secara virtual, dalam waktu yang bersamaan. Bahkan sekedar hiburan mengisi kegabutan sambil julid di media sosialnya.

Banyak bermunculan konten yang cukup edukatif, meskipun tak kalah banyak juga konten yang agak nyeleneh. Setidaknya tak sedikit hasil kreatifitas kaum rebahan yang saya amati ketika surfing di internet semasa pandemi ini.

Sepengamatan saya, dengan banyaknya penganut kaum rebahan saat ini (tjaaahh udah kyak agama aja ada penganutnya.. hehe). Ketika kaum rebahan menjadi pahlawan, kemungkinan akan ada beberapa adagium (pepatah) yang mungkin tidak relevan lagi disaat menghadapi pendemi ini.

“Habis gelap terbitlah terang”. Artinya tidak ada kesulitan yang tak berakhir. Atau, setiap kesulitan akan berakhir dan akan berganti dengan kemudahan.

Hmm.. untuk saat ini sih kaum rebahan nggak terlalu peduli. Sekalipun dunia sedang gelap gulita, selama henpon tidak lowbat dan kuota internet masih ada. Toh percuma terang benderang juga kalau nggak bisa kemana-kemana #dirumahaja.

“Duduk sama rendah, berdiri sama tinggi” Artinya sejajar kedudukannya (tingkatnya atau martabatnya).

Mungkin kaum rebahan akan lebih setuju bila diganti dengan “duduk sama rendah, berdiri (mau kemana)?? #dirumahaja. Lagian bagi kaum rebahan emang ngepek gitu, mau duduk kek atau berdiri kek, jongkok apalagi. Tetap rebahan adalah pilihan terbaik saat ini.

“Guru kencing berdiri, murid kencing berlari”. Artinya bahwa murid akan mencontoh perilaku gurunya atau sarat akan makna keteladanan.

Ye bodo amat! Saat ini kaum rebahan sedang mencari akal gimana caranya kencing yang efektif tanpa beranjak dari kasur, termasuk dalam urusan cara “kencing” yang paling didambakan setiap insan manusia.

“Sepandai-pandai tupai melompat, sekali waktu jatuh juga.” Artinya sepandai apa pun manusia, suatu saat pasti pernah melakukan kesalahan juga.

Oalahh nggak penting banget lo pai.. tupai! Sepandai apa pun tupai melompat, para kaum rebahan tetap nggak bakal mengaguminya. Tupai mah adanya di kebun doang. Kecuali tupai-tupai yang suka pamer harta di media sosialnya, dan itu sudah cukup mainstream.

Apalagi hanya bisa melompat! Lagian kenapa sih binatang aneh itu suka banget melompat-lompat, bukannya rebahan aje.

“Anjing menggonggong kafilah berlalu”. Artinya membiarkan orang lain berbicara, mencemooh atau mempergunjingkan seseorang. Tetapi janganlah kita hiraukan, biarkan saja dan kita terus melakukan apa yang kita yakini kebenarannya.

Yaelahh, kalau cuma suara anjing sih, kaum rebahan nggak mau ambil pusing. Terkecuali mungkin kalau henpon sudah mengeluarkan bunyi notifikasi dari provider. Kaum rebahan akan merasa cemas dan was-was karena mendapat kabar bahwa paket kuota internetnya akan segera berakhir.

“Habis manis sepah dibuang”.
Artinya (1). Dibuang setelah tidak dipakai lagi; (2). Sesuatu disimpan pada saat diperlukan saja, dan dibuang jika tidak diperlukan lagi; (3). Selagi masih digunakan dirawat dengan baik, tetapi bila tidak dipergunakan lagi dicampakkan begitu saja – wikipedia.

Nah kalau pepatah yang satu ini pas banget deh. Jadi yang biasanya cuek sama uang receh, sekarang malah nyariin. Seperti yang saya lakukan saat ini, dikumpul-kumpulin lagi deh sepahnya. Kira-kira begitu dah, ketika kaum rebahan menjadi pahlawan.

Sebagai pragraf penutup, saya berterima kasih buat teman-teman yang sudah mengikuti kebijakan social distancing. Terlepas dari istilah kaum rebahan, atau apapun itu. Semoga pandemi ini cepat berlalu. Amin. Terima kasih!

See you next time..

Nite & GBU more. Bye!!

0 komentar:

Posting Komentar

1. Relevan (Tidak Out of Topic).
2. Sopan, jangan meninggalkan komentar SPAM di blog saya.
3. Jangan menggunakan bahasa kasar atau SARA.
4. Berilah masukan yang membangun kecerdasan berpikir.
Terima kasih atas perhatiannya!

 
;