Kamis, 23 Mei 2019

Merajut Persatuan Indonesia

KUALITAS SEORANG PEMIMPIN TERCERMIN DALAM STANDAR YANG MEREKA TETAPKAN UNTUK DIRI MEREKA SENDIRI.
Ray Kroc

Have a good day everyone!!

Tulisan ini sempat menjadi draf dengan alesan buntu alias miskin ide, akhirnya setelah saya ngopi bergalon-galon rampung juga. Selamat membaca.. Jangan lupa - NGOPI SADAYANA! 😎

OK, di akhir tulisan pada postingan “Menulis nakal jelang Pilpres”. Saya memprediksi bahwa ada aroma “Paslon 01” jadi juaranya. Ternyata tak meleset gaes. Memprediksi memang bisa bener bisa salah, yang penting ada acuan yang bisa diterima nalar. *tjaahh si @Hup sotoinya keluar. :D

Sebelumnya, udah baca belum kutipan bijak yang saya tempelkan di atas. Bagus khan dijadikan sebagai referensi untuk memilih seorang pemimpin. Tau dong si Ray Kroc itu siapa? Belio itu si pencetus misi besar McDonald. Tau dong sejarahnya? Kalau belum, Selamat anda punya minat baca yang minim.

Dulu saya menemukan kutipan ini terkait teori dan perilaku organisasi gitu deh. Kenapa 'dulu'? Karena saya lupa kapan terakhir kali saya menjerumuskan diri pada hal yang berbau akademis.

So, kalau saya ikut senang dengan hasil Pemilu 2019 boleh dong?? NGGAK!!! (dijawab berjamaah oleh pendukung Paslon no.02) *BODO AMAT! :D

Sekadar mengingatkan saja takutnya situ lupa, yang ngomong kalau Pak Jokowi menang akan potong alat kemaluannya ditunggu ya!! Terus yang bilang kalau Pak Jokowi menang akan pindah dari Indonesia, silahkan!! Indonesia tidak butuh manusia bermental pengecut, dengan senang hati kita ikhlas banget untuk ngurangi populasi masyarakat yang bodoh di negeri ini. *intermeso

Kalau boleh urun saran, jadikan itu sebagai pelajaran ke depannya jangan membuat statemen seenak perut. Percuma yekan sekolah tinggi-tinggi tapi asbun (akronim : asal bunyi).

Yang sudah baca sampai pragraf ini jangan kecewa, karena belum masuk ke pokok pembahasan..haha

Baik! Pertarungan di panggung politik merebut kekuasaan dalam Pilpres dan Pileg sudah berakhir, syukurlah yekan? Sebelumnya dimasa-masa kampanye seluruh Indonesia sempat terguncang kyak kapal nabrak karang, membuat gaduh netizen. Sehingga timbul konflik bagi sebagian masyarakat. Saya paham tentunya hal ini merupakan bagian proses demokrasi yang bebas menyuarakan aspirasi rakyat.

Namun sangat disayangkan, seandainya saja dipahami bahwa Pemilu merupakan sarana guna mengaplikasikan proses demokrasi. Seharusnya para elit politik dan seluruh elemen masyarakat Indonesia gak perlu terpecah belah. Sebab untuk mewujudkan sebuah pemerintahan yang demokratis tentu ada mekanismenya yaitu rule of law, dengan menyelenggarakan Pemilu yang berdasarkan transparansi, jujur dan adil.

Pesta demokrasi Pemilu serentak telah selesai kita gelar pada Rabu, 17 April 2019. Sesuai prosedur per-UU-an Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kamis, 22 Mei 2019 telah ketuk palu dan mempublikasikan pemenangnya, Pak Joko Widodo memenangkan Pilpres 2019 mengalahkan Pak Prabowo Subianto.

Yaps, tetiba keingat sama pesan Pak Ahok sebelum diadili bahwa “kekuasaan adalah sesuatu yang diberikan oleh Tuhan” :

Pemenang_pilpres_2019
Basuki Tjahaja Purnama
"Kepada pendukung kami, pasti merasa sedih dan kecewa kami mengerti,"
"Tapi enggak apa-apa percayalah bahwa kekuasaan itu Tuhan yang kasih Tuhan yang mengambil,"
"Tidak seorangpun bisa menjabat tanpa kekuasaan Tuhan"

Sepakat deh sama Pak Ahok. Memang kalau sudah kehendak Tuhan, tak ada yang bisa menghindar dari kekalahan. Sama halnya tak ada yang bisa menghalangi kemenangan, karena itupun merupakan bagian dari rencana-NYA.

Untuk itu, yang kalah jangan berkecil hati, dan yang menang jangan berbangga hati. Marilah kita semua bersatu, demi suksesnya keberlanjutan kepemimpinan nasional. Jangan sampai reputasinya anjlok lagi disaat Indonesia sudah mulai diakui dan dihargai atas segala prestasinya saat ini, serta pembangunannya yang pesat menuju Indonesia maju dan sejahtera yang disegani bangsa lain.

Untuk membentengi dan menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. Kita sebagai generasi Y harusnya menjadi garda terdepan. Jangan segala sesuatunya dikait-kaitkan dengan SARA, pokoknya jangan! Kita harus menjunjung tinggi nilai Bhinneka Tunggal Ika. Bener2 memaknai arti simbol negara yaitu PANCASILA dan butir-butirnya, juga berpedoman pada UUD 1945. Dibarengi pemerintahan harus dikelola dengan benar dan sebaik-baiknya sesuai dengan amanah yang sudah diberikan oleh rakyat.

Semoga saja dengan terpilihnya kembali Pak Jokowi sebagai Presiden Indonesia dan para anggota Legislatif baik dalam cakupan Kab/ Kota, Provinsi ataupun skala Nasional, maka ia harus sadar betul bahwa jabatan adalah sebuah “amanah” yang harus ditunaikan. Bisa dikatakan, bahwa nasib bangsa ini hingga lima tahun mendatang berada di tangan mereka yang menduduki kursi jabatan di pemerintahan yang terpilih dalam pemilu 2019.

Korelasinya dengan pemerintahan yang demokratis, amanah yang diemban atau sistem kekuasaan yang dikekola oleh pejabat yang terpilih itu bersumber dari rakyat. Ini yang disebut dengan prinsip kedaulatan rakyat. Hasil pemilu merupakan mandat bagi aparatur pemerintahan. So, mandat itu sebuah amanah yang harus betul-betul dijaga, dipelihara dan dijalankan dengan sebaik-baiknya.

Anyway.. walau Pilpres dan Pileg sudah selesai, namun ada sesuatu yang menarik untuk saya obrolkan. Mau tau? *scroll terus tulisan saya sampai selesai.. haha.

Menyaksikan segala situasi dan kondisi sekarang ini. Timbul sedikit kekwatiran dalam benak saya, memang tak baik jika su’udzon. Anggap saja ini pemikiran terburuk saya ya.

Mengingat rekam jejak Pak Prabowo yang kembali gagal untuk merebut kekuasaan itu. Padahal saat kampanye tim belio ini sudah banyak kontroversi dikalangan masyarakat. Barbar seolah-olah kemenangan itu sudah didepan mata, bahkan sudah sempat menyelenggarakan deklarasi kemenangan (what the fuck?).

Faktanya hal tersebut terbalik tak seperti yang mereka kira, yang saya kwatirkan hal tersebut akan membuat “garis keras” murka yang berpotensi menimbulkan kondisi semakin sengit.

Diibaratkan pengembara yang sudah lama mengembara dipadang tandus, tiba-tiba melihat seperti genangan air dari kejauhan, tentunya hal tersebut sangat menggembirakan, dan membuat hati lega, tapi pada kenyataannya hanya fatamorgana, maka murka pun tidak bisa dielakkan.

Inilah yang sangat saya kwatirkan. Padahal kalau pun Pak Jokowi harus menang dua periode, sebetulnya tidak perlu dipermasalahkan juga, karena itu sudah menjadi Takdirnya. Sekalipun hal tersebut tidak bisa diterima oleh kubu lawan. Karena tidak ada yang sia-sia dari apa yang sudah direncanakan Tuhan.

Kalau pun Pak Prabowo ditakdirkan kalah, itupun Tuhan sudah siapkan rencana yang lebih baik bagi Pak Prabowo dan pendukungnya. Yang terbaik bagi masyarakat adalah, apa pun hasilnya dari Pemilu 2019, semua pihak harus bisa menerima dengan lapang dada.

Saya pribadi mengucapkan selamat dan harapan yang terbaik atas terpilihnya Pak Jokowi sebagai Presiden Indonesia.

Ucapan_selamat_presiden_RI_2019
Jokowi-Amin
Ucapan selamat yang saya maksud bukanlah semata-mata karena mengalahkan kubu lawan. Ini hanya lebih ke rasa terimakasih ke Pak Jokowi atas kejujuran, niat baik dan kinerja yang sudah dikerjakan selama ini. Walau belum semua janjinya bisa di-follow up tentu butuh waktu. Untuk itu rakyat memilih Pak Jokowi memberikan kesempatan meneruskan program-programnya yang masih tertunda.

Okey, Kembali ke ucapan "Selamat"..hehe!

Bagi badan Legislatif yang baru terpilih, tak usah saya ucapkan selamat. Mohon maaf nih.. Sesungguhnya, ucapan selamat pada pejabat publik yang baru terpilih adalah kebiasaan yang salah kaprah menurut saya. Tradisi yang tak ada dasar logika dan etikanya.

Alesannya? Ya, karena belum apa-apa, hasil kerjanya belum bisa dievaluasi artinya belum ada karya dan hasil kerjanya yang bisa dilihat, ditunjukkan dan dibuktikan. Dari sisi mana ucapan selamat perlu saya berikan? Jika dengan alesan memenangkan pemilu, bukankah memenangkan pemilu tak menjamin kesuksesannya dalam tugas kepemimpinan? Selain itu, banyak kok pejabat masuk penjara belum lama setelah dilantik karena melakukan penyelewengan dan korupsi.

Tidak sedikit loh, yang memenangkan pemilu bukan calon terbaik, tapi yang paling banyak pendukungnya melalui mobilisasi massa. Bahkan dengan cara curang memenangkan ditempuh dengan cara-cara yang tidak etis dan tidak bermoral misalnya dengan money politis.

Niat dan tujuan mereka meraih jabatan bukan ingin berbakti dengan tulus, memberikan sumbangsih tenaga dan fikiran kepada masyarakat, negara dan bangsa. Tetapi lebih sebagai pengembangan karir, sebagai persaingan kelompok, rebutan kekuasaan dan bayangan menikmati fasilitas dan kekuasaan.

Imbasnya, banyak pejabat tidak maksimal melakukan tugasnya, gagal menjalankan amanat dan berdusta dengan janji-janjinya alias bulsit. Kemampuan bekerja minim, juga ketidakseriusannya mengatasi persoalan-persoalan, serta ketiadaan program-program strategis yang ditawarkan.

Itulah makanya program pemberantasan korupsi harus dipertegas. Sudah saatnya diberlakukan hukum mati buat tukang korupsi. Bila penting dikebiri dulu, ditetesin jeruk nipis gitu, biar bisa buat pelajaran buat yang lain. Saat kampanye begitu lemes mulutnya tapi prestasi NOL besar.

Sebagai penutup, sekali lagi saya ucapkan selamat untuk Pak Jokowi dan Legislatif yang kembali terpilih dan sudah berprestasi. Untuk Legislatif yang baru terpilih tunjukkan bahwa you pantas mendapat selamat... jangan cengengesan disitu apalagi cuman pencitraan foto-foto.

Mungkin soundtrack yang pas untuk mewakili isi hati rakyat, melihat kelakuan koruptor yang seperti bangsat! mari kita puter lagunya Om Iwan fals : "Surat Buat Wakil Rakyat"

Besar harapan saya semoga yang sudah terpilih bisa menjalankan amanahnya sebagai pemimpin di Indonesia tercinta ini. Berharap Indonesia lebih baik lagi. Semoga tak ada lagi status kebencian dan provokasi.

So.. 01 dan 02 sudah berlalu, sekarang kita teruskan ke 03 yaitu “PERSATUAN INDONESIA”. Terimakasih!

Sekian dulu cuap-cuap saya hari ini, sampai berjumpa lagi di segmen selanjutnya!

Nite & GBU more.. Bye!!!

0 komentar:

Posting Komentar

1. Relevan (Tidak Out of Topic).
2. Sopan, jangan meninggalkan komentar SPAM di blog saya.
3. Jangan menggunakan bahasa kasar atau SARA.
4. Berilah masukan yang membangun kecerdasan berpikir.
Terima kasih atas perhatiannya!

 
;