Selasa, 26 Mei 2020

Hidup Nyaman - JOMO (Joy of Missing Out)

SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1441 H

Mohon maaf lahir & batin. Dipersorry ya agak telat! Yakinlah teman. Ucapan bisa saja telat, tapi doa akan selalu valid kok. *tjahh 😁

Well, well, well.. post colongan lagi kali ini, dengan judul thread “Hidup Nyaman - JOMO (Joy of Missing Out)”.

Apa itu JOMO (Joy of Missing Out)?

JOMO (Joy of Missing Out) merupakan istilah untuk menemukan keseimbangan antara dunia nyata dengan dunia maya.

Yaps, agar seseorang bisa hidup lebih santai, menerima dan mensyukuri keadaan saat ini, hidup lebih sehat, dan tidak terobsesi untuk mengikuti tren yang ada di media sosial.

Istilah JOMO (Joy of Missing Out) bisa didefinisikan tindakan menahan diri (self-restraint), memilih untuk tidak terkoneksi di dunia maya, melawan arus, dan belajar untuk tak selalu mempedulikan hal-hal yang tengah trending, serta merasa baik-baik saja dengan apa yang ada di hadapan kita saat ini.

Sehingga kita merasa bebas dan lebih fokus pada hal-hal yang kita senangi. Kondisi JOMO (Joy of Missing Out) justru membuat kita merasa lega bahkan tidak peduli karena tidak mengikuti aktivitas tertentu, terutama yang berkaitan dengan media sosial.

Bahkan penerapan konsep JOMO (Joy of Missing Out) akan mengembalikan kekuasaan pada diri sendiri, tanpa diatur tren dunia maya.

Kebahagiaan dan kepuasaan diri akan meningkat jika kita melakukan hal yang ingin kita lakukan, bukan sesuatu yang “harus” kita lakukan.

JOMO (Joy of Missing Out) juga diharapkan dapat melatih seseorang untuk mengendalikan obsesi yang berlebih, salah satunya dengan membatasi penggunaan media sosial.

Setidaknya seperti itu pengertian JOMO (Joy of Missing Out) yang saya dapatkan ketika surfing di internet.

Udah tau kan, apa itu JOMO (Joy of Missing Out)? Nah, sekarang lapangkan dulu hatimu karena saya akan mendaratkan segalon curhat dulu.. *sambil rebahan atau terlentang juga boleh kok! 😄

apa-itu-jomo

Layaknya dunia melakukan social distancing, kita harus “Mengisolasi diri” hingga pandemi ini berakhir, which is we all don’t know when.

Rehat sejenak memanfaatkannya untuk istirahat dari kegiatan yang kurang bermakna dan nggak banyak keluar rumah.

Seperti malam ini, saya duduk santuy di teras rumah sembari menikmati secangkir kopi hitam dan udut, dan tak peduli pada dunia. Diiringi soundtrack “Stand by me” By : Ben E. King

Akibat wabah corona menguasai panggung di sejagat raya, kini semua keramaian di dunia nyata pun lenyap, khususnya di jam malam.

Namun berbanding terbalik dengan dunia maya (media sosial) yang justru seperti pasar tumpah, lebih ramai dari sebelumnya.

Pesatnya perkembangan dunia teknologi dengan segala fitur-fiturnya memang sangat "memanjakan" people jaman now. Sehingga tak sedikit orang di media sosial berusaha mati-matian, segala cara pun dilakukan untuk menunjukkan eksistensinya, hingga mati gaya.

Hmm, bisa jadi diantara reader ada yang sedang asyik main Tik-tok “mamah muda” yekan! Eh

Terus? MasBuLoh?? Tunggu jangan julit dulu..

Bukan bermaksud menularkan pikiran bodo amatku ke kalian semua. Terserah lo lah, mau nungging kek, jungkir balik kek.. bodo amat. Masing-masing orang memiliki cara yang berbeda untuk mengisi kegabutan di tengah pandemi ini.

Jadi sekedar membunuh waktu, blog ini menjadi sarana yang tepat untuk “membuang sampah” apa pun dari pikiran saya. Sama seperti kalian yang saban hari ngoceh di akun media sosial. Tak masalah kan?

Sesungguhnya “ngoceh” itu adalah hak segala bangsa. Dan oleh sebab itu.. Yuk ngoceh! 🤭

Bicara “Tentang Media Sosial” saya akui media sosial (Facebook, Instagram, Twitter, etc.) memang sarana yang paling tepat untuk menumpahkan segala unek-unek alias ngoceh, karena sifatnya yang up to date. Apa saja yang kita rasakan, kita bisa melontarkan pendapat secara spontan, saat itu juga. Dan itu pun pernah saya lakukan.

Saya inget betul, dulu saya juga rajin banget ngoceh di akun media sosial yang saya miliki. Mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi. Bahkan kadang disaat terbangun dari tidur saya sempatkan untuk online.

Senang banget melihat ocehan demi ocehan, mendapat berita dan informasi terbaru, tak jarang saya sok ikutan nyinyir, dan semacamnya. Waktu itu saya merasa heppi-heppi saja, karena nyatanya kegiatan itu memang menyenangkan.

Selalu ada bermunculan hal baru, jadi kemungkinan untuk bosan bisa dikatakan sangat kecil. Imbasnya saya bisa nyaris online selama 24 jam. Mungkin nilai absen saya saat itu sangat bagus 100% (NIHIL), tanpa mengetahui kapan akan “khatam” dalam perduniamayaan.

Kegiatan itu berlangsung hari demi hari, dan tanpa saya sadari kehadiran media sosial waktu itu sungguh mengobrak-abrik rutinitas hidup saya yang sebelumnya tenteram dan damai sentosa.

Sebelum era media sosial, bisa dikatakan saya tak peduli pada dunia, dan tidak peduli dengan apa pun yang ada di luar sana. Saya punya dunia sendiri, kehidupan saat itu rasanya lebih hidup, langit masih biru, dan matahari masih bersinar terang. Waktu dan hidup saya hanya untuk bekerja dan belajar arti kehidupan, dan saya menikmatinya.

Namun sejak era media sosial, hidup saya yang tadinya tentram dan damai sentosa berubah menjadi tenggelam dalam hiruk pikuk berita kekinian. Hingga pada akhirnya saya pun menyadari, tampaknya kebiasaan baru telah terbentuk dan saya kesulitan untuk meninggalkannya.

Butuh waktu lama bagi saya untuk melepaskan ketergantungan terhadap kebiasaan mengudara di media sosial. Proses itu sama halnya seperti “mengusir setan”. Tidak mau pergi, namanya juga sudah kecanduan media sosial dan tentunya membutuhkan niat yang kuat.

Salah satu upaya yang saya lakukan yaitu menahan diri, dengan cara berhenti ngoceh di media sosial. Menahan diri untuk tidak mengomentari apa pun itu.

Tindakan itu saya lakukan semacam peningkatan dari upaya saya untuk melepaskan diri dari dunia maya. Saat itu saya pun mengasingkan diri, untuk mengembalikan diri dan hidup saya kembali seperti sebelumnya. Hingga pada akhirnya saya sadar diri. Saya memilih untuk pensiun dini dari media sosial.

Namun faktanya setelah pensiun dini dari media sosial rasa-rasanya matahari juga tidak berhenti terbit, bulan tidak juga jatuh ke bumi, awan juga tidak menimpa atap rumah.

Finally saya pun menyadari, ada atau tidak ada saya di media sosial, bisa dikatakan tidak ada bedanya. Jadi, saya pun ingin melakukan hal sama. Ada atau tidak ada media sosial, tidak ada bedanya bagi saya. 😎

Dari pengalaman saya terdahulu, konklusi yang saya dapat? Sesungguhnya ngoceh itu salah satu kebutuhan dasar manusia pada umumnya setelah makan dan minum, atau bahkan sesudah skidipapap. Meminjam istilah psikologi, ngoceh itu semacam “mengekspresikan diri”.

Sekarang saya paham, kenapa banyak orang di luar sana merasa kesulitan melepaskan media sosial? Ya itu tadi, karena media sosial sangat memungkinkan siapa pun untuk mengekspresikan diri. Dan media sosial pun memungkinkan hal itu secara leluasa.

Jadi kalau ada banyak orang kecanduan media sosial, itu wajar. Karena orang itu merasa kebutuhan psikologisnya terpenuhi oleh media sosial.

Monmaap ya, di sini saya bukan bermaksud untuk melarang bermedia sosial. Hanya saja bagaimana lo bisa membatasi untuk memainkannya. Saran saya sih jangan terlalu mengikuti nafsu daging sampai lupa sama namanya ahklak demi like, comment, follower, etc. Hati-hati lho terkena sindrom FOMO (Fear of missing out).

Yes, I can say that I am JOMO. Semoga kalian bisa mengerti apa yang saya maksud. Sampai di sini dulu cuap-cuap kita malem ini. Terima kasih!

See you next time..

Nite & GBU more. Bye..!!

0 komentar:

Posting Komentar

1. Relevan (Tidak Out of Topic).
2. Sopan, jangan meninggalkan komentar SPAM di blog saya.
3. Jangan menggunakan bahasa kasar atau SARA.
4. Berilah masukan yang membangun kecerdasan berpikir.
Terima kasih atas perhatiannya!

 
;