Minggu, 04 November 2018

Hidup adalah perjalanan

Hidup itu bagaikan roda pedati yang berputar pada porosnya, kadang kita di atas kadang juga di bawah. Lantas kenapa ketika posisi kita di bawah sering rusak tuh rodanya gak berputar? Kenapa bisa begitu? *pertanyaan koyol.

Woii...tukang odong-odong!!! Please ganti mesinnya pake merk mercy biar cepat puteran rodanya. :)

Begitulah hidup yakan, Kita tak pernah tau besok kita akan bahagia ataupun besok kita akan terluka. Yang jelas, apapun itu kita harus tetap berusaha untuk tegar dan tersenyum sebisanya.

Kenyataannya, bukan jaminan seorang yang punya banyak harta bisa terus bahagia tanpa merasakan suntuk dan gundah gulana.. betul?? Bahagia itu memiliki tolak ukur sendiri dan setiap orang berbeda mengartikan arti bahagia menurutnya. Seperti dengan melihat senyummu hari ini, iyah kamu.. itu sudah membuatku lebih tenang dan bahagia.... Eaaahh!!!

Anyway, jika harimu sendang tidak merasa bergairah dan hatimu humasiksak bahkan kamu merasa harimu biru dengan segala masalah yang menimpamu yang bikin harimu semakin galau tak menentu.

Tenang!!! SEBUT NAMAKU TIGA KALI

Dengan begitu, Saya akan muncul dihadapanmu dengan berkata “Ku beri satu permintaan, Monggo!!”. Dan saya mohon jangan minta jodoh yah... hahh

Baik, bohong saya kalo gak pernah galau, jalanin saja! yah namanya juga hidup..

Yuk kita meluncur ke topik pembahasan. - NGOPI SADAYANA! 😎

Hidup-adalah-perjalanan-tetap-bersyukur
Kronologinya : Berawal dari percakapan sama seekor teman yang kontrakannya ber-AC itu. Jadi ceritanya, pagi-pagi buta teman nelpon ngajak lari pagi mungkin biar gak malu-malu banget lari sendirian. Katanya dia lagi program menurunkan tonase (emang badannya agak gempal gitu deh). Oke ditenggo alias ‘disitu teng langsung go!’ jawabku.. Akhirnya sepakat jam 06.00 udah stay di kompleks Cifest Hill. Selesai lari kita beli gorengan dan ngopi di warkop. Sedikit cuplikan cuap2 dengan teman :

As : Bulan ini pusing banget pala serasa gempa bro..mau pecahhhh!


Sy : HIV kali???

As : Sialan!! Bukan cebong!! gue ngajuin KPR BTN tapi DPnya harus lunas sebelum akad kredit. Lieurr euyy!

Sy : Gali lobang tutup lobang bro, gak sah pikir bulanannya. Rejki mah sudah ada yang ngatur. Konsekuensinya kudu siap mati gaya demi rumah idaman.. kalo gablek duit sih mau nungging, mau terlentang juga bebas kyak orang2.. hehhe

As : Hahaha... Insya Allah gue usahain bro, gue mah orang susah bro. Tapi kadang gue ‘iri’ lihat yang lain, semua serba instan. Kalo kurang dana tinggal pura2 mati di depan Ortu, kan bisa pamer dan sok-sokan di sosmed, #hashtag ini dan anu, ngomong selangit, bikin2 status B.inggris.. lah coba kalo gue yang pura2 mati di depan Ortu. Paling juga dapat nasehat yekan?

Sy : Mungkin kalo saya jadi Ortu’mu, saya akan peluk kamu, saya usap kepalamu, dan saya akan bisikin  ke telingamu “ Jangan manja nak, nanti bapak sobek2 mulutmu. Jangan bikin bapak tambah pusing. Dasar anak gak tau diri” ... hhah

As : Wkwk.. nih makan semua biar jadi Ortu yang baik loe ! (sambil melempar gorengan serta bungkus2nya)

Oke skip...

Sambil bercerita panjang lebar, saya iseng membaca sebuah cerita yang terdapat di bungkus gorengan tersebut. Yang menarik perhatian saya, ada korelasinya dengan percakapan sama teman. Cerita ilustrasi itu kurang lebihnya seperti ini. Sok atuh disimak anak muda.. cekidot :

***
Ada sebuah lomba, di mana dua orang harus pergi ke suatu tempat yang sama dari titik berangkat yang sama, sebutlah Galuh dan Galih.

Mereka sama-sama berjalan kaki tapi ditempatkan di dua lokasi yang berbeda. Panitia memperkirakan bahwa waktu tempuh yang akan dihabiskan untuk berjalan adalah satu jam, tidak lebih dan tidak kurang. Namun, perkiraan ini tidak diberitaukan ke peserta. Mereka hanya diminta “berjalan sampai tujuan” dengan tidak bisa melihat satu sama lain.

Setelah waktu mencapai satu jam penuh, Galuh tiba di tempat tujuan lebih dulu. Ia tak menyangka menjadi orang yang pertama sampai. Ia segera meminta air dan menenggaknya banyak-banyak untuk membunuh hausnya selama di perjalanan tadi. Setelahnya, ia beristirahat dan duduk menunggu Galih tiba.

Sekitar 15 menit setelahnya, Galih menyusul. Meski wajahnya tampak lelah, ia tampak bahagia. Panitia melihat ada yang berbeda dengan wajah Galih. Ia melihat Galih sedang duduk dan langsung bergabung dengannya sambil berkata: “udah dari tadi sampe ya, Luh?” Galuh merasa terganggu karena ia tidak suka diperlakukan sok ramah begitu. Akhirnya, ia hanya mengangguk.

Sambil keduanya beristirahat, panitia pun menghampiri untuk memberitau siapa pemenangnya. Galuh tentu amat yakin bahwa ialah pemenang lomba itu. Ia pun menegakkan duduknya dan berhenti minum. Sementara itu, Galih tetap bersandar dan mendengarkan apa yang akan disampaikan panitia.

Ketua panitia membuka mulut: “baiklah, setelah kita semua melihat dan menyaksikan kedua peserta lomba jalan ini, kami memutuskan bahwa pemenangnya adalah…”

Galuh menarik napas.

“Kalian berdua!”

Galuh tak percaya. “Bagaimana bisa?” pertanyaannya terulang dalam benaknya. Tak mungkin!!

Hampir sama dengan Galuh, saya yang sedang membaca cerita tersebut juga penasaran. Apa yang membuat Galih sok ikut-ikutan menang?? (sambil berusaha menyatukan kertas bungkus gorengan yang sudah sobek kena minyak).

Singkat cerita, ternyata alasan Galih terlambat 15 menit dari perkiraan panitia adalah di perjalanan, ia “diganggu” oleh seorang nenek yang duduk terdiam di pinggir jalan menggendong seorang bayi. Ia mendekati nenek itu dan bertanya apakah ia dan bayi itu sudah makan, dan ternyata mereka belum makan seharian. Galih mengeluarkan uang lima ribu hasil kembalian sarapannya dan meletakkannya di kotak sepatu kecil di depan nenek itu.

Belum sampai Galih bertanya hal lain, nenek itu mengingatkannya: “terima kasih, Nak. Tapi ingat, ada yang sedang menunggumu di ujung jalan ini. Jangan buang-buang waktumu.”

Beberapa menit kemudian, ia melihat seorang perempuan cantik berjalan dengan dompet dikepit di lengannya. Tanpa sadar, gerungan motor terdengar dan menerobosnya dari belakang. Ia pun kaget. Namun, yang lebih membuatnya kaget adalah pengendara motor itu menjambret dompet perempuan di depannya. Teriakan terdengar di seluruh sudut jalanan. “Maliiiiing!”

Galih segera berlari kencang, dan meskipun sempat tertinggal, ia berhasil menyelamatkan dompet perempuan itu. Perempuan itu langsung menghampirinya dan mengucapkan terima kasih. Sontak, ia sadar bahwa ia tak pernah melihat perempuan secantik itu seumur hidupnya. Galih pun tergerak untuk berkenalan dan bercakap-cakap dengannya. Yah, hitung-hitung biar ada teman ngobrol. Lagian, bukankah memang perempuan itu berjalan searah dengannya?

Tapi, sebelum ia bertanya lebih jauh dan mencoba berkenalan dengan perempuan itu, si perempuan mengingatkan: “Terima kasih, Mas. Tapi ingat, ada yang sedang menunggu kamu di ujung jalan ini.” Ia pun melanjutkan perjalanan, dan meskipun berat, tetap pergi jauh meninggalkan perempuan cantik itu.

Ia terus melangkah sampai ke ujung jalan. Dadanya penuh rasa bahagia. Bahagia bahwa ia diberikan kesempatan untuk melihat makhuk Tuhan yang begitu indah. Bahagia bahwa terlepas dari terik matahari yang menyengat kulit dan rasa lelah yang tak kunjung pergi, ia bisa berfantasi sebentar dari hikuk-pikuk realitas yang begitu kering.

Pada akhirnya, Galuh menang karena ia fokus pada tujuannya dengan sebenar-benarnya.  Ia mengikuti instruksi yang diberikan padanya bahwa ia harus berjalan saja. Masih ingat di awal bahwa di perlombaan itu, masing-masing Galuh dan Galih tidak bisa melihat satu sama lain?

Bukan tidak mungkin, toh, di jalur yang dilalui Galuh juga ada pengemis dan perempuan cantik yang dijambret? Tapi Galuh sengaja tidak melakukan apapun untuk membantu mereka atau sekadar mengajak mereka mengobrol. Pikirannya benar-benar tertuju pada ujung jalan. Itulah mengapa ia tiba sesuai dengan perkiraan waktu tempuhnya.

Sementara itu, serangkaian kejadian yang dialami Galih juga yang membuatnya menjadi seorang pemenang. Meskipun ia tiba lebih lama daripada Galuh, bukan berarti ia gagal. Toh, dari awal perlombaan, panitia tidak memberitau perkiraan waktu yang bisa ditempuh kedua peserta. Itulah mengapa Galih tidak begitu memusingkan berapa lama ia akan tiba di ujung jalan itu. Justru, ia bersyukur. Bahwa dari perjalanan satu jamnya itu, ia bisa melihat sisi lain dari kehidupan.

Seorang nenek dan bayinya menggambarkan kemalangan yang bisa saja terjadi kepadanya, dan karenanya menerbitkan rasa simpati dengan setidaknya mengobrol atau memberikan bantuan. Sementara itu, perempuan cantik yang dijambret membuatnya tersadar bahwa kejahatan pasti akan menimpanya pada saat yang sudah ditentukan.
***

Saya mereview cerita tersebut. Lalu, saya jadi ingat sama omongan si Mbah Hj.Suramit (Pemilik terapi Cimande di kampung Ceper Cik-Sel) ketika saya kecelakaan lima tahun lalu, mungkin sebelum anak esempe kelas 3 sekarang, belum pake kutang. Karena melihat saya down layaknya orang gila lagi dipasung. Si Mbah pernah bilang: semua orang punya jamnya sendiri-sendiri. Dalam hati saya bertanya, “jam” maksudnya jam tangan? Jam dinding?

Melihat saya bingung, beliau melanjutkan omongan.

Si Mbah bilang semua orang punya kencana waktunya sendiri. Bukan hanya semua orang, sebetulnya. Tapi semua hal.

Ban motor meletus karena memang waktunya kudu diganti. Piring pecah karena memang sudah ajalnya. Ponsel hilang karena ia harusnya hilang. Tidak ada yang “kebetulan”.

Begitu juga manusia. Nyawa seseorang dicabut memang sudah ajalnya sudah tiba. Seseorang tiba di suatu tempat dalam waktu sejam, karena memang itu waktu dia. Berbeda dengan waktu seseorang yang lain, di belahan dunia yang lain. Semoga kamu cepat sembuh ya..(sambil menepuk-nepuk pundak saya).

Kemudian.. Saya melihat kembali ke ruang tempat percakapan dengan teman. Rasa ‘iri’ sebetulnya bukan iri, maksudnya mungkin ‘kepingin’ atau bahasa bataknya ‘mangapian’ (menginginkan hal seperti orang lain tanpa cemburu) tentunya pasti ada dan itu saya anggap manusiawi. Saya juga kadang kalo belum ngopi suka gitu mangapian..hehe. Lalu saya mencoba mengasosiasikannya dari satu hal ke hal yang lain.

Untuk itu, tak ada seorangpun yang benar-benar bisa bangga. Untuk bilang “saya duluan” bukan berarti ia jadi lebih baik. Bisa saja ada yang diam-diam berkata “saya belakangan” tapi, seperti Galih, ia sudah melihat banyak hal dan belajar banyak hal pula. Sebab hidup adalah perjalanan, bukan pertandingan. :)

Selamat malam, Tuhan memberkati ! 

0 komentar:

Posting Komentar

1. Relevan (Tidak Out of Topic).
2. Sopan, jangan meninggalkan komentar SPAM di blog saya.
3. Jangan menggunakan bahasa kasar atau SARA.
4. Berilah masukan yang membangun kecerdasan berpikir.
Terima kasih atas perhatiannya!

 
;