Minggu, 15 Agustus 2021

TERPURUK

Ketika jiwa sudah terpuruk, rasanya hidup tak ada artinya lagi. Semua mimpi pergi tanpa pamit, batin pun menjerit. Semangat pudar membuat wajah muram tak bersinar.

Keadaan seperti itulah yang terjadi pada saya akhir-akhir ini. Ketika wajah lain auranya terpancar dan penuh semangat, saya justru melangkah dengan tatapan kosong. Hanya raga saya yang seakan menyentuh bumi. Sementara jiwa saya berkelana ke sana kemari.

Tak perlu lagi saya tutup-tutupi. Saya memang sedang terpuruk, dan sulit sekali rasanya untuk mengaktifkan semangat.

Ini bukan kali pertama bagi saya tersandung dan terjatuh. Saya kerap berhadapan dengan pilihan yang serba sulit, rencana-rencana yang gagal, musibah dan bahkan kesengsaraan. Silih berganti menghampiri, tak kenal ampun dan tentu saya tidak menginginkannya.

Dan terjatuh lagi, when’s this gonna be over!

Saya yang berusaha untuk kembali bangkit, ternyata jatuh lagi dan kali ini ke jurang yang makin dalam. Saya hancur, hancur lebur layaknya terjun bebas tanpa parasut!

Mungkin yang saya katakan di sini terlihat seperti hiperbola, sok mendramatisir. Tapi saya bicara apa adanya.


Kali ini saya bener-bener terpuruk. Patah semangat, dan mungkin pula sudah remuk. Saya telah dihantam begitu keras, jatuh tersungkur hingga ke titik terendah dalam hidup. Suatu kondisi yang belum pernah saya bayangkan sebelumnya.

Bagi saya, ini sebuah titik dimana dunia terasa jungkir balik. Saya sudah terhempas cukup jauh dari jalur kehidupan yang seharusnya saya jalani. Tersadar, semua waktu saya terbuang sia-sia. Bahkan segala yang saya upayakan selama ini, ternyata percuma.

Mimpi-mimpi dan ekspektasi yang pernah saya rencanakan sebelumnya, tak mampu lagi untuk saya jawab. Saya merasa seolah-olah sudah menjadi rongsokan dari kehidupan saya di masa lalu. Mungkin juga menjadi sampah bagi semesta.

Saya marah, kecewa! Lagi-lagi saya harus menyalahkan diri sendiri, menyiksa atau bahkan membenci.

Saat ini saya kalah, bener-bener kalah. Saya angkat tangan, pasrah! Saya sudah tak berdaya lagi. Saya masih hidup tetapi jiwa ini sudah mati. Jantung saya masih berdetak tetapi tubuh ini kaku. Mati rasa, segalanya hambar tak berarti.

Saya sudah tidak memiliki pegangan. Tangan saya tak mampu meraih apa pun. Semesta tak mau lagi mengulurkan tangan untuk mengeluarkan saya dari keterpurukan ini. Ia sudah berpaling dan tak lagi menganggap saya ada. Baginya, hidup saya hanyalah satu noktah kecil yang tidak memberikan arti apa-apa tentang kehidupan.

Saya sudah merasa tidak lagi berguna dalam menjalani hidup ini. Semesta sudah tak lagi berpihak dengan hidup saya. Mencekik dengan erat, merampas paksa sukacita dan kenikmatan hidup yang sudah pernah saya miliki.

Kejam memang..

Dasyatnya rasa pahit yang saya alami membuat saya tak lagi berpikir logis. Saya sudah tak mampu lagi menguasai setiap pikiran saya. Saya kehilangan jati diri.

Kini, jangankan untuk tersenyum, mendongakkan kepala saja saya tak mampu. Saya malu terhadap diri sendiri. Tidak bernilai lagi dalam hal apapun. Sekujur tubuh ini dipenuhi dengan rasa penyesalan, rasa bersalah dan rasa kecewa yang teramat sangat dalam.

Sulit sekali berdamai dengan keadaan, terlebih dengan diri sendiri. Bumi pun serasa berhenti berputar. Menghabiskan waktu, saya hanya bisa dengan mengutuki nasib.

Ingin rasanya pergi sejauh mungkin, ke suatu tempat yang tak berpenghuni. Saya ingin sendiri saja tanpa ada yang mengganggu. Bahkan tanpa ada ambisi hidup yang sering berujung menyiksa batin.

Di sini, saya masih sendiri memikul semua beban yang begitu berat. Saya tidak tahu lagi harus melangkah kemana. Saya kehilangan arah. Semua sudah gelap, tak ada satu pun cahaya yang menuntun agar saya merasa yakin bahwa saya masih berguna.

Saya sudah tak tahu lagi harus mengatakan apa lagi. Seolah cerita hidup saya telah berhenti sampai di sini. Sampai dimana saya sudah benar-benar menyerah terhadap semua yang saya jalani.

Ah sudah lah, saya lelah!

Skenario Tuhan sudah berjalan, mustahil saya bisa menghentikannya. Waktu tidak bisa diputar ulang, begitupun masa lalu tetap tidak akan pernah kembali.

Jika suatu saat nanti saya bisa bangkit kembali dan mewujudkan apa yang menjadi harapan saya, berarti Tuhan masih sayang kepada saya. Namun jika sebaliknya, ternyata Tuhan juga ikut membenci saya.

I just hope will be over soon..

0 komentar:

Posting Komentar

1. Relevan (Tidak Out of Topic).
2. Sopan, jangan meninggalkan komentar SPAM di blog saya.
3. Jangan menggunakan bahasa kasar atau SARA.
4. Berilah masukan yang membangun kecerdasan berpikir.
Terima kasih atas perhatiannya!

 
;