Mudik Ke AMSTERDAM – Liburan akhir tahun 2020 ini saya manfaatkan untuk pulang kampung ke Amsterdam. Yaps, “mudik” begitulah orang-orang menyebutnya.
Menurut KBBI, Mudik (akronim : menuju udik) adalah kegiatan perantau/pekerja migran untuk pulang ke kampung halamannya. Versi lain, mudik berasal dari singkatan kata bahasa Jawa “Mulih Dhisik” atau pulang sebentar ke kampung halaman, kota atau negara asal.
Omong-omong perjalanan mudik ke Amsterdam bisa ditempuh dengan 2 jalur, yaitu lewat jalur darat dan jalur udara.
Setelah sekian lama merantau di Kota Patriot, tepatnya di Kota Terlengkap penderitaannya di timur Jakarta. Tahun 2020 inilah menjadi tahun pertama kalinya saya mudik ke AMSTERDAM dengan transportasi darat (mobil).
Itu makanya edisi pulang kampung kali ini saya tulis menjadi sebuah cerita ke dalam blog ini.
Mungkin akan berbeda dengan mudik di tahun-tahun sebelumnya. Biasanya sih saya kalo mudik jalan kaki tinggal pesan tiket pesawat. Langsung setttt...! Take off dari bandara Soehatta, 2 jam udah tiba di Kuala Namu International Airport di Medan.
Lahh katanya mudik ke Amsterdam??
Yapz, jangan kecewa pemirsah karena Amsterdam yang saya maksud bukan seperti Amsterdam yang pernah kalian bayangkan.
Amsterdam itu singkatan dari “AMBARITA terus masuk dalam”. AMBARITA adalah nama sebuah desa di Kab.Samosir – SUMUT. Nah disanalah tempat lahir beta. *nggak ada yang nanya*
Makanya kalo ada yang bertanya asal daerah, biasanya saya akan bilang asal dari Medan. Karena berasumsi kalo bilang dari Ambarita (Kab.Samosir) mungkin banyak yang belum mengenal dimana tempat tersebut.
Tapi kalo si Penanya tahu dan nanya lebih lanjut. Medan-nya?? Terus saya jawab Amsterdam pasti dia akan bilang, Amsterdam kok bilang Medan. Skip ^_^
Kembali ke soal mudik..
![]() |
Sebagai seorang perantau, mudik merupakan sebuah momen yang sangat dinanti-nantikan dan begitu dirindukan. Begitu bukan? Bukan begitu? Hehh, Apalagi bisa mudik di hari raya keagamaan, misalnya mudik pada saat hari raya NATAL.
Tradisi merayakan hari Natal sudah turun temurun bagi warga Kristiani dimana saja. Bagi anak rantau seperti saya misalnya, dan juga ribuan perantauan lainnya merayakan hari Natal akan selalu identik dengan pulang kampung.
Keinginan untuk merayakan hari Natal di kampung halaman sendiri sepertinya sudah menjadi “magnet” tersendiri bagi para anak rantau. Dan sudah menjadi tradisi.
Karena merayakan Natal di kampung halaman itu memiliki nilai kekeluargaan yang amat tinggi. Dimana kita bisa merayakannya dengan keluarga-keluarga terdekat, dan juga lingkungan dari mana kita berasal.
Bagi saya dibanding mudik di hari biasa, rasa-rasanya hanya mudik saat hari Natal yang mempunyai euforia saat melakukannya. Pasalnya, pada saat itulah hampir semua anak rantau berbondong-bondong menginfasi kampung halamannya masing-masing untuk bertemu dengan para keluarganya.
Namun kadang saya juga suka iri lihat teman satu kantor yang kerap mengambil kesempatan libur akhir pekan atau saat libur “hari kejepit” untuk mudik. Mungkin karena kampungnya dekat dan biaya yang dikeluarkan juga terjangkau yah.
Saya? Tahunan. Kalo ditanya kangen nggak?? Banget lah. Ada gitu yang tidak kangen sama kampung halaman sendiri. Kecuali titisan Malin Kundang.. ^_^
![]() |
Melihat kondisi yang ada, awalnya tak ada sedikit pun rencana untuk mudik ke Amsterdam tahun ini /*pulang malu, nggak pulang rindu.. hehe. Tapi entah mengapa, saya berubah pikiran dan begitu bersemangat untuk segera mudik.
Untuk menambah jatah libur akhir tahun. Saya mengajukan permohonan cuti selama dua minggu, tentu saja setelah mengisi form surat cuti.
Menariknya tanpa basa-basi langsung di-approved sama Boss. Wow! Bossku keren pikirku.. 👍
Melihat form cuti yang dinodai oleh Bossku dengan tinta biru, dengan hati yang riang dan wajah sumringah, rasa-rasanya saya begitu tidak sabar menantikan saat itu tiba.
Saya sangat senang bisa mudik ke Amsterdam tahun ini. Karena selain merindukan kedua orang tua dan kampung halaman, saya juga sudah lama Merindukan Ketenangan dan Kesenangan.
PREPARE MUDIK KE AMSTERDAM
Prosesi pulang kampung itu tak mudah bagi banyak orang, tak terkecuali saya yang kampungnya jauh dari rantau. Makanya tak sedikit perantau yang jarang mudik.
Putar otak, karena selain butuh biaya yang tak sedikit, tentu saja butuh range waktu yang cukup. Apalagi dimasa coronce yang semakin masif saat ini. Ribet dan mumet kyak benang ruwet.
Sebagai warga yang patuh terhadap aturan, hari ini Senin (21/12/2020) saya melakukan rapid test anti galau, Eeh antigen di RS.ASRI MEDIKA (GRAHA ASRI) – JABABEKA.
Dan ternyata di rumah sakit ini sudah banyak nyang ngantri. Bukan karena sakit lho, tapi untuk rapid test antigen sebagai syarat untuk mudik.
Puji Tuhan hasilnya “non–reaktif”. Itu artinya kondisi ini bersahabat untuk mudik ke Amsterdam. Tugas selanjutnya, saya mempersiapkan barang bawaan/pakaian.
Tak banyak barang yang saya bawa. Saya sih cuma membawa tiga setel pakaian saja. Dengan asumsi satu setel untuk dipakai, satunya dicuci, dan satunya dijemur.
Semiskin itu?? Yass! Hal ini mungkin susah diterima bagi mereka yang termasuk peduli pada penampilan.
“Ah ntar kalo cuma bawa baju warna hijau nggak bisa dong main ke Pantai Selatan. Kalo bawa baju warna kuning ntar mirip dong kyak yang lagi ngambang di Kalimalang”.
Akhirnya mudik dengan bawaan seambrek, padahal cuma mudik alias mulih dhisik lho, bukan pindah..
Ini termasuk salah satu tips atau cara ampuh untuk mengurangi beban bawaan ketika melakukan perjalanan jauh lho. Bawa pakaian secukupnya saja yakan.
Bila penting optimalkan penggunaan celana dalam dengan metode “Side A – Side B”. Jika memungkinkan sampai Side C Side D (balikin lagi, puter lagi). Presisi kali ahk.. 😂
Eh yang terakhir itu jangan ditiru ya. Karena saya juga nggak yakin bisa melakukannya. *nggak usah dibayangin juga.. hahh*
Mungkin hal ini terdengar sedikit tabu, tapi pada kenyataannya, menggunakan celana dalam “Side A – Side B”, bukan hanyalah sekedar bercandaan belaka lho pemirsah.
Konon istilah seperti ini akrab lho di kalangan Traveler yang malas untuk mencuci pakaiannya, bahkan celana dalamnya sendiri.
Hellooo, mana nih Traveler bener nggak sihh?? *keppo*
Eehhh kok malah bahas celana dalam.. 😄
Intinya saat melakukan perjalanan jauh seperti halnya mudik ke Amsterdam. Saya nggak mau direpotkan sama barang bawaan. Capek iya, repot iya. Tujuan utama mudik adalah temu kangen sama orang tua dan keluarga.
Saya juga nggak peduli apa kata orang nanti, jika tidak bisa nyawer orang sekampung, atau tidak bisa mentraktir siapa pun disana. Bodo amat!
Bagi sebagian orang memang masih ada anggapan yang salah, banyakan orang kampung (khususnya yang belum pernah merantau) menganggap orang rantau itu banyak duitnya. Padahal kan, ah.. you know lahh!
You know what I mean, kan?
Begitulah, sesimpel itu.
Maksud saya disini, nanti kalau kita ketemu jangan tanya oleh-oleh ya! 🤭
Sampai di sini dulu cuap-cuap malam ini. Besok kita mau meluncur neh mudik ke Amsterdam.
Di next konten mungkin saya akan ceritakan bagaimana kisah Perjalanan Mudik Ke AMSTERDAM. Tunggu yah jam tayangnya..
Semoga perjalanan mudik ke Amsterdam kali ini lancar jaya, selamat sampai tujuan. Amin
Nite & GBU more. Bye.. !!




0 komentar:
Posting Komentar
1. Relevan (Tidak Out of Topic).
2. Sopan, jangan meninggalkan komentar SPAM di blog saya.
3. Jangan menggunakan bahasa kasar atau SARA.
4. Berilah masukan yang membangun kecerdasan berpikir.
Terima kasih atas perhatiannya!